[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 124

02.12. BAB SHALAT JUM’AT 06

0427

427 – وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَرَجَّحَ الدَّارَقُطْنِيُّ أَنَّهُ مِنْ قَوْلِ أَبِي بُرْدَةَ

427. Dari Abu Burdah dari bapaknya Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Waktu itu adalah antara imam duduk hingga selesai shalat.” (HR. Muslim dan Ad-Daraquthni menguatkan bahwa riwayat ini merupakan ucapan dari Abu Burdah).

[Shahih: Muslim 853] *

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

“Abu Burdah adalah Amir bin Abdullah bin Qais. Dan Abdullah adalah Abu Musa Al-Asy’ari. Abu Burdah adalah seorang tabiin yang termasyhur ia mendengar dari bapaknya, Ali Alaihissalam, Ibnu Umar dan lain-lainnya.

Penjelasan Kalimat

“Dari bapaknya (yakni Abu Musa Al-Asy’ari) ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Waktu itu (waktu yang baik pada hari Jumat) antara imam duduk (di atas mimbar) hingga selesai shalat.”

Para ulama telah berbeda pendapat tentang waktu ini. Pengarang telah menyebutkan dalam Fath Al-Bari dari ulama empat puluh tiga pendapat dan kami akan memberikan isyarat beberapa pendapat itu. Dituturkan oleh Pensyarah- semoga Allah merahmatinya- di dalam syarahnya. Ini juga diriwayatkan dari Abu Musa salah satunya, yang dikuatkan oleh Muslim atas yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi ia berkata, “Hadits ini riwayat yang paling baik dalam bab ini dan paling shahih, Berkata Al-Baihaqi, Ibnul Arabi dan sekelompok ulama Al-Qurthubi berkata, Hadits ini menjadi nash ditengah perbedaan pendapat maka janganlah berpaling kepada selainnya. An-Nawawi berkata, “Hadits ini shahih dan juga benar.”

Pengarang mengatakan, “Bukan yang dimaksud bahwa sesungguhnya waktu itu mencakup kesemua waktu yang telah ditentukan, tetapi mungkin ditengahnya, hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dengan sabdanya, “Beliau mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu sangat sedikit”, dan sabdanya, “Sedikit waktunya”, Adapun faidah penyebutan waktunya adalah bahwa waktu ini berpindah-pindah yang menurut prasangka yang paling kuat misalnya dimulai dari khutbah dan akhirnya adalah berakhirnya shalat.

Adapun ucapan yang mengatakan, sesungguhnya Ad-Daraquthni telah menguatkan bahwa ucapan ini dari Abu Burdah maka telah dijawab bahwa tidak mungkin hal tersebut kecuali khabar yang marfu’ karena tidak ada tempat bagi ijtihad untuk penentuan waktu ibadah, akan dijelaskan kemudian apa yang menjadi penyebab ucapan Ad-Daraquthni.

_______________

* [Al-Albani berkata: Dhaif, yang terjaga adalah mauquf, lihat Shahih Abu Daud 1049. Dalam Al-Misykah 1358, Al-Albani berkata: ia dianggap cacat karena mauquf dan semua hadits dalam bab ini menyelisihinya. Dan hal ini diisyaratkan oleh Imam Ahmad dengan perkataannya: ‘kebanyakan hadits mengenai saat diijabahnya doa adalah setelah ashar dan diharapkan setelah tergelincirnya matahari. Ebook editor]

0428

428 – وَفِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ.

428. Dalam hadits Abdullah bin Salam Radhiyallahu Anhu diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

[Hasan Shahih: Ibnu Majah 1149]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Salam adalah Abu Yusuf bin Salam dari bani Qainuqa’ seorang Israel dari keturunan Yusuf bin Ya’qub Alaihissalam, beliau seorang pendeta dan salah seorang yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai penghuni surga. Telah meriwayatkan darinya anaknya Yusuf, Muhammad, Anas bin Malik dan selain mereka. Meninggal di Madinah pada tahun 43 H. Lafazh Salam diucapkan dengan meringankan (tanpa tasydid) huruf Laam, berkata Al-Mubarrid, “Tidak ada di suku Arab lafazh Salam dibaca tanpa tasydid selain beliau”.

Menurut Ibnu Majah lafazhnya sebagai berikut, “Dari Abdullah bin Salam ia berkata:

«قُلْت وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَالِسٌ: إنَّا لَنَجِدُ فِي كِتَابِ اللَّهِ يَعْنِي التَّوْرَاةَ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إلَّا قَضَى اللَّهُ لَهُ حَاجَتَهُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَأَشَارَ أَيْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَوْ بَعْضَ سَاعَةٍ قُلْت: صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْ بَعْضَ سَاعَةٍ قُلْت: أَيُّ سَاعَةٍ هِيَ؟ قَالَ: هِيَ آخِرُ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ النَّهَارِ قُلْت: إنَّهَا لَيْسَتْ سَاعَةَ صَلَاةٍ قَالَ: إنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يُجْلِسُهُ إلَّا الصَّلَاةُ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ»

“Aku berkata dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk, “Sesungguhnya kami menemukan di dalam Kitab Allah yakni At-Taurat, di hari Jum’at ada waktu yang mana tidaklah seorang hamba muslim menepatinya sedang ia shalat dan meminta sesuatu kepada Allah Aza wa Jalla pada saat itu, kecuali Allah akan memenuhi hajatnya.” Berkata Abdullah, “Maka beliau memberi isyarat – yakni Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sebagian waktu saja. Aku berkata, “Engkau benar, wahai Rasulullah.” Aku berkata, “Waktu itu kapan?” Beliau menjawab, “Waktu terakhir dari siang”. Aku berkata, “Apakah waktu itu bukan dalam shalat? Beliau menjawab, “Seorang hamba mukmin jika shalat, kemudian duduk yang tidak membuatnya duduk kecuali untuk melaksanakan shalat, maka ia seperti dalam shalat.”

0429

429 – وَعَنْ جَابِرٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ: «أَنَّهَا مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ وَغُرُوبِ الشَّمْسِ» . وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِيهَا عَلَى أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَمْلَيْتهَا فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ

429. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu menurut riwayat Abu Dawud dan menurut riwayat An-Nasa’i sesungguhnya waktu itu antara shalat Ashar sampai tenggelamnya matahari.

[Shahih: Abu Daud 1048]

Dan telah terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini lebih dari empat puluh pendapat. Aku telah menuliskannya dalam Syarh Al-Bukhari (Fath Al-Bari).

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan pendapat ini, At-Tirmidzi meriwayatkan darinya, berkata Ahmad, “Inilah hadits yang paling banyak dalam masalah ini.” Berkata Ibnu Abdil Bar, “Hadits ini paling kokoh dalam masalah ini.”

Said bin Manshur meriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai kepada Abu Salamah bin Abdurrahman, “Sesungguhnya sekelompok shahabat berkumpul dan mereka membicarakan tentang waktu (yang baik) pada hari Jum’at, kemudian mereka berpisah dan tidak berbeda pendapat bahwa waktu itu adalah akhir waktu dari hari Jum’at.” Dikuatkan oleh Ishaq dan lainnya, dan diceritakan bahwa ini adalah pendapat Asy-Syafii.

Ini menjadi musykil, terjadi tarjih (menguatkan satu pendapat) hadits yang tidak terdapat di Ash-Shahih atas hadits yang terdapat di dalamnya. Sedang yang dikenal dalam ilmu hadits dan lainnya, bahwa apa yang terdapat di Ash-Shahihain atau salah satunya, akan didahulukan dari yang lainnya. Jawaban dari masalah ini adalah yang demikian ini terjadi di mana tidak ada hadits yang terdapat di Ash-Shahihain atau salah satunya termasuk hadits yang dikritik para penghafal hadits seperti hadits Abu Musa ini yang terdapat di Muslim. Sesungguhnya telah dikritik adanya Al-Inqitha’ (terputusnya sanad) dan Al-Idhthirab (goncangan pada matan hadits):

Yang pertama, al-Inqitha’ (terputusnya sanad): Sesungguhnya hadits ini dari riwayat Makhramah bin Bakir. Ia secara tegas mengatakan bahwa ia tidak mendengar dari bapaknya, maka ini tidak termasuk syarat Muslim.

Adapun yang kedua, al-Idhthirab : Karena penduduk Kufah mengeluarkan riwayat ini dari Abu Burdah tidak secara marfu,’ sedang Abu Burdah seorang penduduk kufah dan penduduk negeri itu lebih mengetahui tentang haditsnya daripada Bakir. Jikalau hadits ini marfu’ menurut Abu Burdah, mereka tidak akan memauqufkan hadits ini kepadanya, karena Ad-Daraquthni menetapkan bahwa hadits ini mauquf adalah benar.

Ibnul Qayyim mengumpulkan antara hadits Abu Musa dan Abdullah bin Salam dengan pemahaman bahwa waktu itu terangkum salah satu dari dua waktu, dan penggabungan semacam ini telah didahului oleh Ahmad bin Hambal.

Ungkapan, “dan telah terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini lebih dari empat puluh pendapat, aku telah menuliskannya dalam Syarh shahih Bukhari (Fath Al-Bari)” telah lalu isyarat seperti ini. Al-Khathabi berkata, “Dalam masalah ini telah terjadi perbedaan dua pendapat, ada yang mengatakan, bahwa waktu ini sudah di hapus.” Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian shahabat, dan sebagian lagi mengatakan waktu ini masih tetap berlaku tetapi mereka berbeda pendapat tentang penentuan waktunya. Kemudian ia menuturkan pendapat-pendapat ini tapi tidak mencapai hitungan yang telah dicapai oleh pengarang. Dan di sini beliau hanya meringkas dua pendapat ini, seakan-akan dua pendapat inilah yang paling ia unggulkan secara dalilnya.

Kemudian hadits ini menjelaskan tentang keutamaan hari Jumat dengan dikhususkannya hari ini dengan waktu yang berkah ini.

0430

430 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «مَضَتْ السُّنَّةُ أَنَّ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَصَاعِدًا جُمُعَةً» . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

430. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Berlaku dalam Sunnah bahwa setiap empat puluh orang atau lebih didirikan shalat Jum’at.” (HR. Ad-Daraquthni dengan sanad yang dhaif)

[Dhaif Jiddan: Lihat Al-Irwa’ 603. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hal ini karena dari riwayat Abdul Aziz bin Abdurrahman, Abdul Aziz, Ahmad berkata, “Aku membuang hadits-hadits ini karena hadits-hadits ini adalah kebohongan atau palsu.” An-Nasa’i berkata, “Bukan orang tsiqah (bukan orang yang terpercaya).” Ad-Daraquthni mengomentarinya dengan, “Hadits mungkar”, Ibnu Hibban berkata, “Tidak boleh dijadikan hujjah.”

Dalam masalah batasan jumlah orang untuk mendirikan shalat Jumat ada beberapa hadits yang tidak ada asalnya. Berkata Abdulhaq, “Tidak ada hadits yang kuat dalam bilangan jamaah shalat Jumat.” Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah jamaah shalat Jumat, di antaranya ada yang berpendapat wajib shalat Jumat atas empat puluh orang, dan tidak wajib kurang dari itu. Mereka itu adalah Umar bin Abdul Aziz, Asy-Syafii dan imam termasuk diantara empat puluh itu. Ini salah satu di antara dua pendapat Asy-Syafii. Abu Hanifah, Al-Muayyid Billah dan Abu Thalib berpendapat bahwa shalat Jumat dapat terlaksana dengan tiga jamaah termasuk imam, dan ini adalah jumlah paling sedikit dalam pelaksanaan shalat Jumat, dan tidak wajib jika tidak sempurna hitungan ini. Mereka berdalilkan berdasarkan firman Allah, “maka bersegeralah kamu.” (QS. Al-Jumuah: 9) Mereka berkata, “Panggilan kepada jamaah setelah panggilan shalat Jum’at, dan sedikitnya jamaah itu adalah tiga orang.” Maka menunjukkan kewajiban untuk menunaikan shalat Jumat setelah ada panggilan untuk mereka dan kata panggilan menunjukkan adanya orang yang dipanggil dan mereka itu tiga orang bersama imam. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan persyaratan lebih dari itu.

Hal ini bertentangan, karena sesungguhnya tidak lazim panggilan untuk berjamaah dilaksanakan secara berjamaah juga dan ini telah dijelaskan dalam Al-Bahru berarti dengan ini tertolaklah mazhab ini dengan dalil yang mereka gunakan sebagaimana firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 43) dan “Dan berjihadlah kamu.” (QS. Al-Haj: 78) berdasarkan ayat ini tidak lazim mengeluarkan zakat itu secara berjamaah.

Saya berkata, “Yang benar, sesungguhnya persyaratan bagi ibadah manapun tidak dibolehkan kecuali adanya dalil, dan tidak ada dalil satupun yang menunjukkan bilangan baik dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah. Dan telah diketahui bahwa shalat Jumat tidak mungkin dilakukan kecuali dengan berjamaah sebagaimana yang telah diriwayatkan dari hadits Abu Musa menurut riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Adi, dan hadits Umamah menurut riwayat Ahmad dan Ath-Thabrani. Dua adalah bilangan paling sedikit terbentuknya jamaah berdasarkan hadits, “Dua orang adalah jamaah”, maka berarti sempurnalah dengan dua orang shalat Jumat ini yang paling dzahir.

Pensyarah telah menuturkan perbedaan pendapat tentang berapa jumlah yang dianggap untuk melaksanakan shalat Jumat. Perbedaan ini mencapai empat belas pendapat, dan beliau juga menuturkan sandaran mereka dengan dalil yang telah diklaim, dan semuanya tidaklah dapat dijadikan dalil atas pensyaratan jumlah tersebut. Kemudian pensyarah mengatakan, “Adapun yang dinukil dari keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah beliau shalat Jumat dengan jamaah yang banyak yang tidak dibatasi oleh hitungan tertentu, hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah banyaknya jamaah yang hadir itu dapat menjadi syiar Islam. Dan hal itu tidak akan ada kecuali dalam jumlah yang banyak yang membuat sakit hati orang-orang munafik dan menyedihkan para penentang Islam yang juga membuat senang orang yang jujur imannya. Ayat yang mulia telah menunjukkan perintah untuk berjamaah, yang jika terhenti pada bilangan yang kecil maka jauhlah itu dari harapan.

Saya berkata, “Kami telah menulis sebuah risalah tentang syarat-syarat shalat Jum’at yang telah mereka sebutkan. Dan kami telah meluaskan pembahasannya baik dalam beberapa pendapat dan dalil-dalil dan kami namakan risalah ini dengan “Al-Lum’ah ft Tahqiiqi Syaraithil Jum’ah”.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *