[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 132

02.14. BAB SHALAT IED (HARI RAYA) 03

0452

452 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ، لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهُمَا وَلَا بَعْدَهُمَا» . أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ

452. Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat pada hari raya Ied dua rakaat, beliau tidak shalat (sebelumnya) maupun sesudahnya.” (HR. As-Sab’ah)

Al-Bukhari (964), Muslim (2094)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat ied itu dua rakaat. Ini merupakan ijma’ bagi orang yang shalat bersama imam di tanah lapang. Adapun orang yang ketinggalan dari shalat Imam dan shalat sendirian, ia juga dua rakaat menurut mayoritas ulama. Ahmad dan Ats-Tsauri berpendapat ia harus shalat empat rakaat.

Said bin Manshur mengeluarkan riwayat dari Ibnu Mas’ud,

«مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةُ الْعِيدِ مَعَ الْإِمَامِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا»

“Siapa yang terlambat shalat ied bersama imam, maka ia shalat empat rakaat.”

Ini sanadnya shahih. Ishaq berkata, “Jika ia shalat di tanah lapang maka shalat dua rakaat, tetapi jika tidak -di tanah lapang- maka shalat empat rakaat.” Abu Hanifah berkata, “Jika ia mengqadha shalat Ied, ia boleh memilih antara dua atau empat rakaat.”

Shalat Ied telah disepakati secara ijma’ atas pensyariatannya, tetapi para ulama berbeda pendapat dalam hal ini atas tiga pendapat;

Pertama; Wajib Ain. Ini adalah pendapat Al-Hadi dan Abu Hanifah berdasarkan kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan khalifah-khalifah setelah beliau, dan juga perintah beliau mengajak keluar para perempuan. Demikian juga riwayat-riwayat yang telah lalu tentang hadits perintah pergi ke tempat-tempat shalat asalnya adalah wajib. Di antara dalil mereka adalah firman Allah Ta’ala,

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ}

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) bagi orang yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah shalat iedul Adha. Demikian juga firman Allah Ta’ala,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15) Telah ditafsirkan oleh sebagian besar ulama dengan zakat fitri dan shalat Iednya.

Kedua: Fardhu kifayah. Karena shalat Ied merupakan syiar, dan kewajibannya akan gugur jika telah didirikan oleh sebagian orang seperti halnya jihad. Pendapat ini didukung oleh Abu Thalib dan lain-lainnya.

Ketiga; Sunnah Muakkadah. Hal ini didasarkan kepada kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu melaksanakannya yang dapat dijadikan dalil disunnahkannya amalan tersebut. Ini adalah pendapat Zaid bin Ali dan sekelompok ulama, mereka berkata, “Berdasarkan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ»

“Lima waktu shalat telah dituliskan oleh Allah atas hamba-Nya.” [Shahih: Abu Daud 425]

Dalil ini dibantah berdalil dengan mafhum bilangan, dan kemungkinan kesempurnaan lafaznya, “Diwajibkan ini sehari semalam.”

Dan dalam lafazh, “Beliau tidak shalat sebelumnya maupun sesudahnya.” Dalil ini yang menunjukkan tidak disyariatkannya shalat sunnah sebelum dan sesudahnya, karena beliau tidak melakukan dan tidak memerintahkannya. Maka tidak ada hak pensyariatan atas beliau, dan tidak hak pensyariatan atas kita. Akan datang hadits Abi Said yang menunjukkan bahwa Nabi meninggalkannya. Dan juga dari hadits Abu Said, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat setelah Ied dua rakaat di rumahnya.” Telah dishahihkan oleh Al-Hakim, maka yang dimaksud dengan sabdanya disini “tidak sesudahnya”, adalah di tempat shalat.

0453

453 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى الْعِيدَ بِلَا أَذَانٍ، وَلَا إقَامَةٍ» . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد، وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ

453. Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikan shalat Ied tanpa adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud yang berasal dalam Shahih Al-Bukhari)

[Shahih: Abu Daud 1147]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ini adalah dalil tentang tidak disyariatkannya adzan dan iqamah dalam shalat ied dan keduanya adalah bid’ah.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnul Musayyib, “Sesungguhnya orang pertama yang mengada-adakan adzan untuk shalat ied adalah Muawiyah.” [Ibnu Abi Syaibah (1/491)]

Dan serupa dengan ini diriwayatkan oleh Asy-Syafii dari rawi-rawi yang tsiqah dan ia menambahkan, “Dan para hujaj mengambil darinya ketika ia memerintah Madinah.” Ibnul Mundzir meriwayatkan, “Sesungguhnya orang yang pertama kali mengada-adakannya adalah Jiyad di Bashrah.” Dikatakan, “Orang yang pertama kali mengada-adakannya adalah Marwan.” Ibnu Abi Hubaib mengatakan, “Orang pertama yang mengadakannya adalah Abdullah bin Az-Zubair dan ia juga beriqamah.”

Asy-Syafii telah meriwayatkan dari rawi-rawi tsiqah dari Az-Zuhri, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu memerintahkan muadzin untuk mengatakan, “Ash-Shalatu jamiah” (mari shalat berjamaah). Ia berkata dalam Asy-Syarh, “Ini adalah hadits mursal yang dikuatkan dengan qiyas kepada shalat khusuf, karena tetapnya hal tersebut -adzan dan iqamah- di dalamnya.” Aku berkata, “Ini perlu dicermati.”

0454

454 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَا يُصَلِّي قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئًا، فَإِذَا رَجَعَ إلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ» . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

454. Dari Abu Said Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak shalat apapun sebelum shalat Ied, tetapi apabila telah kembali ke rumahnya maka beliau shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

[Hasan: Ibnu Majah 1309]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Ahmad, At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Ibnu Umar serupa hadits ini dan ia telah menshahihkannya, ini menurut Ahmad dan Al-Hakim. Hadits ini juga mempunyai jalur periwayatan yang lain menurut riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath, akan tetapi di dalamnya ada Jabir Al-Ja’fi, ia adalah rawi yang matruk.

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat dua takaat setelah ied di rumah. Hal ini telah bertolak belakang dengan hadits Ibnu Umar menurut riwayat Ahmad secara marfu’, “Tidak ada shalat pada hari raya sebelumnya dan sesudahnya.’ Jika dikompromikan dua hadits ini, maka yang dimaksud adalah “Tidak ada shalat di lapangan terbuka.”

0455

455 – وَعَنْهُ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إلَى الْمُصَلَّى وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ – وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ – فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

455. Dan dari Abu Said ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar pada hari raya idulFitri dan idul Adha ke tempat shalat, yang pertama kali beliau kerjakan adalah shalat, kemudian beliau pergi dan berdiri menghadap manusia, sedang manusia berada pada shaf-shaf mereka, beliau memberi nasehat dan perintah kepada mereka.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 956 dan Muslim 889]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya keluar ke tempat shalat. Yang terbayang dari hadits ini adalah keluar ke tempat selain masjid beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena tempat shalat beliau adalah tempat sudah dikenal, yaitu antara tempat itu dengan pintu masjid sekitar seribu hasta sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Syubah di dalam Akhbar Al-Madinah.

Hadits ini menunjukkan didahulukannya shalat atas khutbah, hal ini telah dibahas pada bab terdahulu, dan tidak ada shalat sunnah sebelumnya.

Dalam lafazh “berdiri menghadap manusia” menunjukkan bahwa di mushallanya tidak ada mimbar. Ibnu Hibban telah mengeluarkan riwayat,

«خَطَبَ يَوْمَ عِيدٍ عَلَى رَاحِلَتِهِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari raya di atas kendaraannya.” [Shahih: Ash-Shahihah 2968. Ebook editor]

Al-Bukhari menyebutkan dalam riwayatnya yang lengkap dari Abu Said, “Sesungguhnya yang pertama kali membuat mimbar adalah Marwan.”Walaupun Umar bin Syubbah telah meriwayatkan, “Sesungguhnya orang yang pertama kali berkhutbah kepada manusia di tempat shalat (lapangan) di atas mimbar adalah Utsman, ia melakukannya sekali kemudian meninggalkannya sampai diulangi lagi oleh Marwan.” Seakan-akan Abu Said belum mengetahui hadits ini.

Hadits ini juga menunjukkan disyariatkannya khutbah shalat ied yang berisi perintah dan nasehat. Dalam khutbah ied tidak dengan dua khutbah yang dipisah dengan duduk di antara keduanya seperti halnya khutbah Jum’at. Semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun ini dilakukan oleh manusia karena diqiyaskan dengan khutbah Jum’at.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *