[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 12

01.04. BAB WUDHU 02

0034

34 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

34. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bangun tidur, maka hendaklah beristintsar tiga kali, karena sesungguhnya setan bermalam di dalam khaisyum (lubang hidung)nya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 3295, Muslim 238]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Apabila salah seorang dari kalian bangun tidur, (baik pada waktu malam maupun siang hari) maka hendaklah beristintsar tiga kali, (dalam Al Qamus, istantsar artinya menghirup air ke dalam hidung, kemudian menghembuskannya. Terkadang dalam satu hadits disebutkan keduanya, maka jika demikian istantsar artinya menghembuskan air dari hidung dan istinsyaq artinya menghirup air ke dalam hidung) karena sesungguhnya setan bermalam di dalam khaisyum (lubang hidung)nya.” (yaitu bagian hidung paling atas, ada yang mengatakan hidung secara keseluruhannya, yang lain mengatakan tulang tipis tapi lunak pada ujung hidung yang terdapat antara hidung dan otak)

Tafsir Hadits

Hadits tersebut adalah dalil wajibnya ber-istintsar ketika bangun tidur secara mutlak, tetapi dalam riwayat Al Bukhari,

«إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ……»

“Apabila salah seorang kamu bangun dari tidurnya lalu berwudhu, maka hendaklah beristintsar tiga kali karena sesungguhnya setan……”

Maka di sini ia membatasi perintah mutlak tadi dengan perintah berwudhu, dan membatasi bangun tidur dengan tidur di malam hari, sebagaimana dijelaskan oleh lafazh ’yabiitu’ sebab lafazh tersebut berlaku secara umum, maka tidak ada perbedaan antara tidur pada waktu malam dan siang.

Hadits tersebut juga termasuk di antara dalil bagi yang berpendapat wajibnya istintsar tanpa berkumur-kumur, yaitu pendapat Ahmad dan Jama’ah. sedang jumhur berkata, ‘Tidak wajib’, tetapi perintah tersebut menunjukkan sunnah, mereka berdasarkan dalil sabda rasl terhadap Arab Badui:

تَوَضَّأْ كَمَا أَمَرَك اللَّهُ

“Berwudhulah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepAdamu.”

[shahih: shahih At Tirmidzi 302]

Lalu beliau menjelaskan kepada orang Arab Badui tersebut dalam sabdanya:

لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدٍ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ رَأْسَهُ وَرِجْلَيْهِ إلَى الْكَعْبَيْنِ

“Tidak sempurna shalat salah seorang kamu hingga ia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah, ia membasuh wajah dan kedua tangannya hingga kedua siku, dan mengusap kepala dan mencuci kedua kaki hingga mata kaki.”

[Shahih: shahih Abu Daud 858]

Sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Daud dari hadits Rifa’ah, dan karena telah ditegaskan dalam riwayat sifat wudhu beliau SAW dari hadits Abdullah bin Zaid, Utsman dan Abdullah bin Amr bin Ash bahwa keduanya tidak disebutkan, meski wudhu beliau SAW telah sempurna, juga keduanya disebutkan dan itu adalah dalam sunnah.

Berkenaan dengan sabda beliau, “Setan bermalam”, Al Qadhi Iyad berkata, “Boleh jadi mengandung makna sebenarnya, sebab hidung adalah salah satu saluran tubuh yang sampai ke hati dengan penciuman, dan tidak ada satupun dari saluran tubuh yang memiliki katup kecuali hidung dan telinga.”

Disebutkan dalam hadits:

«إنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ غَلَقًا»

“Sesungguhnya setan tidak dapat membuka penutup tersebut.”

[Shahih: Al Bukhari 3304, Muslim 2012]

Dan disebutkan dalam hadits perintah menutup mulut ketika menguap agar setan tidak masuk ke dalam mulut pada saat itu.

[Shahih: Muslim 2994]

Juga mengandung makna istiarah, karena debu yang menjadi basah dalam hidung adalah kotoran yang sama dengan setan. Saya katakan bahwa yang pertama lebih kuat.

0035

35 – وَعَنْهُ «إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ

35. Dan darinya ‘apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali, karena ia tidak tahu di mana posisi tangannya saat tidur.’ (Muttafaq alaih dan ini lafazh Muslim)

[Shahih: Al Bukhari 162, Muslim 278]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia memasukkan tangannya (tidak termasuk dalam kategori ini jika memasukkan tangan dengan timba untuk mengambil air, hal itu boleh sebab tidak termasuk memasukkan tangan, diriwayatkan dengan lafazh, ‘Janganlah memasukkan’ tetapi yang dimaksud adalah memasukkan tangan ke dalam air, bukan mengambil) ke dalam bejana (tidak termasuk kolam) sebelum ia mencucinya tiga kali, karena ia tidak tahu di mana posisi tangannya saat tidur.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut menunjukkan wajibnya mencuci tangan bagi yang bangun dari tidur, baik malam ataupun siang. Dan yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tidur di malam hari adalah Imam Ahmad, berdasarkan sabdanya baatat (tidur malam), ini adalah qarinah (indikasi) maksudnya tidur pada malah hari –sebagaimana telah disebutkan- tetapi diriwayatkan dengan lafazh:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ….

‘apabila salah seorang kamu bangun tidur di waktu malam..’

[Shahih: Shahih Abu Daud 103]

Menurut Abu Daud dan At Tirmidzi dari jalur lain yang shahih, tetapi dapat dibantah bahwa keterangannya menunjukkan dimasukkannya tidur pada siang hari dengan tidur pada waktu malam.

Yang lainnya berpendapat –yaitu Asy-Syafi’i, Malik dan yang lainnya – bahwa perintah dalam riwayat, ‘Maka hendaklah ia mencucinya’ menunjukkan sunnah, dan larangan dalam riwayat ini adalah menunjukkan makruh. Qarinahnya adalah disebutkannya jumlah. Karena penyebutan pada najis yang tidak ada bendanya adalah dalil sunnah. Juga menjelaskan sesuatu perintah yang menimbulkan keraguan, dan keraguan tidak menunjukkan wajib dalam hukum ini. oleh karenanya, tetap mengacu pada hukum asal, yaitu suci.

Kemakruhan itu tidak dapat dihilangkan tanpa mencucinya tiga kali. Ini berlaku bagi yang bangun tidur. Adapun bagi yang hendak berwudhu tetapi tidak bangun dari tidur maka dianjurkan baginya berdasarkan hadits yang telah disebutkan pada sifat wudhu. Tidak makruh jika ditinggalkan, lantaran tidak adanya dalil yang melarangnya.

Jumhur berpendapat bahwa larangan dan perintah tersebut karena kemungkinan adanya najis di tangan. Dan jika seseorang mengetahui di mana posisi tangannya saat tidur, seperti orang yang membalut tangannya dengan kain lalu ia bangun dalam kondisi yang sama, maka tidak dimakruhkan baginya memasukkan tangannya meskipun disunnahkan mencucinya sebagaimana yang bangun tidur. Yang lainnya mengatakan perintah mencuci adalah taabudi, maka tidak ada perbedaan antara yang ragu dengan yang yakin. Dan pendapat mereka ini lebih kuat, sebagaimana yang telah berlalu.

0036

36 – وَعَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةَ، – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَسْبِغْ الْوُضُوءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ، إلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَلِأَبِي دَاوُد فِي رِوَايَةٍ «إذَا تَوَضَّأْت فَمَضْمِضْ»

36. Dari Laqith bin Shabirah RA, ia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Sempurnakanlah wudhu, dan sela-selalah antara jari jemari, dan bersungguh-sungguhlah ketika beristinsyaq, kecuali bila engkau sedang berpuasa.” (HR. Imam yang empat dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[shahih: Shahih Al Jami’ 927]

Dan Abu Daud dalam satu riwayat: “apabila engkau berwudhu maka berkumur-kumurlah.”

[shahih: Abu Daud 144]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Laqith adalah Ibnu Amir Ibnu Shabirah, julukannya Abu Razin – sebagaimana dikatakan Ibnu Abdil Barr – seorang shahabat yang sangat masyhur, termasuk penduduk Thaif.

Penjelasan Kalimat

Sempurnakanlah wudhu, ( Al Isbagh yaitu menyempurnakan (membasuh) seluruh anggota wudhu) dan sela-selalah antara jari jemari, (yang dimaksudkan adalah jari-jari kedua tangan dan kaki, dan telah disebutkan dengan jelas dalam hadits Ibnu Abbas: “jika engkau berwudhu, maka sela-selalah ruas jari kedua tangan dan kakimu.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 452], akan disebutkan perawinya sebentar lagi) dan bersungguh-sungguhlah ketika beristinsyaq, kecuali bila engkau sedang berpuasa.

Dan Abu Daud dalam satu riwayat: “apabila engkau berwudhu maka berkumur-kumurlah.” Juga dikeluarkan oleh Ahmad, Asy-Syafi’i, Ibnu al Jarud, Ibnu Hibban, Al Hakim dan Al Baihaqi dan dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Baghawi serta Al Qaththan.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut menunjukkan wajibnya menyempurnakan wudhu, yaitu membasuh atau mengusap seluruh anggota wudhu. Dalam Al Qamus, lafazh ‘asbagha al wudhu’ yakni meratakan air dan menyempurnakan hak setiap anggota wudhu. Membasuh tiga kali pada anggota wudhu tidak diwajibkan, tetapi hanya sunnah. Tidak boleh lebih dari tiga kali. Maka jika ragu apakah telah mencuci anggota wudhu dua kali atau tiga kali, hendaknya dihitung membasuhnya dua kali.

Al-Juwaini berkata, “Mengerjakan wudhu hanya tiga kali dan tidak boleh melebihkannya, karena dikhawatirkan melakukan bid’ah.”

Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia mencuci kakinya tujuh kali, maka perbuatan shahabat tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, dan hal itu dapat dipahami bahwa ia mencuci najis empat kali yang tidak dapat hilang melainkan dengan jumlah tersebut, dan juga dalil atas wajibnya menyela-nyela ruas jari.

Telah ditegaskan pula dalam hadits Ibnu Abbas sebagai telah disebutkan yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Al Hakim dan dihasankan Al Bukhari.

Adapun cara meratakan air pada anggota wudhu adalah menyela-nyela bagian yang dibasuh dengan jari kelingking tangan kiri. Ini tidak terdapat dalam nash, hanya saja Al Ghazali berkata, “dilakukannya dengan tangan kiri diqiyaskan atas istinja”, dan dimulai dengan bagian bawah jari. Abu Daud dan At Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Al Mustaurid bin Syaddad:

«رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا تَوَضَّأَ يُدَلِّكُ بِخِنْصَرِهِ مَا بَيْنَ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ»

“Aku melihat Rasulullah SAW jika berwudhu beliau menggosok ruas jari-jari kakinya dengan jari kelingkingnya.”

[Shahih: At Tirmidzi 40]

Dalam lafazh lain Ibnu Majah (يُخَلِّلُ) menyela-nyela sebagai ganti dari (يُدَلِّكُ) menggosok.

Hadits tersebut menunjukkan perintah untuk bersungguh-sungguh dalam ber-istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) bagi yang tidak berpuasa, namun tidak dianjurkannya bagi yang sedang berpuasa agar air tidak turun ke tenggorokannya yang dapat merusak puasanya. Hal itu menunjukkan bahwa mubalaghah (bersungguh-sungguh) tidak wajib, sebab seandainya wajib, nisacaya tidak diperbolehkan meninggalkannya.

Sabda beliau dalam riwayat Abu Daud, “Jika engkau berwudhu maka berkumur-kumurlah”, dijadikan dalil wajibnya berkumur-kumur. Bagi yang berpendapat bahwa berkumur-kumur tidak wajib, ia menjadikannya Sunnah dengan indikasi yang telah disebutkan dalam hadits Rifa’ah bin Rafi mengenai perintah Rasulullah SAW terhadap Arab Badui berkenaan dengan tata cara wudhu, yang shalat tidak sah tanpa dengannya. Dalam tata cara wudhu tersebut tidak disebutkan kumur-kumur dan istinsyaq.

0037

37 – وَعَنْ عُثْمَانَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ فِي الْوُضُوءِ» . أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

37. Dari Utsman RA, bahwa Nabi SAW menyela-nyela jenggotnya ketika berwudhu. (HR. At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: At Tirmidzi 31]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Utsman RA adalah Abu Abdullah Utsman bin Affan Al Umawi Al Qurasyi. Salah seorang Khalifah yang empat dan salah seorang dari sepuluh orang yang pertama masuk Islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali dan menikahi dua putri Rasulullah SAW. yang pertama menikah dengan Ruqayyah. Setelah Ruqayyah meninggal, Nabi SAW menikahkannya dengan Ummu Kultsum. Ia diangkat menjadi Khalifah pada hari pertama bulan Muharram tahun 24 H, dan terbunuh pada hari Jum’at 18 Dzulhijjah tahun 35 H. Dikebumikan pada malam sabtu di Baqi, usianya 82 tahun dan ada yang mengatakan selain itu.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut dikeluarkan oleh Al Hakim, Ad Daruquthni dan Ibnu Hibban dari riwayat Amir bin Syaqiq dari Abi Wa’il. Al Bukhari berkata, “Haditsnya hasan.” Dan Al Hakim berkata, ‘Kami tidak mengetahui ada cacat padanya dalam kondisi bagaimanapun’, ini perkataannya, dan telah didhaifkan oleh Ibnu Ma’in.

Al Hakim meriwayatkan beberapa syahid dari Anas, Aisyah RA, Ali dan Ammar RA bagi hadits tadi. Penulis berkata, “Dan di dalamnya juga ada dari Ummu Salamah, Abi Ayub, Abi Umamah, Ibnu Umar, Jabir, Ibnu Abbas dan Abu Darda’. Dan telah disebutkan, bahwa semuanya dhaif kecuali hadits Aisyah RA. Dan berkata Abdullah bin Ahmad dari bapaknya, “Tidak disyariatkan menyela-nyela jenggot sedikit pun.”

Hadits Utsman ini menunjukkan disyariatkannya menyela-nyela jenggot. Mengenai wajibnya hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Al hadawiyah, menyela-nyela jenggot hukumnya wajib sebagaimana halnya sebelum jenggot itu tumbuh. Banyak hadits mengenai perintah menyela-nyela jenggot, akan tetapi semuanya tak luput dari cacat dan kelemahan, maka tidak dapat dijadikan hujjah dalam mewajibkannya.

0038

38 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: «إنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتَى بِثُلُثَيْ مُدٍّ، فَجَعَلَ يَدْلُكُ ذِرَاعَيْهِ» . أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

38. Dari Abdullah bin Zaid RA, ‘Bahwa Nabi SAW diberikan (air) sebanyak 2/3 mud, maka beliau menggosok lengannya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Saya tidak menemukan lafazh ini dalam Musnad Ahmad dan shahih Ibnu Khuzaimah. Diriwayatkan oleh Al Hakim 1/243]*

*hadits ini ada dalam shahih Ibnu Khuzaimah no 118 (- ebook editor)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Nabi SAW diberikan (air) sebanyak 2/3 mud, (dalam Al Qamus, mud adalah takaran, yaitu dua liter, atau 1 1/3 liter, atau sebanyak isi telapak tangan sedang. Jika mengisi keduanya lalu membentangkannya, oleh karena itu dinamakan mud. Saya telah mencobanya ternyata hal itu benar) maka beliau menggosok lengannya.

Dikeluarkan oleh Abu Daud dari hadits Ummi Umarah Al Anshariyah dengan sanad hasan,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَوَضَّأَ بِإِنَاءٍ فِيهِ قَدْرُ ثُلُثَيْ مُدٍّ»

“Bahwa Rasulullah SAW berwudhu pada bejana yang di dalamnya terdapat air sebanyak 2/3 mud.”

[Shahih: Abu Daud 94]

Diriwayatkan juga oleh Al Baihaqi dari hadits Abdullah bin Zaid.

[Sunan Al Baihaqi 1/196]

2/3 mud adalah ukuran minimal yang digunakan oleh Rasulullah SAW berwudhu. Adapun hadits yang menyebutkan bahwa beliau berwudhu dengan 1/3 mud tidak ada asalnya. Telah dishahihkan oleh abu Zur’ah dari hadits Aisyah RA dan Jabir,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ»

“Bahwa Rasulullah SAW pernah mandi dengan satu sha dan berwudhu dengan satu mud.”

[Shahih: Abu Daud 92 , 92]

Muslim meriwayatkan hadits yang sama dari Safinah.

[Shahih: Muslim 326]

dan Abu Daud dari Anas,

«تَوَضَّأَ مِنْ إنَاءٍ يَسَعُ رِطْلَيْنِ»

“beliau berwudhu dengan bejana yang isinya 2 liter.”

[Dhaif: Abu Daud 95]

Dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi dengan lafazh

«يُجْزِئُ فِي الْوُضُوءِ رِطْلَانِ»

“Sah wudhu dengan dua liter”

[Shahih: At Tirmidzi 609]

Semua hadits tersebut menunjukkan keringanan dalam air wudhu.

Dan telah diketahui larangan Nabi SAW mengenai berlebih-lebihan dalam menggunakan air, sebagaimana yang pernah diberitakan bahwa akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam wudhu. Makna barangsiapa yang melampaui batas yang telah disebutkan oleh syariat bahwa sah wudhu dengannya, berarti ia telah berlebih-lebihan, dan hal itu diharamkan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini untuk mendekatkan bukan membatasi, tidaklah jauh (dari kebenaran). Akan tetapi yang lebih baik dalam menjalankan syariat adalah menyamai akhlah beliau SAW dan mencontohnya dalam ukuran tersebut.

Dalam hadits tersebut terdapat dalil disyariatkannya menggosok anggota wudhu. Tetapi terdapat perbedaan, yang mengatakan wajib ia berdasarkan hadits ini dan yang mengatakan tidak wajib, ia mengatakan bahwa yang diperintahkan dalam ayat adalah mencuci, dan tidak disebutkan menggosok.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *