[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 126

02.12. BAB SHALAT JUM’AT 08

0434

434 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَيْسَ عَلَى مُسَافِرٍ جُمُعَةٌ» رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

434. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada bagi musafir kewajiban shalat Jum’at.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad yang dhaif).

[Shahih: Shahih Al Jami’ 5405]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Pengarang tidak menyebutkan dhaif hadits ini di dalam Al-Talkhish dan dia juga tidak menyebutkan sebab kedhaifannya.

Jika telah engkau ketahui hal ini, berarti telah terkumpul di dalam hadits-hadits bahwa sesungguhnya tidak ada Jumat bagi enam orang.

Pertama; Anak kecil. Telah disepakati bahwa tidak wajib Jumat baginya.

Kedua; Budak. Hal ini juga telah disepakati kecuali menurut Dawud Az-Zhahiri. Beliau mengatakan wajibnya budak karena masuk ke dalam konteks keumuman ayat, “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at.” (QS. Al-Jumuah: 9) Sesungguhnya ia telah menetapkan di dalam ushulnya, masuknya budak ke dalam khitab syar’i. Hal ini dibantah bahwa sesungguhnya budak telah dikhususkan oleh hadits-hadits walaupun dalam hadits ini ada kritik tetapi antara sebagian dengan sebagian yang lain saling menguatkan.

Ketiga; Perempuan. Ini juga telah disepakati mengenai tidak wajibnya perempuan melakukan shalat Jumat. Asy-Syafii berkata, “Disunnahkan bagi perempuan-perempuan yang sudah tua untuk menghadiri Jumat dengan izin suaminya.” Disebutkan di dalam riwayat Al-Bahri, “Sesungguhnya beliau mengatakan wajib atas mereka ini, dan ini berbeda dengan apa yang telah dikenal dalam kitab-kitab Asy-Syafiiyah.”

Keempat; Orang yang sakit. Ia tidak wajib menghadiri shalat Jum’at karena terhalang oleh sakit.

Kelima; Musafir. Tidak wajib bagi musafir untuk menghadiri Jum’at. Ini dapat dipahami bahwa yang dimaksud adalah orang yang betul-betul dalam perjalanan. Adapun orang yang berhenti dalam perjalanan maka wajib baginya shalat Jum’at walaupun ia hanya berhenti dalam ukuran satu shalat. Pendapat ini telah didukung oleh sekelompok ulama dari Ahlul Bait dan selain mereka. Dikatakan juga tidak wajib atasnya karena ia masih termasuk dalam lafazh musafir dan pendapat ini didukung oleh ulama ahlul bait juga dan selain mereka. Dan ini yang paling mendekati kebenaran karena hukum-hukum perjalanan masih tetap baginya seperti mengqasar shalat dan semisalnya, karenanya tidak dinukil bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Jumat di Arafah pada haji wada’, karena beliau sedang musafir demikian juga shalat Ied digugurkan atas orang yang musafir. Karenanya tidak diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melaksanakan shalat Ied ketika menunaikan haji. Telah keliru Ibnu Hazm Rahimahullah ketika ia berkata, “Sesungguhnya beliau shalat Ied ketika berhaji.” Dan para ulama menegurnya dengan keras.

Keenam, penduduk dusun. Di dalam An-Nihayah, “Sesungguhnya orang dusun dikhususkan bagi penduduk gunung dan perkemahan bukan penduduk desa atau kota. Di dalam syarah Al-Umdah, “Sesungguhnya hukum penduduk desa sama dengan hukum penduduk dusun.” Demikian yang disebutkan dalam syarah hadits, “Tidak boleh orang kota menjual pada orang dusun.”

0435

435 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ – وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ الْبَرَاءِ عِنْدَ ابْنِ خُزَيْمَةَ

435. Dari Abdullah bin Masud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika telah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami menghadap beliau dengan wajah-wajah kami.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad yang dhaif) Hadits ini mempunyai syahid dari hadits Barra menurut riwayat Ibnu Khuzaimah.

[Shahih: At Tirmidzi 509]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini sanadnya dhaif karena terdapat Muhammad bin Fadhal bin Athiyah di dalamnya. Ia dhaif jika meriwayatkan hadits sorang diri, dan juga didhaifkan oleh Al-Daraquthni dan Ibnu Adi dan selain mereka berdua.

Hadits ini mempunyai syahid dari hadits Barra menurut riwayat Ibnu Khuzaimah. Hal ini tidak disebutkan oleh pensyarah Rahimahullah dan saya juga tidak melihatnya di dalam Al-Talkhish.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan, bahwa menghadap ke arah khatib adalah suatu perkara yang terus berlangsung dan seakan-akan sudah menjadi kesepakatan. Abu At-Thayib dari Asy-Syafiiyah telah menetapkan kewajibannya. Al-Hadawiyah memberikan dua kemungkinan. Jika sebagian para pendengar berada di depan dan tidak mungkin menatap kepada khatib, maka sah bagi mereka atau tidak sah. Pengarang kitab Al-Atsmar telah menuliskan wajib bagi beberapa kelompok orang menghadap kepada khatib dan tidak semuanya.

0436

436 – وَعَنْ الْحَكَمِ بْنِ حَزْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «شَهِدْنَا الْجُمُعَةَ مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد.

436. Dari Al-Hakam bin Hazn Radhiyallahu Anhu, aku menyaksikan Jumat bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau berdiri sambil bersandar pada tongkat atau kayu panjang.” (HR. Abu Dawud)

[Hasan: Abu Daud 1096]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Al-Hakam Ibnu Abdil Bar berkata, “Sesungguhnya ia masuk Islam pada tahun penaklukan kota Makkah.” Dikatakan juga pada hari peperangan Al-Yamamah. Bapaknya adalah Hazn bin Abi Wahbi Al-Mahzumi.

Kesempurnaan hadits ini ada dalam As-Sunan,

«فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ ثُمَّ قَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ إنَّكُمْ لَنْ تُطِيقُوا أَوْ لَنْ تَفْعَلُوا كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوا وَيَسِّرُوا»

“…kemudian beliau memuji Allah dan memuja atasnya dengan kata-kata ringan nan baik, serta penuh berkah kemudian beliau bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya kalian tidak akan mampu dan tidak akan berbuat setiap apa yang diperintahkan pada kalian, akan tetapi bersungguh-sungguh dan permudahlah.”

Dalam riwayat yang lain,

وَأَبْشِرُوا

“Aku berikan kabar gembira pada kalian…”

sanad hadits ini hasan dan dishahihkan oleh Ibnu Sakan dan Ibnu Khuzaimah hadits ini juga ada syahid dari riwayat Abu Dawud dari hadits Al-Barra’,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا خَطَبَ يَعْتَمِدُ عَلَى عَنَزَةٍ لَهُ»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diberikan kepada beliau tongkat panjang pada hari Ied kemudian khutbah dengannya.” [hasan: Abu Daud 1145]

Ahmad dan Ath-Thabrani meriwayatkannya secara panjang dan dishahihkan oleh Ibnu As-Sakan dan dikeluarkan oleh Asy-Syafi’i, “Sesungguhnya Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam jika berkhutbah berpegangan pada pada anazah. An-Nazah seperti separoh anak panah atau lebih besar, pada ujungnya runcing seperti mata anak panah.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya bagi khatib untuk berpegangan pada pedang atau yang semisal waktu berkhutbah. Hikmah dalam hal ini adalah untuk mengokohkan hati dan menghindarkan tangannya melakukan sesuatu yang sia-sia. Jika ia tidak menemukan sesuatu yang bisa dipegang, maka ia melepaskan tangan ke bawah. Atau meletakan tangan kanan di atas tangan kiri atau di samping mimbar, dan dimakruhkan menghentakkan pedang pada mimbar. Karena tidak disebutkan dalam riwayat, maka hal itu termasuk bid’ah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *