[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 119

02.12. BAB SHALAT JUM’AT 01

Hari Jum’at pada masa jahiliyah dinamakan dengan Al-Urubah. At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dan ia berkata, “Hasan shahih.” Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَم وَفِيهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ»

“Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu diciptakan Adam, pada hari itu dimasukkan Adam ke dalam surga dan pada hari itu pula dikeluarkan darinya, dan tidaklah terjadi hari kiamat kecuali hari Jum’at.”

[Shahih: At-Tirmidzi (488)]

0408

408 – عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ،، وَأَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ -، أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ – عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ – «لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

408. Dan Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhum, sesungguhnya mereka berdua telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di atas kayu mimbarnya, “Hendaklah benar-benar berhenti suatu kaum dari meninggalkan shalat Jum’at atau Allah akan menutup hati mereka, kemudian benar-benar Dia jadikan mereka itu orang-orang yang lupa.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 865]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Mereka berdua telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda di atas kayu mimbarnya (yaitu mimbarnya yang terbuat dari kayu, tidak yang terbuat dari tanah dan tidak juga di atas tiang -penahan- yang biasa beliau bersandar kepadanya. Mimbar ini dibuatkan untuk beliau pada tahun ke tujuh -ada riwayat yang mengatakan pada tahun ke delapan-, dikerjakan oleh seorang anak laki-laki dari perempuan Anshar; ia adalah tukang kayu dan namanya menurut riwayat yang paling shahih adalah Maimun. Mimbar ini terdiri dari tiga tingkat dan tetap dalam bentuk itu sampai kemudian ditambah oleh Marwan pada zaman Muawiyah dengan enam tingkat dari bawah dan dalam penambahan tingkatnya ini ada kisah tersendiri) “Hendaklah benar-benar berhenti suatu kaum dari meninggalkan shalat Jum’at atau Allah akan menutup hati mereka (al-khatmu adalah menguatkan sesuatu dengan memberikan stempel -cap- di atasnya, sehingga membekas dan membentuk cap agar sampai kepadanya dan tidak dapat dihilangkan kesyubhatan hatinya disebabkan berpalingnya mereka dari kebenaran, dan kesombongan mereka dari menerimanya serta keengganan mereka melaksanakan kebenaran tersebut. Digambarkan dengan sesuatu yang dilengketkan ke hati mereka dengan stempel yang tidak mampu dihilangkan oleh apapun. Ini merupakan ganjaran atas tidak dilaksanakannya perintah Allah Ta’ala dan tidak mendatangi Jum’at dari bab menggampangkan yang sulit) kemudian benar-benar Dia jadikan mereka itu orang-orang yang lupa.” (Setelah adanya stempel dari Allah ini, maka mereka lupa mengambil sesuatu yang bermanfaat dari amal, dan meninggalkan sesuatu yang membahayakan mereka)

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan ancaman yang paling besar dari meninggalkan shalat Jum’at dan menggampangkannya. Di dalamnya ada khabar bahwa meninggalkannya merupakan sebab yang paling besar bagi kehinaan. Kita telah mengetahui barangsiapa yang menggampangkan shalat Jum’at dalam satu minggu sampai minggu berikutnya sampai kemudian ia diharamkan menghadiri shalat Jum’at karena sebab kehinaan yang menyeluruh. Dan Ijma’ telah ditetapkan wajibnya shalat Jum’at secara mutlak. Mayoritas ulama mengatakan bahwa shalat Jum’at adalah fardhu ain. Dalam Ma’alim As-Sunan disebutkan bahwa shalat Jum’at adalah fardhu kifayah menurut para fuqaha.

0409

409 – وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ نَنْصَرِفُ وَلَيْسَ لِلْحِيطَانِ ظِلٌّ يُسْتَظَلُّ بِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: كُنَّا نَجْمَعُ مَعَهُ إذَا زَالَتْ الشَّمْسُ، ثُمَّ نَرْجِعُ، نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

409. Dari Salamah bin Al-Akwa’ Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Kami shalat ]um ‘at bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian kami pergi dan tidak ada bagi tembok bayangan yang bisa berteduh di bawahnya.” (Muttafaq Alaih, lafazh hadits ini bagi Al-Bukhari)

Dalam lafazh Muslim, “Kami berkumpul bersama beliau ketika matahari telah condong, kemudian kami pulang mengikuti bayangan.”

[Al-Bukhari (4168) dan Muslim (860)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini sebagai dalil yang menunjukkan untuk bersegera melaksanakan shalat Jum’at ketika awal matahari miring. Penafian pada sabdanya, “tidak ada bagi tembok bayangan”, ini dibatasi dengan sabdanya yang bisa berteduh dibawahnya”, tidak menafikan semua bayangan sehingga mungkm dijadikan dalil bahwa beliau melaksanakan shalat sebelum miringnya matahari. Takwil semacam ini diakui oleh jumhur ulama yang mengatakan bahwa waktu shalat Jum’at itu adalah waktu shalat Zhuhur

Ahmad dan Ishaq berpendapat sahnya shalat Jum’at sebelum miringnya matahari, para pengikut Ahmad sendiri berbeda pendapat sebagian mereka berpendapat waktunya adalah waktu shalat Ied, dikatakan juga pada jam enam. ‘

Malik memperbolehkan khutbah sebelum miringnya matahari, tetapi tidak untuk shalat. Hujjah mereka adalah zhahir hadits dan setelahnya Yang paling jelas dari hadits itu adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari hadits Jabir,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ ثُمَّ نَذْهَبُ إلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ يَعْنِي النَّوَاضِحَ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu shalat Jum’at kemudian kami pergi ke onta-onta kami dan mengistirahatkannya ketika matahari miring.” Yakni memberinya minum. [Shahih: Muslim 858]

Ad-Daraquthni mengeluarkan sebuah riwayat dari Abdullah bin Syaiban ia berkata,

شَهِدْت مَعَ أَبِي بَكْرٍ الْجُمُعَةَ فَكَانَتْ خُطْبَتُهُ وَصَلَاتُهُ قَبْلَ نِصْفِ النَّهَارِ ثُمَّ شَهِدْتهَا مَعَ عُمَرَ فَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَخُطْبَتُهُ إلَى أَنْ أَقُولَ انْتَصَفَ النَّهَارُ ثُمَّ شَهِدْتهَا مَعَ عُثْمَانَ فَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَخُطْبَتُهُ إلَى أَنْ أَقُولَ زَالَ النَّهَارُ فَمَا رَأَيْت أَحَدًا عَابَ ذَلِكَ، وَلَا أَنْكَرَهُ

“Aku menyaksikan bersama Abu Bakar shalat Jum’at khutbah dan shalat beliau sebelum separuh hari. Kemudian aku juga menyaksikan shalat Jum’at bersama Umar, maka shalat dan khutbahnya sampai aku mengucapkan, “Pada pertengahan hari.” Kemudian aku menyaksikan shalat Jum’at bersama Utsman, maka shalat dan khutbahnya sampai aku katakan miringnya hari, maka aku tidak melihat seorang pun yang mencela hal tersebut dan mengingkarinya.”

Ahmad bin Hambal meriwayatkan hadits dalam riwayat anaknya Abdullah, ia berkata, dan demikian diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Jabir Said dan Muawiyah, “Sesungguhnya mereka shalat Jum’at sebelum miringnya matahari”, dalil ini jelas menguatkan madzhab Ahmad sedang takwil yang telah lalu dan Jumhur menghadapkan takwil ini bahwa sesungguhnya shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan bacaan surah Al-Jumuah dan Al-Munaftqin serta khutbahnya jika terjadi setelah miringnya matahari maka tidak mungkin mereka bisa selesai dari shalat Jum’at, kecuali tembok-tembok akan ada bayangan yang bisa dijadikan teduhan, demikian dijelaskan dalam Asy-Syarh. Kami telah meneliti permasalahan ini dalam catatan pinggir Dha’u An-Nahar bahwa waktu shalat Jum’at adalah ketika miring matahari. Hal ini ditunjukkan juga oleh dalil berikut;

0410

410 – وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: مَا كُنَّا نَقِيلُ، وَلَا نَتَغَذَّى إلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ، وَفِي رِوَايَةٍ: فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –

410. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Kami tidak pernah tidur siang dan tidak pula makan siang kecuali setelah shalat Jum’at.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya bagi Muslim)”. Dalam riwayat yang lain, ‘Pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

[Shahih: Al Bukhari 939 dan Muslim 859]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Sahl bin Sa’ad nama lengkapnya adalah Abul Abbas Sahl bin Sa’d bin Malik Al-Khazraji As-Saidi Al-Anshari. Dikatakan namanya adalah Hazan, kemudian ia dinamakan Sahl oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. ketika Rasulullah wafat ia berusia lima belas tahun. Ia meninggal di Madinah pada tahun tujuh puluh satu, termasuk orang yang paling akhir yang meninggal di Madinah dari kelompok shahabat.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan dalil sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang pertama, yaitu dari dalil yang dipakai oleh Ahmad. Sesungguhnya pengarang -semoga Allah merahmatinya- mendatangkan hadits ini dengan lafazh riwayat “Pada Zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam”, supaya orang tidak mengatakan, “Sesungguhnya rawi tidak tegas pada riwayat yang pertama bahwa yang demikian itu dari perbuatan Rasulullah dan juga tidak merupakan penetapan dari beliau. Maka ia tolak hal itu semua itu dengan riwayat yang menetapkan bahwa semua itu terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan menjadi sesuatu yang maklum, sesungguhnya tidak ada yang shalat Jum’at di Madinah pada masa beliau kecuali beliau sendiri, maka ini menjadi khabar tentang shalat beliau. Tidak ada dalam hadits ini dalil bahwa shalat dilaksanakan sebelum miringnya matahari, karena mereka di Madinah dan Makkah tidak tidur siang dan tidak makan siang, kecuali sctelah shalat Zhuhur sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah,

{وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ}

“Ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari” (QS An-Nuur: 58).

Betul bahwa Rasulullah bersegera melaksanakan shalat Jum’at pada awal waktu miringnya matahari berbeda dengan shalat Zhuhur terkadang beliau mengakhirkannya sampai manusia telah berkumpul.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *