[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 139

02.16. BAB SHALAT ISTISQA (SHALAT MINTA HUJAN) 02

0474

474 – وَقِصَّةُ التَّحْوِيلِ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ وَفِيهِ: «فَتَوَجَّهَ إلَى الْقِبْلَةِ يَدْعُو، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ»

474. Dan kisah memindah selendang dalam Ash-Shahih dari hadits Abdullah bin Zaid dan di dalamnya disebutkan, “Maka beliau menghadap ke arah qiblat untuk berdo’a, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang nyaring.”

[Shahih: Al Bukhari 1024]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan kisah memindah selendang dalam Ash-Shahih (yakni Shahih Al-Bukhari) dari hadits Abdullah bin Zaid (yakni Al-Majini, ia bukanlah perawi hadits tentang adzan sebagaimana kekeliruan sebagian para penghafal hadits, lafazhnya di Al-Bukhari adalah, “Kemudian beliau menghadap qiblat dan memindahkan selendangnya.”) dan di dalamnya (yakni dalam hadits Abdullah bin Zaid) Maka beliau menghadap ke arah qiblat berdo’a (dalam riwayat Al-Bukhari setelah lafazh yad’u tertulis, “kemudian beliau memalingkan selendangnya” dan dalam lafazh yang lain tertulis, “membalik selendangnya”) kemudian shalat dua rakaat dan beliau membaca dengan suara yang nyaring (Al-Bukhari berkata, “Sufyan berkata, “Al-Mas’udi mengabarkan kepadaku dari Abu Bakar ia berkata, “Beliau menjadikan yang kiri ke arah kanan)

Ibnu Khuzaimah menambahkan, ‘Yang kiri ke kanan.” Tentang hikmah dari pemindahan selendang ini pun terjadi perbedaan pendapat, pengarang memberikan isyarat dengan mengeluarkan riwayat berikut;

0475

475 – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ مُرْسَلِ أَبِي جَعْفَرٍ الْبَاقِرِ: «وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ لِيَتَحَوَّلَ الْقَحْطُ»

475. Bagi Ad-Daraquthni dari riwayat mursal Abu Ja’far AI-Baqir, “Beliau memindahkan selendangnya agar keadaan paceklik (kurang hujan) berubah.”

[Ad Daruquthni 2/66]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Ja’far Al-Baqir, nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhum. Ia mendengar dari bapaknya Zainal Abidin dan Jabir bin Abdullah. Meriwayatkan darinya anaknya Ja’far Ash-Shadiq dan selainnya. Beliau dilahirkan pada tahun 56 H dan meninggal di Madinah pada tahun 119 H dalam usia 63 tahun. Dimakamkan di Baqi’ dalam kubbah yang juga dikuburkan bapaknya dan pamannya Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhum. Ia dikenal dengan Al-Baqir, karena ia Tabaqqara fil llmi (sangat mendalami dalam ilmu) yakni memperluas pengetahuannya, tersebut dalam Jami’ Al-Ushul.

Tafsir Hadits

“Beliau memindahkan selendangnya agar keadaan paceklik (kurang hujan) berubah.”Ibnul Arabi mengatakan, “Ini adalah tanda antara beliau dengan Rabbnya. Dikatakan kepadanya, “Pindahkan selendangmu supaya berubah keadaanmu.” Ucapan ini telah dijadikan hujjah yang dinukil darinya. Ibnul Arabi menolak ucapan yang menyatakan bahwa pemindahan selendang ini sebagai sikap optimisme, ia berkata, “Karena sebagai syarat optimisme, agar hal itu tidak dijadikan tujuan”. Pengarang mengatakan, “Sesungguhnya telah datang riwayat yang menjelaskan keoptimisan pemindahan selendang ini dengan rawi-rawi yang tsiqah.” Pengarang berkata dalam kitab Al-Fath, “Sesungguhnya telah dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Hakim dari jalan Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, dari Jabir dan ia memaushulkan (menyambung sanad) hadits ini, karena Muhammad bin Ali telah bertemu dengan Jabir dan memeriwayatkan darinya, kecuali sesungguhnya ia telah berkata, “Ad-Daraquthni menguatkan kemursalan hadits ini, kemudian ia berkata, “Yang jelas ini lebih baik daripada berkata dengan prasangka.”

Ucapan dari hadits pertama, “kemudian beliau shalat dua rakaat dengan bacaan yang nyaring.” dalam sebagian riwayat Al-Bukhari, Yajharu (dengan bentuk fiil Mudhari). Ibnu Baththal menukilkan bahwa perkara ini adalah ijma’ ulama, yakni mengeraskan bacaan dalam shalat istisqa, dan sebagian mereka memahami bahwa shalat ini tidak dilakukan, kecuali pada siang hari. Dan seandainya dilaksanakan pada malam hari, maka bacaannya akan dilirihkan pada siang hari dan dikeraskan pada malam hari. Tidak diragukan bahwa pemahaman ini sangat jauh sekali.

0476

476 – وَعَنْ أَنَسٍ «أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَالنَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَائِمٌ يَخْطُبُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُغِيثُنَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا» فَذَكَرَ الْحَدِيثَ. وَفِيهِ الدُّعَاءُ بِإِمْسَاكِهَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

476. Dan dari Anas, sesungguhnya seseorang lelaki masuk ke Masjid pada hari Jum’at sedang Nabi Shallallahu Alihi wa Sallam dalam keadaan berdiri berkhutbah, maka ia berkata, “Ya Rasulullah telah hancur harta benda dan telah terputus jalan-jalan, maka berdo’alah kepada Allah Azza Wajalla untuk mengirimkan hujan kepada kami,” selanjutnya Rasulullah mengangkat kedua tangannya kemudian berdo’a, “Ya Allah tolonglah kami, ya Allah tolonglah kami, demikian hadits disebutkan di dalamnya ada do’a untuk menahan hujan.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1014 dan Muslim 897]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Al-Bukhari menambahkan dalam riwayat yang lain, “Dan manusia pun mengangkat tangan mereka”, kemudian berkata, ‘Ya Allah tolonglah kami.”

Dalam Al-Bukhari dengan lafazh, “turunkanlah hujan kepada kami.” “Ya Allah tolonglah kami, demikian hadits disebutkan di dalamnya ada do’a untuk menahannya (yakni menahan awan dari hujan).”

Tafsif Hadits

Kelengkapan hadits ini dalam riwayat Muslim,

«قَالَ أَنَسٌ: فَلَا وَاَللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلَا قَزَعَةٍ، وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ قَالَ: فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ قَالَ: فَلَا وَاَللَّهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سَبْتًا ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكُهَا عَنَّا قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ قَالَ: فَانْقَلَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ قَالَ شَرِيكٌ: فَسَأَلْت أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَهُوَ الرَّجُلُ الْأَوَّلُ قَالَ: لَا أَدْرِي»

“Anas berkata, “Sungguh, demi Allah! Aku tidak melihat di langit ada mendung dan awan, dan tidak juga ada antara kami dan retak-retak kecuali terdapat di rumah-rumah’, kemudian ia berkata, “Maka datanglah dari belakang beliau awan seperti perisai (tameng), dan ketika awan itu berada di tengah langit maka awan itu berpencar kemudian turunlah hujan’, kemudian ia berkata, “Maka tidak, demi Allah kami tidak melihat matahari selama satu minggu, kemudian datanglah lelaki itu dari pintu itu juga pada hari Jum’at yang berikutnya dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri berkhutbah, ia menghadap beliau sambil berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa harta benda dan terputus jalan-jalan, maka berdoalah kepada Allah untuk menahannya dari kami.” Anas berkata, “Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya berdo’a, ‘Ya Allah turunkanlah di sekitar kami tidak atas kami, tanah yang dibajak, atas tanah yang menempel, atas perut-perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka berhentilah hujan dan kami berjalan sementara matahari terlihat.” Syuraik berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik apakah yang datang kedua kalinya lelaki yang sama? Ia berkata, “Aku tidak tahu.”

Pengarang mengatakan, “Aku tidak mendapatkan nama orang itu di riwayat Anas.”

Hancurnya harta benda mencakup hewan ternak dan tanah ladang. Putusnya jalan-jalan adalah ungkapan yang menunjukkan tidak adanya perjalanan karena lemahnya onta disebabkan tidak adanya rerumputan dan makanan lainnya, atau karena manusia tidak mendapatkan hasil dari makanan yang mereka bisa bawa ke pasar-pasar.

Ucapan Yughitsuna mungkin dari fathah huruf Mudharaah yaitu dari lafazh Ghatsa, bisa jadi dari Al-Ghaits (air hujan) atau Al-Ghauts (air-air hujan) bisa juga dengan dhammah huruf Mudharaah dari lafazh Ighatsah (memohon pertolongan), lafazh-lafazh ini bisa kembali kepada ucapan Allahumma Agitsna.

Dalam hadits ini menunjukkan, sesungguhnya dihentikan jika kebanyakan hujan. Al-Bukhari membuat sebuah bab berjudul “Bab berdo’a jika hujan terlampau lebat”, dan beliau menyebutkan hadits ini.

Asy-Syafi’i mengeluarkan hadits ini dalam Musnadnya dan ini adalah hadits Mursal dari Al-Muthallib bin Hanthab,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْمَطَرِ: اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ لَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ وَلَا غَرَقٍ اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu berdo’a ketika hujan turun, ‘Ya Allah siramilah dengan siraman rahmat, jangan dengan siraman adzab, bala, kehancuran, dan banjir, Ya Allah turunkan hujan di telaga-telaga, dan tempat tumbuh pepohonan, Ya Allah di sekitar kami tidak di atas kami.” [Dhaif: Musnad Asy-Syafi’i hal. 80]

0477

477 – وَعَنْهُ أَنَّ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – كَانَ إذَا قُحِطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَقَالَ: اللَّهُمَّ إنَّا كُنَّا نَسْتَسْقِي إلَيْك بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيَنَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْك بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا فَيُسْقَوْنَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

477. Dari Anas- Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Umar Radhiyallahu Anhu jika terjadi paceklik beliau beristisqa dengan Al Abbas bin Al-Muthallib seraya berdo’a, ‘Ya Allah, dulu kami bertawasul dengan Nabi kami maka engkau menurunkan hujan kepada kami, dan kami sekarang bertawasul dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami, maka mereka diberi hujan.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1010]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Dan Abbas sendiri pernah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya tidak akan diturunkan bencana dari langit kecuali karena dosa, dan tidaklah bencana itu dihilangkan, kecuali dengan taubat. Kaum telah mendatangiku untuk memohon kepada-Mu karena kedudukanku di sisi nabi-Mu. Inilah tangan-tangan kami yang memohon pada-Mu, tangan yang berlumuran dosa, kami mohon ampunan-Mu dengan bertobat, turunkanlah hujan untuk kami. Lalu langitpun nampak mengumpulkan awan seperti gunung-gunung sehingga turunlah hujan yang menyuburkan bumi.” Diriwayatkan oleh Az-Zubair bin Bakr dalam kitab Al Ansab.

Dan diriwayatkan juga dari hadits Ibnu Umar, “Sesungguhnya Umar meminta hujan dengan perantaraan Abbas pada masa yang sangat panas dan ia menuturkan hadits ini. Al-Barizy mengatakan, “Masa sangat panas itu terjadi pada tahun 18 H. Lafazh Ar-Ramadah (sangat berdebu) disebut demikian karena sangat keringnya bumi, sehingga diumpamakan demikian pada saat hujan tidak ada yang turun.

Dalam kisah ini terdapat dalil yang menunjukkan permintaan hujan dengan perantara (tawasul) orang-orang yang lebih baik, shaleh dan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi ma Sallam. Dan dalam hadits ini terkandung pengertian tentang kemuliaan Abbas serta sifat rendah diri Umar, dan pengetahuan beliau tentang hak-hak keluarga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *