[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 121

02.12. BAB SHALAT JUM’AT 03

0415

415 – وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ، وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

415. Dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbahnya merupakan anugerah dari pemahaman -agamanya-yang baik.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 869]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Sesungguhnya pendeknya khutbah merupakan tanda kefakihan seseorang, karena orang yang fakih adalah orang yang mampu mengetahui hakikat-hakikat makna dan kumpulan-kumpulan lafazh, sehingga memungkinkan baginya untuk mengungkapkan dengan bahasa yang lugas dan bermanfaat. Karena kesempurnaan hadits ini adalah,

«فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ لَسِحْرًا»

“Panjangkanlah oleh kalian shalat dan ringkaskanlah khutbah, karena sesungguhnya dari penjelasan itu ada sihir.”

Beliau menyamakan ucapan yang keluar dari lubuk hati yang menarik perhatian akal dengan sihir, karena mengandung hal-hal yang menarik perhatian dan sesuainya hal yang ditunjukkan serta manfaat yang banyak yang ditimbulkan darinya. Dan jatuhnya hal tersebut dalam bentuk majas, baik dalam bentuk motivasi atau peringatan dan selainnya. Hal ini tidak akan mampu dilakukan, kecuali oleh orang yang memahami betul akan makna-makna dan keselarasan dalil. Sesungguhnya seseorang mampu mendatangkan kumpulan-kumpulan kalimat, dan ini merupakan sesuatu yang dikhususkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau mampu mendatangkan jawamiul kalim.

Yang dimaksud dengan panjangnya shalat adalah panjang yang tidak sampai memasukkan pelakunya dalam larangan. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca surah Al-Jumuah dan Al-Munafiqun. Ini panjang jika dihubungkan dengan khutbahnya dan tidak juga memanjangkan khutbah itu dilarang.

0416

416 – «وَعَنْ أُمِّ هِشَامِ بِنْتِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: مَا أَخَذْت {ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ} إلَّا عَنْ لِسَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَؤُهَا كُلَّ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إذَا خَطَبَ النَّاسَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

416. Dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin An-Nu’man Radhiyallahu Anha ia berkata, “Aku tidak pernah mengambil ‘Qaf wal Qur’anil majid’ kecuali dari lisan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam -yang beliau baca- di setiap jumat di atas mimbar jika beliau khutbah kepada manusia.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 872]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ummu Hisyam binti Haritsah bin An-Nu’man adalah seorang Anshar. Meriwayatkan darinya Khabib bin Abdurrahman bin Yusaf. Ahmad bin Zuhail, “Aku mendengar bapakku berkata, ‘Ummu Hisyam binti Haritsah telah berbaiat Ridwan.” Ibnu Abdilbar menyebutkannya dalam Al-Istiab dan tidak disebutkan namanya. Pengarang menyebutkannya dalam At-Taqrib, juga tidak disebutkan namanya tetapi beliau hanya mengucapkan bahwa ia adalah seorang shahabiyah yang terkenal.

Tafsir Hadits

Di dalam hadits ini ada syariat membaca surah Qaf dalam khutbah di setiap Jumat. Para ulama mengatakan sebab Rasulullah memilih surah ini karena surah ini mencakup peringatan tentang hari berbangkit, kematian, nasehat-nasehat yang keras dan ancaman-ancaman yang sangat besar.

Dalam hadits ini juga ada dalil yang membaca sesuatu dalam Al-Qur’an di dalam khutbah, sebagaimana yang telah lalu dan telah terjadi ijma untuk membaca surah yang disebutkan, tidak juga di dalam khutbah. Dan lazimnya Rasulullah membaca surah ini adalah merupakan pilihan baginya, karena di dalamnya terkandung nasehat yang baik dan peringatan. Dalam hadits ini juga ada dalil yang menunjukkan diulang-ulangnya nasehat di dalam khutbah.

0417

417 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا وَاَلَّذِي يَقُولُ لَهُ: أَنْصِتْ لَيْسَتْ لَهُ جُمُعَةٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ لَا بَأْسَ بِهِ،

417. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang berbicara pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, maka dia seperti khimar (keledai) yang membawa kitab kuning, dan orang yang mengatakan diam kepadanya maka tidak ada baginya Jum’at.” (HR. Ahmad dengan sanad la ba’sa bih -tidak mengapa-). [Dhaif: Dhaif Al Jami 5238]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini memiliki syahid yang kuat di Jami’ Hamad secara mursal, yaitu hadits Ibnu abbas yang menafsirkan:

0418

418 – وَهُوَ يُفَسِّرُ حَدِيثَ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مَرْفُوعًا «إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِك: أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ»

418. Dan ini (hadits Ibnu Abbas) menafsiri hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dalam Ash-Shahihaini secara marfu, “Jika engkau mengatakan kepada temanmu “diam” pada hari Jumat sedangkan imam berkhutbah, maka engkau telah berbuat kesia-siaan.”

[Shahih: Al Bukhari 934 dan Muslim 851]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam ucapannya yaumal jum’ah’ merupakan petunjuk bahwa khutbah selain hari Jumat tidak sama larangan dalam hal berbicara. Adapun ucapan imam sedang khutbah merupakan dalil dikhususkannya larangan itu ketika sedang khutbah. Ini merupakan bantahan bagi orang yang mengatakan, “Sesungguhnya dilarang berbicara dari masuk masjid sampai keluarnya imam.”

Adapun berbicara ketika duduk di antara dua khutbah berarti imam tidak berkhutbah maka tidak dilarang berbicara ketika itu. Dikatakan pula bahwa waktu itu adalah waktu pendek yang menyerupai diam untuk mengambil nafas. Maka ini sama hukumnya dengan khutbah. Sesungguhnya diserupakan dengan keledai yang membawa kitab kuning disebabkan tidak adanya nilai manfaat sedikitpun darinya, sedang kitab itu telah membebani dan merepotkan dirinya untuk hadir pada hari Jumat. Sedangkan hewan yang diserupakan juga demikian, ia akan kehilangan manfaat sebesar-besarnya, padahal ia telah memikul beban itu dipundaknya.

Di dalam ucapan ‘laisat lahu jum’ah’ , menunjukkan tidak ada shalat baginya, karena kata Jumat berarti shalat, kecuali shalatnya mencukupi secara ijma. Maka pentakwilan ini menghilangkan keutamaan bagi orang yang memaksakan diri untuk mengatakan diam. Hadits ini sama dengan hadits Ibnu Umar yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dengan lafazh,

«مَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا.»

“Barang siapa yang berbuat sia-sia dan melangkahi pundak-pundak manusia, maka baginya shalat Zhuhur.” [Shahih: Abu Daud 347]

Berkata Ibnu Wahab, salah seorang rawinya, “Makna hadits ini mencukupkan baginya shalat, namun diharamkan baginya keutamaan Jumat.”

Telah berhujjah dengan hadits ini orang yang mengatakan haramnya berbicara ketika khutbah. Mereka itu adalah Al-Hadawiyah, Abu Hanifah, Malik dan salah satu riwayat dari Asy-Syafii. Karena penyerupaannya dengan hewan yang menjadi perumpamaan yang diingkari dan memperhatikan bentuk persamaannya. Ini menunjukkan jeleknya hal tersebut. Demikian juga dihubungkannya dengan hilangnya keutamaan yang dihasilkan dari Jumat. Yang mana semua itu menunjukkan bahwa orang yang berbicara mendapatkan dosa yang menghilangkan keutamaan, maka hal ini menjadikan penghapus Jum’atnya.

Al-Qasim, anak-anak Al-Hadi dan salah satu dari dua pendapat Ahmad dan Asy-Syafii berpendapat pada pemisahan antara orang yang mendengar khutbah dengan orang yang tidak mendengarkannya. Dinukil dari Ibnu Abdilbar adanya kesepakatan (ijma) wajibnya diam bagi orang yang mendengar khutbah kecuali ada sebagian kecil perselisihan di kalangan Tabiin.

U’capan beliau, “Jika engkau mengucapkan kepada temanmu, “Diam! Maka engkau telah berbuat sesuatu yang sia-sia.” Ini merupakan penegasan larangan berbicara, karena jika hal tersebut, dianggap sebagai perbuatan sia-sia, padahal untuk menyeru kepada kebaikan, maka ucapan yang lain lebih dilarang lagi. Berdasarkan hal ini, maka wajib untuk memerintahkan orang yang berbicara dengan isyarat saja jika memungkinkan.

Yang dimaksud dengan ‘Al-Inshat’ adalah berbicara kepada manusia. Dalam hal ini dibolehkan berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Yang jelas bahwa larangan ini mencakup semuanya dan barangsiapa yang membeda-bedakannya, maka ia harus menunjukkan dalil seperti menjawab salam, shalawat atas Nabi ketika disebutkan bagi orang yang mewajibkannya. Hal ini berarti telah terjadi perbedaan antara keumuman larangan dalam hadits ini dengan keumuman kewajiban pada dua hal tersebut. Mengkhususkan di antara keduanya, yakni antara keumuman larangan dan keumuman kewajiban karena menganggap yang lain lebih baik adalah sebuah klaim hukum tanpa adanya murajjih (penguat).

Mereka berbeda pendapat dalam makna laghauta’, yang paling mendekati adalah apa yang dikatakan oleh Ibnul Munir bahwa apa yang disebut laghu adalah segala sesuatu yang tidak dianggap baik. Dikatakan juga batal keutamaan Jumat kamu, sehingga menjadi shalat Zhuhur.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *