[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 141

02.16. BAB SHALAT ISTISQA (SHALAT MINTA HUJAN) 04

0481

481 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «خَرَجَ سُلَيْمَانُ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – يَسْتَسْقِي، فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً قَوَائِمَهَا إلَى السَّمَاءِ تَقُول: اللَّهُمَّ إنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِك، لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاك، فَقَالَ: ارْجِعُوا فَقَدْ سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

481. Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sulaiman Alaihi As-Salam pernah keluar untuk beristisqa kemudian ia melihat seekor semut tertidur di atas pundaknya mengangkat kaki-kakinya ke atas langit dan ia berkata, “Wahai Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk dari makhluk-Mu, maka kami tidak mungkin berlepas dari siraman-Mu.” Kemudian beliau berkata, ‘Pulanglah, Allah akan menurunkan hujan dengan do’a selain kalian.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

[Dhaif: Al-Irwa’ 670]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa istisqa adalah syariat yang lama dan keluar untuk melakukannya juga demikian, di sini dianggap baik untuk mengeluarkan hewan-hewan ternak dalam istisqa, dan hewan-hewan ini juga memiliki pengetahuan untuk mengenal Allah, mengetahui bagaimana cara berdzikir dan memohon hajat dari-Nya. Dalam kisah ini ada kisah yang panjang, dan ada ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan hal yang demikian, dan ta’wilnya orang yang mencoba menta’wil tidaklah perlu dihiraukan.

0482

482 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إلَى السَّمَاءِ» . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

482. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beristisqa kemudian beliau berisyarat dengan punggung kedua telapak tangannya ke langit.” (HR. Muslim).

[shahih: Muslim 896]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini menunjukkan, jika beliau menginginkan doa untuk mengangkat bala’, maka beliau mengangkat tangannya, dan menjadikan punggung telapaknya ke langit, dan jika ia berdoa untuk meminta sesuatu dan mengharapkan hasilnya maka beliau menjadikan perut -bagian dalam-tangannya ke langit, dan telah datang riwayat dengan sangat jelas dalam hadits Khallad bin As-Saib dari bapaknya,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا سَأَلَ جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إلَى السَّمَاءِ، وَإِذَا اسْتَعَاذَ جَعَلَ ظَهْرَهُمَا إلَيْهَا»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, jika meminta beliau menjadikan perut —bagian dalam- telapak tangannya ke langit dan jika beliau berlindung beliau menjadikan punggung kedua telapak tangannya ke langit.” [Ahmad 4/56]

Walaupun juga ada hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma,

«سَلُوا اللَّهَ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظَهْرِهَا»

“Mintalah kalian kepada Allah dengan perut -bagian dalam- telapak tangan kalian jangan dengan punggung-punggungnya.” [Shahih Al-Jami’ (3634), dari Abu Bakrah dan hadits Ibnu Abbas sanadnya dhaif.]

walaupun hadits ini dhaif. Kompromi dari kedua hadits ini adalah bahwa hadits Ibnu Abbas khusus untuk permintaan yang dihajatkan hasilnya tidak untuk menolak bala’, dan telah ditafsiri firman Allah Ta’ala,

{وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا}

“Dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.” (QS. Al-Anbiya: 90) bahwa pengharapan dengan perut -bagian dalam- telapak tangan, sedang untuk sesuatu yang dikhawatirkan dengan punggung telapak tangan.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *