[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 131

02.14. BAB SHALAT IED (HARI RAYA) 02

0449

449 – وَعَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ» ، رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

449. Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam tidak keluar pada hari ray a Iedul Fitri sehingga beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Iedul Adha sampai selesai shalat.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: At Tirmidzi 542]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ibnu Buraidah nama lengkapnya adalah Abdullah bin Buraidah bin Al-Husaib Al-Aslamy Abu Sahl Al-Marwazi seorang qadhi (hakim) yang terpercaya dari tiga orang sebagaimana yang dikatakan oleh pengarang dalam At-Taqrib.

Tafsir Hadits

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Ibnu Al-Qaththan dalam riwayat Al-Baihaqi ada tambahan,

«وَكَانَ إذَا رَجَعَ أَكَلَ مِنْ كَبِدِ أُضْحِيَّتِهِ»

“…dan jika beliau pulang, beliau makan jantung hewan kurbannya.”

At-Tirmidzi berkata, “Dalam masalah ini dari Ali dan Anas.” At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Ibnu Umar di dalamnya ada rawi yang dhaif.

Hadits ini dalil disyariatkannya makan pada hari raya iedul fitri sebelum shalat dan mengakhirkannya pada iedul Adha sampai setelah shalat. Hikmah pensyariatannya ini adalah ketika menampakkan kemuliaan Allah atas hamba-hamba-Nya dengan mensyariatkan penyembelihan kurban, maka yang terpenting adalah dengan memakannya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Dan juga sebagai bentuk disyariatkannya ibadah yang bersifat umum untuk menggapai kebaikan dunia dan pahala akhirat.

0450

450 – وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ، وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ: يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

450. Dari Ummi Athiyyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Kami diperintahkan mengajak keluar anak-anak perempuan, perempuan-perempuan yang sedang haidh pada saat dua hari raya itu untuk menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin, tetapi perempuan-perempuan haidh itu terpisah dari tempat shalat.” (Muttafaq Alaih)

[Al-Bukhari (974), Muslim (980)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ummu Athiyyah adalah seorang shahabiyah Anshar. Nama lengkapnya adalah Nusaibah binti Al-Harits, dikatakan juga Nusaibah binti Ka’ab. Ia pernah berperang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam banyak peperangan, mengobati orang yang terluka, merawat yang sakit.

Ia adalah penduduk Bashrah. Sekelompok shahabat dan ulama tabiin di Bashrah mengambil ilmu darinya tentang cara memandikan jenazah, karena ia pernah menyaksikan proses pemandian jenazah putri Rasulullah Shallallahu A-laihi wa Sallam. Ia menceritakan hal tersebut dan menguasainya. Haditsnya menjadi hukum dasar dalam memandikan jenazah. Haditsnya akan dibahas dalam kitab Al-Janaiz.

Penjelasan Kalimat

“Ia berkata, “Kami diperintahkan mengajak keluar (ke tempat-tempat shalat) anak-anak perempuan (anak-anak perawan yang sudah baligh dan yang mendekati umur baligh) dan perempuan-perempuan haidh (ini lebih umum dari yang pertama dari beberapa segi) pada saat dua hari raya itu untuk menyaksikan kebaikan (yaitu masuk dalam keutamaan shalat bagi selain haidh) do’a kaum muslimin (ini lebih umum) tetapi perempuan-perempuan haidh itu terpisah dari tempat shalat.”

Tetapi dalam lafazh Al-Bukhari,

«أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ ذَوَاتِ الْخُدُورِ أَوْ قَالَ: الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَعْتَزِلْنَ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى»

“Kami diperintahkan untuk mengajak anak-anak perempuan yang memiliki kain-kain penutup.”atau ia berkata; “Anak-anak perempuan dan perempuan-perempuan yang memiliki penutup, dan perempuan-perempuan haidh menjauhi tempat-tempat shalat.”

Sedang untuk lafazh Muslim,

«أَمَرَنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتَ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ»

“Telah memerintahkan kami -yakni Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam-untuk mengajak keluar anak-anak perempuan dan perempuan-perempuan yang memiliki penutup, dan memerintahkan perempuan haidh untuk menjauhi tempat shalat orang Islam.”

Lafazh yang dibawakan pengarang ini bukan lafazh salah satu dari keduanya.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan wajibnya mengajak keluar mereka. Namun tentang masalah hukum ini ada tiga pendapat:

Pertama; Hukumnya wajib. Pendapat ini dikatakan oleh Khalifah yang tiga Ali, Abu Bakar, dan Umar. Wajibnya hal ini dikuatkan oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Al-Baihaqi dari Hadits Ibnu Abbas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُخْرِجُ نِسَاءَهُ وَبَنَاتَهُ فِي الْعِيدَيْنِ»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak keluar istri-istri dan anak-anak perempuannya dalam dua hari raya.” [Dhaif: Ibnu Majah 1325]

Secara zhahir hadits menunjukkan terus menerusnya hal tersebut dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan ini umum bagi orang yang memiliki kedudukan atau lainnya, jelas bagi wanita muda dan bagi yang tua lebih utama.

Kedua, Hukumnya sunnah. Perintah mengajak mereka untuk keluar dipahami sebagai anjuran. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dan juga dikuatkan oleh pensyarah dengan berdalilkan bahwa sebab keluarnya perempuan-perempuan ini untuk menyaksikan kebaikan dan doa-doa orang muslim, ia berkata, “Jika ini wajib, maka tidak akan disebutkan sebab seperti ini. Maka mestinya keluarnya mereka hanya untuk melaksanakan kewajiban atas mereka dan melaksanakan perintah.

Saya katakan, “Dalam pendapat ini perlu dipikirkan, karena terkadang wajib juga disebutkan dalam pelaksanaannya ada sebabnya yang mengandung faidah dan tidak disebutkan sebab untuk pelaksanaannya. Menurut ucapan Asy-Syafi’i dalam Al-Umm ada pemisahan antara perempuan-perempuan muda dengan perempuan-perempuan tua. Ia berkata, “Aku lebih menyukai perempuan-perempuan tua menyaksikan shalat ied tidak untuk perempuan-perempuan muda, saya menyaksikannya mereka lebih menyukai shalat ied.”

Ketiga: Sesungguhnya hal itu telah dinasakh (dihapus hukumnya). Ath-Thahawi berkata, “Sesungguhnya yang demikian itu terjadi pada awal Islam, karena pada saat itu sangat membutuhkan keluarnya mereka untuk memperbanyak jumlah umat Islam sehingga dapat menimbulkan kegentaran di hati musuh-musuh Islam, kemudian hal itu di hapus. Jelas ini adalah nasakh hanya klaim saja, dan tertolak oleh persaksian Ibnu Abbas dengan keluarnya para perempuan ketika ia masih kecil, itu terjadi setelah penaklukan kota Makkah, dan saat itu tidak perlu lagi untuk keluar, karena posisi Islam kuat saat itu. Dan juga tertolak dengan penjelasan hadits Ummu Athiyah tentang kehadiran mereka untuk menyaksikan kebaikan dan doa orang-orang muslim. Demikian juga tertolak dengan fatwa Ummu Athiyah setelah wafatnya Shallallahu Alaihi wa Sallam beberapa waktu dan tidak ada seorang pun yang menyelisihinya dari para shahabat. Adapun ucapan Aisyah Radhiyallahu Anha ‘Jika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat apa yang telah diperbuat oleh perempuan-perempuan, niscaya beliau cegah mereka dari masjid.” Maka ini tidak menunjukkan keharaman mereka untuk keluar dan tidak juga ada penghapusan hukum. Akan tetapi, di sini terdapat dalil bahwa kita tidak mencegah mereka karena Nabi tidak mencegah mereka, bahkan memerintahkan untuk mengajak keluar mereka. Maka, tidaklah boleh bagi kita untuk mencegah sesuatu yang diperintahkan.

0451

451 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

451. Dari lbnu Umar Radhiyallahu Anhuma, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan Umar menunaikan shalat dua hari raya itu sebelum khutbah.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 963 dan Muslim 888]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa ini adalah perkara yang dibiasakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta kedua khalifahnya, dan mereka terus menerus melaksanakan hal tersebut. Secara zhahir hadits ini menunjukkan wajibnya mendahulukan shalat dari khutbah. Telah dinukil secara ijma’ tidak wajibnya khutbah pada dua hari raya. Sandarannya adalah riwayat yang dikeluarkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud dari hadits Abdullah bin As-Saib ia berkata

«شَهِدْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْعِيدَ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالَ: إنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ»,

“Aku hadir bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat ied, ketika selesai dari shalatnya beliau berkata, “Sesungguhnya kami akan berkhutbah, bagi yang suka untuk duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan bagi yang menginginkan pergi, maka boleh ia pergi. [Shahih: Abi Dawud (1155)]

Hal ini menunjukkan bahwa khutbah ini tidak wajib. Jika khutbah didahulukan -dari shalat-maka tidak disyariatkan untuk mengulanginya, jika dilakukan, maka akan menyelisihi sunnah.”

Telah terjadi perbedaan pendapat tentang siapa yang pertama kali berkhutbah sebelum shalat. Disebutkan dalam riwayat Muslim orang itu adalah Marwan. Dikatakan juga ia telah didahului oleh Utsman, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dengan sanad yang shahih sampai kepada Al-Hasan Al-Bashri ia berkata, “Orang yang pertama kali khutbah sebelum shalat adalah Utsman, yakni pada shalat ied.” [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (7/247)]

Adapun alasan Marwan mendahulukan khutbah ketika diingkari oleh Abu Said, ia berkata, “Sesungguhnya manusia tidak lagi duduk mendengarkan kami setelah shalat.” Dikatakan, “Sesungguhnya mereka sengaja meninggalkan dari mendengar khutbah karena di dalamnya ada cacian kepada orang yang tidak pantas untuk dicaci dan berlebihan dalam memuji sebagian manusia.”

Telah diriwayatkan oleh Abdur Razaq dari Ibnu Juraij dari Az-Zuhri, ia berkata, “Orang yang pertama kali membuat perkara baru dalam khutbah sebelum shalat ied adalah Muawiyah.” [Mushannaf Abdir Razaq (3/284)]

Sesungguhnya semua itu adalah bid’ah yang menyelisihi petunjuk beliau Shallalllahu Alaihi wa Sallam. Adapun alasan Utsman adalah banyaknya manusia di Madinah dan jauh-jauhnya rumah, maka mendahulukan khutbah supaya orang yang jauh rumahnya bisa mendapatkan jamaah shalat ied, dan ini adalah pendapat yang menyelisihi petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *