[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 118

02.11. BAB SHALAT MUSAFIR DAN ORANG YANG SAKIT 04

0405

405 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ، مِنْ مَكَّةَ إلَى عُسْفَانَ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ. كَذَا أَخْرَجَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

405. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan mengqashar shalat dalam jarak kurang dari empat burud dari Makkah ke Asfan.” (HR. Ad-Daraquthni dengan sanad yang dhaif, yang benar bahwa hadits ini mauquf demikian yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Dhaif: Al-Irwa 565. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini dari riwayat Abdul Wahhab bin Mujahid. Ia adalah seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya). Ats-Tsauri mengelompokkannya sebagai seorang pendusta. Al-Azdi berkata, “Tidak halal riwayat darinya, ia juga seorang munqathi karena. tidak pernah mendengar dari bapaknya.”

Hadits ini mauquf pada Ibnu Abbas, sanadnya shahih tetapi yang tampak ini adalah ijtihad dari pendapatnya, dan telah dijelaskan tidak ada hadits yang menunjukkan pembatasan.

0406

406 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «خَيْرُ أُمَّتِي الَّذِينَ إذَا أَسَاءُوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا سَافَرُوا قَصُرُوا، وَأَفْطَرُوا» أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ، وَهُوَ فِي مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيّ مُخْتَصَرًا

406. Dan dari Jabir Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sebaiknya umatku adalah mereka yang apabila berbuat kesalahan, mereka beristigfar dan jika melakukan perjalanan mereka mengqashar shalat dan berbuka.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dengan sanad yang dhaif, hadits ini terdapat dalam mursal Said bin Al-Musayyab, kemudian di Al-Baihaqi secara ringkas)

[Dhaif: Dhaif Al Jami 2901]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa qashar dan berbuka lebih utama bagi orang yang musafir daripada melakukan yang sebaliknya. Asy-Syafiiyah berkata, “Meninggalkan jamak adalah lebih utama. Mereka menganalogikan hal dalam perkataan mereka, “Menyempurnakan adalah lebih utama.” Mereka telah menjelaskan secara jelas tentang hal ini, dan sepertinya mereka tidak mengatakan dengan hadits ini karena dhaifnya.

Ketahuilah bahwa pengarang kembali mengulang hadits Imran bin Hushain dan hadits Jabir yaitu ucapannya,

******

– وَعَنْ «عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الصَّلَاةِ، فَقَالَ: صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

“Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Dulu aku pernah terkena penyakit bawasir maka aku bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang shalat? Maka beliau bersabda, “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu shalatlah sambil duduk, dan jika tidak mampu shalatlah sambil tidur miring.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1117]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

“Dulu aku pernah berpenyakit bawasir maka aku bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang shalat? (ini tidak disebutkan oleh pengarang pada hadits sebelumnya dalam riwayat ini) shalatlah berdiri jika tidak mampu maka sambil duduk dan jika tidak mampu sambil tidur miring.” Ini sebagaimana yang ia katakan, yang sebelumnya tidak ia nisbahkan pada seseorang pun, dan kami telah menjelaskan bahwa dari riwayat ini selain Al-Bukhari dan tidak ada di dalamnya tambahan.

*****

– وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «عَادَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرِيضًا فَرَآهُ يُصَلِّي عَلَى وِسَادَةٍ فَرَمَى بِهَا، وَقَالَ: صَلِّ عَلَى الْأَرْضِ إنْ اسْتَطَعْت، وَإِلَّا فَأَوْمِ إيمَاءً، وَاجْعَلْ سُجُودَك أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِك» رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَصَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ

“Dari Jabir Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjenguk orang yang sedang sakit. Beliau melihatnya shalat di atas bantal, maka beliau melemparkannya dan bersabda, “Shalatlah di atas tanah, jika tidak mampu berisyaratlah dengan isyarat dan jadikan sujudmu lebih rendah dari ruku’mu.” (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Abu Hatim kemauqufan hadits ini)

[Lihat hadits no 310. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Pengarang menambahkan dari riwayat ini sebelumnya, sesungguhnya hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang kuat.

Kedua hadits ini telah lalu pada akhir bab sifat shalat sebelum bab sujud sahwi dengan lafazh keduanya, dan kami telah mensyarahkan keduanya pada tempatnya itu. Maka pada kesempatan ini, kami tinggalkan penjelasannya karena hal tersebut. Kemudian ia menyebutkan hadits Aisyah di sini yang juga telah lalu di bab Sifat shalat dengan lafazhnya. Di sana beliau mengatakan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah namun di sini disahihkan oleh Al-Hakim.

0407

407 – وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: «رَأَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا» رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

407. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat sambil duduk bersila.” (HR. An-Nasai dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Shahih: An-Nasa’i (1660)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini dari hadits-hadits tentang shalatnya orang yang sakit, bukan hadits bagi musafir, dan telah dibawakan oleh beliau pada tempat yang lalu. –

Hadits ini menunjukkan cara duduk bagi orang yang memiliki udzur untuk berdiri ketika melaksanakan shalat. Dan di sini ada perbedaan pendapat sebagaimana yang telah lalu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *