[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 133

02.14. BAB SHALAT IED (HARI RAYA) 04

0456

456 – وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الْأُولَى وَخَمْسٌ فِي الْأُخْرَى وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد، وَنَقَلَ التِّرْمِذِيُّ عَنْ الْبُخَارِيِّ تَصْحِيحَهُ

456. Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata, ‘ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata, “Membaca takbir pada shalat Iedul Fitri tujuh kali pada rakaat yang pertama dan lima kali pada rakaat yang kedua, serta membaca Al-Qur’an -Al-Fatihah dan surat yang lain- di antara keduanya yaitu kedua rakaat tersebut.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi telah menukil dari Al-Bukhari pentashihan hadits ini)

[Hasan: Abu Daud 1151]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Amru bin Syuaib, nama lengkapnya adalah Abu Ibrahim Amru bin Syu’aib bin Muhammad bin Abdillah bin Amr bin Ash. Ia mendengar riwayat dari bapaknya, Ibnu Al-Musayib dan Thawus, dan meriwayatkan darinya Az-Zuhri dan sekelompok ulama.

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Ali bin Al-Madini, mereka berdua menshahihkan hadits ini.

Mereka telah meriwayatkan dari hadits Aisyah, Sa’ad Al-Qarazh, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Katsir bin Abdillah, semuanya ada rawi yang dhaif dan telah diriwayatkan dari Ali Alaihissallam dan Ibnu Abbas secara mauquf.

Aku berkata, “Telah meriwayatkan Al-Uqaili dari Ahmad bin Hambal sesungguhnya ia berkata, ‘Tidak ada riwayat yang shahih di dalam masalah takbir pada dua hari raya.” Ibnu Rusyd berkata, “Sesungguhnya mereka mengambil dengan pendapat para shahabat dalam masalah ini, karena tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam -tentang masalah ini-.”

Hadits ini menjadi dalil bahwa bertakbir pada rakaat pertama di antara dua rakaat shalat Ied dengan tujuh takbir. Ada kemungkinan bahwa tujuh takbir tersebut termasuk takbir pembuka dan juga yang lainnya. Tetapi yang paling jelas tujuh itu selain takbir pembuka, dan dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Berkata di dalam Al-Hadyu An-Nabawi, “Sesungguhnya takbir pembuka termasuk di dalamnya, akan tetapi ia tidak membawakan satupun dalil tentangnya. Dan pada rakaat kedua dengan lima takbir. Ini adalah pendapat dari sekelompok shahabat dan juga yang lain, namun ada kelompok yang lain berbeda pendapat, mereka mengatakan, “Lima takbir pada rakaat yang pertama, dan empat takbir pada rakaat yang kedua.” Ada juga yang mengatakan, “Tiga takbir pada rakaat yang pertama dan tiga takbir pada rakaat yang kedua.” Ada juga yang mengatakan, “Lima takbir pada rakaat yang pertama dan enam takbir pada rakaat yang kedua.”

Saya katakan, “Yang paling dekat untuk diamalkan adalah pada hadits ini, walaupun pada setiap jalur hadits ini ada catatan, namun masing-masing menguatkan antara satu dengan yang lainnya, dan juga selain pendapat-pendapat itu tidak ada sunnah yang dapat dijadikan sandaran.”

Dalam hadits ini juga menunjukkan bahwa ada bacaan Al-Qur’an setelah takbir di dalam dua rakaatnya. Demikian yang dikatakan oleh Asy-Syafii dan Malik. Al-Hadi berpendapat bahwa bacaan Al-Qur’an sebelum takbir di dalam dua rakaat ini, ia telah mengeluarkan dalil di dalam Al-Bahr dengan sesuatu yang tidak sempurna dijadikan dalil. Al-Baqir dan Abu Hanifah berpendapat, “Sesungguhnya didahulukan takbir pada rakaat pertama dan diakhirkan pada rakaat kedua untuk membedakan antara fardhu-fardhu.”

Ketahuilah sesungguhnya perkataan pengarang bahwa At-Tirmidzi telah menukil dari Al-Bukhari tentang penshahihah hadits ini sebagaimana yang dikatakan dalam Talkhis Al-Khabir, “Sesungguhnya telah berkata Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, “Hadits ini adalah riwayat yang paling shahih dalam masalah takbir pada shalat Ied.” Aku tidak mengetahii darimana At-Tirmidzi menukil ini karena At-Tirmidzi tidak pernah sama sekali mengeluarkan hadits Amr bin Syu’aib ini, tetapi ia mengeluarkan riwayat dari Katsir bin Abdillah dari bapaknya dari kakeknya. Ia berkata: ‘Hadits kakek Katsir adalah riwayat terbaik yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam masalah ini.” Ia berkata, “Dalam bab ada riwayat dari Aisyah, Ibnu Umar, Abdullah bin Amr, dan tidak disebutkan sesuatu pun yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Telah terdapat dalam As-Sunan Al-Kubra karya Al-Baihaqi kesalahan ini, kecuali ia menyebutkannya setelah ia meriwayatkan hadits Kastir bin Abdillah, ia berkata, “Telah berkata Abu Isa, Aku bertanya kepada Muhammad yakni Al-Bukhari tentang hadits ini, maka ia berkata, ‘Tidak ada dalam masalah ini satu riwayat yang lebih shahih dari ini”, Ia berkata, “Hadits Abdullah bin Abdur Rahman Ath-Thaifi dari Amr bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya dalam bab ini juga merupakan riwayat yang shahih, selesai ucapan Al-Baihaqi. Tetapi aku tidak menemukan di At-Tirmidzi sesuatu pun yang disebutkan.

Pengarang Tanqih Al-Andzar telah memperingatkan semua ini, ia berkata, “Yang mengherankan bahwa Ibnu An-Nahawy telah menyebutkan dalam Khulashahnya. dari Al-Baihaqi dari At-Tirmidzi, ia berkata, “Aku bertanya kepada Muhammad tentang hal ini…sampai akhir. Dengan ini diketahuilah bahwa pengarang telah mengikuti Al-Hafidz Al-Baihaqi dalam penukilan ini dari At-Tirmidzi dari Al-Bukhari. Karenanya ia tidak menasabkan hadits Amru bin Syu’aib, kecuali pada Abu Dawud. Yang lebih utama untuk beramal berdasarkan hadits Amru karena telah Anda ketahui bahwa hadits ini lebih bersih dari semua riwayat dalam bab ini, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diam dalam setiap dua takbir dengan diam yang sebentar, namun tidak diriwayatkan dari beliau sebuah dzikir tertentu antara dua takbir tersebut, akan tetapi Al-Khalah telah menyebutkan dari Ibnu Mas’ud sesungguhnya ia berkata, “Beliau memuji Allah dan bershalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam!’

Ath-Thabrani telah mengeluarkan dalam Al-Kabir dari Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya antara setiap dua takbir ada diam seukuran satu kata.” Hadits ini mauquf dan di dalamnya ada Sulaiman bin Arqam, ia adalah dhaif. Dan Ibnu Umar untuk selalu menjaga dan mengikuti Rasulullah, ia mengangkat kedua tangannya di setiap dua takbir.

0457

457 – وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى بِ قِ وَاقْتَرَبَتْ» . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

457. Dari Abu Waqid Al-Laytsi Radhiyallahu Anhu berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca di dalam shalat Idul Fitri dan IedulAdha dengan surat Qaf dan Surat Iqtarabat.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 891]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Waqid nama lengkapnya adalah Al-Harits bin Auf Al-Laytsi. Ia termasuk orang yang pertama masuk Islam. Dikatakan bahwa ia mengikuti perang Badar dan dikatakan juga ia termasuk orang yang masuk Islam pada Fathu Makkah, tetapi pendapat yang pertama lebih shahih. Termasuk penduduk Madinah, kemudian ia berpindah ke Makkah dan wafat di sana pada tahun 68 H.

Penjelasan Kalimat

“Al-Laytsi Radhiyallahu Anhu berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca di dalam shalat Iedul Fitri dan IedulAdha dengan surat Qaf (yakni pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah) dan surat Iqtarabat (yakni pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa bacaan surat Qaf dan surat Iqtarabat di dalam shalat Ied adalah sunnah. Dan telah disebutkan dalam hadits terdahulu, bahwa beliau telah membaca dalam dua rakaat itu dengan ‘Sabbihis’ (surat Al-A’la) dan Al-Ghasiyah (surat Al-Ghasyiyah). Secara zhahir hadits dapat diketahui bahwa beliau terkadang membaca ini dan terkadang membaca itu. Asy-Syafii dan Malik berpendapat tentang sunnahnya hal tersebut.

0458

458 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا كَانَ يَوْمُ الْعِيدِ خَالَفَ الطَّرِيقَ» أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

458. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika hari raya beliau membedakan jalan yang dilewati.” (HR. Al-Bukhari).

[Shahih: Al Bukhari 986]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika hari raya beliau membedakan jalan yang dilewati” (yakni, jika pulang dari tempat shalat, beliau lewat arah -jalur- yang berbeda dengan arah ketika beliau berangkat).

At-Tirmidzi berkata, “Ahlul ilmi telah melakukan sunnah ini dan mereka sangat menganjurkannya bagi imam.” Demikian yang dikatakan oleh Asy-Syafii. Ini juga yang dikatakan oleh sebagian besar Ahlul Ilmi, dan ini disyariatkan bagi imam dan makmum.

0459

459 – وَلِأَبِي دَاوُد عَنْ ابْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ

459. Bagi Abu Dawud dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dan serupa hadits di atas.

[Shahih: Abu Daud 1156]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Lafazh hadits ini ada dalam As-Sunan. Dari Ibnu Umar,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَخَذَ يَوْمَ الْعِيدِ فِي طَرِيقٍ ثُمَّ رَجَعَ فِي طَرِيقٍ أُخْرَى»

“Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari raya melewati jalan tertentu kemudian kembali dengan jalan yang lain.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Jabir, dan terjadi perbedaan pendapat tentang hikmah di balik peristiwa ini. Dikatakan, agar beliau dapat mengucapkan salam kepada penduduk di dua jalan tersebut. Dikatakan, agar kedua kelompok tersebut memperoleh keberkahannya. Dikatakan juga, agar orang yang memiliki keperluan dapat menunaikan keperluannya di dua jalan tersebut. Dikatakan juga untuk menampakkan cahaya jalan di seluruh penjuru gang dan jalan. Dikatakan juga, untuk menakut-nakuti orang munafik dengan penglihatan mereka terhadap kemuliaan Islam, penduduknya, dan kedudukan syiarnya.

Dikatakan juga untuk memperbanyak persaksian penduduk negeri, karena orang yang pergi ke masjid atau tempat shalat, maka salah satu langkahnya akan mengangkat derajatnya dan salah satu yang lain akan menghapus kesalahannya sampai ia kembali ke rumahnya. Dikatakan juga -dan ini yang paling shahih- sesungguhnya perbuatan ini semua memiliki hikmah-hikmah yang tidak lepas perbuatannya dari hal tersebut, karenanya Ibnu Umar selalu menjaga terhadap sunnah ini, dan selalu bertakbir dari rumahnya sampai ke tempat shalat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *