[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 135

02.15. BAB SHALAT KUSUF 01

0463

463 – عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، يَوْمَ مَاتَ إبْرَاهِيمُ، فَقَالَ النَّاسُ: انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إبْرَاهِيمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ ” حَتَّى تَنْجَلِيَ ”

463. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu pada hari meninggalnya Ibrahim.” Berkatalah manusia, “Telah terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim.” Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, tidaklah terjadi gerhana pada keduanya disebabkan karena kematian seseorang atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat gerhana keduanya maka berdoalah kalian dan shalatlah sampai gerhana selesai.” (Muttafaq Alaih) Dalam riwayat lain bagi Al-Bukhari, “Sampai menjadi terang.”

[Shahih: Al Bukhari 1043 dan Muslim 915]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu pada hari meninggalnya Ibrahim” (yaitu anak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kematiannya terjadi pada 10 H. Abu Dawud berkata, “Yaitu pada bulan Rabiul Awwal hari Selasa pada tahun ke-10 H.” Dikatakan pada tahun ke-4) “Berkatalah manusia, “Telah terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim.” Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (yakni membantah apa yang telah mereka ucapkan).”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, tidaklah terjadi gerhana pada keduanya disebabkan karena kematian seseorang atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat gerhana keduanya maka berdoalah kalian dan shalatlah (ini lafazh bagi Muslim, sedangkan lafazh Al-Bukhari, “Shalatlah kalian dan berdoalah kepada Allah.”) “Sampai tersingkap” lafazh ini tidak ada pada Al-Bukhari, tetapi ada pada Muslim.

Dikatakan ‘kasafat asy-syamsu’, Inkasafat dan Khasafat begitu juga Inkhasafat. Para ulama berbeda pendapat dalam pengunaan dua lafazh ini, apakah keduanya digunakan untuk matahari dan bulan, atau masing-masmg lafazh tersebut mempunyai pasangan tersendiri dari keduanya? Tersebut di dalam Al-Qur’an penisbatan kata khusuf kepada bulan, namun dalam hadits terdapat penisbatan khusuf kepada matahari, “Khasafat Asy-Syamsu”, sebagaimana kata kusuf pun dinisbatkan kapadanya -matahari-. Telah terjadi penggunaan kedua lafazh ini dinisbatkan kepada matahari dan bulan maka dikatakan, Asy-Syamsu wal Qamariyan khasifam wa yankasifani,’ tetapi yang terjadi adalah tidak ditemukannya kusuf dinisbatkan kepada bulan dengan cara menyendiri, dengan alasan ini para ulama mengkhususkan kata kusuf untuk matahari dan kata khusuf untuk bulan, dan inilah yang dipilih oleh Tsa’lab. Al-Jauhari berkata, ‘Ini lebih fashih.” Dan dikatakan, “Kedua istilah itu (kusuf dan khusuf) digunakan pada keduanya (matahari dan bulan).”

Al-Kusuf menurut bahasa artinya berubah ke warna hitam dan –Al Khusuf berarti kurang. Mengenai makna ini ada pendapat-pendapat yang lain. Dan yang pasti mereka berkata, “Sesungguhnya gerhana matahari terjadi karena kematian Ibrahim, karena gerhana ini terjadi tidak pada hari-hari yang biasa terjadi gerhana. Biasanya terjadi gerhana pada hari ke sepuluh atau ke empat, dan gerhana yang terjadi ini tidak seperti biasanya, maka mereka berkata, “Sesungguhnya gerhana ini terjadi karena terjadi peristiwa besar.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membantah dan mengabarkan kepada mereka bahwa kedua gerhana ini adalah tanda dari tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah, dan untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Hadits ini diambil dari firman Allah Ta’ala,

{وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا}

“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu, melainkan untuk menakuti.” (QS. Al-Israa: 59).

Dan ucapan “Karena kehidupannya”, padahal mereka tidak mengungkapkan itu. Ini adalah penegasan bahwa tidak ada perbedaan antara dua perkara ini. Jika kalian tidak mengatakan terjadi gerhana karena kehidupan seseorang, maka jangan pula katakan gerhana terjadi karena kematian seseorang. Atau yang dimaksud dari hidupnya adalah sehatnya dari sakit dan seterusnya.

Kemudian beliau juga menyebutkan bulan, padahal pembicaraan khusus mengenai gerhana matahari. Ini adalah tambahan penjelasan dan keterangan bahwa hukum kedua cahaya ini adalah sama dalam kasus ini. Kemudian beliau memberikan petunjuk untuk beribadah dengan sesuatu yang disyariatkan ketika melihat gerhana ini dengan melakukan shalat dan doa. Pembahasan tentang sifat shalat ini akan dijelaskan kemudian.

Perintah shalat gerhana dalam hadits ini menunjukkan perintah wajib, namun mayoritas ulama memahaminya bahwa hal itu adalah sunnah muakkad, karena shalat wajib hanyalah lima waktu. Abu Awanah secara tegas menjelaskan di dalam shahihnya kewajiban tersebut. Dinukil dari Abu Hanifah bahwasanya ia mewajibkan shalat gerhana. Dan Rasulullah menjadikan akhir dari waktu shalat dengan tersingkapnya gerhana menunjukkan hilang waktu shalat dengan tersingkapnya matahari. Dan jika matahari sudah terang, sedangkan beliau masih dalam keadaan shalat, maka beliau menyempurnakan shalatnya, akan tetapi cukup dengan apa yang telah diperbuat saja. Tetapi tersebut dalam riwayat Muslim, “Rasulullah salam sedangkan matahari telah jelas tersingkap.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa beliau menyempurnakan shalat walaupun matahari telah tersingkap. Hal ini dikuatkan dengan qiyas terhadap seluruh shalat, sesungguhnya shalat-shalat ini dibatasi oleh rakaat sebagaimana yang telah lalu, yaitu jika ia telah melakukan satu rakaat maka ia harus menyempurnakannya. Dan dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa melaksanakan shalat gerhana dibatasi oleh terjadinya sebuah sebab dalam waktu kapan saja dari waktu-waktu yang ada. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Sedangkan menurut pendapat Ahmad dan Al-Hanafiyah selain pada waktu-waktu yang dilarang.

0464

464 – وَلِلْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ»

464. Dan bagi Al-Bukhari dari hadits Abi Bakrah Radhiyallahu Anhu, “Maka shalatlah dan berdoalah sampai tersingkap apa yang terjadi pada kalian.”

[Shahih: Al Bukhari 1040]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Ini adalah hadits pertama yang diletakkan oleh Al-Bukhari pada bab gerhana, dengan lafazh Yaksyifu (tersingkap) yakni terangkat apa yang menghalangi antara kalian dan gerhana matahari dan bulan.

0465

465 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ، وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي: الصَّلَاةَ جَامِعَةً

465. Dari Aisyah Radhiyallahu anha, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengeraskan dengan bacaannya pada shalat gerhana, ia shalat empat ruku; dalam dua rakaat’ dan empat sujud.” (Muttafaq Alaih dan lafazh ini bagi Muslim) Dan dalam riwayatnya yang lain, “Beliau telah mengutus seorang muadzin untuk mengumandangkan ashshalatu jami’ah (mari shalat berjamaah).

[Shahih: Al Bukhari 1046, Muslim 901]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan, bahwa mengeraskan bacaan di dalam shalat gerhana yang dimaksud adalah gerhana matahari sesuai dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad dengan lafazh, “Gerhana matahari.” Ia berkata, “Kemudian ia membaca dan mengeraskan bacaannya.” Tentang mengeraskan bacaan ini At-Tirmidzi, At-Thahawi, Ad-Daraquthni mengeluarkan riwayat dan Ibnu Khuzaimah dan lain-lainnya juga mengeluarkan dari Ali Alaihissalam secara marfu tentang mengeraskan bacaan shalat di dalam shalat gerhana.

Dalam hal ini terdapat empat pendapat;

Pertama; Mengeraskan bacaan secara mutlak baik di dalam gerhana matahari maupun gerhana bulan berdasarkan hadits ini dan lainnya. Hadits ini walaupun terjadi pada saat gerhana matahari, maka gerhana bulan pun disamakan seperti hal tersebut karena beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam telah mengumpulkan kedua gerhana ini di dalam hukumnya di mana beliau bersabda, “Jika kalian melihat keduanya…” yaitu dua gerhana matahari dan bulan, “maka shalatlah dan berdoalah”. Hukum asal kedua shalat ini sama dalam tata caranya. Ini adalah mazhab Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir dan lain-lainnya.

Kedua; Bacaan shalat dibaca pelan secara mutlak berdasarkan hadits Ibnu Abbas, “Sesungguhnya beliau berdiri lama sepanjang surat Al-Baqarah.” Jikalau sekiranya bacaan dikeraskan maka ia tidak perlu mengukurnya dengan apa yang disebut. Asy-Syafii telah menurunkan hadits secara muallaq dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, “Sesungguhnya ia berdiri disamping Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika melaksanakan shalat gerhana dan ia tidak mendengar dari beliau satu huruf pun.” Hadits ini dimaushulkan oleh Al-Baihaqi dari tiga jalan yang pada semua sanadnya terdapat wahiyah (lemah), ini menjadikan hadits ini dhaif. Ucapan ini menjadi lemah karena mungkin saja dipahami bahwa Ibnu Abbas berada jauh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga ia tidak mendengar bacaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ketiga; Dibolehkan memilih antara mengeraskan atau melirihkan suara, karena kedua perkara ini sama berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam sebagaimana yang telah Anda ketahui dari dalil-dalil kedua pendapat ini.

Keempat; Dipelankan pada gerhana matahari dan dikeraskan pada gerhana bulan. Ini adalah pendapat selain dari Abu Hanifah dan imam mazhab yang empat berdasarkan hadits Ibnu Abbas diqiyaskan terhadap shalat lima waktu dan apa-apa yang disebutkan dari dalil orang yang mengeraskan secara mutlak.

Hadits ini memberikan manfaat tentang tata cara dan sifat shalat kusuf dengan dua rakaat, yang di setiap rakaat ada dua ruku dan setiap rakaat ada dua sujud, dan akan dijelaskan dalam syarah hadits yang keempat ada perbedaan pendapat.

Ungkapan “Dalam riwayat yang lain (yakni bagi Muslim dari Aisyah ‘Radhiyallahu Anha) telah mengutus (yakni Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) seorang muadzin untuk mengumandangkan ashshalatu jami’ah -Mari shalat berjamaah-.

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengumumkan shalat kusuf dengan lafazh ini untuk mengumpulkan orang dalam melaksanakannya, dan tidak terdapat satu riwayat pun yang datang dari Rasulullah, kecuali hanya untuk shalat gerhana.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *