[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 137

02.15. BAB SHALAT KUSUF 03

0468

468 – وَلَهُ عَنْ جَابِرٍ: صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ.

468. Dan baginya dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwasanya beliau shalat gerhana enam kali ruku dengan empat kali sujud.

[Dhaif: Muslim 908, Al-Albani berkata, hadits ini dhaif walaupun dikeluarkan oleh Muslim. Al-Irwa’ 659. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan baginya (menurut riwayat Muslim) dari Jabir (bin Abdillah) beliau shalat (yaitu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) enam kali ruku dengan empat kali sujud (yakni shalat dua rakaat yang dalam setiap rakaat tiga ruku dan dua sujud).”

0469

469 – وَلِأَبِي دَاوُد عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «صَلَّى فَرَكَعَ خَمْسَ رَكَعَاتٍ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، وَفَعَلَ فِي الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ»

469. Dan menurut riwayat Abu Dawud dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu, “Beliau shalat, beliau ruku dengan lima kali ruku dan sujud dengan dua kali sujud dan beliau mengerjakan demikian itu pada rakaat kedua.”

[Dhaif: Abu Daud 1182]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan menurut riwayat Abu Dawud dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu, “Beliau shalat (yaitu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) beliau ruku dengan lima kali ruku (yaitu ruku di setiap rakaat) dan sujud dengan dua kali sujud dan beliau mengerjakan demikian itu pada rakaat kedua (yaitu beliau ruku dengan lima kali ruku dan sujud dengan dua kali sujud).”

Tafsif Hadits

Jika Anda telah mengetahui hadits-hadits ini, maka sekumpulan hadits ini menunjukkan bahwa salat kusuf dilakukan dua rakaat dan ini telah disepakati. Tetapi yang terjadi adalah perbedaan dalam setiap rakaat. Berdasarkan kumpulan-kumpulan riwayat yang telah dituturkan oleh pengarang terdapat empat cara.

Pertama; Dua rakaat. Pada setiap rakaat dua kali ruku. Pendapat ini menurut Asy-Syafii, Malik, Al-Laits, Ahmad dan lainnya. Pendapat tersebut berdasarkan hadits Aisyah, Jabir, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Ibnu Abdilbar mengatakan, “Inilah riwayat-riwayat yang paling shahih tentang masalah ini.” Sedangkan riwayat-riwayat yang lain termasuk hadits muallaq dan semuanya lemah.

Kedua; Dua rakaat. Pada setiap rakaat empat kali ruku. Cara ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu dari Ali Alaihissallam.

Ketiga; Dua rakaat. Pada setiap rakaat tiga kali ruku. Cara ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Jabir.

Keempat; Dua rakaat. Pada setiap rakaat lima kali ruku.

Dan ketika terjadi perbedaan ulama dalam riwayat-riwayat ini, maka jumhur ulama mengambil riwayat yang pertama berdasarkan yang Anda ketahui dari ucapan Ibnu Abdilbar. An-Nawawi berkata dalam Syarah Muslim, “Sesungguhnya sebagian shahabat mengambil setiap macam ini.” Sekelompok ulama muhaqqiq (peneliti) mengatakan, “Sesungguhnya boleh memilih di antara macam-macam ini dengan cara apa pun yang dilaksanakan, maka itu baik.”

Ini berdasarkan alasan karena gerhana itu terjadi berkali-kali, terkadang dilakukan seperti ini dan terkadang seperti itu.” Tetapi berdasarkan penelitian bahwa, setiap riwayat-riwayat ini berdasarkan satu kejadian yaitu shalatnya Nabi pada saat wafatnya Ibrahim. Karenanya para ulama yang lain memberikan kritik dengan adanya problem dalam hadits-hadits yang menceritakan tiga bentuk ini. Ibnul Qayyim berkata, “Ulama-ulama besar tidak menshahihkan bermacam-macam cara dalam pelaksanaan shalat ini seperti Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Asy-Syafii. Mereka berpendapat bahwa hal ini adalah kekeliruan. Al-Hanafiyah berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua rakaat seperti shalat-shalat sunnah lainnya.

0470

470 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «مَا هَبَّتْ الرِّيحُ قَطُّ إلَّا جَثَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا» رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ.

470. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Tidak sekali-kali angin bertiup kecuali Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membungkuk di atas kedua lututnya seraya berdoa, “Ya Allah jadikanlah ia sebagai rahmat dan jangan Engkau menjadikannya siksaan.” (HR. Asy-Syafii dan Ath-Thabrani).

[Dhaif Jiddan: Dhaif Al jami 4461]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Tidak sekali-kali angin bertiup kecuali Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membungkuk di atas kedua lututnya (yakni beliau membungkuk di atas keduanya yaitu duduk dengan perasaan khawatir yang tidak dilakukan oleh beliau seperti biasanya kecuali karena khawatir) seraya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai rahmat dan jangan Engkau menjadikannya siksaan.”

Lafazh Ar-rih artinya angin, dapat berarti angin yang datang karena rahmat, dan juga angin yang datang karena adzab. Telah diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah secara marfu,

«الرِّيحُ مِنْ رُوحِ اللَّهِ تَأْتِي بِالرَّحْمَةِ وَبِالْعَذَابِ فَلَا تَسُبُّوهَا»

‘Angin adalah dari kasih sayang Allah, terkadang datang karena rahmat dan datang karena adzab, maka janganlah kalian mencacinya.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 3564]

Juga telah diriwayatkan dalam kelengkapan hadits Ibnu Abbas,

«اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رِيَاحًا وَلَا تَجْعَلْهَا رِيحًا»

“Ya Allah, jadikanlah angin ini sebagai riyah (angin rahmat), dan jangan jadikan sebagai rih (angin adzab).”

Ini menunjukkan bahwa lafazh mufradnya itu khusus untuk adzab, dan lafazh jamaknya untuk rahmat.

Ibnu Abbas berkata dalam menafsiri firman Allah Ta’ala,

{إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا}

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang.” (QS. Al-Qamar: 19)

إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ}

“Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan.” (QS. Adz-Dzatiat: 41)

{وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ}

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan).” (QS. Al-Hijr: 22)

{أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ}

“Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira.” (QS. Ar-Rum: 46)

Asy-Syafii dan Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Ad-Da’awat Al-Kabir, di situ dijelaskan bahwa, “Jika lafazh ini dibentuk dengan plural (jamak), maksudnya angin rahmat, dan jika dibentuk dengan tunggal (mufrad), maksudnya angin adzab. Maka apa yang di dalam hadits ini menjadi musykil karena adanya doa untuk menjadikannya rahmat.” Hal ini dijawab, bahwa maksud dari “jangan hancurkan kami” adalah jangan binasakan kami dengan rih (angin) ini. Sesungguhnya jika mereka dihancurkan dengan angin ini, maka tidak akan bertiup atas mereka setelahnya angin lain. Sehingga menggunakan kata rih (tunggal) tidak dengan kata riyah (jamak).

0471

471 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: أَنَّهُ صَلَّى فِي زَلْزَلَةٍ سِتَّ رَكَعَاتٍ، وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ، وَقَالَ: هَكَذَا صَلَاةُ الْآيَاتِ. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَذَكَرَ الشَّافِعِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مِثْلَهُ دُونَ آخِرِهِ

471. Dan darinya Radhiyallahu Anhu, “Sesungguhnya beliau shalat pada keadaan gempa enam rakaat dan empat sujud, dan beliau berkata, “Beginilah shalat untuk tanda-tanda kekuasaan Allah.” (HR. Al-Baihaqi) Asy-Syafii menyebutkan dari Ali bin Abi Thalib hadits yang serupa tanpa menyebutkan akhirnya.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya Radhiyallahu Anhu (yakni dari Ibnu Abbas) sesungguhnya beliau shalat pada keadaan gempa enam rakaat (maksudnya adalah enam ruku) dan empat sujud (yaitu beliau shalat dua rakaat, yang pada setiap rakaat tiga ruku’ dan dua sujud) dan beliau berkata, “Beginilah shalat untuk tanda-tanda kekuasaan Allah.”

Tafsir Hadits

Asy-Syafii menyebutkan dari Ali bin Abi Thalib serupa dengan hadits ini tanpa menyebutkan akhirnya, yaitu ucapan, “Beginilah shalat untuk tanda-tanda kekuasaan Allah.” HR. Al-Baihaqi dari jalan Abdullah bin Al-Harits, bahwa hal itu dilakukan saat terjadi gempa di Basrah.”

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya dari jalan lain secara ringkas, “Sesungguhnya Ibnu Abbas shalat mengimami mereka dengan empat sujud dan enam kali ruku.”

Zhahir lafazh hadits ini bahwa beliau shalat bersama mereka dengan berjamaah. Berdasarkan inilah Al-Qasim dari Ahlul Bait berpendapat, mereka berkata, “Dilaksanakan shalat karena sesuatu yang mengagetkan seperti shalat kusuf, jika mau dilakukan dengan dua rakaat.” Ini juga disepakati oleh Ahmad bin Hambal, akan tetapi beliau berkata seperti shalat gerhana.

Saya katakan, “Tetapi yang disebutkan dalam kitab-kitab Al-Hanabilah, “Sesungguhnya ia shalat gerhana dua rakaat jika ia mau.” Asy-Syafii dan lainnya berpendapat bahwa shalat ini tidak disunnahkan berjamaah dan jika dilakukan sendirian, maka itu lebih baik. Ia berkata, “Sesungguhnya tidak diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk berjamaah, kecuali pada shalat dua gerhana.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *