[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 140

02.16. BAB SHALAT ISTISQA (SHALAT MINTA HUJAN) 03

0478

478 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أَصَابَنَا – وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَطَرٌ قَالَ: فَحَسَرَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنْ الْمَطَرِ، وَقَالَ: إنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

478. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat kehujanan, lalu beliau membuka sebagian kain bajunya sehingga hujan itu membasahi badannya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hujan ini suatu yang datang dari Allah.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 898]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat kehujanan lalu beliau membuka sebagian kain bajunya (yakni beliau membuka sebagian dari badannya) “Sehingga hujan itu membasahi badannya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hujan ini suatu yang datang dari Allah.” (Al-Bukhari membuat bab berjudul “Bab orang yang ditimpa hujan sampai membasahi jenggotnya”, ia membawakan hadits Anas ini dengan sepanjangnya)

Ucapan, “Suatu yang datang dari Allah” (yakni yang diadakan oleh Rabbnya, yakni bahwa sesungguhnya hujan itu adalah rahmat, dan ini dekat masanya dengan penciptaan rahmat oleh Allah, kemudian Allah memberkahi hujan dengan rahmat-Nya. Dan hadits ini merupakan dalil di sukainya hal demikian (membiarkan sebagian badan terbasahi oleh hujan, pen.)

0479

479 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا» أَخْرَجَاهُ

479. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bila melihat hujan maka beliau berdoa, ‘Ya Allah, curahkanlah hujan yang bermanfaat.” Dikeluarkan oleh keduanya.

[Shahih: Al Bukhari 1032, dan tidak ditemukan dalam riwayat Muslim]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Yakni, hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Ini berbeda dengan kebiasaan pengarang, ia menggunakan kata ‘keduanya’ untuk menunjukkan Muttafaqun Alaih. Lafazh Ash-Shayyib dari Shaaba Al-Matharu (jika hujan turun). Naafian ini sifat yang membatasi dan mengecualikan dari hujan yang membawa bencana.

0480

480 – وَعَنْ سَعْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – دَعَا فِي الِاسْتِسْقَاءِ: اللَّهُمَّ جَلِّلْنَا سَحَابًا، كَثِيفًا، قَصِيفًا، دَلُوقًا، ضَحُوكًا، تُمْطِرُنَا مِنْهُ رَذَاذًا، قِطْقِطًا، سَجْلًا، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ» رَوَاهُ أَبُو عَوَانَةَ فِي صَحِيحِهِ

480. Dari Saad Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berdo’a dalam istisqa, “Ya Allah liputi kami dengan awan yang tebal bertumpuk-tumpuk dengan bunyi petir gemuruh, yang mengalir deras disertai kilat, yang menghujani kami dengan tetesan yang banyak, juga dengan tetesan yang sedikit, yang terus mengalir, wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kedermawanan.” (HR. Abu Awanah dalam Shahihnya)

[Dhaif: lihat Talkhis Al Khabir 2/99]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

‘Dari Saad Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berdo’a dalam istisqa, ‘Ya Allah liputi kami dengan awan (meratanya awan di bumi) awan yang tebal bertumpuk-tumpuk (yakni tebal dan bertumpuk-tumpuk) berbunyi petir gemuruh (yaitu awan yang disertai dengan suara petir yang keras sebagai pertanda akan turun hujan yang deras) yang mengalir deras disertai kilat, banjir mengalir deras pada sebuah kaum (yakni yang menghancurkan) deras disertai kilat (yakni yang memiliki kilat) yang menghujani kami dengan tetesan yang banyak (yaitu hujan yang tidak terlalu lebat) juga dengan tetesan yang sedikit (hujan yang kecil) yang terus mengalir, aku menumpahkan air dengan mengalirkannya (yakni jika aku menumpahkannya dengan tumpahan yang besar, disifati dengan ini awan yang menurunkan hujan yang sangat deras sehingga seakan-akan berasal dari satu masdar -sumber-) Wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kedermawanan.”

Dua sifat bagi Allah ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan di dalam At-Tafsir, maknanya adalah sangat tidak membutuhkan secara mutlak dan keagungan yang sempurna. Dikatakan, Dzat yang memiliki keagungan dan kedermawanan bagi orang-orang yang penuh ikhlas dari hamba-hamba-Nya. Keduanya merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah yang paling agung, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَلِظُّوا بِيَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»

“Tetapilah oleh kalian dengan Dzat yang memiliki keagungan dan kedermawanan.'[Shahih: Shahih Al Jami’ 1250]

Dan diriwayatkan:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ بِرَجُلٍ، وَهُوَ يُصَلِّي وَيَقُولُ: يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ فَقَالَ: قَدْ اُسْتُجِيبَ لَك»

Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam melewati seseorang yang shalat dan ia berkata, “Ya Dzal jalali wal Ikraam (wahai Dzat Yang Mahaagung lagi Maha Dermawan). Maka beliau bersabda, “Sungguh engkau telah dikabulkan.” [Dhaif: At Tirmidzi 3527]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *