[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 116

02.11. BAB SHALAT MUSAFIR DAN ORANG YANG SAKIT 02

0397

397 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ، وَفِي رِوَايَةٍ ” كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ ”

397. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai untuk didatangi rukhsahnya (keringanan) sebagaimana Dia membenci untuk didatangi maksiatnya.” (HR. Ahmad dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban) dalam riwayat yang lain, “Sebagaimana Dia menyukai untuk didatangi azimah-Nya (hukum asal syariat-Nya).”

[Shahih: Shahih Al Jami’ 1885, 1886]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Mahabbatullah ditafsirkan dengan ridha-Nya, dan kebencian-Nya ditafsirkan dengan menentang ridha-Nya. Menurut ahli ushul, yang dimaksud dengan rukhsah adalah sesuatu yang disyariatkan dari hukum-hukum karena udzur tertentu, sedangkan azimah adalah lawan katanya.

Sedangkan yang dimaksud rukhsah dalam hadits ini adalah apa yang dimudahkan Allah bagi hamba-Nya dan diluaskan dari masa-masa yang sulit dari meninggalkan sebagian kewajiban dan membolehkan sebagian yang diharamkan. Hadits ini menunjukkan bahwa sesungguhnya rukhsah adalah lebih utama daripada melakukan azimah. Demikian dikatakan dan tidak ada dalil tentang hal itu. Bahkan yang dimaksud hadits ini adalah samanya antara rukhsah dengan azimah. Hadits ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ}

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

0398

398 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ، أَوْ فَرَاسِخَ، صَلَّى رَكْعَتَيْنِ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

398. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam jika keluar dalam jarak tiga mil atau farsakh, beliau shalat dua rakaat.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 691]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Yang dimaksud dengan ucapan beliau ‘jika keluar’ adalah keluar dengan jarak yang telah ditentukan. Tidak berarti jika beliau ingin melakukan safar yang panjang tidak mengqasar, kecuali setelah jarak ini.

Ucapan beliau ‘mil atau farsakh’ adalah keraguan dari rawi dan tidak terjadi kebingungan ini pada asal hadits. Al-Khatabi mengatakan, “Bahwa rawi yang ragu dalam hadits ini adalah Syu’bah.”

Dikatakan batasan mil yaitu sejauh pandangan mata seseorang di alam terbuka, ia tidak mengetahui apakah yang dilihatnya perempuan atau laki-laki atau selainnya. An-Nawawi berkata, “Satu mil itu sama dengan enam ribu hasta dan satu hasta itu sama dengan dua puluh empat jari yang besar dan seimbang dan satu jari itu sama dengan enam biji gandum biasa yang dihamparkan.” Dikatakan, “Satu mil itu sama dengan dua belas ribu kaki dengan kaki manusia.” Dikatakan, “Satu mil sama dengan empat puluh ribu hasta.” Dikatakan juga, “Sama dengan seribu langkah onta.” Dikatakan juga, “tiga ribu hasta Bani Hasyim yaitu tiga puluh dua jari dan hasta yang dimaksud adalah hastanya Nabi S’hallallahu Alaihi wa Sallam. Inilah yang dimaksud dengan hasta al-‘umari yang diberlakukan di negeri Shan’a dan kota-kotanya.

Adapun ‘farsakh’ ‘ sama dengan tiga mil. Ini merupakan bahasa Arab serapan dari bahasa Persia.

Ketahuilah, sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat tentang jarak yang diperbolehkan untuk mengqasar shalat mencapai dua puluh pendapat. Ibnul Mundzir menceritakannya, Azh-Zhahiriyah berpendapat untuk mengamalkan hadits ini, mereka berkata, “Tiga mil jarak untuk mengqasar.*’ Pendapat ini dijawab bahwa hadits ini ada keraguan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pembatasan tiga mil. Benar, hadits ini dapat dijadikan dalil untuk tiga farsakh dan mil masuk dalam farsakh, maka untuk kehati-hatian diambillah yang terbanyak. Tetapi dikatakan, sesungguhnya tidak ada seseorang pun yang berpendapat dengan pembatasan tiga farsakh. Benarnya hujjah Zhahiriyah ini dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Said bin Manshur, dari hadits Abi Said, sesungguhnya ia berkata,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا سَافَرَ فَرْسَخًا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila melakukan perjalanan satu farsakh, maka beliau mengqasar shalatnya.”

Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa satu farsakh sama dengan tiga mil. Paling sedikit jarak yang dikatakan untuk mengqasar adalah sebagaimana riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar secara mauquf, “Sesungguhnya ia berkata jika aku keluar satu mil, aku mengqasar shalat.” Isnad hadits ini shahih. Telah diriwayatkan hadits nii di dalam Al-Bahru dari Dawud. Dua pendapat ini sama dengan ucapan Al-Bakir, Ash-Shadiq, Ahmad bin Isa, Al-Hadi dan selain mereka, “Sesungguhnya mengqasar shalat dalam jarak satu barid dan di atasnya.” Mereka berdalilkan betdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari hadits Abu Hurairah secara marfu,

«لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ»

“Tidak halal bagi seorang perempuan untuk melakukan perjalanan satu barid, kecuali bersama seorang muhrim.” (HR. Abu Dawud) [Dhaif: Abu Daud 1725]

Mereka berkata, “Hadits ini menamakan jarak satu barid sebagai sebuah perjalanan.” Aku berkata, “Tidak dapat diragukan bahwa sesungguhnya tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa tidak disebutkannya jarak paling sedikit sebagai batas perjalanan tetapi yang dimaksud adalah batas perjalanan yang wajib bagi seorang perempuan itu adanya seorang muhrim dan tidak ada kelaziman antara jarak mengqasar dengan jarak bersama muhrim karena dibolehkannya memperluas kewajiban bersama muhrim sebagai keringanan atas seorang hamba.

Zaid bin Ali, Muayyid Billah dan selain keduanya begitu juga Hanafiyah mengatakan, “Bahkan jarak perjalanan itu adalah dua puluh empat farsakh.” Karena berdasarkan riwayat Al-Bukhari dari hadits Ibnu Umar secara marfu,

«لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاَللَّهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ فَوْقَ ثَلَاثَةٍ أَيَّامٍ إلَّا مَعَ مَحْرَمٍ»

“Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan di atas tiga hari, kecuali bersama seorang mahram.” [Shahih: Al Bukhari 1088]

Mereka berkata, “Perjalanan unta pada satu hari sama dengan delapan farsakh.” Asy-Syafii berkata, “Justru jaraknya adalah empat puluh barid berdasarkan hadits Ibnu Abbas secara marfu,

«لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ»

“Jangan kalian mengqasar shalat kurang dari empat barid.” Hadits ini akan dibahas mendatang, dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih dari perbuatan Ibnu Abbas juga Ibnu Umar. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas secara muallaq dengan shighat Al-Jazm. Sesungguhnya beliau ditanya, “Apakah shalat diqasar dari Makkah ke Arafah?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi dari Usfan ke Jeddah dan ke Thaif.”

Tempat-tempat ini antara satu dengan yang lainnya dan antara Makkah sama dengan empat barid atau lebih. Pendapat-pendapat saling bertentangan sebagaimana yang Anda baca dengan bermacam-macam dalil.

Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Maad berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah membatasi jarak tertentu untuk mengqasar dan berbuka, tetapi beliau memutlakkan kepada mereka yang demikian itu dengan kemutlakan perjalanan di bumi sebagaimana beliau memutlakkan bagi mereka bertayammum pada setiap perjalanan. Adapun riwayat-riwayat yang disandarkan kepada beliau tentang pembatasan dengan sehari, dua hari atau tiga hari maka tidak ada yang sah sedikitpun hal itu dari beliau. Wallahu’allam. Dan kebolehan mengqasar dan menjamak baik dalam perjalanan yang panjang maupun yang pendek, ini adalah mazhab mayoritas ulama salaf.

0399

399 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ الْمَدِينَةِ إلَى مَكَّةَ. فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إلَى الْمَدِينَةِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ.

399. Dan darinya Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Madinah menuju Makkah. Beliau shalat dua rakaat dua rakaat sampai kami pulang kembali ke Madinah.” (Muttafaq Alaih dan lafazh ini bagi Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1081 dan Muslim 693]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yaitu dari Anas) ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Madinah menuju Makkah. Beliau shalat (yakni shalat yang empat rakaat) dua rakaat dua rakaat (yaitu setiap shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat) sampai kami pulang kembali ke Madinah.”

Kemungkinan perjalanan ini adalah perjalanan pada tahun penaklukan kota Makkah, mungkin juga pada haji wada’. Tetapi hadits ini menurut riwayat Abu Dawud ada tambahan, “Sesungguhnya mereka berkata kepada Anas, “Apakah kalian bermukim di sana beberapa hari?” Ia berkata, ‘Kami bermukim di sana sepuluh hari.” [Shahih: Abu Daud 1233]

Akan datang riwayat bahwa sesungguhnya mereka bermukim- di Al-Fath- tambahan yaitu lima belas hari, dan Abu Dawud telah menjelaskan bahwa peristiwa ini yaitu lima belas hari dan semisalnya adalah terjadi pada tahun penaklukan kota Makkah.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa beliau tidak menyempurnakan shalat selama mukim beliau di Makkah begitu juga Anas, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang akan datang.

Dalam hadits ini juga menunjukkan bahwa keluar dari negeri dengan niat perjalanan telah dibolehkan mengqashar, walaupun tidak melampaui satu mil dan tidak juga kurang. Dan sesungguhnya ia tetap mengqashar shalatnya sampai ia masuk ke negerinya, walaupun jika shalat rumahnya tampak dalam pandangannya.

 0400

400 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «أَقَامَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا يَقْصُرُ» ، وَفِي لَفْظٍ: بِمَكَّةَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي دَاوُد: سَبْعَ عَشْرَةَ، وَفِي أُخْرَى: خَمْسَ عَشْرَةَ

400. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhutna ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bermukim selama sembilan belas hari sedang beliau tetap mengqashar, -dalam lafazh yang lain- di kota Makkah ‘selama sembilan belas hari.” (HR. Al-Bukhari dalam riwayat yang lain bagi Abu Dawud tujuh belas hari dan riwayat yang lainnya lima belas hari)

[Shahih: Al Bukhari 1080, Abu Daud 1230, 1231]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *