[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 115

02.11. BAB SHALAT MUSAFIR DAN ORANG YANG SAKIT 01

0395

395 – عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ، فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ – وَلِلْبُخَارِيِّ: ثُمَّ هَاجَرَ، فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا، وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ – زَادَ أَحْمَدُ: إلَّا الْمَغْرِبَ فَإِنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ، وَإِلَّا الصُّبْحَ، فَإِنَّهَا تَطُولُ فِيهَا الْقِرَاءَةُ

395. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata,- “Shalat yang pertama kali yang difardhukan adalah dua rakaat, maka ditetapkan hal itu untuk shalat dalam perjalanan dan disempurnakan untuk shalat hadir (tidak dalam perjalanan).” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 350 dan Muslim 685]

Dan lafazh bagi Al-Bukhari, “Kemudian Rasulullah hijrah, maka difardhukan empat rakaat dan ditetapkan untuk shalat dalam perjalanan dengan yang pertama.”

[Shahih: Al Bukhari 3935]

Ahmad menambahkan, “Kecuali Magrib, karena ia adalah witir siang hari. Dan kecuali Subuh, karena di shalat ini dipanjangkan bacaan”

[Sanadnya Shahih: Ahmad 25920; Al-Albani mengisyarakan dalam Ash Shahihah Jilid 6 hal 760. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Pertama kali yang difardhukan dari shalat (selain shalat Magrib) dua rakaat (yaitu dalam keadaan hadir dan perjalanan) maka ditetapkan (yaitu Allah menetapkan) shalat dalam perjalanan (dengan menetapkannya dengan dua rakaat) disempurnakan untuk shalat hadir -tidak dalam perjalanan- (selain shalat Maghrib dan ditambahkan dengan tiga rakaat dari dua, yang dimaksud dengan atammat yaitu ditambahkan sampai menjadi sempurna kalau dibandingkan dengan shalat dalam perjalanan) dan bagi Al-Bukhari (sendiri dari Aisyah) kemudian hijrah (yaitu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) maka difardhukanlah empat rakaat (yaitu dengan ditambahkan dua rakaat) dan ditetapkan untuk shalat dalam perjalanan dengan yang pertama (yaitu difardhukan sebagaimana awalnya), Ahmad menambahkan, “Kecuali Magrib (yaitu ia menambahkan dari riwayat Aisyah setelah ucapannya ‘awwaluma furidhat ash-shalat ilal maghrib’ – awal yang difardhukan dari shalat adalah dua rakaat kecuali Maghrib – karena shalat Maghrib difardhukan tiga rakaat) Sesungguhnya ia (yaitu shalat Maghrib) witir di siang hari (ia difardhukan secara ganjil tiga rakaat sejak awal perintah) dan kecuali Subuh, karena di shalat ini dipanjangkan bacaan.”

Tafsif Hadits

Hadits ini merupakan dalil atas wajibnya mengqasar di dalam perjalanan karena kata furidhat semakna dengan ujibat. Kewajiban mengqasar ini adalah mazhab Al-Hadawiyah, Al-Hanafiah dan selain mereka. Asy-Syafii dan sekelompok ulama berpendapat sesungguhya mengqasar itu adalah rukhsah (keringanan) dan menyempurnakan lebih utama. Mereka berkata, “Furidhat dimaknai dengan quddirat yaitu difardhukan bagi yang menginginkan qasar.” Mereka berdalilkan pada firman Allah Ta’ala,

{فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ}

“Maka tidaklah mengapa kamu menqasar shalat(mu).” (QS. An-Nisaa’: 101)

Dan sesungguhnya shahabat-shahabat Rasulullah melakukan perjalanan bersama beliau. Di antara mereka ada yang mengqasar dan ada juga yang menyempurnakannya. Dan mereka tidak mencaci sebagian atas sebagian yang lain. Sesungguhnya Utsman Radhiyallahu Anhu adalah orang yang menyempurnakan shalat begitu pula Aisyah Radhiyallahu Anha. Riwayat ini dikeluarkan oleh Muslim.

Pendapat ini ditolak, karena hal itu merupakan perbuatan shahabat yang tidak bisa dijadikan hujjah. Telah dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shaghir dari hadits Ibnu Umar secara mauquf,

صَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ نَزَلَتَا مِنْ السَّمَاءِ فَإِنْ شِئْتُمْ فَرُدُّوهُمَا

“Shalat dalam perjalanan itu dua rakaat yang diturunkan dari atas langit, jika kalian mau maka tolaklah keduanya.”

Al-Haitsami berkata, “Rijal hadits ini semuanya tsiqah dan hadits ini hadits mauquf, karenanya tidak ada tempat untuk berijtihad di dalamnya.” Dikeluarkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dengan rijal yang shahih,

صَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ مَنْ خَالَفَ السُّنَّةَ كَفَرَ

“Shalat dalam perjalanan itu dua rakaat, barangsiapa yang menentang sunnah, maka ia kafir.” Di dalam sabda beliau “As-Sunnah” menunjukkan bahwa hadits ini marfu’ sebagaimana yang diketahui.

Ibnul Qayyim juga berkata dalam Al-Hadyu An-Nabawi, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengqasar shalat yang empat rakaat, beliau melakukannya dengan dua rakaat ketika akan keluar dalam perjalanan sampai beliau kembali ke Madinah dan tidak pernah ada riwayat yang tetap bahwa beliau menyempurnakan shalat empat rakaat dalam perjalanan sama sekali.”

Dan di dalam ucapan Aisyah ‘illal maghrib’ (kecuali Magrib), menunjukkan disyariatkannya Maghrib pada asalnya tiga rakaat dan tidak berubah. Dan ucapannya, “Sesungguhnya ia adalah witir siang hari.” Menunjukkan bahwa shalat siang itu dilakukan dengan genap, dan Maghrib adalah shalat yang paling akhir karena ia terletak di penghujung siang. Maka ia menjadi shalat witir di shalat siang. Sebagaimana disyariatkan shalat witir untuk shalat malam dan witir itu dicintai oleh Allah sebagaimana yang telah lalu di dalam hadits, “Sesungguhnya Allah itu witir, menyukai yang witir.”

Ucapannya, “Kecuali Subuh” karena sesungguhnya shalat Subuh dipanjangkan bacaannya. Ia menginginkan bahwa pada asalnya shalat Subuh itu dua rakaat. Ia tidak berubah, baik dalam waktu hadir maupun dalam perjalanan, karena disyariatkan di dalamnya memanjangkan bacaan karenanya Al-Qur’an mengungkapkannya dalam ayat, “Dan (dirikanlah pula shalat) Subuh.” (QS. Al-Israa: 78)

Jadilah bacaan menjadi rukunnya yang terbesar karena panjangnya bacaan tersebut dalam shalat Subuh, maka jadikanlah itu ciri khasnya untuk mengungkapkan bagian yang paling besar dari keseluruhan.

0396

396 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقْصُرُ فِي السَّفَرِ وَيُتِمُّ وَيَصُومُ وَيُفْطِرُ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ. إلَّا أَنَّهُ مَعْلُولٌ، وَالْمَحْفُوظُ عَنْ عَائِشَةَ مِنْ فِعْلِهَا، وَقَالَتْ: إنَّهُ لَا يَشُقُّ عَلَيَّ. أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ

396. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengqashar shalat dalam perjalanan, menyempurnakan, berbuka dan berpuasa.” (HR. Ad-Daraquthni dan rawi-rawi hadits ini semuanya tsiqah, akan tetapi hadits ini ada illatnya) Yang terjaga dari Aisyah bahwa itu dari perbuatannya. Ia berkata, “Sesungguhnya (menyempurnakan shalat) tidak memberatkanku.” (HR. Al-Baihaqi)

[Dhaif: Al Misykah 1341 dan Al Irwa’ III/6. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ad-Daraquthni juga mengeluarkan riwayat dari Atha’ -dan Al-Baihaqi-dari Aisyah sesungguhnya ia berumrah bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Madinah menuju Makkah, sampai di Makkah ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَتْمَمْتُ وَقَصَرْتُ، وَأَفْطَرْتُ وَصُمْتُ فَقَالَ أَحْسَنْتِ يَا عَائِشَةُ وَمَا عَابَ عَلَيَّ

“Wahai Rasulullah, demi bapakku dan ibuku untukmu, Anda menyempurnakan shalat sedang aku mengqashar, engkau berbuka sedang aku berpuasa? Maka beliau bersabda, “Engkau telah berbuat baik Aisyah’, dan beliau tidak mencaciku.” [Ad Daruquthni 2/189 dan Al Baihaqi 3/142]

Ibnul Qayyim mengatakan, “Telah diriwayatkan “beliau mengqashar shalat sedang Aisyah menyempurnakannya” dan “beliau berbuka sedang Aisyah berpuasa” yaitu Aisyah mengambil hukum awal pada dua keadaan ini. Syaikh kami Ibnu Taimiyah berkata, “Ini adalah bathil tidak akan terjadi Ummul Mukminin berbeda dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam begitu pula semua shahabat. Ia shalat berbeda dengan shalat mereka. Di dalam Ash-Shahih riwayat darinya adalah “Sesungguhnya Allah memfardhukan shalat dua rakaat dua rakaat, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah, maka ditambahkan pada shalat hadir (menetap) dan ditetapkan untuk shalat dalam perjalanan.” Bagaimana mungkin ini bisa disangkakan -bersama itu- ia bisa shalat yang shalatnya berbeda dengan shalat orang-orang muslim yang bersama beliau?

Aku berkata, “Aisyah benar-benar menyempurnakan shalatnya setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat. Ibnu Abbas dan lainnya berkata, “Sesungguhnya ia bertakwil sebagaimana mentakwilnya Utsman.

Hadits bab ini telah diperselesihkan kemaushulannya, karena hadits ini dari riwayat Abdurrahman bin Al-Aswad dari Aisyah. Ad-Daraquthni berkata, “Abdurrahman berjumpa dengan Aisyah, sedangkan ia baru menjelang remaja. Pengarang mengatakan, “Dia sebagaimana yang dikatakan dalam Tarikh Al-Bukhari dan lainnya menyaksikan hal demikian,

Abu Hatim berkata, “Ia masuk menjumpai Aisyah sedang ia masih kecil, ia tidak mendengar darinya.” Ibnu Abi Syaibah dan Ath-Thahawy mengaku bahwa betul ia mendengar dari Aisyah.

Terjadi perbedaan pendapat ucapan Ad-Daraquthni dalam hadits ini, ia berkata dalam As-Sunan, “Isnad hadits ini hasan”, ia berkata dalam Al-Ilal, “Lebih dekat kepada mursal.”

Ini adalah ucapan pengarang yang dinukil oleh pensyarah. Aku telah merujuk ke Sunan Ad-Daraquthni dan Ad-Daraquthni menuturkannya, ia berkata, “Sesungguhnya hadits ini shahih.”

Kemudian di hadits ini ada Al-Ala bin Zuhair, Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “Ia telah ditsiqahkan oleh Ibnu Main”, Ibnu Hibban berkata, “Ia termasuk orang yang meriwayatkan dari Ats-Tsiqat sehingga haditsnya menyerupai hadits yang ditetapkan (keshahihannya), yang hadits dia ini tidak dijadikan hujjah jika tidak menyesuai dengan hadits yang ditetapkan.

Dengan demikian, batallah pengakuan Ibnu Hazm akan ketidaktahuannya, sedangkan ia telah mengetahuinya secara nyata dan keadaannya.

Ibnul Qayyim berkata, -setelah meriwayatkan hadits ini yang lafazh-“Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Ini adalah kebohongan atas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau menginginkan riwayat “menqashar diperjalanan dan menyempurnakan”, dan menjadikan hal ini adalah perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya telah tetap dari beliau, bahwa beliau tidak pernah menyempurnakan shalat empat rakaat di dalam perjalanan dan tidak pula berpuasa wajib.

Kami telah mendalami masalah ini dalam pembahasannya pada sebuah risalah tersendiri dan kami telah memilih untuk masalah ini bahwa qashar shalat adalah rukhshah (keringanan syar’i), bukan azimah (hukum asal).

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *