[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 127

02.13. BAB SHALAT KHAUF 01

0437

437 – عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَمَّنْ «صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ ذَاتِ الرِّقَاعِ صَلَاةَ الْخَوْفِ: أَنَّ طَائِفَةً مِنْ أَصْحَابِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَفَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةً وِجَاهَ الْعَدُوِّ. فَصَلَّى بِاَلَّذِينَ مَعَهُ رَكْعَةً، ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا، وَأَتَمُّوا؛ لِأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ انْصَرَفُوا فَصَفُّوا وِجَاهَ الْعَدُوِّ، وَجَاءَتْ الطَّائِفَةُ الْأُخْرَى، فَصَلَّى بِهِمْ الرَّكْعَةَ الَّتِي بَقِيَتْ، ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا، وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ، وَوَقَعَ فِي الْمَعْرِفَةِ لِابْنِ مَنْدَهْ، عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ عَنْ أَبِيهِ

437. Dari Shalih bin Khawwat dari seseorang yang shalat khauf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari pertempuran Dzatu Ar-Riqa’. Sesungguhnya ada sekelompok shahabat bershaf bersama Rasulullah sedangkan yang lainnya menghadap musuh. Kemudian beliau shalat bersama mereka yang bersamanya satu rakaat. Kemudian beliau diam berdiri tegak dan mereka menyempurnakan shalatnya masing-masing. Kemudian mereka bubar dan berbaris menghadap musuh. Kemudian datang lagi kelompok yang lain dan Rasulullah shalat bersama mereka satu rakaat yang tertinggal bagi beliau. Kemudian beliau diam untuk duduk dan mereka menyempurnakan masing-masing shalatnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan salam bersama mereka. (Muttafaq Alaih dan lafazh hadits ini bagi Muslim) Hadits ini juga terdapat di dalam Al-Ma’rifah yang dikarang oleh Ibnu Mandah dari Shalih bin Khawwat dari bapaknya.

[Shahih Al-Bukhari (4129) dan Muslim (842)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Shalih bin Khawwat adalah seorang Anshari Al-Madani. Seorang tabiin yang terkenal. Ia mendengar hadits dari sekelompok shahabat.

Penjelasan Kalimat

“Dari orang yang shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (di dalam Shahih Muslim dari Shalih bin Khawwat bin Jabir dari Sahal bin Abi Hatsmah, beliau menyebutkan dengan tegas orang yang meriwayatkan hadits kepadanya. Dalam riwayat yang lain beliau menyamarkannya sebagaimana yang terdapat di sini) pada hari pertempuran Dzatu Ar-Riqa’ (yaitu sebuah tempat di Nejed di tanah Ghathafan dinamakan peperangan ini dengan tempat tersebut karena telapak-telapak kaki mereka berlubang – karena luka -, kemudian mereka membalutnya dengan kain kasar demikian yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari. Dari hadits Abi Musa. Peperangan ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun keempat hijrah) shalat khauf, sesungguhnya ada sekelompok shahabat bershaf bersama Rasulullah sedangkan yang lainnya menghadap (lafazh wijah dengan kasrah wau kemudian jim yaitu diambil dari lafazh muwajahah -menghadapkan wajah-) musuh kemudian beliau shalat bersama mereka yang bersamanya satu rakaat kemudian beliau diam berdiri tegak dan mereka menyempurnakan shalatnya masing-masing kemudian mereka bubar dan berbaris (di dalam riwayat Muslim dengam lafazh fashaffu dengan huruf fa) menghadap musuh kemudian datang lagi kelompok yang lain dan Rasulullah shalat bersama mereka satu rakaat yang tertinggal bagi beliau kemudian beliau diam untuk duduk dan mereka menyempurnakan masing-masing shalatnya kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan salam bersama mereka. Muttafaq Alaih dan lafazh hadits ini bagi Muslim. Hadits ini juga terdapat di dalam Al-Ma’rifah (yaitu kitab yang dikarang oleh Ibnu Mandah seorang imam besar dari imam-imam Ahlul Hadits) dari Shalih bin Kawwat dari bapaknya (yaitu Khawwat bin Jabir, ia seorang shahabat. Muslim menyebutkannya dengan menyamarkan rawi terakhir yaitu bapaknya Shalih dan di dalam Muslim juga disebutkannya secara jelas)

Ketahuilah bahwa peperangan ini telah terjadi pada tahun keempat sebagaimana yang telah kami sebutkan, inilah yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan lain-lainnya dari ahli sejarah dan orang-orang yang banyak belajar dari mereka. Ibnul Qayyim berkata, “Ini rumit sekali, padahal telah shahih bahwa orang-orang musyrik menahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari Khandaq dari shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib. Isya. Beliau menunaikan shalat-shalat tersebut dalam satu waktu, dan ini sebelum turunnya perintah shalat khauf. Sedangkan peristiwa Dzatu Ar-Riqa ini setelah Khandaq yang terjadi pada tahun kelima, kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan, “Yang jelas sesungguhnya shalat khauf pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah di Usfan, dan tidak ada perbedaan di antara mereka bahwa Usfan terjadi setelah Khandaq dan menurut riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sesungguhnya beliau shalat khauf di Dzatu Ar-Riqa’, dan diketahui bahwa Dzatu Ar-Riqa’ terjadi setelah Khandaq dan setelah Usfan. Dari sini jelaslah kekeliruan ahli sejarah itu.

Sebagian ada yang menjadikan hujjah terjadinya syariat shalat khauf lebih dahulu dari peristiwa Khandak sebagaimana riwayat ahli sejarah. Mereka mengatakan, “Shalat khauf tidak dilaksanakan dalam keadaan bermukim (tidak dalam perjalanan) karenanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melaksanakannya pada perang khandaq.”

Inilah sifat shalat khauf yang disebutkan dalam hadits ini yang menjelaskan tentang tatacara pelaksanaannya secara jelas. Dan ini merupakan madzhab kebanyakan shahabat dan ahlul bait serta orang-orang setelah mereka. Asy-Syafi’i mensyaratkan musuh tidak di arah qiblat dan ini jika terjadi pada shalat yang dua rakaat. Dan jika tiga rakaat maka imam menunggu pada tasyahud awal dan satu kelompok menyelesaikan rakaat yang ketiga, demikian juga pada shalat yang empat rakaat. Jika kami katakan, “Ini adalah shalat khauf yang diadakan pada masa hadir, juga menunggu pada tasyahud, dan dzahir Al-Qur’an sesuai dengan yang ditunjukkan oleh hadits yang mulia ini, sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat, lalu bershalatlah mereka denganmu.” (QS. An-Nisaa’: 102) Tata cara ini lebih dekat dengan kesesuaian amaliah shalat dalam mempersedikit gerakan yang membatalkan shalat dan mengikuti imam.

0438

438 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «غَزَوْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، قِبَلَ نَجْدٍ، فَوَازَيْنَا الْعَدُوَّ فَصَافَفْنَاهُمْ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَصَلَّى بِنَا، فَقَامَتْ طَائِفَةٌ مَعَهُ، وَأَقْبَلَتْ طَائِفَةٌ عَلَى الْعَدُوِّ، وَرَكَعَ بِمَنْ مَعَهُ، وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ انْصَرَفُوا مَكَانَ الطَّائِفَةِ الَّتِي لَمْ تُصَلِّ، فَجَاءُوا فَرَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً، وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ، فَرَكَعَ رَكْعَةً، وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

438. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Aku ikut perang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di arah Nejd dan kami berhadapan dengan musuh maka kami berbaris menghadap mereka, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat mengimami kami, maka shalatlah satu kelompok bersama beliau dan sebagian kelompok lagi menghadap ke arah musuh, beliau ruku’ bersama orang-orang yang bersamanya, dan beliau sujud dengan dua sujud, kemudian mereka bubar menuju tempat kelompok yang belum shalat, kemudian mereka datang dan beliau ruku bersama mereka dengan satu rakaat dan sujud dengan dua sujud, kemudian beliau salam, dan setiap mereka berdiri dan ruku’ masing-masing untuk dirinya satu rakaat dan dua sujud.” (Muttafaq Alaih, dan lafazh ini bagi Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 942 dan Muslim 839]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Aku ikut perang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di arah Nejd (yaitu setiap daerah yang menanjak -dataran tinggi- di negeri-negeri Arab) berhadapan dengan musuh, kami berhadapan dengan musuh maka kami berbaris menghadap mereka, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat mengimami kami (di dalam Al-Maghasy dari Al-Bukhari, sesungguhnya shalat itu shalat Ashar) maka shalatlah satu kelompok bersama beliau dan sebagian kelompok lagi menghadap ke arah musuh, beliau ruku’ bersama orang-orang yang bersamanya, dan beliau sujud dengan dua sujud kemudian mereka Bubar (yaitu dengan orang yang shalat bersama beliau dan mereka tidak mengerjakan rakaat yang kedua dan tidak juga salam atas shalat mereka) menuju tempat kelompok yang belum shalat, kemudian mereka datang dan beliau ruku bersama mereka dengan satu rakaat dan sujud dengan dua sujud kemudian beliau salam, dan setiap mereka berdiri dan ruku’ masing-masing untuk dirinya satu rakaat dan dua sujud.”

Penyusun buku ini berkata, “Tidak ada perbedaan dalam jalur riwayat dari Ibnu Umar dalam masalah ini. Kemungkinan bisa dipahami, mereka menyempurnakan (shalat mereka) dalam satu keadaan. Mungkin juga mereka menyempurnakannya setelah itu, dan ini adalah yang paling kuat dari segi makna. Jika tidak demikian, maka penjagaan dari musuh akan lowong yang seharusnya dijaga ketat, sedang imam satu saja. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud dari hadits Ibnu Mas’ud dengan lafazh,

«ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ هَؤُلَاءِ أَيْ الطَّائِفَةُ الثَّانِيَةُ فَصَلُّوا لِأَنْفُسِهِمْ رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمُوا ثُمَّ ذَهَبُوا وَرَجَعَ أُولَئِكَ إلَى مَقَامِهِمْ فَصَلُّوا لِأَنْفُسِهِمْ رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمُوا»

“Kemudian beliau salam, kemudian berdirilah kelompok kedua, mereka shalat untuk diri mereka masing-masing rakaat yang lain, kemudian mereka salam, kemudian mereka pergi, kemudian mereka (kelompok pertama) kembali ke tempat mereka dan shalat untuk diri mereka masing-masing satu rakaat (yang tersisa) kemudian salam.” [Dhaif: Abu Daud 1244]

Lafazh ath-thaifah bisa diucapkan untuk jumlah yang sedikit juga banyak, walaupun hanya untuk satu orang. Sampai juga walau hanya tiga orang, boleh bagi imam shalat dengan satu orang dan tiga orang menjaga kemudian shalat bersama imam, ini adalah jumlah yang paling sedikit yang mungkin terjadi shalat khauf.

Secara zhahir hadits, bahwa kelompok yang ke dua menyela-nyela di antara dua rakaat, kemudian kelompok yang pertama setelah itu. Tatacara ini merupakan madzhab Abu Hanifah dan Muhammad.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *