[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 138

02.16. BAB SHALAT ISTISQA (SHALAT MINTA HUJAN) 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Al-Istisqa berarti permohonan turun hujan kepada Allah Ta’ala saat keadaan paceklik (kekeringan).

Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

«لَمْ يَنْقُصْ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمُؤْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ»

“Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan terjadi pada mereka musim kering yang panjang, kurangnya bahan pangan dan kezhaliman pemerintah kepada mereka. Dan tidaklah mereka enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, kecuali tidak akan diturunkan atas mereka hujan dari langit.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 7978]

0472

472 – عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «خَرَجَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مُتَوَاضِعًا، مُتَبَذِّلًا، مُتَخَشِّعًا مُتَرَسِّلًا، مُتَضَرِّعًا، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ، لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ،، وَأَبُو عَوَانَةَ وَابْنُ حِبَّانَ

472. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shalllallahu Alaihi wa Sallam keluar dalam keadaan merendahkan diri, memakai pakaian usang dan penuh khusyu, perlahan-lahan, dengan penuh pengharapan. Kemudian beliau shalat dua rakaat sebagaimana shalat Ied dan beliau tidak melakukan khutbah sebagaimana khutbah kalian ini.” (HR. Al-Khamsah dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Awanah dan Ibnu Hibban)

[Hasan: Abu Daud 1165]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullab Shalllallahu alaihi wa Sallam keluar (yaitu dari Madinah) dalam keadaan merendahkan diri, memakai pakaian usang (yakni meninggalkan perhiasan dan berdandan sebagai bentuk sikap tawadhu’ dan menunjukkan adanya hajat) dan penuh khusyu’ (khusyu’ dalam suara dan pandangan seperti merendahkan badan) perlahan-lahan (perlahan dan tidak terburu-buru dalam berjalan) dengan penuh pengharapan (lafazh yang terdapat dalam riwayat Abu Dawud “Mutaadzdzilan, Mutawaadhi’an, mutadharri’an. At-tadharru’ adalah merendahkan diri disertai dengan permintaan yang sungguh-sungguh dan penuh pengharapan, sebagimana yang disebutkan dalam An-Nihayah) Kemudian beliau shalat dua rakaat sebagaimana shalat Ied dan beliau tidak melakukan khutbah sebagaimana khutbah kalian ini (lengkapnya hadits ini dalam lafazh Abu Dawud, “Akan tetapi, beliau tak henti-hentinya dalam do’a, merendahkan diri dan bertakbir, kemudian beliau shalat dua rakaat sebagaimana shalat Ied.”)

Tafsir Hadits

Hadits ini memberikan faidah bahwa shalat dilakukan setelah berdo’a, sedangkan lafazh yang dibawakan oleh pengarang tidak secara jelas menyebutkan hal itu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Khamsah dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Abu Awanah dan Ibnu Hibban. Dikeluarkan oleh Al-Hakim, Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi.

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya shalat untuk meminta hujan sebagaimana pendapat Ahlul Bait. Abu Hanifah berkata, “Tidak dilaksanakan shalat istisqa, tetapi yang disyariatkan hanya do’a saja.”

Kemudian mereka berbeda pendapat tentang pensyariatan shalat ini. Sekelompok ulama mengatakan, “Shalat istisqa seperti shalat ied dalam takbir dan bacaannya.” Ini nash dari Asy-Syafi’i berdasarkan pada zhahir lafazh Ibnu Abbas. Yang lain berkata, “Hanya shalat dua rakaat saja, tidak ada tambahan tentang tatacaranya lebih dari itu.” Pendapat ini didukung oleh sekelompok ulama dari Ahlul bait dan juga diriwayatkan dari Ali Alaihissalam. Pendapat ini juga dikatakan oleh Malik, mereka semua berdalil dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari hadits Ubadah bin Tamim, “Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat mengimami mereka dua rakaat.” Sebagaimana yang akan dijelaskan pada hadits Aisyah mendatang. Mereka mentakwili hadits Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud adalah persamaan dalam rakaat tidak dalam sifat.

Takwil ini menjadi sangat tidak relevan karena Ad-Daraquthni mengeluarkan hadits dari Ibnu Abbas,

«أَنَّهُ يُكَبِّرُ فِيهِمَا سَبْعًا وَخَمْسًا كَالْعِيدَيْنِ وَيَقْرَأُ بِسَبِّحْ، وَهَلْ أَتَاك»

“Sesungguhnya beliau bertakbir di dalam shalat istisqa sebanyak tujuh kali dan lima kali sebagaimana shalat dua hari raya, beliau membaca Sabhihis dan Hal Ataka.”

Walaupun dalam sanadnya ada pembicaraan, tapi yang jelas ini menguatkan hadits bab ini.

Adapun Abu Hanifah, beliau berdalilkan dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اسْتَسْقَى عِنْدَ أَحْجَارِ الزَّيْتِ بِالدُّعَاءِ»

“Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan istisqa di Ahjar Al-Zait dengan berdo’a.” [Shahih: At Tirmidzi 557]

Abu Awanah mengeluarkan di dalam Shahihnya,

«أَنَّهُ شَكَا إلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَوْمٌ الْقَحْطَ فَقَالَ: اُجْثُوا عَلَى الرُّكَبِ وَقُولُوا: يَا رَبِّ يَا رَبِّ»

“Sesungguhnya sekelompok kaum melapor kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang paceklik, kemudian beliau bersabda, “Berdirilah di atas kendaraan dan ucapkanlah, “Ya Rabb, Ya Rabb.” [Dhaif Jiddan: Dhaif Al jami 146]

Hal ini dijawab bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melaksanakan shalat dua rakaat, terkadang ia tinggalkan pada kesempatan lain. Hal ini menunjukkan tentang kebolehannya.

Telah disebutkan dalam Al-Hadyu An-Nabawi macam-macam cata istisqa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

1) Keluarnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam ke tempat shalat dan berkhutbah.

2) Pada hari Jum’at di atas mimbar pada saat berkhutbah.

3) Istisqa beliau di atas mimbar Madinah, hanyalah istisqa saja tidak pada hari Jumat, dan tidak disebutkan di sini beliau shalat.

4) Beliau istisqa dengan duduk di masjid dengan mengangkat kedua tangannya dan berdo’a kepada Allah Ta’ala.

5) Sesungguhnya beliau istisqa di sisi Ahjar Az-Zait dekat dengan menara Az-Zaura, ini di luar pintu masjid.

6) Sesungguhnya beliau istisqa dalam sebagian peperangannya, karena telah di dahului oleh orang musyrik dalam menguasai tempat-tempat air.

Dan setiap permohonan yang beliau lakukan selalu memohon turunnya hujan.

Terjadi perbedaan pendapat dalam khutbah istisqa. Al-Hadi berpendapat bahwa tidak ada khutbah di istisqa berdasarkan ucapan Ibnu Abbas, “Dan beliau tidak berkhutbah”, kecuali tidak diragukan bahwa beliau meniadakan khutbah yang menyerupai khutbah mereka, dan ia menyebutkan apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan ada tambahan dalam riwayat Abu Dawud, “Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menaiki mimbar,” Secara zhahir, beliau tidak akan menaiki mimbar kecuali untuk khutbah. Ulama yang lain mengatakan bahwa beliau khutbah seperti khutbah Jum’at, ini berdasarkan hadits Aisyah yang akan datang dan hadits Ibnu Abbas. Kemudian mereka berbeda pendapat apakah khutbah sebelum shalat atau sesudahnya. An-Nashir berpendapat dengan pendapat yang pertama (sebelum shalat), dan Asy-Syafi’i berpendapat pada yang kedua (sesudah shalat). Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Abu Awanah dan Al-Baihaqi,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَرَجَ لِلِاسْتِسْقَاءِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَطَبَ»

“Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk istisqa kemudian beliau shalat dan setelah itu beliau khutbah.” [Dhaif: Ibnu Majah 1284]

Sedangkan kelompok yang pertama berdalil dengan hadits Ibnu Abbas, dan telah kami sebutkan lafazhnya. Kedua hadits ini mungkin dikompromikan, bahwa yang dimulai dengan khutbah adalah do’a, maka sebagian rawi mengibaratkannya do’a dengan khutbah dan mereka mencukupkan atas itu dan tidak meriwayatkan khutbah setelahnya. Rawi yang mendahulukan shalat atas khutbah mencukupkan atas riwayat itu dan tidak meriwayatkan do’a sebelum shalat. Ini adalah bentuk kompromi antara dua riwayat. Adapun do’a yang biasa dipanjatkan adalah riwayat yang datang dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menjelaskan hal itu dan telah jelas lafazh-lafazhnya yang dijadikan do’a oleh beliau.

0473

473 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «شَكَا النَّاسُ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قُحُوطَ الْمَطَرِ، فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ، فَوُضِعَ لَهُ بِالْمُصَلَّى، وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ، فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ، فَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ، ثُمَّ قَالَ: إنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ دِيَارِكُمْ، وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوهُ، وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ، ثُمَّ قَالَ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ: أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ. أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْت عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إلَى حِينٍ ثُمَّ رَفَعَ بِيَدَيْهِ، فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إبْطَيْهِ، ثُمَّ حَوَّلَ إلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ، وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَنَزَلَ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، فَأَنْشَأَ اللَّهُ تَعَالَى سَحَابَةً فَرَعَدَتْ، وَبَرَقَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَقَالَ: غَرِيبٌ، وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ

473. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Orang-orang pernah mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perihal tidak turun hujan, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membawa mimbar dan meletakkannya di tempat shalat (tanah lapang) kemudian beliau menjanjikan kepada manusia untuk keluar pada suatu hari di tempat itu maka keluarlah Rasulullah ketika nampak bayang-bayang matahari kemudian beliau duduk di atas mimbar kemudian bertakbir dan membaca hamdalah kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian telah melaporkan kekeringan di rumah-rumah kalian dan Allah telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Dia telah menjanjikan kepada kalian untuk mengabulkan doa kalian, kemudian beliau bersabda, “Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan, Tidak ada Tuhan Selain Allah, Yang berbuat apa yang Dia inginkan, Ya Allah Engkaulah Allah tidak ada tuhan selain Engkau, Engkau Maha Kaya sedangkan kami fakir turunkanlah kepada kami hujan dan jadikanlah air hujan turun dengan kuat dan sampai kemanapun.” Kemudian beliau mengangkat tangannya dan tidak henti sampai mereka melihat putihnya ketiak beliau, kemudian beliau memalingkan punggungnya kepada manusia dan membalik selendangnya, sedangkan beliau masih mengangkat tangannya kemudian beliau menghadap ke manusia dan turun dari mimbar kemudian beliau shalat dua rakaat maka Allah menggiring awan maka muncullah petir dan kilat kemudian terjadilah hujan.” (HR. Abu Dawud, ia berkata, “Hadits ini gharib dan sanadnya bagus)

[Hasan: Abu Daud 1173]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Syarah Kalimat

“Orang-orang pernah mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perihal tidak turun hujan (lafazh quhuth adalah bentuk mashdar -kata dasar- seperti juga lafazh Qahth) maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membawa mimbar dan meletakkannya di tempat shalat -tanah lapang- kemudian beliau menjanjikan kepada manusia untuk keluar pada suatu hari di tempat itu (yakni beliau menentukan harinya bagi mereka untuk keluar) maka keluarlah Rasulullah ketika nampak bayang-bayang matahari kemudian beliau duduk di atas mimbar (Ibnul Qayyim berkata, “Jika ini shahih, kecuali ada yang terbolak-balik sedikit dari hadits ini) kemudian bertakbir dan membaca hamdalah kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian telah melaporkan kekeringan di rumah-rumah kalian dan Allah telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya.” (Allah Ta’ala berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin: 60) ” Dan Dia telah menjanjikan kepada kalian untuk mengabulkan doa kalian” (sebagaimana tersebut dalam ayat pertama, dan juga dalam firman-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186).”Kemudian beliau membaca, “Segala puji bagi Allah Tuban Semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (ini adalah dalil memulai khutbah dengan basmalah, bahkan dengan hamdalah, tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa beliau membuka khutbahnya selain dengan tahmid.) ‘Yang menguasai hari pembalasan, Tidak ada Tuhan Selain Allah, Yang berbuat apa yang Dia inginkan, Ya Allah Engkaulah Allah tidak ada tuhan selain Engkau, Engkau Maha Kaya sedangkan kami fakir turunkanlah kepada kami hujan dan jadikanlah air hujan turun dengan kuat dan sampai kemanapun.” Kemudian beliau mengangkat tangannya dan tidak henti” (dalam riwayat Sunan Abi Dawud “dalam posisi mengangkat tangan”) “Sampai mereka melihat putihnya ketiak beliau, kemudian beliau memalingkan punggungnya kepada manusia” (dan beliau menghadap qiblat) membalik dan memindahkan selendangnya sedangkan beliau masih mengangkat tangannya kemudian beliau menghadap ke manusia (yakni menghadapkan wajahnya kepada mereka setelah memalingkan punggungnya dari mereka) kemudian turun (dari mimbar) kemudian beliau shalat dua rakaat, maka Allah menggiring awan, maka muncullah petir dan kilat, kemudan terjadilah hujan (sempurnanya hadits ini ada di Sunan Abi Dawud, “Dengan izin Allah tidak pernah beliau mendatangi pintu masjidnya sehingga mengalirlah air hujan, ketika beliau melihat cepatnya mereka berlindung dari hujan, maka tertawalah beliau sampai terlihat gigi gerahamnya. Beliau bersabada, “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan aku hanyalah Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Hadits ini sempurnanya ucapan Abu Dawud, kemudian Abu Dawud berkata, “Penduduk Madinah membacanya ‘maaliki yaumiddiin” jadi hadits ini adalah hujjah bagi mereka.

Di dalam ucapan, ‘wa’adannas’ (menjanjikan kepada manusia), menunjukkan bahwa lebih baik segera menjelaskan tentang hari kepada manusia agar mereka merasa takut dan melepaskan diri dari kezhaliman dan serupanya, sehingga mereka mau bertobat. Perkara-perkara ini wajib secara mutlak kecuali sesungguhnya disertai dengan terjadinya kesulitan dan permintaan melapangkannya dari Allah, maka ini mempersempit yang demikian. Telah datang dalam riwayat Israiliyat, “Sesungguhnya Allah mengharamkan hujan bagi sebuah kaum, setelah mereka keluar meminta istisqa karena di antara mereka ada seseorang yang bermaksiat.”

Lafazh An-Nas mencakup seluruh orang muslim dan selainnya. Dikatakan, disyariatkan untuk mengajak ahlu dzimmah (orang kafir yang dilindungi di negeri Islam) dan mereka dijauhkan dari tempat-tempat shalat.

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini ada dalil pensyariatan mengangkat tangan ketika berdoa, namun di dalam istisqa mengangkat tangan ini lebih dianjurkan sehingga kedua tangan ini sejajar dengan wajah, tapi tidak melampaui kepala. Mengenahi aturan mengangkat ke dua tangan ketika berdoa telah disebutkan dalam beberapa hadits. Al-Mundziri telah mengarang dalam masalah ini dalam satu juz kitab. An-Nawawi berkata, “Aku telah mengumpulkan dalam masalah ini tiga puluh hadits dari Ash-Shahihain atau salah satu di antara keduanya. Kemudian beliau menyebutkan di akhir bab tentang sifat shalat dari Syarah Al-Muhadzdzab. Adapun hadits Anas yang meniadakan mengangkat kedua tangan selain di istisqa, maksudnya meniadakan berlebih-lebihan tidak meniadakan seluruhnya. Adapun cara membalikan selendang, maka telah datang riwayat dari Al-Bukhari, “Menjadikannya dari kanan ke kiri.” Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Menjadikannya dari kiri ke kanan.” Dalam riwayat lain bagi Abi Dawud, “Sesungguhnya beliau mengenakan selendang hitam, beliau hendak mengambil ujung bawahnya dan menjadikannya di atas, dan ketika itu sulit bagi beliau, maka beliau membalikkannya dari pundaknya.” Dan disyariatkan juga bagi manusia untuk memindahkan apa yang bersama mereka berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad dengan lafazh, “Dan manusiapun memindahkan apa yang ada bersamanya.” Al-Laits dan Abu Yusuf berkata, “Sesungguhnya memindahkan selendang itu hanya dikhususkan bagi imam dan sebagian lain mengatakan hanya perempuan saja yang tidak memindahkan.” Adapun waktu memindahkan adalah ketika menghadap kiblat. Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya ketika beliau mengginginkan untuk berdoa beliau menghadap kiblat dan memindahkan selendangnya.”

Semisal riwayat ini juga terdapat di Al-Bukhari.

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa shalat istisqa ini dua rakaat, dan ini pendapat mayoritas ulama. Al-Hadi mengatakan, “Empat rakaat dengan dua salam.” Ia menghadapkan ucapannya dengan dalil bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam istisqa pada hari Jumat sebagaimana cerita Arab badui, dan Jumat itu dilakukan dengan dua khutbah, dan khutbah ini menempati empat rakaat sama dengan empat rakaat shalat dan tidak ada keraguan dalam hal ini. Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melakukannya dua rakaat sebagaimana yang Anda ketahui dari hadits ini dan juga hadits-hadits sebelumnya.

Ketika Al-Hanafiyah berpendapat tentang tidak disyariatkannya memindahkan selendang, padahal hadits ini telah memberikan manfaat tersebut, maka pengarang memperkuat dalil tentang memindahkan selendang ini dengan hadits berikut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *