[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 136

02.15. BAB SHALAT KUSUF 02

0466

466 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «انْخَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَصَلَّى، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ انْصَرَفَ، وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «صَلَّى حِينَ كَسَفَتْ الشَّمْسُ ثَمَانِي رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ»

466. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau shalat dengan berdiri lama seukuran membaca surah Al-Baqarah, kemudian beliau ruku’ dengan ruku’yang lama, kemudian bangun berdiri dengan lama namun lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama lebih pendek dari yang pertama, kemudian sujud, kemudian bangun berdiri dengan lama namun lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ dengan ruku’yang lama namun lebih pendek dari ruku’yang pertama, kemudian berdiri dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku’ dengan ruku’yang pertama namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, setelah itu selesai dan matahari telah terlihat cerah, kemudian beliau berkhutbah kepada manusia.” (Muttafaq Alaih dan lafazh bagi Al-Bukhari)

Dan riwayat lain bagi Muslim, “Beliau shalat ketika terjadi gerhana matahari delapan ruku’ dalam empat sujud.”

[Shahih: Al Bukhari 1052, Muslim 907, 908] *

*[Syaikh Al-Albani menyebutkan dhaifnya hadits delapan ruku’ walaupun ada dalam riwayat Muslim –lihat Al Irwa’ 660. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Ketahuilah sesungguhnya pada shalat kusuf (gerhana matahari) terdapat banyak tata caranya sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikhani, Abu Dawud, dan selain mereka, dan ini adalah sunnah dengan kesepakatan ulama. Dalam klaim sepakat ini perlu diperhatikan, karena Abu Awanah secara tegas mengatakan dalam Shahihnya wajibnya shalat kusuf. Dan diceritakan dari Malik bahwa ia memperlakukan shalat kusuf ini seperti shalat Jum’at, dan telah lalu dari Abu Hanifah wajibnya shalat kusuf. Madzhab Asy-Syafi’i dan sekelompok ulama shalat ini disunnahkan berjamaah, dan yang lainnya mengatakan dikerjakan sendirian, hujjah pendapat pertama adalah beberapa hadits shahih yang menjelaskan perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengerjakannya dengan berjamaah.

Kemudian mereka berbeda pendapat tentang sifat shalat kusuf ini. Jumhur ulama mengatakan dua rakaat dalam satu rakaat dua kali berdiri dengan dua kali bacaan, dua kali ruku’ dan dua kali sujud seperti shalat yang lain. Tata cara ini merupakan mazhab Malik, Asy-Syafi’i, Al-Laits dan Iain-lain.

., Dalam ucapannya, “…seukuran membaca surah al-Baqarah…” dalil yang menunjukkan bahwa beliau membaca Al-Qur’an di dalam shalat ini. An-Nawawi berkata, “Ulama telah bersepakat sesungguhnya beliau pada berdiri pertama membaca Al-Fatihah, dan berbeda pendapat pada berdiri kedua, maka madzhab Malik mengatakan tidak sah shalat tanpa membacanya.

Dalam ucapan, “…ruku’ yang lama lebih pendek dari yang pertama kemudian beliau bangun mengangkat kepalanya kemudian sujud…” ini dalil yang menunjukkan bahwa berdiri yang dilanjutkan dengan sujud tidaklah panjang, dan tidak seperti yang pertama, walaupun telah disebutkan dalam riwayat Muslim dari hadits Jabir, “Bahwa beliau memanjangkan yang demikian, akan tetapi An-Nawawi mengatakan, “Sesungguhnya ini adalah riwayat yang syadz (menyelisihi riwayat yang lebih shahih darinya) tidak diamalkan.”

Al-Qadhi telah menukil kesepakatan ulama bahwa tidak dipanjangkan i’tidal yang dilanjutkan dengan sujud dan ia mentakwil riwayat ini bahwa yang dimaksud panjang adalah tambahan dari thuma’ninah. Tidak disebutkan dalam riwayat ini panjangnya sujud, akan tetapi telah ditetapkan panjangnya sujud dalam riwayat Abu Musa di Al-Bukhari dan hadits Ibnu Umar di Muslim. An-Nawawi berkata, “Telah berkata ulama peneliti dari shahabat-shahabat kami dan ini merupakan nash dari Asy-Syafi’i sesungguhnya sujud ini dipanjangkan karena adanya hadits-hadits shahih dalam hal tersebut. Abu Dawud, dan An-Nasa’i, dari hadits Samrah, “…seperti panjang sujudnya di dalam shalat saja…” dalam riwayat Muslim dari hadits Jabir, “Sujudnya seperti ruku’nya.” Dengan ini Ahlul ilmi menetapkan.

Mengucapkan setelah setiap selesai ruku’ “Samiallahu Liman Hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) kemudian mengucapkan setelahnya, Rabbana laka Alhamd (Rabb kami hanya bagimu kami memuji) sampai akhirnya, duduk di antara dua sujud juga dipanjangkan. Telah disebutkan dalam riwayat Muslim pada hadits Jabir memanjangkan i’tidal diantara dua sujud.

Pengarang berkata, “Saya tidak menemukan dalam masalah ini sesuatu riwayat yang menguatkannya kecuali hadits ini, dan apa yang dinukil dari Al-Ghazali tentang kesepakatan tidak memanjangkannya adalah tertolak.

Dan dalam ucapan, “Bangun berdiri dengan lama namun lebih pendek dari berdiri yang pertama” dalil yang menunjukkan dipanjangkannya berdiri pada rakaat yang kedua, tetapi tidak seperti rakaat yang pertama. Telah datang dalam riwayat Abu Dawud dari Urwah, “Sesungguhnya beliau membaca surah Ali Imran.”

Ibnu Baththal berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa rakaat yang pertama dengan berdiri dan ruku’nya lebih panjang dari rakaat kedua dengan berdiri dan ruku’nya, yang terjadi perbedaan pendapat adalah pada berdiri pertama pada rakaat yang kedua dan ruku’nya, apakah keduanya lebih pendek dari berdiri kedua dari rakaat pertama dan ruku’nya, atau keduanya sama? Dikatakan sebab perbedaan ini adalah pemahaman makna sabda Rasulullah, “dan ini tidak sepanjang yang pertama”, apakah yang dimaksud adalah berdiri yang pertama dari rakaat pertama atau setiap berdiri tidak sama dengan sebelumnya.

Dan dalam ucapan, “kemudian beliau berkhutbah kepada manusia” ini adalah dalil disyariatkannya khutbah setelah shalat kusuf. Yang berpendapat disunahkannya hal ini adalah Asy-Syafi’i dan mayoritas imam ahlul hadits. Diriwayatkan dari Al-Hanafiyah, “Tidak ada khutbah setelah shalat gerhana, karena hal ini tidak pernah dinukil. Dan disertai dengan adanya hadits-hadits yang secara jelas menerangkan khutbah. Dan ucapan yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak dimaksudkan khutbah tapi hanya sekedar membantah kepercayaan bahwa gerhana terjadi karena kematian seseorang, hal ini juga dibarengi dengan riwayat Al-Bukhari, “Kemudian beliau membaca hamdalah dan memuji Allah…” dan dalam riwayat yang lain, “Beliau bersaksi bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya…” dan dalam riwayat yang lain bagi Al-Bukhari, “Sesungguhnya beliau menyebutkan tentang keadaan surga dan neraka dan lain-lainnya.”

Dan ini adalah maksud-maksud dan sebuah khutbah, lafazh riwayat dalam Muslim dari hadits Fatimah dari Asma’ ia berkata,

«فَخَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ رَأَيْته إلَّا قَدْ رَأَيْته فِي مَقَامِي هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ، وَإِنَّهُ قَدْ أُوحِيَ إلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُورِ قَرِيبًا أَوْ مِثْلَ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيُؤْتَى أَحَدُكُمْ فَيُقَالُ: مَا عِلْمُك بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ: فَيَقُولُ: هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا، وَأَطَعْنَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ يُقَالُ: نَمْ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّك تُؤْمِنُ بِهِ فَنَمْ صَالِحًا»

“Rasulullah berkhutbah kepada manusia beliau membaca hamdalah dan memuji kepada Allah kemudian beliau berkata, Amma Ba’du (adapun setelah ini) tidak ada sesuatu pun yang belum aku lihat kecuali telah aku lihat di tempatku ini sampai surga dan neraka, dan sesungguhnya aku diberi wahyu bahwa kalian akan terfitnah nanti di dalam kubur kalian”, atau “Seperti fitnah sang pengembara Dajjal”, “aku tidak tahu siapa itu,” berkata rawi, Asma’ berkata, “Maka didatangkanlah seseorang di antara kalian, “Apa yang kamu ketahui tentang orang ini? Apakah ia seorang mu’min atau orang yang diikuti. Aku tidak tahu tentang apa yang ia katakan, Maka berkatalah Asma’, “Dia adalah Muhammad Rasulullah telah datang dengan Al-Bayyinah (keterangan yang jelas) dan Al-Huda (petunjuk), kami selalu memenuhi panggilannya dan mentaatinya -tiga kali-, kemudian dikatakan, “Tidurlah, kami telah mengetahui sesungguhnya engkau beriman dengannya maka tidurlah dengan baik.”

Dan riwayat Muslim ada riwayat lain dalam khutbah dengan lafazh-lafzh tambahan.

“Dalam riwayat Muslim (dari Ibnu Abbas) shalat (yakni Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) ketika terjadi gerhana matahari delapan rakaat (yakni ruku’) dalam empat sujud (dalam dua rakaat, karena di setiap rakaat ada empat sujud).”

Yang dimaksud adalah, “Sesungguhnya beliau ruku’ di setiap rakaat dengan empat ruku’, maka jadilah dalam setiap dua rakaat delapan ruku’, ini adalah pendapat satu kelompok.

0467

467 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مِثْلُ ذَلِكَ.

467. Dari Ali Radhiyallahu Anhu, ada hadits seperti hadits di atas.

[Syadz: Muslim 908, lihat: Al-Misykah 1487. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ali Radhiyallahu Anhu (menurut riwayat Muslim) ada hadits seperti hadits di atas (yaitu seperti hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas itu).”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *