[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 114

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 10

0391

391 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اسْتَخْلَفَ ابْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ، يَؤُمُّ النَّاسَ، وَهُوَ أَعْمَى» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد

391. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan urusan kepada Ibnu Ummi Maktum untuk mengimami manusia sedang ia seorang yang buta matanya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

[Hasan Shahih: Abu Daud 595]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan urusan kepada Ibnu Ummi Maktum sebagai khalifah”, yakni beliau menyerahkan urusan kepadanya dua kali. Hadits ini dalam Al Ausath bagi Ath-Thabrani dari hadits Aisyah,

«اسْتَخْلَفَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ابْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ عَلَى الْمَدِينَةِ مَرَّتَيْنِ يَؤُمُّ النَّاسَ»

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan urusan kepada Ibnu Ummi Maktum untuk mengimami manusia di Madinah sebanyak dua kali.”

Yang dimaksud adalah dengan menyerahkan urusan kepadanya yaitu dalam shalat dan lainnya. Ath-Thabrani meriwayatkan dalam Al Ausath dengan lafazh “dalam shalat dan lainnya”, sanad haditsnya hasan. Dan telah terhitung penyerahan urusan ini berulang-ulang, mencapai tiga belas kali telah disebutkannya dalam Al-Khulashah.

Hadits ini sebagai dalil sahnya imam seorang buta tanpa adanya kemakruhan di dalam hal tersebut.

0392

392 – وَنَحْوُهُ لِابْنِ حِبَّانَ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا –

392.”Dan semisalnya bagi Ibnu Hibban dari Aisyah Radhiyallahu Anha.”

[Sanadnya Shahih: Ibnu Hibban 5/506]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

“Dan semisalnya (yaitu seperti hadits Anas) bagi Ibnu Hibban dari Aisyah Radhiyallahu Anha (telah lalu bahwa hadits ini juga dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al Ausath).

0393

393 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صَلُّوا عَلَى مَنْ قَالَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَصَلُّوا خَلْفَ مَنْ قَالَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

393. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalatlah kalian atas orang yang mengucapkan La ilaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah) dan shalatlah di belakang orang yang mengucapkan la ilaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah).” (HR. Ad-Daraquthni dengan sanad yang dhaif)

[Sanadnya Dhaif Jiddan: Ad Daruquthni 184. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Shalatlah kalian atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah -tidak ada tuhan selain Allah- (yaitu shalatlah ia shalat jenazah) shalatlah di belakang orang yang mengucapkan la ilaha illallah -tidak ada tuhan selain Allah-.” Telah berkata dalam Al-Badr Al-Munir, “Hadits ini di semua jalannya tidak kokoh.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil bahwa sesungguhnya orang yang mengucapkan kalimat syahadat dishalatkan jenazahnya walaupun ia tidak melaksanakan kewajiban. Ini adalah pendapat Zaid bin Ali dan Ahmad bin Isa. Abu Hanifah juga berpendapat seperti ini kecuali ia mengecualikan perompak jalanan dan pelaku zina. Sedang Asy-Syafii dalam hal ini banyak pendapat dalam perompak jalanan jika ia disalib.

Dalil asalnya, bahwa setiap orang yang mengucapkan kalimah la Ilaha Illallah maka baginya apa yang menjadi bagian orang-orang muslim. Di antaranya shalat jenazah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits

«الَّذِي قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَّا أَنَا فَلَا أُصَلِّي عَلَيْهِ وَلَمْ يَنْهَهُمْ عَنْ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ»

orang yang membunuh jiwanya dengan anak panah. Maka Rasulullah bersabda: “Adapun saya, maka saya tidak menshalatkan atasnya”, tapi beliau tidak melarang shahabatnya untuk menshalatkan atasnya. [Muslim (978)]

Juga karena keumuman syariat shalat jenazah yang tidak dikhususkan dengannya seseorang dari orang yang mengucapkan kalimat syahadat kecuali dengan dalil.

Adapun shalat di belakang orang yang mengucapkan La ilaha Illallah maka kami telah menjelaskan permasalahan ini. Sesungguhnya tidak ada dalil yang mensyaratkan keadilan dan sesungguhnya orang yang sah shalatnya sah keimamannya.

0394

394 – وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ، وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

394. Dari Ali Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mendatangi, shalat dan imam ada dalam keadaan tertentu, maka perbuatlah sebagaimana perbuatan imam.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad yang dhaif)

[Shahih: At Tirmidzi 591]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan juga oleh At-Tirmidzi dari hadits Ali dan Muadz di dalamnya juga ada kedhaifan dan inqitha’. Ia berkata, “Kami tidak mengetahui seseorang yang menyandarkan hadits ini dari jalan ini.”

Abu Dawud mengeluarkan hadits Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata, “Telah bercerita kepada kami shahabat-shahabat kami, di dalam hadits ini disebutkan, “Sesungguhnya Muadz berkata, “Aku tidak melihat beliau dalam suatu keadaan kecuali aku ada dalam keadaan itu juga.” [Shahih: Abu Daud 506]

Dengan riwayat ini hilanglah inqitha’ (terputusnya sanad hadits). Secara zhahir, sesungguhnya yang meriwayatkan kepada Abdurrahman bukanlah Muadz tetapi sekelompok shahabat, dan inqitha’ diklaim terjadi antara Abdurrahman dan Muadz. Mereka berkata, “Karena Abdurrahman tidak pernah mendengar dari Muadz, tetapi ia benar telah mendengar dari para shahabat yang lainnya. Dan ia berkata di sini ‘shahabat-shahabat kami’, yang dimaksud di sini adalah para shahabat nabi.

Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan wajibnya bagi orang yang menjumpai imam untuk bergabung kepadanya pada bagian manapun dari bagian shalatnya. Jika imam sedang ruku’ atau berdiri maka ia mengikutinya dengan apa yang ia temui bersama imam sebagaimana yang telah dijelaskan. Jika imam duduk atau sujud maka ia duduk seperti duduknya imam dan sujud sebagaimana sujudnya imam. Dan telah lalu apa yang menguatkan hadits ini dari hadits Ibnu Abi Syaibah,

«مَنْ وَجَدَنِي قَائِمًا أَوْ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى الَّتِي أَنَا عَلَيْهَا»

“Barangsiapa yang menjumpaiku sedang dalam keadaan berdiri atau sujud, hendaknya ia mengikutiku sebagaimana yang saya lakukan.’ [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 1/227]

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan secara marfu’ dari Abu Hurairah,

«إذَا جِئْتُمْ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا، وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ»

‘Jika kalian datang sedang kami dalam keadaan sujud, maka sujudlah kalian dan jangan dihitung hal itu sedikitpun, barangsiapa yang mendapatkan rakaat maka mendapatkan shalat.” [SHAHIH; Shahih Al Jami’ 468]

Ia juga meriwayatkan secara marfu’ dari Abu Hurairah,

«مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ قَبْلَ أَنْ يُقِيمَ الْإِمَامُ صُلْبَهُ فَقَدْ أَدْرَكَهَا

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat sebelum imam menegakkan tulang punggungnya dari ruku, maka ia mendapatkan satu rakaat.”

Ia menerjemahkan hadits ini dengan “Bab menyebutkan waktu yang makmum mendapatkan rakaat jika imam dalam keadan ruku’.”

Sabda beliau “maka perbuatlah sebagaimana perbuatan imam” tidak menyebutkan secara jelas bahwa sesungguhnya ia masuk bersama imam dengan takbiratul ihram, tetapi bergabung dengannya. Bisa saja dengan takbir jika imam ruku’ atau berdiri, maka ia bertakbir untuk berdiri kemudian langsung ruku’ atau bisa jadi bersama imam saja kapan ia berdiri dan takbir. Intinya dapat dipahami seperti itu, namun sesungguhnya disyariatkannya takbiratul ihram dalam keadaan berdiri bagi orang yang shalat -sendirian atau imam menunjukkan shalat tidak mencukupi, kecuali dengannya. Inilah yang lebih jelas untuk dijadikan pertimbangan. Wallahu ‘Alam.

Faedah Udzur Dalam Meninggalkan Shalat Jama’ah

Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) mengeluarkan hadits dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sesungguhnya beliau memerintahkan seorang pemanggil shalat untuk menyeru,

صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ، وَفِي اللَّيْلَةِ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ

“Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian” pada malam yang sangat dingin dan pada malam hujan turun dalam perjalanan. [Shahih: Al Bukhari 632 dan Muslim 697]

Dari Jabir,

«خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي سَفَرٍ فَمُطِرْنَا فَقَالَ لِيُصَلِّ مَنْ شَاءَ مِنْكُمْ فِي رَحْلِهِ»

“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan, kemudian kami kehujanan maka beliau bersabda, “Shalatlah di antara kalian yang mau di rumahnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya)

Asy-Syaikhani juga mengeluarkan hadits dari Ibnu Abbas,

أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إذَا قُلْت أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ قَالَ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَلِكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا فَقَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي يَعْنِي النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –

“Sesungguhnya ia berkata kepada muadzinnya pada suatu hari saat turun hujan, jika kamu telah mengucapkan ‘Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah’ jangan ucapkan, Hayya Alash-Shalah (mari menegakkan shalat) tapi ucapkan Shalluu fi Rihalikum (shalatlah di rumah-rumah kalian). Ia berkata, “Seakan-akan orang-orang mengingkari hal tersebut.” Maka ia berkata, “Apakah kalian terheran-heran melihat ini padahal telah melakukan hal ini orang yang lebih baik dariku yakni Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. [Shahih: Al Bukhari 901 dan Muslim 699 dengan lafazh shalu fi buyutikum]

Menurut riwayat Muslim,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَمَرَ مُؤَذِّنَهُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ بِنَحْوِهِ

“Sesungguhnya Ibnu Abbas memerintahkan muadzin -pada hari Jum’at yang sedang turun hujan- seperti hadits di atas.”

Al-Bukhari mengeluarkan hadits dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ فَلَا يُعَجِّلْ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ، وَإِنْ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ»

“Jika salah seorang di antara kalian sedang dihadapan makanan maka jangan tergesa-gesa sampai ia menunaikan hajatnya dari makanan tersebut, walaupun shalat sudah didirikan.” {Al Bukhari 673]

Ahmad dan Muslim mengeluarkan hadits dari Aisyah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُ الْأَخْبَثَيْنِ»

“Jangan shalat ketika ada di hadapan makanan, sungguh hal itu dapat menolak dua keburukan.”[Muslim 560]

Al-Bukhari juga mengeluarkan hadits dari Abu Ad-Darda’ ia berkata,

مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ إقْبَالُهُ عَلَى حَاجَتِهِ حَتَّى يُقْبِلَ عَلَى صَلَاتِهِ وَقَلْبُهُ فَارِغٌ

“Di antara- tanda kepahaman seseorang adalah ia mendatangi hajatnya, sehinga ia menghadap shalatnya sedang hatinya dalam keadaan kosong (dari hajat itu).” [HR. Al Bukhari secara muallaq]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *