[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 129

02.13. BAB SHALAT KHAUF 03

0443

443 – وَعَنْ حُذَيْفَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى صَلَاةَ الْخَوْفِ بِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً، وَبِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً، وَلَمْ يَقْضُوا» . رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. وَمِثْلُهُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيْمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا –

443. Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat khauf mengimami mereka dengan satu rakaat dan yang lainnya lagi satu rakaat dan mereka tidak mengqadha.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban) dan serupa hadits ini menurut riwayat Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma.

[Shahih: Abu Daud 1246, Ibnu Khuzaimah 1344]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Shalat ini dengan tata cara ini telah dilaksanakan oleh Hudzaifah di Thibristan dan gubernurnya pada saat itu adalah Said bin Al-Ash, ia berkata,

«أَيُّكُمْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَاةَ الْخَوْفِ قَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا فَصَلَّى بِهِمْ هَذِهِ الصَّلَاةَ»

“Siapa di antara kalian yang shalat khauf bersama Rasulullah?” Berkata Hudzaifah, “Saya.” Maka Hudzaifah mengimami mereka dengan shalat ini.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit, ia berkata,

«فَكَانَتْ لِلْقَوْمِ رَكْعَةً رَكْعَةً وَلِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَكْعَتَيْنِ»

“Bagi kaum satu rakaat satu rakaat dan bagi Nabi dua rakaat.” [Shahih: Abu Daud 1243]

Dikeluarkan dari Ibnu Abbas, ia berkata,

«فَرَضَ اللَّهُ – تَعَالَى – الصَّلَاةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – فِي الْحَضَرِ أَرْبَعًا، وَفِي السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ، وَفِي الْخَوْفِ رَكْعَةً»

“Allah memfardhukan shalat atas lisan Nabi kalian di saat hadir dengan empat rakaat dan di saat safar dua rakaat dan di saat ketakutan satu rakaat. [Shahih: Abu Daud 1247]

Atha, Thawus, Al-Hasan dan selain mereka mengambil hadits ini, mereka berkata, “Shalat dalam ketakutan yang sangat satu rakaat dengan isyarat saja.” Ishaq berkata, “Cukuplah bagi kamu ketika ketakutan yang sangat shalat satu rakaat berisyarat dengannya, dan jika tidak mampu dengan hal itu maka cukup dengan satu sujud, dan jika juga tidak mampu maka dengan satu takbir, karena shalat adalah mengingat Allah Ta’ala.”

0444

444 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صَلَاةُ الْخَوْفِ رَكْعَةٌ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ» رَوَاهُ الْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

444. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat khauf itu satu rakaat dengan cara bagaimanapun.” (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang dhaif)

[Kasyf Al Atsar 678. Al Haitsami berkata dalam Mazma Az Zawaid II/196, “diriwayatkan oleh Al Bazzar di dalamnya terdapat Muhammad bin Abdurrahman bin Al Bailamani. Al Bukhari dan Abu Hatim berkata, munkarul hadits, Ad Daruquthni dan lainnya berkata dhaif. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

An-Nasa’i mengeluarkan riwayat, “Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat ini di Dziqard dengan cara ini.”

Pengarang berkata, “Hadits ini telah dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya, tetapi Imam Asy-Syafii berkata bahwa hadits ini tidak shahih.”

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat khauf itu satu rakaat baik bagi imam maupun makmum. Pendapat ini sebagaimana yang dikatakan Ats-Tsauri dan sekelompok ulama. Demikian juga seperti yang dikatakan beberapa shahabat seperti Abu Hurairah dan Abu Musa. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pengarang telah menyebutkan di dalam kitab ini lima tata cara shalat khauf dan dalam Sunan Abi Dawud ada delapan tata cara di antaranya lima ini dan tambahan tiga. Pengarang berkata di dalam Fath Al-Bari, “Telah diriwayatkan dalam shalat khauf tata cara yang banyak.” Ibnu Abdilbar telah menguatkan tata cara yang diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar karena kuat sanadnya dan bersesuaian dengan ushul, yakni orang yang bermakmum tidak boleh menyempurnakan shalatnya sebelum imam. Ibnu Hazm berkata, “Telah shahih di antara cara shalat khauf itu empat belas cara.” Berkata Ibnul Arabi, “Di dalam masalah shalat khauf terdapat riwayat yang banyak dan yang paling shahih adalah enam belas riwayat yang berbeda.” An-Nawawi juga berkata seperti itu di dalam Syarah Muslim dan ia tidak menjelaskannya.

Berkata Al-Hafidz, “Telah menjelaskan tentang shalat khauf itu guru kami, Abu Al-Fadhli di dalam Syarah At-Tirmidzi dan ia menambahkan satu cara, maka jadilah tujuh belas cara tetapi mungkin saling berkolerasi.” Berkata pengarang Al-Hadyu An-Nabawi, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat khauf sebanyak sepuluh kali.” Ibnul Arabi mengatakan, “Beliau melaksanakan shalat khauf sebanyak dua puluh empat kali.” Berkata Al-Khatabi, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat khauf pada hari yang berbeda-beda dengan cara yang jelas, dengan selalu menjaga kesempurnaan shalat dan apa yang lebih pantas untuk penjagaan pasukan, dan ini berbeda-beda caranya.”

0445

445 – وَعَنْهُ مَرْفُوعًا «لَيْسَ فِي صَلَاةِ الْخَوْفِ سَهْوٌ» أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

445. Dan darinya Radhiyallahu Anhu secara marfu, “Tidak ada dalam shalat khauf itu kelupaan.” (Dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni dengan sanad yang dhaif)

[Dhaif: Al Jami’ 4911]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yaitu dari Ibnu Umar) secara marfu, “Tidak ada dalam shalat khauf itu kelupaan.” (Dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni dengan sanad yang dhaif) hadits ini dengan begini adalah mauquf dikatakan, “Tidak pernah ada satu ulama pun yang mengucapkannya.”

Tafsir Hadits

Ketahuilah, sesungguhnya disyaratkan dalam shalat khauf itu beberapa syarat;

1. Dalam perjalanan.

Disyaratkan oleh sebagian ulama berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ}

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi…” (QS. An-Nisaa’: 101)

Juga berdasarkan dalil bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah melaksanakannya ketika hadir. Berkata Zaid bin Ali, An-Nashir, Imam Yahya, Hanafiyah dan Asy-Syafiiyah,”Hal ini tidak disyaratkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ}

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu)…” (QS. An-Nisaa’: 102) berdasarkan alasan bahwa ayat ini diathafkan (disambungkan) dengan ayat sebelumnya, “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi…” (QS. An-Nisaa’: 101), maka hal ini menunjukkan bahwa ayat tersebut tidak masuk dalam pembatasan (taqyid) ayat sebelumnya yakni “bepergian di muka bumi”. Mungkin saja -golongan pertama- mereka menjadikannya ayat 102 ditaqyid (dibatasi) oleh ayat 101 yakni “bepergian di muka bumi”, dengan asumsi susunan kalimatnya, “Jika kamu bersama mereka dengan keadaan ini yaitu perjalanan di bumi.” Pembicaraan ini telah dibahas secara panjang lebar dalam kitab-kitab tafsir.

2. Shalat ini dilakukan pada akhir waktu.

Karena khauf adalah shalat pengganti dari shalat yang dikerjakan dalam waktu aman, sehingga tidak boleh dilaksanakan kecuali ketika shalat yang diganti -shalat dalam keadaan aman- memang tidak dapat dilakukan. Ini adalah kaidah bagi yang berpendapat seperti ini, mereka itu adalah Al-Hadawiyah. Dan selain mereka berkata, “Boleh dilakukan pada awal waktu karena umumnya dalil .”

3. Membawa senjata dalam keadaan shalat.

Ini disyaratkan oleh Dawud, tidak sah shalat kecuali dengan membawanya, tidak ada dalil dalam syarat ini. Asy-Syafii dan An-Nashir mewajibkannya karena adanya perintah yang ada dalam ayat, dan bagi mereka ada perincian dalam senjata yang dikenal.

4. Tidak terjadi peperangan ini pada bulan haram, baik itu wajib ain atau kifayah.

5. Hendaklah orang yang shalat khauf adalah orang yang diintimidasi oleh musuh, bukan ia yang mengintimidasi, karena jika ia yang mengintimidasi maka memungkinkan baginya untuk melaksanakan shalat dengan sempurna. Atau karena adanya ketakutan serangan musuh kepadanya.

Syarat-syarat ini telah dituturkan dalam Al-Furu’ yang diambil dari keadaan-keadaan pensyariatannya, tapi tidak ada yang jelas dalam pensyaratan. Dan ketahuilah sesungguhnya pensyariatan shalat ini datang dari dalil yang paling agung yang menunjukkan besarnya perkara shalat, demikian juga shalat jamaah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *