[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 123

02.12. BAB SHALAT JUM’AT 05

0423

423 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

423. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila seorang dari kamu sudah selesai shalat Jumat, maka hendaklah dia shalat sunnah empat rakaat sesudahnya.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 881]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya empat rakaat setelah shalat Jumat. Perintah ini pada zhahirnya menunjukkan kewajiban akan tetapi ada riwayat yang diriwayatkan dari Ibnu Ash-Shalah,

«مَنْ كَانَ مُصَلِّيًا بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا»

“Barangsiapa yang menginginkan shalat setelah Jum’at, maka shalatlah empat rakaat.” (HR. Muslim) berati menunjukkan tidak wajibnya hal ini.

Empat rakaat lebih utama dari dua karena adanya perintah tersebut, dan seringnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakannya. Dan telah berkata pengarang Al-Hady An-Nabawi, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika shalat Jumat kemudian ia masuk ke dalam rumahnya, maka ia shalat dua rakaat sunnah Jumat dan memerintahkan orang yang melakukannya untuk shalat setelah Jumat empat rakaat.” Ibnu Taimiyah berkata, “Jika beliau shalat di masjid ia shalat empat raka’at dan jika shalat di rumah beliau shalat dua rakaat.”

Saya berkata, “Atas pendapat ini ada beberapa hadits yang menjadi dalilnya, telah dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Umar,

«كَانَ إذَا صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ صَلَّى أَرْبَعًا، وَإِذَا صَلَّى فِي بَيْتِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ»

“Sesungguhnya beliau jika shalat di masjid, shalat empat raka’at dan jika shalat di rumah beliau shalat dua rakaat.” [Shahih: Abu Daud 1130]

Dan dalam Ash-Shahihain dari Ibnu Umar,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu shalat setelah Jum’at dua rakaat di rumah beliau.” [Shahih: Al Bukhari 937 dan Muslim 882]

0424

424 – وَعَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، أَنَّ مُعَاوِيَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ لَهُ: «إذَا صَلَّيْت الْجُمُعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ، حَتَّى تَتَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَنَا بِذَلِكَ: أَنْ لَا نَصِلَ صَلَاةً بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

424. Dari Sa’ib bin Yazid Radhiyallahu Anhu bahwa Muawiyah Radhiyallahu Anhu berkata kepadanya, “Apabila kamu sudah shalat Jumat, maka janganlah engkau menyambungnya dengan suatu shalat hingga engkau berbicara atau keluar, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh kami demikian, yaitu kami tidak boleh menyambung shalat dengan shalat lain hingga kami berbicara atau keluar dahulu.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 882]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

As-Saib bin Yazid, menurut riwayat yang terkenal namanya adalah Abu Yazid As-Saib bin Yazid Al-Kindi. Ia lahir pada tahun kedua hijriyah. Menghadiri haji wada’ yang ketika itu beliau berusia tujuh tahun.

Tafsif Hadits

Hadits ini menjelaskan disyariatkannya untuk memisahkan antara shalat sunnah dengan shalat fardhu dan tidak menyambungnya secara langsung. Zhahir larangan ini untuk pengharaman dan tidak terkhusus untuk shalat jumat. Karena rawi telah mengambil dalil atas pengkhususannya dengan shalat Jumat dengan hadits yang umum yang mencakup shalat Jumat dan lainnya. Dikatakan bahwa hikmah di balik semua itu adalah supaya tidak terserupakan antara yang fardhu dengan yang sunnah, dan telah ada riwayat yang telah menegaskan bahwa itu adalah kehancuran.

Para ulama telah menyebutkan dianjurkannya untuk berpindah tempat ketika mengerjakan shalat sunnah dari tempat shalat fardhu. Dan yang paling utama adalah pindah ke rumahnya. Karena mengerjakan shalat sunnah di rumah lebih utama. Jika tidak, maka pindah ke bagian lain dari masjid atau lainnya, ini juga memperbanyak tempat sujud.

Abu Dawud telah mengeluarkan riwayat dari hadits Abu Hurairah secara marfu’,

«أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ أَوْ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ فِي الصَّلَاةِ يَعْنِي السُّبْحَةَ»

“Apa yang membuat kalian lemah untuk sedikit maju atau mundur atau ke kanan atau ke kiri dalam shalat kalian. Yakni shalat sunnah” [Shahih: Abu Daud 1006]

Abu Dawud tidak mendhaifkan hadits ini, Al-Bukhari mengatakan dalam Shahihnya, hadits ini disebutkan dari Abu Hurairah, ia memarfu’kannya,

«لَا يَتَطَوَّعُ الْإِمَامُ فِي مَكَانِهِ»

“Janganlah imam shalat sunnah di tempatnya” tidak shahih. [Al Bukhari 848]

0425

425 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ اغْتَسَلَ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ، فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ الْإِمَامُ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

425. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jumat, lalu ia shalat beberapa rakaat yang ia mampu, kemudian ia diam sampai imam selesai dari khutbahnya, kemudian shalat bersama imam, niscaya ia diampuni dosanya antara Jum’at dan Jum’at yang akan datang dan lebih tiga hari.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 857]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Barangsiapa yang mandi (untuk shalat Jumat berdasarkan hadits, “Jika salah seorang di antata kalian mendatangi shalat Jumat, maka mandilah”, atau sekadar mandi mutlak saja) kemudian mendatangi Jumat (yaitu tempat dilaksanakan shalat jum’at sebagaimana yang ditunjukkan sabdanya) lalu ia shalat (dari shalat-shalat sunnah) beberapa rakaat yang ia mampu kemudian ia diam sampai imam selesai dari khutbahnya kemudian shalat bersama imam niscaya ia diampuni dosanya antara Jumat dan Jumat yang akan datang dan lebih (yakni mendapat tambahan) tiga hari.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan kepada seorang muslim agar senantiasa menjaga mandi Jumat, karena adanya pahala dari mandi ini, kecuali ada riwayat dari Muslim, “Barangsiapa yang berwudhu dan memperbaiki wudhunya kemudian mendatangi shalat Jumat.” Riwayat ini menunjukkan bahwa mandi Jumat itu tidak wajib, dan sesungguhnya ia shalat sunnah sebanyak yang ia mampu lakukan karena shalat ini tidak dibatasi dengan batasan tertentu, dan sempurna pahalanya walaupun ia hanya melakukan tahiyatul masjid.

Ucapan Anshata dari lafazh inshat yang berarti diam, ini bukan mendengar tapi ia adalah berdiam penuh perhatian untuk mendengarkan sesuatu, karenanya difirmankan, “Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang.” (QS. Al-A’raf: 204) dan telah berlalu pembicaraan tentang inshat apakah ia wajib atau tidak?

Dalam hadits ini juga ada dalil yang menunjukkan larangan berbicara ketika khutbah berlangsung, tidak setelah selesai walaupun sebelum shalat. Sesungguhnya tidak ada larangan hal itu sebagaimana yang ditunjukkan oleh lafazh hatta (sampai). Ucapan, “niscaya ia diampuni dosanya antara Jumat”, yaitu antara shalat dan khutbahnya sampai pada hari yang sama dari Jumat kedua sampai tujuh hari tanpa tambahan dan pengurangan. Yakni diampunkan kesalahannya yang terjadi di antara dua Jumat itu, dan ucapan “wa fadhl tsalatsata ayyam” (dan lebih tiga hari) yakni diampunkan dosanya tiga hari setelah tujuh hari sampai genap sepuluh hari. Apakah yang diampuni dosa kecil atau dosa besar? Mayoritas ulama mengatakan dosa kecil, karena dosa besar tidak terampuni kecuali dengan taubat.

0426

426 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: «فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ – عَزَّ وَجَلَّ – شَيْئًا إلَّا أَعْطَاهُ إيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ: يُقَلِّلُهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ ” وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ ”

426. Dan darinya Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah menyebut hari jum’at lalu beliau bersabda, “Pada hari itu ada suatu waktu, jika bertepatan seorang hamba yang muslim berdiri untuk shalat memohon kepada Allah sesuatu, maka pasti Allah memberinya dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu sangat sedikit.” (Muttafaq Alaih) Dan menurut riwayat Muslim, ‘Ia adalah waktu yang sangat pendek.”

[Shahih: Al Bukhari 935 dan Muslim 852]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yakni dari Abu Hurairah) menyebut hari Jumat lalu beliau bersabda, “Pada hari itu ada suatu waktu, jika bertepatan seorang hamba yang muslim berdiri (kalimat yang menunjukkan keadaan atau menjadi sifat bagi hamba, sedang huruf wawu sebagai penguat sifat) untuk shalat (sebagai keadaan kedua) memohon kepada Allah (sebagai keadaan ketiga) sesuatu maka pasti Allah memberinya dan beliau mengisyaratkan (yakni Rasulullah) beliau mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu sangat sedikit (keadaan yang keempat yaitu bahwa keadaan waktunya sedikit) Ia adalah waktu yang sangat pendek (ini yang dimaksud oleh lafazh Yuqalliluha pada riwayat yang pertama).”

Tafsir Hadits

Hadits ini ada kesamaran tentang penentuan waktunya dan nanti akan datang riwayat yang menjelaskan penentuannya. Adapun makna al-qaim yakni bertempat mengerjakan shalat dan menjaga rukun-rukunnya tidak sekadar berdiri saja, kalimat ini juga ditetapkan dalam riwayat sekelompok para penghafal hadits dan tidak ditemukan dalam riwayat yang lain. Telah diceritakan oleh sebagian ulama sesungguhnya mereka memerintahkan untuk membuang lafazh shalat dari hadits, seakan-akan mereka merasa musykil dengan shalat, yakni ketika waktunya setelah Ashar, maka itu waktu yang terlarang untuk melaksanakan shalat, demikian jika waktunya dari duduknya imam di mimbar sampai keluarnya.

Kalimat ini telah dita’wil dengan maksud, menunggu shalat, menunggu shalat sama dengan melaksanakan shalat, sebagaimana hal itu telah ditetapkan dalam hadits.

Akan tetapi, semestinya kami katakan, sesungguhnya yang memberi isyarat dengan tangannya adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Malik, “Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi isyarat” dikatakan juga bahwa yang memberi isyarat adalah sebagian dari perawi.

Adapun cara memberi isyarat ini adalah meletakan ujung-ujung jari di atas perut jari tengah atau kelingking menjelaskan tentang sedikitnya.

Ada riwayat yang memutlakan untuk meminta dan dibatasi sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah,

مَا لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ إثْمًا

“Siapa yang tidak meminta kepada Allah maka ia berdosa.” [Shahih: Ibnu Majah 1093]

Dan menurut riwayat Ahmad, ”

مَا لَمْ يَسْأَلْ إثْمًا أَوْ قَطِيعَةَ رَحِمٍ

Barangsiapa yang tidak meminta, ia berdosa dan memutus silaturrahim.” [Dhaif: Dhaif Al Jami 3318. Ebook editor]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *