[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 134

02.14. BAB SHALAT IED (HARI RAYA) 05

0460

460 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمَدِينَةَ، وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ: قَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ» . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ.

460. Dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba ke Madinah dan bagi penduduk negeri itu dua hari yang mereka bermain pada keduanya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah telah menggantikan kepada kalian dari dua hari itu sesuatu yang lebih baik dari keduanya yaitu hari IedulAdha dan hari raya Iedul Fitri.” (HR. Abu Dawud, An-Nasai dengan sanad yang shahih).

[Shahih: Abu Daud 1154]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan hal itu setelah tibanya di Madinah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh huruf fa dan yang terdapat dalam kitab sejarah, “Sesungguhnya Ied yang pertama yang disyariatkan dalam syariat Islam adalah Iedul Fitri yang terjadi pada tahun kedua hijriyah.”

Hadits ini juga menunjukkan bahwa menampakkan kebahagiaan pada dua hari raya itu disunnahkan. Ini adalah syariat yang telah Allah syariatkan kepada hamba-Nya untuk mengganti hari raya jahiliyah dengan dua hari raya tersebut. Hal ini ditunjukkan bahwa beliau melakukan pada dua hari raya yang disyariatkan itu seperti apa yang dilakukan orang-orang jahiliyah pada hari raya mereka, namun beliau berbeda dengan mereka dalam hal penentuan waktu.

Aku berkata, “Demikianlah yang dijelaskan dalam Asy-Syarah, yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan jahiliyah adalah perbuatan yang tidak diharamkan dan tidak memalingkan dari ketaatan.”

Adapun memperluas berkunjung keluarga pada hari raya, yang dapat menyegarkan fisik dan pikiran mereka dari beban ibadah, maka itu disyariatkan. Sebagian ulama beristimbat tentang makruhnya berbahagia pada hari raya orang-orang musyrik dan menyerupai mereka. Syaikh Al-Kabir Abu Hafsh Al-Busti dari ulama Hanafiyah, ia berkata, “Barangsiapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik karena mengagungkan hari raya mereka, maka ia telah kafir.”

0461

461 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «مِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَخْرُجَ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ.

461. Dari Ali Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Termasuk perkara sunnah adalah keluar menuju shalat Ied dengan jalan kaki.” (HR. At-Tirmidzi dan ia menghasankannya).

[Hasan: At Tirmidzi 530]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Kelengkapan hadits ini dari At-Tirmidzi adalah,

وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ

“Agar engkau memakan sesuatu sebelum engkau keluar.”

At-Tirmidzi berkata, “Mengamalkan hadits ini menurut mayoritas Ahlul ilmi disunnahkan, yaitu seseorang keluar menuju shalat Ied dengan berjalan kaki dan memakan sesuatu sebelum ia berangkat.” Abu Isa berkata, “Disunnahkan untuk tidak naik kendaraan kecuali karena udzur.”

Saya tidak menemukan di dalam hadits ini bahwa At-Tirmidzi menghasankan hadits ini, dan saya juga tidak menyangka kalau At-Tirmidzi menghasankannya. Karena hadits ini diriwayatkan dari jalur riwayat Al-Harits Al-A’war, ia adalah salah seorang perawi yang banyak dibicarakan oleh para muhaddits. Said bin Mansur telah mengeluarkan dari Az-Zuhri secara mursal,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَا رَكِبَ فِي عِيدٍ وَلَا جِنَازَةٍ»

“Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menaiki kendaraan pada hari raya dan pada waktu mengiringi jenazah.”

Ibnu Umar keluar menuju shalat Ied dengan berjalan kaki, begitu pula ia kembali dengan berjalan kaki. Adanya taqyid (batasan) dengan makan -terlebih dahulu- sebelum keluar menuju shalat Ied berdasarkan riwayat yang telah lalu, yakni hadits Abdullah bin Buraidah dari bapaknya.

Ibnu Majah meriwayatkan hadits Abu Rafiq dan lainnya,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu keluar menuju shalat Ied dengan jalan kaki dan juga kembali dengan jalan kaki.” [Hasan: Ibnu Majah 1313]

Tetapi Al-Bukhari telah membuat bab di dalam kitab Shahihnya. tentang orang yang berjalan dan naik kendaraan menuju shalat Ied. Ia berkata, “Bab Al-Mudhiy wa Ar-Rukuub ila Al-Iid” (Bab orang yang berjalan dan naik kendaraan menuju Ied). Ia menyamakan antara keduanya, seakan-akan setelah ia melihat tidak shahihnya hadits ini, ia kembali kepada asal dan pemahaman awal serta penjelasannya.

0462

462 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّهُمْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَصَلَّى بِهِمْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَاةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ لَيِّنٍ

462. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Sesungguhnya mereka telah ditimpa hujan pada hari raya, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengimami mereka shalat Ied di Masjid.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang layyin).”

[Dhaif: Abu Daud 1160]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hal ini disebabkan karena di dalam sanadnya ada seorang rawi yang majhul (tidak diketahui) juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad yang dhaif.

Tafsir Hadits

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini dengan dua pendapat, apakah yang utama shalat Ied di lapangan atau shalat Ied di masjid kota yang luas.

Pertama; Menurut pendapat Al-Hadawiyah dan Malik bahwa keluar ke tanah lapang lebih utama walaupun masjid dapat menampung manusia.

Hujjah mereka adalah bahwa Rasulullah selalu melakukan shalat ied di lapangan tersebut dan tidak pernah shalat ied di masjid kecuali karena udzur hujan, dan tidaklah mungkin Rasulullah melakukan sesuatu kecuali yang lebih utama. Dan juga karena ucapan Ali Alaihissalam, “Sesungguhnya diriwayatkan darinya bahwa ia keluar ke tanah lapang untuk shalat Ied kemudian ia berkata,

«لَوْلَا أَنَّهُ السُّنَّةُ لَصَلَّيْت فِي الْمَسْجِدِ، وَاسْتَخْلَفَ مَنْ يُصَلِّي بِضَعَفَةِ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ»

“Sekiranya itu sunnah, maka aku akan shalat di masjid, dan akan bertambah banyaklah orang yang shalat dan penuhlah masjid dengan banyaknya manusia.” [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (2/5)]

Mereka berkata, “Jika di tanah lapang tempat untuk shalat terbuka luas, maka ini lebih utama. Namun jika ini dibatasi (sempit), maka ada keraguan di dalamnya.”

Kedua; Ucapan Asy-Syafii, “Sesungguhnya jika masjid di kota luas, maka orang Islam harus shalat di situ dan tidak keluar.” Maka alasan keluar pada saat ini adalah memperbanyak keluarnya manusia. Karenanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak anak-anak perempuan dan perempuan-perempuan yang memiliki penutup kepala jika ini sudah mampu ditampung masjid, maka ini lebih utama. Sesungguhnya penduduk Makkah tidak keluar ke lapangan karena luasnya masjid mereka dan sempitnya tanah lapang. Berpendapat seperti ini Imam Yahya dan juga ulama yang lain, mereka berkata, “Shalat di masjid itu lebih utama.”

Waktu Takbir

Adapun berkenaan dengan waktu takbir, para ulama berbeda dalam dua pendapat,

Pertama; Menurut mayoritas ulama, takbir dimulai dari keluarnya imam untuk shalat sampai dimulainya khutbah. Al-Baihaqi menyebutkan dalam hal ini dua hadits yang didhaifkan olehnya. Tetapi Al-Hakim berkata, “Ini sunnah yang biasa dilakukan oleh Imam-Imam Ahlul Hadits.” Telah shahih sebuah riwayat dari Ibnu Umar tentang hal ini dan lain-lainnya dari shahabat.

Kedua; Menurut An-Nashir, “Sesungguhnya takbir dimulai dari Maghrib pada malam pertama di bulan Syawal sampai Ashar hari tersebut di setiap selesai shalat fardhu.” Menurut Asy-Syafii, “Sampai keluarnya imam, atau sampai imam mengerjakan shalat, atau sampai menyelesaikan khutbahnya.” Ada beberapa pendapat dari Asy-Syafii tentang masalah ini.

Sifat Takbir

Adapun sifat takbir, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Fadhail Al-Auqat karya Al-Baihaqi dengan sanad sampai kepada Salman, “Bahwa ia mengajarkan takbir kepada mereka. Ia berkata, “Bertakbirlah kalian dengan membaca,

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا أَوْ قَالَ كَثِيرًا اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَى، وَأَجَلُّ مِنْ أَنْ تَكُونَ لَك صَاحِبَةٌ أَوْ يَكُونَ لَك وَلَدٌ أَوْ يَكُونَ لَك شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ أَوْ يَكُونَ لَك وَلِيٌّ مِنْ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا

‘Allahu Akbar, Allahu Akbar , Allahu Akbar Kabiira” atau ia berkata, “Katsira”, Ya Allah, Engkau Maha Luhur dan Maha Agung dari menjadikan bagiMu seorang teman, atau menjadikan bagi-Mu seorang anak, atau menjadikan bagi-Mu seorang sekutu di dalam kerajaan, atau menjadikan bagi-Mu wali dari kehinaan, dan kami membesarkan-Mu dengan takbiran. Ya Allah ampunilah dosa kami, Ya Allah kasih sayangilah kami.”

Adapun takbir pada hari raya Idul Adha, telah diwajibkan juga oleh An-Nashir berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ}

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203).

{كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ}

“Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.” (QS. Al-Haj: 37).

Pendapat ini disepakati oleh Al-Manshur Billah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa takbir ini sunnah muakkad bagi laki-laki dan perempuan. Dan di antara mereka ada yang mengkhususkan bagi laki-laki saja.

Adapun mengenai waktunya, maka menurut zhahir ayat yang mulia dan atsar dari para shahabat tidak ada pengkhususan tertentu. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang mengkhususkan setelah shalat fardhu secara mutlak. Ada juga yang mengkhususkannya setelah shalat fardhu dan tidak setelah shalat sunnah. Ada yang mengkhususkannya secara berkelompok dan tidak sendirian, dilakukan pada shalat ada’an (dilakukan pada waktunya) bukan pada shalat yang dikerjakan secara qadha’ (dikerjakan di luar waktunya). Dan ada juga yang mengkhususkannya bagi orang yang mukim bukan orang yang musafir, dan dilakukan di kota bukan di desa.

Adapun mengenai waktu dimulainya takbir dan juga akhir takbir pada hari raya Iedul Adha terjadi perbedaan pendapat. Dikatakan, takbir diawali dari Subuh hari Arafah. Ada yang mengatakan dari Zhuhur di hari Arafah. Ada juga yang mengatakan dari Asharnya, pada hari kedua sampai ke Zhuhur hari ketiganya. Dikatakan juga sampai akhir hari Tasyrik. Dikatakan juga sampai Zhuhur hari Tasyrik. Dikatakan juga sampai Ashar hari Tasyrik. Semua ini tidak ada satu pun yang ditetapkan oleh Rasulullah dengan hadits yang jelas. Riwayat yang paling shahih dalam hal ini adalah dari shahabat yakni ucapan Ali dan Ibnu Mas’ud bahwa membaca takbir itu dari Subuh hari Arafah sampai akhir hari-hari Mina.” Kedua pendapat ini dikeluarkan oleh Ibnu Mundzir.

Adapun sifat takbirnya yang paling shahih dalam hal ini adalah yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Salman dengan sanad yang shahih ia berkata, “Bertakbirlah kalian; Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Kabiira.”

Dan diriwayatkan dari Said bin Zubair, Mujahid dan Ibnu Abi Laila juga merupakan pendapat dari Imam Asy-Syafii dan beliau menambahkan di dalamnya, “walillahilham”. Di dalam kitab Asy-Syarah, banyak beberapa sifat -bentuk- takbir yang dianggap baik oleh sekelompok ulama. Ini menunjukkan adanya keluasan dalam hal ini, sebagaimana dimutlakkan dalam ayat yang menunjukkan keluasan tersebut.

Ketahuilah, bahwa tidak ada perbedaan antara takbir Iedul Fitri dengan takbir Iedul Adha. Karena dalam pensyariatan takbir, mengacu pada dalil yang sama. Walaupun yang ma’ruf di masyarakat bahwa takbir itu adalah takbir -Iedul Adha. Telah disebutkan di dalam ayat adanya penyebutan pada hari-hari yang terhitung dan hari-hari yang diketahui. Bagi ulama dalam hal in ada dua pendapat; Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa keduanya berbeda, yang dimaksud dengan hari-hari yang terhitung adalah hari-hari Tasyrik sedangkan hari-hari yang diketahui adalah tanggal sepuluh. Disebutkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas secara muallaq yang dimaushulkan oleh selainnya. Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, “Sesungguhnya yang diketahui itu adalah hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya.” Dikuatkan oleh Ath-Thahawi berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ}

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.’ (QS. Al-Haj: 28). Sesungguhnya ayat ini memberikan isyarat bahwa yang dimaksud adalah ayyamu an-nahr (hari-hari penyembelihan atau kurban).

Hal ini tidak mencegah penamaan ayyam al-‘usyr ma’lumat (hari-hari sepuluh yang dikenal) dan juga ayyam at-tasyriq ma’dudat (hari-hari tasyrik yang dihitung), tetapi penamaan hari-hari tasyrik yang terhitung adalah disepakati para ulama berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ}

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Al-Bukhari telah menyebutkan dari Ibnu Umar secara muallaq, “Sesungguhnya kedua orang ini keluar menuju pasar pada hari-hari sepuluh mereka bertakbir dan orang-orang pun bertakbir bersama keduanya.” Al-Baghawi dan Al-Baihaqi juga menyebutkan seperti ini. Ath-Thahawi berkata, “Guru-guru kami juga menyebutkan demikian, yakni bertakbir pada hari-hari sepuluh semuanya.”

Manfaat Takbir

Pertama; Takbir di dalam dua hari raya disyariatkan menurut jumhur ulama. Adapun takbir pada waktu Iedul Fitri diwajibkan oleh An-Nashir berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 185). Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa takbir pada waktu hari raya hukumnya sunnah.

Kedua; Disunnahkan memakai pakaian yang terbaik dan memakai minyak wangi yang terbaik pada hari raya tersebut. Ditambahkan pada hari raya itu adalah kurban yang paling gemuk yang ditemukan sebagaimana riwayat Al-Hakim dari hadits Al-Hasan Al-Bashti, ia berkata,

«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نُضَحِّيَ بِأَسْمَنَ مَا نَجِدُ الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْجَزُورُ عَنْ عَشْرَةٍ، وَأَنْ نُظْهِرَ التَّكْبِيرَ وَالسَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada kami pada dua hari raya untuk memakai sesuatu yang terbaik yang kami punyai dan berminyak wangi dengan sebaik-baik minyak wangi yang kami punyai dan berkurban dengan kurban yang paling gemuk yang kami temui, yaitu sapi untuk tujuh orang dan onta untuk sepuluh orang. Dan juga untuk menampakkan takbir sedangkan kami dalam posisi yang tenang dan berwibawa.” [Al-Mustadrak (4/256)]

Al-Hakim berkata setelah mengeluarkan hadits ini dari jalan Ishaq bin Bazurj, “Kalau bukan karena Ishaq ini majhul (tidak dikenal), maka saya akan menghukumi hadits ini dengan hadits shahih.” Saya katakan, “Ia bukanlah seseorang yang majhul, ia telah didhaifkan oleh Al-Azdi dan ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban, sebagaimana yang ia sebutkan di dalam At-Talkhish.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *