[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 117

02.11. BAB SHALAT MUSAFIR DAN ORANG YANG SAKIT 03

0401

401 – وَلَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: ثَمَانِيَ عَشْرَةَ

401. Dan baginya dari Imran bin Hushain Radhiyallahu An huma, ‘Delapan belas.”

[Dhaif: Abu Daud 1229]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Lafazh ini bagi Abu Dawud,

«شَهِدْت مَعَهُ الْفَتْحَ فَأَقَامَ بِمَكَّةَ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ لَيْلَةً لَا يُصَلِّي إلَّا رَكْعَتَيْنِ وَيَقُولُ يَا أَهْلَ الْبَلَدِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ»

“Aku menyaksikan bersamanya pada tahun penaklukan, maka beliau bermukim delapan belas malam, tidak shalat kecuali dua rakaat. dan ia berkata, “Wahai penduduk negeri shalatlah kalian empat rakaat, sesungguhnya kami dalam perjalanan.”

0402

402 – وَلَهُ عَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَقَامَ بِتَبُوكَ عِشْرِينَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ» وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ؛ إلَّا أَنَّهُ اُخْتُلِفَ فِي وَصْلِهِ

402. Dan baginya dari Jabir Radhiyallahu Anhu bermukim di Tabuk dua puluh hari dan ia mengqashar shalat. Rawi-rawi hadits ini semuanya Tsiqah kecuali hadits ini diperselisihkan tentang kemaushulannya.”

[Shahih: Abu Daud 1235]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini telah dimaushulkan oleh Ma’mar dari Yahya bin Abi Katsir dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban dari Jabir, berkata Abu Dawud, “Selain Ma’mar tidak ada yang menyandarkan kepadanya, dan Ad-Daraquthni telah memberikan illah hadits ini dalam Al-Ilal dengan irsal munqathi’. Pengarang berkata, -semoga Allah merahmatinya- “Al-Baihaqi telah mengeluarkan hadits ini dengan lafazh, ‘Bidh’a Asyrata’ (di atas sepuluh)

Ketahuilah, sesungguhnya Abu Dawud membuat judul dengan hadits-hadits ini dengan, “Bab, Kapan seorang musafir menyempurnakan shalat?” Kemudian ia memuat hadits-hadits ini dan di dalamnya disebutkan ucapan Ibnu Abbas, “Barangsiapa yang bermukim selama tujuh belas hari, maka ia mengqashar, barangsiapa yang lebih dari itu, maka ia menyempurnakan shalatnya.”

Para ulama berbeda pendapat dalam batasan masa menetap yang apabila seorang musafir menginginkan untuk menetap yang mengharuskan ia menyempurnakan shalat dalam beberapa pendapat:

Ibnu Abbas berkata- juga merupakan mazhabnya Al-Hadawiyah-sesungguhnya masa menetap adalah sepuluh hari berdasarkan ucapan Ali Alaihissalam, “Jika kamu bermukim selama sepuluh hari maka sempurnakanlah shalat.” Dikeluarkan oleh Al-Muayyid Billah dalam Syarh At-Tajrid dari jalan yang di dalamnya terdapat Dhirar bin Shurad. Pengarang mengatakan dalam At-Taqrir, “Sesungguhnya ia tidak tsiqah ia berkata, dia ditauqifkan (ditangguhkan haditsnya).”

Al-Hanafiyah berkata, “Lima belas hari”, mereka berdalilkan dengan salah satu riwayat Ibnu Abbas, dengan ucapannya dan ucapan Ibnu Umar, “Jika engkau sampai di suatu negeri, sedangkan kamu seorang musafir, dan dalam hatimu engkau ingin menetap selama lima belas malam, maka sempurnakanlah shalat.”

Al-Malikiyah dan Asy-Syafiiyah berpendapat bahwa waktu paling sedikit untuk menetap adalah empat hari ini diriwayatkan dari Utsman, yang dimaksud adalah selain dua hari masuk dan keluar. Mereka berdalil dengan larangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada kaum Muhajirin setelah menyelesaikan ibadah haji untuk menambah lebih dari tiga hari di Makkah, menunjukkan bahwa sesungguhnya empat hari akan menjadikan mereka orang yang mukim.

Sedangkan pendapat-pendapat yang lain tidak ada dalil yang menguatkannya. Ini bagi orang yang masuk suatu negeri dan berkeinginan kuat untuk menetap di negeri tersebut. Adapun orang-orang yang ragu untuk bermukim atau tidak, maka dalam hal ini juga terjadi perbedaan pendapat: Al-Hadawiyah berkata, “Ia mengqasar shalatnya sampai sebulan berdasarkan ucapan Ali Alaihissallam, “Sesungguhnya orang yang berkata dalam hatinya, “Hari ini aku keluar, besok aku keluar. Maka orang itu mengqasar shalatnya sampai satu bulan.”

Abu Hanifah dan shahabat-shahabatnya berpendapat yang juga merupakan pendapat Asy-Syafii sebagaimana juga diucapkan oleh Imam Yahya, “Sesungguhnya ia mengqasar selamanya karena hukum asal adalah dalam perjalanan berdasarkan perbuatan Ibnu Umar, sesungguhnya ia bermukim di Azerbaijan selama enam bulan dan ia tetap mengqasar shalatnya.” Diriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya ia bermukim di Naisabur selama setahun atau dua tahun dan ia mengqasar shalatnya. Dan dari sekelompok shahabat mereka menetap di Ramahurmuz selama sembilan bulan dan mereka mengqasar shalatnya. Di antara mereka ada yang menetapkan waktu bermukim dengan lima belas hari, tujuh belas hari dan ada juga yang delapan belas hari berdasarkan riwayat tentang masa menetapnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di kota Makkah dan Tabuk. Sesungguhnya beliau setelah melewati masa tersebut tidak pernah diriwayatkan beliau pernah menyempurnakan shalatnya. Tidak samar, sesungguhnya tidak ada dalil yang menunjukkan masa untuk mengqasar shalat itu menafikan qasar jika waktunya telah lebih dimana tidak ada dalil yang menunjukkan penetapan penentuan masa, maka yang lebih mendekati sesungguhnya tidak henti-hentinya seseorang mengqasar seperti yang dilakukan shahabat, sesungguhnya mereka tidak menamakan menetap jika terjadi keraguan pada setiap harinya antara menetap atau bepergian walaupun panjang masanya. Hal ini dikuatkan oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Baihaqi di dalam As-Sunan dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetap di Tabuk selama empat puluh hari dan beliau mengqasar shalat.” Kemudian Al-Baihaqi berkata, “Telah menyendiri dalam hadits ini Al-Hasan bin Amarah, sedangkan ia orang yang tidak dapat dijadikan hujjah bila menyendiri.”

0403

403 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا ارْتَحَلَ فِي سَفَرِهِ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِلْحَاكِمِ فِي الْأَرْبَعِينَ: بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ: صَلَّى الظُّهْرَ، وَالْعَصْرَ ثُمَّ رَكِبَ. وَلِأَبِي نُعَيْمٍ فِي مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ: «كَانَ إذَا كَانَ فِي سَفَرٍ، فَزَالَتْ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ، وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، ثُمَّ ارْتَحَلَ»

403. Dan Anas Radhiyallahu Anhu, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika hendak berangkat sebelum miringnya matahari beliau mengakhirkan Zhuhurnya sampai ke waktu Ashar, kemudian beliau turun dan menjama’ kedua shalat tersebut. Jika matahari telah miring sebelum beliau berangkat, beliau shalat Zhuhur kemudian menaiki tunggangannya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1111 dan Muslim 704]

Menurut Riwayat Al-Hakim di dalam Al Arbain dengan sanad yang shahih, “Beliau shalat Zhuhur dan Ashar kemudian menaiki tunggangannya.” Sedangkan menurut riwayat Abi Nu’aim di dalam Mustakhraj Muslim, “Jika beliau dalam perjalanan dan matahari miring, beliau shalat Zhuhur dan Ashar bersamaan kemudian berangkat.”

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika hendak berangkat sebelum miringnya matahari (yaitu sebelum lengsernya matahari) beliau mengakhirkan Zhuhurnya sampai ke waktu Ashar kemudian beliau turun dan menjama kedua shalat tersebut, jika matahari telah miring sebelum beliau berangkat, beliau shalat Zhuhur (yakni shalat Zhuhur saja tanpa menggabungkannya dengan Ashar).”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bolehnya menjamak ta’khir bagi orang yang musafir dan dalil sesungguhnya tidak boleh menjamak taqdim antara keduanya karena sabda beliau, “Shalat Zhuhur” jika boleh jamak taqdim, tentu beliau menggabungkan kepadanya shalat Ashar. Inilah perbuatan dari beliau yang mengkhususkan hadits-hadits tentang waktu shalat sebagaimana yang telah lalu. Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat:

Al-Hadawiyah berpendapat, yang ini juga merupakan ucapan Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan sekelompok dari shahabat, diriwayatkan juga dari Malik, Ahmad dan Asy-Syafii, “Bolehnya menjamak bagi seseorang yang musafir, baik secara taqdim maupun secara ta’khir, berdasarkan hadits menjelaskan tentang ta’khir dan berdasarkan riwayat yang akan dijelaskan kemudian dalam masalah taqdim.

Dari Al-Auzai, “Sesungguhnya boleh bagi orang yang musafir untuk jamak ta’khir saja berdasarkan hadits ini.” Ini juga diriwayatkan dari Malik, Ahmad bin Hambal dan dipilih oleh Muhammad Ibnu Hazm.

An-Nakhai, Al-Hasan, Abu Hanifah berpendapat bolehnya menjamak taqdim, tetapi tidak takhir bagi seorang musafir. Mereka mentakwilkan hadits yang menjelaskan jamaknya Rasulullah Shallallahu A-laihi wa Sallam bahwa yang dimaksud adalah jamak shuri (jamak dalam bentuknya saja) yaitu beliau mengakhirkan shalat Zhuhur sampai akhir waktunya dan mengawalkan Ashar pada waktunya. Demikian juga shalat Isya.” Pendapat ini ditolak, “Sesungguhnya jika mereka berjalan berdasarkan pendapat ini, maka tidak sempurna bagi mereka dalam jamak taqdim sebagaimana diberikan faedah oleh ucapan, “Menurut Riwayat Al-Hakim di dalam Al-Arbain dengan sanad yang shahih, “Beliau shalat Zhuhur dan Ashar.” Yaitu jika telah miring sebelum berangkat beliau shalat dua fardhu ini bersamaan kemudian berangkat.” Riwayat ini memberikan faedah tetapnya jama taqdim dari perbuatan Rasulullah. Maka tidaklah mungkin tergambar bahwa yang dimaksud adalah jamak shuri.

Sama dengan riwayat ini yaitu yang diriwayatkan oleh Abi Nu’aim dalam Mustakhraj Muslim yaitu takhrij beliau terhadap Shahih Muslim, “Jika beliau dalam perjalanan dan matahari miring beliau shalat Zhuhur dan Ashar bersamaan kemudian berangkat.” Riwayat Al-Hakim dan Abi Nu’aim ini juga telah memberikan faedah adanya jamak taqdim dan kedua riwayat ini adalah shahih sebagaimana yang dikatakan oleh pengarang, kecuali Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat dalam riwayat Al-Hakim, di antara mereka ada yang menshahihkan dan di antara mereka ada yang menghasankan ada juga yang mencela hadits ini dan menjadikannya hadits maudhu’ dari Al-Hakim. Sesungguhnya ia menghukumi hadits ini sebagai maudhu.” Kemudian dijelaskan ucapan Al-Hakim tentang kemaudhuan hadits ini yang kemudian ditolak oleh Ibnul Qayyim dan ia memilih bahwa hadits ini tidak maudhu’. Dan diamnya pengarang tentang hadits ini dan ia menetapkan bahwa sesungguhnya sanad hadits ini shahih menunjukkan penolakan kemaudhuan hadits Al-Hakim. Keshahihan hadits ini dikuatkan oleh riwayat berikut:

 0404

404 – وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ. فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ، وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ، وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

404. Dan dari Muadz Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada perang Tabuk. Beliau shalat Zhuhur dan Ashar secara bersamaan, juga Maghrib dan Isya bersamaan.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 706]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan lafazh,

«كَانَ إذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إلَى أَنْ يَجْمَعَهَا إلَى الْعَصْرِ فَيُصَلِّيهِمَا جَمِيعًا، وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ عَجَّلَ الْعَصْرَ إلَى الظُّهْرِ وَصَلَّى الظُّهْرَ، وَالْعَصْرَ جَمِيعًا»

“Jika beliau berangkat sebelum miringnya matahari (belum masuk waktu Zhuhur-peny.), beliau mengakhirkan Zhuhur sampai pada waktu Ashar, kemudian melaksanakannya dengan jamak ta’khir. Dan jika berangkat setelah miringnya matahari (sudah masuk waktu Zhuhur-peny.) beliau mempercepat shalat Ashar ke shalat Zhuhur dan melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan jamak taqdim.” [Shahih: At Tirmidzi 553]

Hadits ini seperti rincian global hadits riwayat Muslim, kecuali At-Tirmidzi berkata setelah mengeluarkan hadits ini, “Hadits ini hadits hasan gharib, Qutaibah telah menyendiri dengan periwayatannya dan kami tidak mengetahui seseorang pun yang meriwayatkannya dari Al-Laits selain Qutaibah.” Kemudian ia berkata, “Yang terkenal di kalangan Ahlul Ilmi, hadits Muadz dari hadits Ibnu Az-Zubair dari Abi Ath-Thufail dari Muadz, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang menjamak antara Zhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya.”

Jika Anda telah mengetahui ini, maka jamak taqdim dalam ketetapan riwayatnya ada pembicaraan, kecuali riwayat dalam Al-Mustakhraj Ala Shahih Muslim haditsnya tidak ada pembicaraan. Ibnu Hazm berpendapat bolehnya jamak ta’khir karena kokoh riwayatnya dan tidak untuk jamak taqdim. Ini juga merupakan pendapat An-Nakha’i dan riwayat dari Malik dan Ahmad.

Kemudian sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat dalam keutamaan bagi orang yang musafir apakah menjamak atau mengerjakan sesuai waktu? Asy-Syafiiyah berpendapat, “Meninggalkan jamak lebih utama, sedangkan Malik mengatakan hal itu makruh.” Dikatakan jamak dikhususkan bagi orang yang berhalangan.

Ketahuilah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim di dalam Al-Hadyu An-Nabawi, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengumpulkan shalat rawatib di dalam perjalanannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh kebanyakan orang. Dan tidak pula menjamak ketika beliau turun dari perjalanan. Tetapi beliau menjamak ketika perjalanan sangat melelahkan atau jika beliau berpergian setelah shalat seperti dalam hadits Tabuk. Adapun beliau menjamak ketika tidak dalam perjalanan, tidak ada riwayat yang dinukil tentang itu kecuali ketika beliau di Arafah dan di Muzdalifah. Karena menyambung wukuf sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syafii dan guru kami (Ibnu Taimiyah), dan Abu Hanifah menjadikannya bagian dari kesempurnaan ibadah haji dan itulah yang menjadi sebabnya. Malik, Ahmad, dan Asy-Syafii, mereka berkata, “Sesungguhnya sebab menjamak di Arafah dan Muzdalifah adalah karena perjalanan.

Semua ini adalah pembahasan tentang menjamak di perjalanan. Adapun menjamak dalam waktu hadir (tidak dalam keadaan perjalanan) telah berkata pensyarah- setelah menyebutkan dalil-dalil yang membolehkan hal tersebut- “Sesungguhnya mayoritas para imam madzhab berpendapat tidak bolehnya menjamak pada waktu hadir berdasarkan riwayat dari hadits-hadits yang telah menjelaskan tentang waktu-waktu shalat dan juga berdasarkan riwayat mutawatir yang menerangkan bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjaga waktu-waktu tersebut, sampai-sampai Ibnu Mas’ud berkata,

«مَا رَأَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى صَلَاةً لِغَيْرِ مِيقَاتِهَا إلَّا صَلَاتَيْنِ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ، وَالْعِشَاءِ بِجَمْعٍ وَصَلَّى الْفَجْرَ يَوْمَئِذٍ قَبْلَ مِيقَاتِهَا»

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat satu shalat pun tidak pada waktunya kecuali dua shalat yaitu menjamak antara Maghrib dan Isya dengan sekali jamak dan shalat Subuh pada hari ini sebelum waktunya.” [Shahih: Al Bukhari 1682 dan Muslim 1289]

Adapun hadits Ibnu Abbas bagi Muslim,

«أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ، وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ، وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ، وَلَا مَطَرٍ»

“Sesungguhnya beliau menjamak antara shalat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dengan Isya di Madinah tanpa ada sebab ketakutan dan turunnya hujan.” [Shahih: Muslim 705]

Dikatakan kepada Ibnu Abbas, “Apa yang diinginkan beliau dengan hal itu?” Ia berkata, “Beliau menginginkan untuk tidak memberatkan umatnya.”

Tidak sah berhujjah dengan hadits ini, karena tidak ditentukan apakah jama’ ta’khir atau taqdim sebagaimana zhahirnya riwayat Muslim. Dan penentuan dari kedua jamak ini adalah memaksakan hukum maka wajib mengembalikan pada sesuatu yang wajib yaitu tetap pada keumuman hadits tentang waktu-waktu shalat, baik bagi yang berhalangan ataupun tidak, dan pengkhususan para musafir karena memang ada dalil yang mengkhususkan, dan ini adalah jawaban yang bagus.

Adapun yang diriwayatkan dari Atsar shahabat dan tabiin, maka tidak bisa dijadikan hujjah, karena tidak ada ijtihad dalam masalah ini, sebagian mereka menta’wili hadits Ibnu Abbas sebagai jama’ shuri. Dan ini dianggap baik oleh Al-Qurthubi, dan dikuatkan serta ditetapkan oleh Ibnu Al-Majisyun dan Ath-Thahawi. Dikuatkan juga oleh Ibnu Sayyidin-Nas, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani dari Amr bin Dinar meriwayatkan hadits dari Abu Asy-Sya’tsa ia berkata, “Aku berkata, “Wahai Abu Asy-Sya’tsa aku menyangka beliau mengakhirkan shalat Zhuhur dan mengawalkan waktu Ashar, mengakhirkan waktu Magrib dan mengawalkan waktu Isya’. Ia pun berkata, “Aku pun menyangka demikian.” Ibnu Sayyidin-Nas, “Perawi hadits lebih mengetahui dengan apa yang dimaksud daripada yang lainnya walaupun Abu Asy-Sya’tsa tidak memastikan hal tersebut.

Aku berkata, “Sesungguhnya itu hanya persangkaan dari rawi dan apa yang dikatakan “lebih tahu dengan apa yang diriwayatkan”, sesungguhnya itu berjalan bersama penafsirannya terhadap lafadz semisalnya, dan pengakuan ini perlu diperhatikan, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ»

“Berapa banyak pembawa pemahaman kepada orang yang lebih paham darinya.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 6765]

Pada umumnya benar, dan telah ditentukan takwil ini. Sesungguhnya An-Nasa’i telah menjelaskan dalam asal hadits Ibnu Abbas dengan lafazhnya,

«صَلَّيْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالْمَدِينَةِ ثَمَانِيًا جَمْعًا وَسَبْعًا جَمْعًا أَخَّرَ الظُّهْرَ وَعَجَّلَ الْعَصْرَ، وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ وَعَجَّلَ الْعِشَاءَ»

“Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madinah delapan sekaligus dan tujuh sekaligus, beliau mengakhirkan shalat dzuhur dan mengawalkan shalat Ashar, mengakhirkan shalat Maghrib dan mengawalkan shalat Isya.”

Mengherankan dari An-Nawawi bagaimana ia bisa mendhaifkan takwil ini, dan melupakan dari matan hadits yang diriwayatkan? Lafazh yang muthlaq (tidak dibatasi) dari suatu riwayat dipahamkan dengan riwayat yang muqayyad (yang dibatasi) jika kisah dalam riwayat satu seperti pada riwayat ini.

Ucapannya, “Beliau menginginkan untuk tidak memberatkan umatnya”, ini melemahkan pemahaman jamak shuri karena adanya keberatan dalam hal tersebut. Hal ini tertolak karena yang demikian itu lebih ringan daripada shalat pada waktunya. Dan mungkin mengerjakan dua shalat dengan satu pelaksanaan, sekali menuju masjid, dengan satu kali wudhu berdasarkan kebiasaanya. Ini berbeda dengan dua waktu, kesulitan dalam menjamak ini tidak diragukan lebih ringan.

Adapun menqiyas orang hadir dengan musafir sebagaimana yang dikatakan adalah kekeliruan. Karena Illah (sebab) hukum adalah perjalanan, dan ini tidak terdapat dalam waktu longgar, jika tidak maka akan wajib juga mengqashar dan berbuka.

Aku berkata, “Ini adalah ucapan dengan pemahaman yang baik, kami telah menjelaskan apa yang seharusnya dalam risalah kami Al-Yawaqit fi Al-Mawaqit, sebelum meneliti ucapan pensyarah, semoga Allah merahmati dan mengganjarnya dengan ganjaran yang baik.”

Kemudian ia berkata, “Ketahuilah bahwa jama’ taqdim terdapat kekhawatiran yang besar, ia seperti orang yang shalat sebelum waktunya. Maka jadilah keadaan orang yang melakukannya sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,

{وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا}

“Sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 104) ayat ini dari permulaanya, dan ini shalat yang didahulukan tidak ada dalil yang menunjukkannya secara mantuq (diucapkan secara jelas), tidak juga secara mafhum (pemahaman akan dalil), tidak juga secara umum maupun secara khusus.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *