[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 13

01.04. BAB WUDHU 03

0039

39 – وَعَنْهُ، أَنَّهُ «رَأَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَأْخُذُ لِأُذُنَيْهِ مَاءً غَيْرَ الْمَاءِ الَّذِي أَخَذَهُ لِرَأْسِهِ» . أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَهُوَ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ بِلَفْظِ: «وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدَيْهِ» ، وَهُوَ الْمَحْفُوظُ

39. Dan darinya, ‘Bahwa ia melihat Nabi SAW mengambil air untuk kedua tangannya selain air yang telah digunakannya untuk kepalanya. (HR. Al Baihaqi)

[Sunan Al Baihaqi 1/465]

Sedikit menurut Muslim dari jalur ini dengan lafazh: “Dan beliau mengusap kepalanya dengan air yang bukan dari sisa kedua tangannya.” Dan inilah yang lebih kuat.

[shahih Muslim 136]

Tafsir Hadits

Penulis menyebutkannya dalam At Talkhis dari Ibnu Daqiq Al Id, bahwa yang melihatnya dalam riwayat tersebut adalah dengan lafazh ini yaitu yang disebutkan oleh penulis, bahwa itu yang lebih kuat.

Penulis juga mengatakan, ‘Itulah yang terdapat dalam shahih Ibnu Hibban dan dalam riwayat At Tirmidzi.’ Dan tidak disebutkan dalam At Talkhis bahwa diriwayatkan oleh Muslim dan kami juga tidak melihatnya dalam Shahih Muslim.

Jika demikian, maka mengambil air baru untuk mengusap kepala adalah keharusan, dan itulah yang disebutkan dalam beberapa hadits. Hadits Al Baihaqi ini adalah dalil bagi Ahmad dan Asy-Syafi’i bahwa harus mengambil air baru untuk telinga, dan ini adalah dalil yang jelas.

Dalam hadits-hadits yang telah lalu tidak disebutkan bahwa Nabi SAW mengambil air baru. Tetapi tidak disebutkannya bukan berarti tidak dilakukan. Karena menurut para perawi dari kalangan shahabat, bahwa secara zhahir hadits; ‘Dan beliau mengusap kepala dan telinganya satu kali’, menunjukkan dengan air yang sama.

Juga berdasarkan hadits, ‘Kedua telinga adalah bagian dari kepala.” [shahih: Shahih Al Jami’ 2765]

Akan tetapi dalam sanadnya terdapat komentar. Tetapi banyaknya jalan periwayatan sehingga saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Juga dikuatkan oleh hadits-hadits yang menyebutkan bahwa beliau mengusap keduanya (telinga dan kepala) dengan satu kali usapan. Hadits tersebut banyak sekali dari Ali RA, Ibnu Abbas, Ar Rabi’ dan Utsman. Semuanya sepakat bahwa beliau mengusapnya bersama telinga satu kali, yaitu dengan air yang sama, sebagaimana zhahirnya lafazh ‘satu kali’, karena jika beliau mengambil air baru untuk kedua telinganya, maka tidak tepat dikatakan bahwa beliau mengusap kepala dan kedua telinga satu kali. Meski dapat mengandung makna bahwa beliau tidak mengulangi mengusap keduanya, dan bahwa beliau mengambil air baru untuk keduanya, namun ini adalah kemungkinan yang sangat jauh.

Sedangkan takwil hadits, “bahwa beliau mengambil air selain yang digunakan mengusap kepalanya”, yang tepat adalah bahwa tidak ada lagi yang basah (air) tersisa pada tangan beliau yang cukup untuk mengusap kedua telinga, maka beliau mengambil air baru.

0040

40 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ، مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

40. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat nanti akan datang dalam keadaan putih bercahaya pada anggota wudhunya bekas siraman air wudhu, maka barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk memperluas putihnya cahaya itu, hendaklah ia melakukannya.” (Muttafaq alaih, lafazh ini milik Muslim)

[shahih: Al Bukhari 136, Muslim 246]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya umatku pada hari kiamat nanti akan datang dalam keadaan putih bercahaya ( Ghurrah, adalah bentuk jamak dari kata aghar, artinya yang memiliki sinar. Makna asalnya adalah kemilau yang terdapat pada dahi kuda. Dalam an Nihayah yang dimaksud dengan ghurrah adalah putihnya wajah-wajah mereka dengan cahaya wudhu pada Hari Kiamat) pada anggota wudhunya (dalam an Nihayah, yakni putihnya anggota wudhu baik tangan maupun kaki. Cahaya pada bekas anggota wudhu diqiyaskan dengan warna putih yang terdapat pada wajah dan kaki kuda) bekas siraman air wudhu, (air yang digunakan berwudhu) maka barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk memperluas putihnya cahaya itu, (dan juga di tangannya, hanya saja di sini hanya satu yang disebutkan lantaran sudah menunjukkan makna atas yang lainnya, dan ia lebih mengutamakan al ghurrah (muannats) atas tahjil (mudzakar) lantaran kemuliaan tempatnya) hendaklah ia melakukannya.”

Tafsir Hadits

Zhahirnya redaksi hadits tersebut bahwa sabda beliau, “maka barangsiapa di antara kalian yang mampu…’ hingga akhir hadits, menunjukkan bahwa perintah itu tidak wajib. Sebab, maknanya menurut kemampuan siapa yang ingin di antara kalian. seandainya wajib, niscaya beliau tidak akan membatasinya, karena pasti ada kemampuan untuk melakukannya.

Nu’aim berkata, ‘aku tidak mengetahui ucapan ‘maka barangsiapa yang mampu…’ merupakan sabda beliau SAW ataukah perkataan Abu Hurairah RA.’ Dan dalam Al Fath, aku tidak menemukan kalimat ini dari riwayat salah seorang shahabat. Mereka itu ada sepuluh orang. Juga tidak didapatkan orang yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah RA selain riwayat Nu’aim ini.*

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya menyempurnakan wudhu, yakni dalam membasuh dan mengusap anggota wudhu, bahkan diperintahkan untuk melebihkan dari batasan yang telah diperintahkan untuk membasuhnya. Karena hal ini akan memperluas atau memperpanjang putihnya cahaya pada anggota wudhu bekas siraman pada Hari Kiamat kelak.

Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan yang harus dibasuh. Ada yang mengatakan, pada tangan yaitu sampai pundak dan pada kaki sampai lutut. Ini ditegaskan oleh Abu Hurairah RA, baik dengan riwayat maupun pendapat. Dan juga telah ditegaskan oleh perbuatan Ibnu Umar, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ubaid dengan sanad hasan. Dan ada yang berpendapat hingga separuh lengan dan betis.

Sedangkan pada muka yaitu mencuci hingga sisi leher. Pendapat yang mengatakan tidak disyariatkannya memanjangkan basuhan dan mentakwil hadits Abu Hurairah RA bahwa yang dimaksud adalah selalu berwudhu, bertentangan dengan zhahirnya hadits dan tak ada keterangan untuk menolaknya.

Ada yang menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa wudhu adalah kekhususan umat ini berdasarkan hadits Muslim: “Wudhu adalah tanda yang tidak dimiliki seorang pun selain kamu.”

[Muslim 247]

Pendapat ini dapat dibantah, bahwa wudhu telah ditetapkan sebelum umat ini. ada yang mengatakan bahwa yang menjadi kekhususan umat ini adalah putih cahaya pada anggota wudhu yang dibasuh.

_______________

* [Adapun Syaikh Al Albani memastikan bahwa perkataan ‘maka barangsiapa yang mampu..’ adalah mudraj bukan termasuk sabda Rasulullah SAW , tetapi merupakan perkataan Abu Hurairah. lihat Al Misykah 290. Ebook editor]

0041

41 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطَهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

41. Dari Aisyah RA ia berkata, Rasulullah SAW sangat menyukai memiliki dengan (anggota) kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan pada setiap apa yang beliau lakukan. (Muttafaq alaih)

[shahih: Al Bukhari 168, Muslim 268]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW sangat menyukai memiliki dengan (anggota) kanan ketika memakai sandal, (yaitu dengan mendahulukan yang kanan) menyisir rambut, (yaitu ketika menyisir rambutnya) bersuci dan pada setiap apa yang beliau lakukan. (menyebutkan yang umum setelah yang khusus)

Tafsir Hadits

Ibnu Daqiq Al Id berkata, ‘Hadits tersebut umum dan khusus ketika masuk wc, keluar masjid dan yang semacamnya, sebab dimulai dengan kiri.’ Dikatakan, bahwa penegasan dengan kata ’kullihi’ menunjukkan tetap berlaku keumumannya dan larangan melanggarnya pada sebagian yang lain. Sebab, bisa dikatakan bahwa hakikat perintah adalah perbuatan yang dimaksudkan, dan yang disukai padanya memulai dengan kiri bukanlah perbuatan yang dimaksudkan tetapi boleh jadi diperintahkan meninggalkannya atau perbuatan yang tidak dimaksudkan.

Hadits tersebut adalah dalil disukainya memulai dengan bagian kanan kepala ketika bersisir, mandi atau mencukur. Dan mendahulukan anggota badan bagian kanan ketika wudhu, mandi, makan dan minum serta yang lainnya.

Imam An Nawawi berkata, “Dalam kaidah syariat, setiap memulai sesuatu hal yang mulia dan baik diutamakan untuk mendahulukan bagian kanan. Dan pada hal-hal yang sebaliknya, dianjurkan untuk memulai dengan bagian kiri. Hadits tentang hal ini akan disebutkan pada bab wudhu. Keterangan yang disampaikan hadits ini berdasarkan bahwa lafazh yajibuhu menunjukkan bahwa hal itu disukai menurut syariat, dan kami telah menyebutkan penelitiannya pada catatan kaki dalam kitab Syarhu Al Umdah ketika mengomentari hadits ini.

0042

42 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا تَوَضَّأْتُمْ فَابْدَءُوا بِمَيَامِنِكُمْ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

42. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian berwudhu, maka mulailah dengan anggota wudhu bagian kanan kalian.” (HR. Imam yang empat, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 454]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh imam yang empat, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah. Dan dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi. Ditambahkan padanya,

[وَإِذَا لَبِسْتُمْ]

“Dan apabila kalian berpakaian.”

[Shahih: Shahih Al Jami’ 787]

Ibnu Daqiq Al Id berkata, ‘hadits tersebut berhak dishahihkan.’

Hadits tersebut menunjukkan perintah untuk mendahulukan anggota bagian kanan ketika berwudhu, seperti mencuci tangan dan kaki. Adapun selain keduanya seperti wajah dan kepala, secara zhahir hadits mencakup keduanya. Tetapi tak seorang pun yang berpendapat mengenai kedua hal tersebut, dan juga tidak diriwayatkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW mengajarkan wudhu kepada para shahabat, berbeda dengan kedua tangan dan kaki, sebab hadits-hadits tentang pengajaran wudhu kepada para shahabat disebutkan dengan mendahulukan bagian kanan atas bagian yang kiri, seperti dalam hadits Utsman yang telah lalu dan yang lainnya. Sedang ayat adalah secara global dan dijelaskan oleh sunnah.

Ada perbedaan mengenai wajibnya hal tersebut. Tidak ada pembicaraan bahwa itu yang lebih utaman. Menurut Al Hadawiyah hukumnya wajib, berdasarkan hadits dalam bab ini yang menggunakan lafazh perintah, karena pada dasarnya perintah menunjukkan wajib. Juga berdasarkan perbuatan Rasulullah SAW yang terus-menerus. Karena tidak perempuan ada riwayat bahwa beliau berwudhu dengan menyelisihinya walaupun hanya satu kali, kecuali hadits yang akan disebutkan, dan bahwa perbuatan beliau menjelaskan wajibnya maka hal itu wajib.

Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit dan Abu Hurairah RA,

“Bahwa Nabi SAW berwudhu secara berurutan, kemudian bersabda, “beginilah tata cara wudhu, Allah tidak menerima shalat tanpa dengannya.”[Dhaif Jiddan: Dhaif Ibnu Majah 425]

Hadits ini memiliki banyak jalan, satu dengan lainnya saling menguatkan.

Al Hanafiyah dan jama’ah berkata, “Tidak wajib berurutan antara anggota-anggota wudhu, antara kiri dan kanan bagi kedua tangan dan kaki.” Mereka berkata, ‘Huruf waw tersebut tidak menandakan wajibnya berurutan. Dan karena diriwayatkan dari Ali Ra, bahwa ia memulai dengan anggota wudhu yang kiri, lalu berkata “aku tidak peduli apakah aku memulai dengan bagian kanan atau kiri, yang terpenting aku telah menyempurnakan wudhu’, dikeluarkan oleh Ad Daruquthni 1/87 dan Al Baihaqi 1/87, ia berkata hadits ini munqathi. Demikian pula riwayat mengenai perbuatan (wudhu) yang dikeluarkan oleh Al Baihaqi.

Dapat dijawab, bahwa kedua atsar di atas tidak ada yang kuat, maka tidak dapat dijadikan hujjah, dan tidak dapat membatalkan yang terdahulu, meskipun Ad Daruquthni telah mengeluarkan hadits Ali RA dan tidak mendha’ifkannya. Ia juga mengeluarkannya dari beberapa jalan dengan lafazh yang bervariasi, akan tetapi semuanya mauquf.

0043

43 – وَعَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَوَضَّأَ. فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ، عَلَى الْعِمَامَةِ وَالْخُفَّيْنِ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

43. Dari al Mughirah bin Syu’bah RA, bahwa Nabi SAW berwudhu, lalu mengusap jambul, serta bagian atas sorban dan kedua khuf (sepatu). (HR. Muslim)

[Shahih Muslim 274]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Al Mughirah dijuluki juga dengan Abu Abdullah dan Abu Isa. Masuk Islam pada waktu perang Khandaq dan datang sebagai muhajir. Yang pertama diikutinya adalah perjanjian Hudaibiyah. Wafat tahun 50 H di Kufah saat menjabat sebagai penguasa di sana dari pihak Muawiyah. Dia adalah putra Syu’bah.

Penjelasan Kalimat

bahwa Nabi SAW berwudhu, lalu mengusap jambul (dalam Al Qamus kata an Nashiyah dan an nushaah guntingan rambut), serta bagian atas sorban dan kedua khuf (sepatu). (beliau mengusap keduanya)

Tafsir Hadits

Hadits di atas adalah dalil tidak diperbolehkannya membatasi hanya mengusap jambul. Zaid bin Ali RA dan Abu Hanifah berkata, ‘Boleh hanya mengusap jambul’. Dan Ibnu Qayyim berkata, ‘Tidak ada satu hadits pun berasal dari Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa beliau hanya mengusap sebagian rambut kepala. Jika mengusap jambul, beliau menyempurnakannya dengan mengusap di atas sorbat.’ Sebagaimana dalam hadits Al Mughirah ini.

Disebutkan oleh Ad Daruquthni bahwa ia meriwayatkannya dari 60 orang. Dan jumhur tidak mengatakan adanya pembatasan hanya dengan mengusap di atas sorban.

Ibnu Qayyim berkata, ‘Sesungguhnya beliau SAW terkadang mengusap atas kepalanya dan terkadang atas sorbannya, dan pada waktu lain ia mengusap jambul dan atas sorban.’ Mengusap kedua khuf akan disebutkan dalam bab tersendiri, demikian pula mengusap sorban.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *