[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 122

02.12. BAB SHALAT JUM’AT 04

0419

419 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «دَخَلَ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَخْطُبُ. فَقَالَ: صَلَّيْتَ؟ قَالَ لَا. قَالَ: قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ.» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

419. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Seseorang lelaki masuk -masjid- pada hari Jumat dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berkhutbah kemudian beliau bersabda padanya, “Apakah Kamu sudah shalat?’ Ia berkata, “Belum.” Kemudian beliau bersabda, “Berdirilah dan shalatlah dua rakaat.” (Muttafaq Alaih)

[shahih: Al Bukhari 931 dan Muslim 875]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Laki-laki yang dimaksud adalah Sulaik Al-Ghathfani Demikian dinamakan dalam riwayat Muslim. Dikatakan juga selainnya. Dibuang hamzah istifham (hamzah yang berfungsi sebagai kata tanya) pada sabda beliau shallaita asalnya adalah Ashallaita, sebagaimana diriwayat Muslim beliau mengatakan padanya Ashalaita? Dan telah tetap pada sebagian jalan Al-Bukhari.

Ucapan beliau, “Shalatlah dua rakaat” menurut riwayat Al-Bukhari disifati keduanya dengan “ringan keduanya” dan menurut riwayat Muslim “Dibolehkan dalam keduanya”. Al-Bukhari membuat bab berdasarkan hadits ini dengan ucapannya, “Bab orang yang datang dan imam sedang berkhutbah, ia shalat dua rakaat ringan.”

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa tahiyyatul masjid boleh dilakukan ketika imam sedang khutbah. Berpendapat seperti ini sekelompok dari golongan Ahlul Bait, para fakih dan Muhaddits dan hendaklah ini diringankan agar cepat selesai untuk mendengarkan khutbah.

Sekelompok ulama dari salaf (ulama terdahulu) dan khalaf (ulama sekarang) berpendapat, “Tidak disyariatkannya dua rakaat ini ketika khutbah.” Hadits ini menjadi hujjah yang membantah mereka. Mereka mentakwili hadits ini dengan dua belas takwilan dan semuanya tertolak. Ini telah dipaparkan oleh Al-Hafidz dalam Al-Fathu dan disertai bantahannya sebagaimana yang dinukil oleh Asy-Syarih. Mereka berdalil dengan firman Allah, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang.” (QS. Al-A’raaf: 204) tidak ada dalil pada ayat ini, karena hal ini adalah khusus. Sedangkan ayat tersebut umum dan juga khutbah bukanlah Al-Qur’an. Mereka juga berdalil karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang seseorang untuk mengucapkan kepada temannya pada saat khatib sedang berkhutbah ucapan “diam” padahal ini merupakan perintah kebaikan. Bantahannya adalah, “Sesungguhnya ini adalah perintah Asy-Syari’ (Allah) dan itu juga perintahnya, tidak mungkin dua perintah ini saling bertentangan, tetapi perintahnya adalah yang duduk diam, yang masuk masjid ruku untuk tahiyyatul masjid.” Mereka juga berdalilkan dengan perbuatan Ahlul Madinah yang sekarang sampai yang terdahulu yang melarang untuk melakukan shalat sunnah ketika khutbah dan ini merupakan dalil Al-Malikiyah. Bantahannya adalah sebagai berikut, “Sesungguhnya ijma mereka tidak menjadi hujjah walaupun mereka telah berijma, dan ini sudah dikenal di dalam Ushul Fikih juga tidak sempurna pengakuan ijma dalam hal ini.” Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah beliau menshahihkannya,

«أَبَا سَعِيدٍ أَتَى وَمَرْوَانُ يَخْطُبُ فَصَلَّاهُمَا فَأَرَادَ حَرَسُ مَرْوَانَ أَنْ يَمْنَعُوهُ فَأَبَى حَتَّى صَلَّاهُمَا ثُمَّ قَالَ: مَا كُنْتُ لَأَدَعُهُمَا بَعْدَ أَنْ سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَأْمُرُ بِهِمَا»

“Sesungguhnya Abu Said masuk ke masjid sedangkan Marwan berkhutbah dan beliau shalat dua rakaat, penjaga Marwan berniat untuk mencegahnya tetapi beliau menolaknya sampai beliau menyelesaikan dua rakaatnya dan beliau berkata, “Aku tidak akan meninggalkan dua rakaat ini setelah aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan keduanya.”

Adapun hadits Ibnu Umar dari Ath-Thabrani dalam Al-Kabir secara marfu dengan lafazh,

«إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلَا صَلَاةَ وَلَا كَلَامَ حَتَّى يَفْرُغَ الْإِمَامُ»

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid dan imam sedang berkhutbah, maka tidak ada shalat dan tidak ada pembicaraan sampai imam selesai.”

Di dalam hadits ini ada Ayyub bin Nuhaik ia adalah rawi yang ditinggalkan dan didhaifkan oleh sekelompok ulama. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat dan ia berkata, “Orang ini sering keliru.”

Dipahami juga dari hadits bab, seorang khatib boleh memutus khutbahnya dengan pembicaraan ringan. Hal ini dijawab bahwa apa yang keluar dari Nabi Shallallahu Alibi wa Sallam merupakan jumlah perintah yang disyariatkan di dalam khutbah. Perintah beliau ini merupakan dalil wajibnya hal tersebut, dan ini yang dijadikan pendapat oleh sebagian ulama. Adapun orang yang memasuki Masjidil Haram tidak pada saat khatib berkhutbah, maka disyariatkan baginya thawaf dan itu merupakan penghormatan, atau karena sesungguhnya menurut kebiasaan beliau tidak duduk kecuali setelah shalat dua rakaat thawaf. Adapun shalatnya sebelum shalat Ied, jika shalatnya itu di lapangan yang tidak dibatasi, maka tidak disyariatkan untuk tahiyyat secara mutlak, tetapi apabila di masjid maka disyariatkan. Adapun keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar menuju shalat dan tidak melaksanakan shalat sedikit pun karena disibukkan masuk ke shalat Ied. Karena Nabi biasa melakukan shalat Ied di lapangan dan tidak melakukannya kecuali satu kali di masjid. Tidak ada dalil di sini yang menunjukkan tahiyyat. Tidak disyariatkan selain shalat jumat walaupun shalat Ied di masjid.

0420

420 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -، أَنَّ «النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ سُورَةَ الْجُمُعَةِ، وَالْمُنَافِقِينَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

420. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu membaca dalam shalat Jumat dengan surah Al-Jumuah dan Al-Munafiqun.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 879]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu membaca dalam shalat Jum’at dengan surah Al-Jumuah (pada rakaat pertama) surah Al-Munafiqun (pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah, sebagaimana yang telah diketahui dari shalat lainnya).

Tafsir Hadits

Sesungguhnya beliau mengkhususkan kedua surah ini karena dalam surah Al-Jumuah terdapat anjuran untuk menghadiri shalat Jumat dan melangkah menuju kepadanya. Terdapat pula penjelasan tentang keutamaan diutusnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, menyebutkan empat hukum dengan diutusnya beliau, dan anjuran untuk mengingat Allah. Sedang dalam surah Al-Munafiqun ada penjelasan tentang buruknya sifat orang-orang munafiq, menganjurkan mereka untuk bertaubat, dan permintaan mereka untuk diampuni dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga karena surah Al-Munafiqun membuat mereka bertambah banyak berkumpul dalam shalatnya, disebabkan apa yang terdapat pada akhir surah ini dari nasehat dan anjuran untuk bersedekah.

0421

421 – وَلَهُ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ: بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»

421. Dan baginya dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu Anhu bahwa beliau membaca dalam dua shalat Ied dan shalat jumat dengan ‘Sabbihisma Rabbika al A’la’ dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghasiyah.

[Shahih: Muslim 878]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan baginya (yaitu bagi Muslim) dari An-Nu’man bin’Basyir Radhiyallahu Anhu bahwa beliau membaca (yakni Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) dalam dua shalat Ied (yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha di shalat keduanya) pada hari Jum’at (yaitu pada shalatnya) dengan ‘Sabbihisma Rabbika al A’la’ (pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah) dan Hal Ataaka Hadiitsul Ghasiyah’ (pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah).”

Terkadang beliau membaca apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas dan terkadang beliau membaca apa yang disebutkan oleh An-Nu’man. Dalam surah Al-Ghasyiyah ada peringatan tentang keadaan hari akhir, janji dan ancaman yang sesuai bacaan keduanya dengan shalat berjamaah ini. Dan ada riwayat yang menyebutkan beliau membaca surah Qaaf dan Iqtarabat.

0422

422 – وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْعِيدَ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

422. Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Ied, dan beliau memberikan keringanan untuk shalat Jum’at kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan untuk shalat maka shalatlah.” (HR. Khamsah kecuali At-Tirmidzi, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Shahih Abi Dawud (1070)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Ied (yaitu bertepatan dengan hari Jumat) dan beliau memberikan keringanan untuk Jumat (yaitu dalam melaksanakan shalatnya) kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan untuk shalat (yaitu shalat Jumat) maka shalatlah (ucapan ini sebagai penjelasan bagi ucapan ‘rakhkhasha’ —keringanan- dan hal ini merupakan bentuk pengungkapan keringanan yang dikenal).”

Abu Dawud juga mengeluarkan riwayat dari Abu Hurairah sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ عَنْ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ»

“Telah terkumpul pada hari ini dua hari raya, barangsiapa yang menginginkan untuk mencukupkan diri dengan shalat Ied dan tidak shalat Jumat maka sudah cukup baginya, dan kita akan melakukan shalat Jumat.” [Shahih: Abu Daud 1073]

Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim dari hadits Abu Shalih di dalam sanadnya terdapat Baqiyah. Ad-Daraquthni dan lainnya menshahihkan kemursalan hadits ini. Pada bab ini ada riwayat dari Ibnu Zubair dari hadits Atha’, “Sesungguhnya ia meninggalkan Jum’at dan sesungguhnya Ibnu Abbas ditanya tentang hal itu, maka ia menjawab, “Ia telah sesuai As-Sunnah.” [Shahih: An Nasa’i 1591]

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil bahwa shalat Jumat setelah melaksanakan shalat ied menjadi rukhsah, boleh dikerjakan boleh ditinggalkan. Ini terkhusus bagi orang yang melaksanakan shalat ied, tidak bagi orang yang tidak melaksanakannya, pendapat ini didukung oleh Al-Hadi dan sekelompok ulama, kecuali pada hak imam shalat dan tiga orang yang bersamanya. Asy-Syafi’i dan sekelompok ulama berpendapat melaksanakan shalat Jum’at tidak diringankan. Mereka berpendapat bahwa dalil wajibnya shalat Jum’at umum untuk setiap harinya, dan apa yang disebutkan dalam beberapa hadits dan atsar tidak kuat untuk menjadi takhsis (pengkhusus hukum) karena dalam beberapa sanadnya ada pembicaraan.

Saya berkata, “Hadits Zaid bin Arqam telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan tidak ada yang mencela hadits ini selainnya, maka jelas hadits ini bisa menjadi takhsish (pengkhusus). Hadits ini mengkhususkan dalil umum dengan hadits ahad.

Atha’ berpendapat sesungguhnya kewajiban shalat Jumat telah jatuh secara keseluruhannya, karena zhahir sabdanya, “Barangsiapa yang menginginkan untuk shalat, maka shalatlah” dan karena perbuatan Zubair sesungguhnya ia shalat bersama manusia pada hari raya yang bertepatan dengan hari Jumat. Atha’ berkata, “Kemudian kami datang untuk shalat Jumat dan ternyata ia tidak hadir bersama kami, maka kami pun shalat tanpa beliau.” Atha’ juga berkata, “Ketika Ibnu Abbas mendatangi Thaif kami ceritakan hal itu, maka beliau menjawab, “Ia telah sesuai dengan As-Sunnah.”

Juga menurut Zubair, sesungguhnya kefardhuan shalat Zhuhur juga jatuh, tidak dilaksanakan kecuali Ashar. Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari Ibnu Az-Zubair sesungguhnya ia berkata, “Dua hari raya telah terkumpul pada satu hari, maka dikumpulkanlah keduanya. Kemudian dishalatkanlah dua hari raya ini dengan dua rakaat sekali dan tidak ditambahi dua ini sampai shalat Ashar.” [Shahih: Abu Daud 1072]

Bagi yang mengatakan bahwa Jum’at adalah asal di harinya dan Zhuhur adalah sebagai ganti, maka pendapat ini mensahkan pendapat Az-Zubair ini. Karena kewajiban asal yang memungkinkan pelaksanaannya digugurkan, maka penggantinya pun gugur.

Dzahir hadits juga menjelaskan hal ini, dimana keringanan bagi mereka pada hari Jum’at dan tidak memerintahkan mereka untuk shalat Zhuhur disertai jatuhnya shalat Jum’at untuk shalat Zhuhur sebagaimana yang dikatakan pensyarah. Dalam hal ini pensyarah mendukung madzhab Az-Zubair.

Saya berkata, “Tidak diragukan bahwa Atha’ mengkhabarkan, sesungguhnya Ibnu Az-Zubair tidak keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, tetapi ini tidak menjadi nash yang menjelaskan bahwa ia tidak shalat Zhuhur di rumahnya. Penetapan bahwa mazhab Ibnu Az-Zubair menggugurkan shalat Zhuhur pada hari Jumat yang menjadi hari ied bagi orang yang melaksanakan shalat ied dengan riwayat ini tidaklah benar. Karena adanya kemungkinan ia shalat Zhuhur di rumahnya. Bahkan di dalam ucapan Atha’ ‘sesungguhnya mereka shalat sendiri-sendiri’ yakni shalat Zhuhur ini memberikan isyarat tidak adanya ucapan yang mengatakan gugurnya shalat Zhuhur. Tidak juga yang dimaksud mereka shalat Jumat sendiri-sendiri, karena tidak sah shalat Jumat kecuali berjamaah menurut pendapat ijma’.

Kemudian ucapan yang menyebutkan bahwa shalat Jumat adalah asal dan shalat Zhuhur adalah sebagai ganti adalah pendapat yang marjuh (pendapat lemah). Karena shalat Zhuhur telah difardhukan pada malam isra’, sedang kewajiban shalat Jum’at baru datang belakangan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *