[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 130

02.14. BAB SHALAT IED (HARI RAYA) 01

0446

446 – عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

446. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Fitri yaitu hari dimana manusia berbuka, dan Adha adalah hari di mana manusia menyembelih kurban.” (HR. At-Tirmidzi)

[Shahih: At Tirmidzi 802]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

At-Tirmidzi berkata setelah menyebutkan susunan hadits ini, “Hadits ini adalah hadits hasan gharib, sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini dengan tafsiran sebagai berikut, “Sesungguhnya makna berbuka, dan berpuasa itu sesuai dengan kesepakatan jamaah dan kebanyakan manusia.”

Hadits ini menunjukkan bahwa dalam penetapan tanggal dua hari raya ini harus dengan kesepakatan manusia. Dan apabila seseorang melihat ru’yah (hilal) sebagai penetapan jatuhnya hari raya dengan seorang diri, maka wajib baginya untuk mendapatkan kesepakatan dari yang lainnya. Dan wajib baginya untuk mengikuti keputusan mereka dalam melaksanakan shalat, berbuka dan berkurban. At-Tirmidzi telah meriwayatkan serupa dengan hadits ini dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dan ia berkata, “Hadits Hasan.”

Maknanya hadits ini sesuai dengan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang pada saat itu Kuraib telah berkata kepadanya,

«إنَّهُ صَامَ أَهْلُ الشَّامِ وَمُعَاوِيَةُ بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِالشَّامِ، وَقَدِمَ الْمَدِينَةَ آخِرَ الشَّهْرِ وَأُخْبِرَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِذَلِكَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ قَالَ قُلْت أَوَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَالنَّاسِ؟ قَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -»

“Sesungguhnya telah berpuasa penduduk Syam dan Muawiyah dengan melihat hilal pada hari Jum’at di Syam, kemudian ia datang ke Madinah pada akhir bulan dan mengkhabarkan kepada Ibnu Abbas tentang hal itu, maka berkatalah Ibnu Abbas, “Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami tetap berpuasa sampai kami menyempurnakannya tiga puluh atau kami melihat hilal.” Kuraib berkata, “Aku berkata, “Apakah Anda tidak mencukupkan dengan ru’yahnya Muawiyah dan umat manusia? Ia berkata, ‘Tidak, demikianlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kami.” [Shahih: Muslim 1087]

Secara zhahir hadits, bahwa Kuraib termasuk orang yang melihat hilal. Namun demikian Ibnu Abbas memerintahkan untuk menyempurnakan puasanya, walaupun ia yakin bahwa hari raya telah jatuh jika dihitung dengan waktu awal puasanya. Pendapat ini didukung oleh Muhammad bin Al-Hasan. Ia berkata, “Wajib menyesuaikan dengan orang-orang -dimana ia berada- walaupun hal itu berbeda dengan keyakinannya. Begitu juga dengan haji, karena telah datang riwayat,

عَرَفَتُكُمْ يَوْمَ تَعْرِفُونَ

“Arafah kalian adalah hari yang kalian kenal.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 4224]

Ini berbeda dengan Jumhur ulama, mereka berkata, “Sesungguhnya yang wajib adalah ia mengamalkan apa yang diyakini jiwanya, dan mereka memahami hadits ini untuk orang yang tidak mengetahui apa yang berbeda dengan orang-orang, maka jika telah terungkap setelah kesalahan, cukuplah baginya dengan apa yang telah ia lakukan. Mereka berkata, “Mengakhirkan hari-hari adalah hak bagi orang yang ragu dan mengamalkan dengan hukum asal. Mereka menta’wil hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa kemungkinan ia tidak mengatakan untuk mengikuti ru’yahnya penduduk Syam karena perbedaan matla (tempat melihat hilal) di Syam dan Hijaz, dan karena yang mengkhabarkan hanya satu orang maka tidak diamalkan persaksiannya. Bukan berarti di sini Ibnu Abbas memerintahkan Kuraib untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya, karena Ibnu Abbas hanya mengkhabarkan tentang penduduk Madinah bahwa mereka tidak mengamalkan yang demikian karena salah satu dari dua perkara.”

0447

447 – وَعَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنْ الصَّحَابَةِ، أَنَّ «رَكْبًا جَاءُوا فَشَهِدُوا أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يُفْطِرُوا وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إلَى مُصَلَّاهُمْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد – وَهَذَا لَفْظُهُ – وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

447. Dan dari Abu Umair bin Anas Radhiyallahu Anhuma dari paman-pamannya dari kalangan shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya sekelompok penunggang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka beliau memerintahkan mereka untuk berbuka, dan jika telah masuk waktu pagi hendaklah mereka pergi ke tanah lapang tempat shalat mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dan ini adalah lafazh baginya, isnad hadits ini shahih)

[shahih: Abu Daud 1157]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Abu Umair bin Anas bin Malik (Al-Anshari dikatakan bahwa namanya adalah Abdullah dan ia termasuk dari shigar tabiin -tabiin kecil-, ia meriwayatkan dari sekelompok shahabat, ia dikaruniai umur yang panjang setelah bapaknya) dari paman-pamannya dari kalangan shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sesungguhnya sekelompok penunggang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mereka bersaksi bahwa mereka melihat hilal kemarin, maka beliau memerintahkan mereka untuk berbuka dan jika telah masuk waktu pagi hendaklah mereka pergi ke tanah lapang tempat shalat mereka.”

Hadits ini dikeluarkan oleh An-Nasa’i dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnul Mundzir, Ibnu As-Sakan dan Ibnu Hazm. Berkata Ibnu Abdil Bar, “Sesungguhnya Abu Umair tidak dikenal dan tertolak, dan sesungguhnya telah diketahui siapa yang menshahihkan baginya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa Shalat Ied dilaksanakan pada hari kedua yang jika diketahui datangnya hari raya setelah keluarnya waktu shalat. Secara zhahir hadits, mutlak hukumnya untuk melihat waktu shalat walaupun waktu shalatnya masih tersisa, karena hal itu tidak diketahui di awal hari. Pendapat ini diikuti oleh Al-Hadi, Al-Qasim, dan Abu Hanifah, tetapi dengan syarat hal itu tidak diketahui, kecuali setelah keluar waktunya, maka shalat ied dilaksanakan pada hari kedua, yaitu pada waktu yang sama jika dilakukan hari pertama. Abu Thalib berkata, “Dengan syarat shalat ditinggalkan karena ada keraguan sebagaimana yang terdapat dalam hadits. Ada juga yang menjadikan halangan (udzur) lebih bersifat umum. Entah karena ada keraguan atau karena sebab hujan. Hal ini dijelaskan dalam kitab-kitab Hanafiyah karena menganalogikan halangan-halangan tersebut dengan keraguan.

Secara zhahir hadits, bahwa pelaksanaan shalat Ied adalah bersifat adaa’an (dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan pelaksanaannya) bukan qadhaa’an (melaksanakan tidak pada waktunya). Malik berpendapat bahwa shalat Ied mutlak tidak diqadha’ sebagaimana tidak diqadha pada harinya. Bagi Asy-Syafiiyah ada perincian hal ini disebutkan di dalam Asy-Syarah.

Hadits ini terdapat pada Iedul Fitri, dan diqiyaskan kepadanya shalat Iedul Adha, dan dalam meninggalkan keraguan. Dan juga diqiyaskan atasnya semua udzur (halangan). Dan dalam masalah qiyas ini ada pembicaraan, karena tidak memungkinkannya mengetahui secara keseluruhan. Wallahu’ Alam.

0448

448 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ» . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. وَفِي رِوَايَةٍ مُعَلَّقَةٍ – وَوَصَلَهَا أَحْمَدُ -: وَيَأْكُلُهُنَّ أَفْرَادًا

448. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pergi pada hari iedul Fitri sehingga beliau makan beberapa biji kurma.” (HR. Bukhari) Dan dalam riwayat lain secara muallaq (tidak disebutkan sanadnya) yang dimaushulkan oleh Ahmad, “Bahwa beliau memakannya sebiji-sebiji (tidak sekaligus banyak.pen).”

[Shahih: Al Bukhari 953]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pergi (yakni keluar pada waktu pagi) pada hari Iedul Fitri (yakni untuk melaksanakan shalat Ied di tanah lapang) sehingga beliau makan beberapa biji kurma.”

Dan dalam riwayat lain secara muallaq -tidak disebutkan sanadnya- (yakni Al-Bukhari memuallaqkan hadits ini) dari Anas yang dimaushulkan oleh Ahmad, “Bahwa beliau memakannya sebiji- sebiji. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Tarikhnya Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari riwayat Utbah bin Humaid dengan lafazh, “Sampai beliau makan kurma tiga biji atau lima atau tujuh atau lebih sedikit dari itu atau lebih banyak secara ganjil.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan hal ini. Al-Muhlab berkata, “Hikmah dengan makan terlebih dahulu sebelum shalat, agar tidak ada sangkaan terusnya puasa sampai shalat Ied, maka seakan-akan beliau menutup pintu kerusakan ini.” Dikatakan juga, “Ketika terjadi kewajiban berbuka setelah kewajiban berpuasa, maka disunnahkan untuk menyegerakan berbuka sebagai pelaksanaan perintah Allah.” Berkata Ibnu Qudamah, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan dalam menyegerakan makan pada hari ini sebelum shalat.” Pengarang mengatakan dalam Al-Fath, “Hikmah disunnahkan makan kurma adalah karena adanya sifat manis yang menguatkan pandangan yang telah dilemahkan oleh puasa, lebih sesuai dengan iman, dan dapat menetralisasi hati. Karena hal-hal inilah, sebagian tabiin selalu berbuka dengan kurma secara mutlak.” Berkata Al-Muhlab, “Adapun menjadikannya secara ganjil, memberikan isyarat pada keesaan Allah. Cara seperti inilah yang selalu dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam setiap perkara dan urusannya untuk mengambil berkah dengannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *