[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 120

02.12. BAB SHALAT JUM’AT 02

0411

411 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا، فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ، فَانْفَتَلَ النَّاسُ إلَيْهَا، حَتَّى لَمْ يَبْقَ إلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

411. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu khutbah berdiri, kemudian datanglah segerombolan onta membawa barang dagangan dari Syam sehingga orang pada bubar menuju kepadanya sampai tak tersisa kecuali dua belas orang lelaki.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 863]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu khutbah berdiri, kemudian datanglah segerombolan onta membawa barang dagangan (dalam An-Nihayah lafazh al-‘Iiru yaitu onta-onta yang membawa muatannya) dari Syam sehingga orang pada bubar (bermakna bubar) menuju kepadanya sampai tak tersisa (yaitu dalam masjid) kecuali dua belas orang lelaki.”

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil disyariatkannya khutbah dan dilakukan dengan berdiri dan tidak disyaratkan jumlah tertentu sebagaimana yang dikatakan bahwa disyaratkan bagi shalat Jum’at empat puluh orang lelaki. Dan juga tidak apa yang dikatakan, sesungguhnya jumlah paling sedikit terlaksananya shalat jum’at adalah dua belas orang sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik karena hadits ini tidak menunjukkan bahwa Ia tidak terlaksana kurang dari itu.

Berkenaan dengan kisah inilah turun ayat,

{وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً}

“Dan apabila mereka melihat perniagaan.” (QS. Al-Jumuah: 11) Qadhi Iyadh berkata, “Sesungguhnya Abu Dawud meriwayatkan dalam Marasilnya,

أَنَّ خُطْبَتَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الَّتِي انْفَضُّوا عَنْهَا إنَّمَا كَانَتْ بَعْدَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَظَنُّوا أَنَّهُ لَا شَيْءَ عَلَيْهِمْ فِي الِانْفِضَاضِ عَنْ الْخُطْبَةِ، وَأَنَّهُ قَبْلَ هَذِهِ الْقِصَّةِ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Sesungguhnya khutbah beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mereka pada bubar adalah setelah shalat Jum’at. Mereka menyangka sesungguhnya tidak ada sesuatu bagi mereka untuk terus mendengarkan khutbah. Dan sesungguhnya beliau sebelum kisah ini shalat sebelum khutbah.”

Al-Qadhi berkata, “Ini lebih sesuai dengan keadaan shahabat dan orang-orang yang berprasangka di antara mereka yang tidak akan meninggalkan shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, akan tetapi karena mereka menyangka bolehnya bubar setelah selesainya shalat.

0412

412 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَغَيْرِهَا فَلْيُضِفْ إلَيْهَا أُخْرَى، وَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ» رَوَاهُ النَّسَائِيّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَالدَّارَقُطْنِيّ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ، لَكِنْ قَوَّى أَبُو حَاتِمٍ إرْسَالَهُ

412. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat Jum’at dan lainnya, hendaklah ia menambahkan yang lainnya maka sempurnalah shalatnya.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ad-Daruquthni lafazh ini baginya. Isnad hadits ini shahih tetapi Abu Hatim menguatkan kemursalannya)

[Shahih: Ibnu Majah 1131]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat Jum’at dan lainnya (yaitu semua shalat) hendaklah ia menambahkan yang lainnya (yaitu dalam shalat Jum’at dan lainnya ia tambahkan rakaat yang tersisa baik satu rakaat atau lebih) maka sempurnalah shalatnya.”

Hadits ini mereka keluarkan dari hadits Baqiyah dari Yunus bin Yazid dari Salim dari Bapaknya Al-hadits. Abu Dawud dan Ad-Daraquthni mengatakan, “Baqiyah telah menyendiri dengan periwayatan hadits ini dari Yunus. Berkata Abu Hatim di dalam Al Ilal dari bapaknya, “Ini adalah kekeliruan dari matan dan Isnad tetapi yang benar adalah dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu’, “Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat maka berarti ia telah mendapatkannya.” Adapun ucapan ‘dari shalat jum’ah’ adalah kekeliruan.

Hadits ini telah dikeluarkan dari tiga jalan dari Abu Hurairah dan tiga jalan dari Ibnu Umar, semuanya ada pembicaraan.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Jum’ah sah bagi orang yang menjumpainya walaupun ia hanya mendapatkan sebagian kecil saja dari khutbah. Pendapat ini didukung oleh Zaid bin Ali, Al-Muayid , As-Syafi’i, dan Abu Hanifah.

Al-Hadawiyah berpendapat mendapati sebagian dari khutbah adalah syarat tidak sah tanpanya. Hadits ini menjadi hujjah yang mematahkan pendapat mereka walaupun hadits ini ada perbincangan, akan tetapi banyaknya jalan periwayatannya menguatkan sebagian pada sebagian yang lain. Disamping itu juga Al-Hakim telah mengeluarkan hadits ini dari tiga jalan salah satunya dari Hadits Abu Hurairah, dan ia berkata pada riwayat Abu Hurairah ini, “Sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim.” Kemudian asal suatu hukum tidak ada syarat kecuali ada dalil yang menunjukkannya.’

0413

413 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا، يَجْلِسُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا، فَمَنْ نَبَّأَك أَنَّهُ كَانَ يَخْطُبُ جَالِسًا فَقَدْ كَذَبَ» . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

413. Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa berkhutbah dengan berdiri, kemudian beliau duduk, kemudian beliau berkhutbah dengan berdiri, barangsiapa yang menceritakan kepadamu bahwa sesungguhnya beliau khutbah dengan duduk, maka itu suatu kebohongan.” (HR. Muslim)

[Muslim (862)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil disyariatkannya berdiri ketika melakukan dua khutbah, dan duduk di antara keduanya.

Para ulama telah berbeda pendapat apakah itu wajib atau sunnah? Abu Hanifah berkata, “Sesungguhnya berdiri dan duduk adalah sunnah.” Malik berpendapat bahwa berdiri adalah wajib dan meninggalkannya adalah kejelekan tapi sah khutbahnya.

Asy-Syafii dan lainnya berpendapat bahwa khutbah tidak ada kecuali berdiri bagi yang mampu. Mereka berhujjah dengan terus menerusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam keadaan seperti itu sampai-sampai Jabir mengatakan, “Siapa yang mengkhabarkan…” Berdasarkan juga apa yang diriwayatkan, sesungguhnya Kaab bin Ujrah masuk Masjid dan menemukan Abdurrahman bin Umi Al-Hakam khutbah sambil duduk, maka ia mengingkarinya dan membaca firman Allah, “dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” (QS. Al-Jumuah: 11). Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, “Aku tidak melihat seperti hari ini sekalipun imam yang mengimami manusia khutbah dengan duduk.” ia mengucapkan itu sampai dua kali.

Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan dari Thawus,

«خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَائِمًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ، وَأَوَّلُ مَنْ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ مُعَاوِيَةُ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam khutbah sambil berdiri begitu juga Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan orang yang pertama kali yang duduk di mimbar adalah Muawiyah.”

Ibnu, Abi Syaibah mengeluarkan dari Asy-Sya’bi, “Sesungguhnya Muawiyah khutbah dengan duduk disebabkan banyaknya lemak yang ada di perut dan dagingnya.”

Ini jelas menunjukkan udzurnya, karena dalam keadaan udzur dalam suatu hukum ada kesepakatan bolehnya duduk dalam khutbah.

Adapun Hadits Abi Said yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَلَسَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى الْمِنْبَرِ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk pada suatu hari di atas mimbar dan kami duduk di sekitar beliau.”

Maka telah dijawab oleh Asy-Syafii bahwa itu bukan pada saat shalat Jum’at.

Dalil-dalil ini menunjukkan terlaksananya syariat berdiri dan duduk dalam khutbah.

Adapun kewajiban dan menjadi syarat dalam sahnya khutbah, maka tidak ada petunjuk atas hal tersebut kecuali terkadang digabungkannya dalil wajib berasas dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau telah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” Perbuatan beliau dalam shalat Jum’at dalam kedua khutbahnya dan mendahulukannya sebelum shalat menjelaskan bagaimana tata cara pekksanaan shalat Jum’at. Dan apa yang dilanggengkan oleh beliau, maka ltu adalah kewajiban, dan apa yang tidak diknggengkannya kadang ditinggalkan maka itu menunjukkan tidak adanya kewajiban. Jika sah bahwa duduknya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salhm duduk seperti dalam hadits Abu Said itu pada hari Jum’at, maka itu menjadi dalil yang kuat untuk pendapat yang pertama, dan jika tidak maka pendapat yang kedua.

Faedah:

Salam yang diucapkan oleh khatib di atas mimbar kepada manusia ada hadits yang dikeluarkan oleh Al-Atsram dengan sanadnya dari Asy-Sya’bi,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ اسْتَقْبَلَ النَّاسَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika naik ke mimbar pada hari Jum’at beliau menghadap manusia dan berkata, “As-Salamu Alaikum”, …Hadits ini adalah Mursal.

Ibnu Adi mengeluarkan,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا دَنَا مِنْ مِنْبَرِهِ سَلَّمَ عَلَى مَنْ عِنْدَ الْمِنْبَرِ ثُمَّ صَعِدَ فَإِذَا اسْتَقْبَلَ النَّاسَ بِوَجْهِهِ سَلَّمَ ثُمَّ قَعَدَ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam jika memanggil dari mimbar beliau mengucapkan salam atas orang yang ada di sekitar mimbar kemudian naik, dan jika beliau menghadap kepada manusia dengan wajahnya beliau mengucapkan salam kemudian duduk.”

Kecuali hadits ini didhaifkan oleh Ibnu Adi karena ada Isa bin Abdullah Al-Anshari dan juga didhaifkan oleh Ibnu Hibban.

0414

414 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا خَطَبَ، احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ، وَيَقُولُ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: «كَانَتْ خُطْبَةُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الْجُمُعَةِ: يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى أَثَرِ ذَلِكَ – وَقَدْ عَلَا صَوْتُهُ» . وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: «مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ» وَلِلنَّسَائِيِّ «وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

414. Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika khutbah merahlah kedua matanya, meninggi suaranya, dan sangat marahnya sampai seakan-akan beliau memperingatkan pasukannya dengan mengatakan, “Waspadailah musuh pada pagi kalian dan sore kalian, kemudian bersabda, ‘Amma Ba’du, sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah tentang kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara adalah perbuatan yang dibuat-buat, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim),

Dalam riwayat yang lain baginya, “Khutbah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari Jum’at dengan memuji Allah dan memuja-Nya, kemudian setelah itu naiklah suaranya. Dalam riwayat yang lain baginya, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.” Dan bagi An-Nasai, “Setiap yang sesat itu di neraka.”

[Shahih: Muslim 867, An Nasa’i 3277]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

“Dan seburuk-buruk perkara adalah perbuatan yang dibuat-buat” (yang dimaksud dengan ‘muhdats’ -perbuatan yang dibuat-buat- adalah segala sesuatu yang tidak ditetapkan berdasarkan syariat Allah dan tidak juga dari syariat rasul-Nya) “Dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (yang dimaksud dengan bid’ah secara bahasa adalah apa yang dikerjakan tanpa contoh sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang dikerjakan tanpa didahului oleh contoh syariat dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

– Para ulama membagi bid’ah dalam lima bagian;

1) Bid’ah wajib, seperti menjaga ilmu pengetahuan dengan ditulis dan menentang kaum ilhad (penentang syariat) dengan menegakkan hujjah.

2) Bid’ah mandubah (sunnah), seperti membangun madrasah.

3) Bid’ah mubahah (boleh), seperti memperluas atau memberi keluasan dalam pewarnaan makanan dan memperindah pakaian.

4) Bid’ah Muharramah (haram)

5) Bid’ah Makruhah (makruh)

Untuk bid’ah yang muharramah dan makruhah, keduanya sudah jelas sebagaimana yang disabdakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Lafazh umum yang termaktub dalam hadits dikhususkan.

Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan disunnahkan bagi khatib untuk mengeraskan suara, memperindah ucapannya dan membawakan kumpulan-kumpulan kalimat yang mengandung motivasi dan ancaman, sebagaimana juga membawakan kata amma ba’du. Al-Bukhari telah membuat bab tentang mengucapkan amma ba’du ini dan beliau telah menurunkan sejumlah hadits tentang hal tersebut. Beliau juga mengumpulkan riwayat-riwayat yang menyebutkan amma ba’du dari sebagian muhaddits. Beliau keluarkan dari tiga puluh dua shahabat. Zhahirnya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengucapkan kalimat ini disetiap khutbahnya dan yang demikian itu setelah ucapan alhamdulillah dan puji-pujian kepada Allah dari ucapan syahadat sebagaimana riwayat yang mengisyaratkan hal tersebut dengan ucapan beliau.

Dan dalam riwayat Muslim dari Jabir bin Abdullah disebutkan bahwa, “Khutbah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari Jum’at dimulai dengan memuji Allah dan memuja-Nya kemudian mengeraskan suaranya,” tanpa ucapan ‘amma ba’du fainna khairal hadits’ sampai akhir sebagaimana telah dijelaskan terdahulu. Juga tidak disebutkan (bacaan) syahadat karena untuk meringkas, disebabkan hal ini telah ditetapkan dalam riwayat yang lain. Dan telah ditetapkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَزْمَاءِ»

“Setiap khutbah yang tidak ada (bacaan) syahadatnya seperti sebuah tangan yang terpotong.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 4520]

Dan di dalam kitab Dalail An-Nubuwah karya Baihaqi dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah secara marfu menceritakan bahwa Allah Ta’ala berfirman,

«وَجَعَلْتُ أُمَّتَكَ لَا يَجُوزُ لَهُمْ خُطْبَةٌ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنَّكَ عَبْدِي وَرَسُولِي»

“Aku menjadikan umatmu tidak boleh berkhutbah sampai mereka bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku.”

Dan dalam riwayat Muslim dari Jabir,

«مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ»

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.” Dan lafazh ini disebutkan setelah kata amma ba’du.

Dan dalam riwayat An-Nasai dari Jabir,

«وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

“Dan setiap yang sesat itu di neraka.” yaitu diucapkan setelah ucapan ‘kullu bid’atin dhalalalah’ (setiap bid’ah adalah sesat), sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat An-Nasai dan yang diringkas oleh pengarang. Dan yang dimaksud adalah pelaku bid’ah.

Dan Rasulullah mengajarkan kepada para shahabat dalam khutbahnya kaidah-kaidah Islam dan syariatnya. Beliau memerintahkan dan melarang mereka dalam khutbahnya jika ada perkara perintah atau larangan sebagaimana beliau memerintahkan orang yang masuk ke mesjid sedangkan beliau sedang khutbah untuk shalat dua rakaat. Beliau juga menyebutkan pengajaran-pengajaran syariat dalam khutbahnya menyebutkan surga, neraka dan hari akhir. Beliau memerintahkan bertakwa kepada Allah dan memperingatkan akan murka-Nya, memberikan motivasi untuk mendapatkan ridha-Nya.

Telah datang perihal pembacaan ayat Al-Qur’an di dalam hadits Muslim,

«كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُذَكِّرُ النَّاسَ وَيُحَذِّرُ»

“Sesungguhnya bagi Rasulullah dua khutbah, duduk di antara keduanya, beliau membaca Al-Qur’an, memperingatkan manusia dan memberi ancaman bagi manusia.” [Shahih: Muslim 862]

Zhahirnya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melanggengkan apa-apa yang telah disebutkan dalam khutbah dan wajibnya hal tersebut, karena perbuatan Nabi merupakan penjelasan bagi apa yang diglobalkan di dalam ayat Jum’at dan beliau telah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”

Imam Syafi’i telah berpendapat seperti ini. Al-Hadawiyah berkata, “Tidak wajib dalam khutbah kecuali hamdalah, shalawat atas Nabi di dalam dua khutbah seluruhnya.” Abu Hanifah berkata, “Cukup dengan ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, walailahaillallah wallahuakbar.” Imam Malik berkata, “Tidak cukup kecuali dengan sesuatu yang disebut khutbah.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *