[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 113

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 09

0388

388 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ، وَالْوَقَارُ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

388. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika kalian telah mendengar iqamah maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan berwibawa, jangan kalian tergesa-gesa, apa yang kalian dapatkan maka shalatlah dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (Muttafaq Alaih, lafazh hadits ini dari Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 635 dan Muslim 602]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika kalian telah mendengar iqamah (untuk menegakkan shalat) maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang (An-Nawawi berkata, “As-Sakinah adalah tenang dalam gerakan-gerakan dan meninggalkan sikap senda gurau) berwibawa (yaitu dalam sikap seperti menundukan pandangan, merendahkan suara, dan tidak tolah toleh. Dikatakan makna keduanya sama, disebutkan yang kedua untuk menegaskan makna, dan Rasulullah telah memperingatkan dalam riwayat Muslim tentang hikmah disyariatkannya adab ini dengan ucapan beliau dalam akhir hadits Abu Hurairah ini, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian jika ia sedang menuju shalat maka sesungguhnya ia sedang dalam shalat.” Yaitu dia sama hukumnya dengan orang yang sedang shalat maka hendaklah ia berperilaku sebagaimana perilakunya orang yang shalat dan meninggalkan apa yang ditinggalkan oleh orang yang shalat) janganlah kalian tergesa-gesa, apa yang kalian dapatkan (dari shalatnya imam) maka shalatlah, dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.”

Tafsir Hadits

Hadits ini memerintahkan agar berjalan tenang dan tidak terburu-buru dalam mendatangi shalat. Hal ini disebabkan karena banyaknya langkah akan memperoleh keutamaannya. Telah diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Jabir,

«إنَّ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إلَى الصَّلَاةِ دَرَجَةً»

“Sesungguhnya pada setiap derap langkah seseorang menuju tempat shalat akan mendapatkan keutamaan.” [HR. Muslim 654 dari Ibnu Mas’ud]

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dengan marfu’

«إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إلَى الْمَسْجِدِ لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ الْيُمْنَى إلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ حَسَنَةً وَلَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ الْيُسْرَى إلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ سَيِّئَةً فَإِذَا أَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى فِي جَمَاعَةٍ غُفِرَ لَهُ فَإِنْ جَاءَ وَقَدْ صَلُّوا بَعْضًا وَبَقِيَ بَعْضٌ فَصَلَّى مَا أَدْرَكَ، وَأَتَمَّ مَا بَقِيَ كَانَ كَذَلِكَ، وَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا كَانَ كَذَلِكَ»

“Jika seseorang berwudhu’ dan ia membaguskan wudhunya kemudian keluar menuju masjid, tidaklah ia mengangkat kakinya yang kanan kecuali Allah telah menuliskan baginya satu kebaikan, dan tidaklah ia meletakan kaki kirinya kecuali Allah telah menghapuskan baginya kejelakan, jika ia telah sampai di masjid kemudian shalat berjamaah, maka akan diampunkan dosa baginya, jika mereka telah shalat sebagian dan tinggal sebagian kemudian ia shalat apa yang ia dapatkan dan menyempurnakan shalatnya yang tersisa, maka baginya demikian juga, dan jikapun ia mendatangi masjid dan mereka telah selesai shalat maka baginya demikian juga.” [Shahih: Abu Daud 563]

Sabda beliau, “Apa yang kalian dapatkan, maka shalatlah”, merupakan bentuk dari jawab syarat yang dibuang, yaitu jika kalian telah melaksanakan apa yang telah diperintahkan dari meninggalkan ketergesa-gesaan dan serupanya, maka apa yang kalian temukan dari shalat, shalatlah.

Hadits ini juga sebagai dalil tentang keutamaan shalat jamaah. Seseorang akan mendapatkan shalat jamaah walaupun ia mendapati imam pada bagian yang manapun dari bagian shalat walaupun juga kurang dari satu rakaat, ini adalah pendapat mayoritas ulama. Yang lainnya berpendapat bahwa seseorang yang tidak dikatakan menemukan shalat imam kecuali ia menemui satu rakaat imam, karena sabda beliau,

«مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَهَا»

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat imam, berarti ia telah mendapatkan shalatnya.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 6000]

Akan datang riwayat dalam shalat Jum’at persyaratan menemukan satu rakaat, yang lainnya diqiyaskan kepadanya. Pendapat ini dijawab bahwa itu pada waktu-waktu tertentu tidak pada semua shalat jamaah, sedang Jum’at-merupakan waktu khusus tidak boleh diqiyaskan pada yang lainnya.

Hadits bab ini juga dijadikan dalil sahnya masuk bersama imam dalam keadaan bagaimanapun imam berada, Abi Syaibah telah mengeluarkan sebuah riwayat secara marfu’,

«وَمَنْ وَجَدَنِي رَاكِعًا أَوْ قَائِمًا أَوْ سَاجِدًا فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى الَّتِي أَنَا عَلَيْهَا»

“Barangsiapa yang menemukanku sedang ruku’, berdiri atau sujud, hendaklah ia mengikutiku sesuai apa yang aku kerjakan.” [Al Mushannaf 1/227]

Aku berkata, “Tidak ada pada hadits ini dalil yang menunjukkan terhitungnya dia dengan yang ia jumpai bersama imam, dan tidak juga takbiratul ihramnya dalam keadaan bagaimana imam pun yang ia temukan, tetapi di sini ada perintah bersama imam”.

Ath-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Kabir dengan rawi-rawi hadits yang tsiqah (terpercaya) sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Haitsami dari Ali Alaihissalam dan Ibnu Mas’ud, mereka berdua berkata,

مَنْ لَمْ يُدْرِكْ الرَّكْعَةَ فَلَا يَعْتَدُّ بِالسَّجْدَةِ

“Barangsiapa tidak menemukan ruku’ maka tidak terhitung dengan sujud.”

Ia juga mengeluarkan riwayat lain dalam Al-Kabir, Al-Haitsami berkata, “Hadits ini dengan rijal (perawi) yang tsiqah dari hadits Zaid bin Wahb, ia berkata,

دَخَلَتْ أَنَا وَابْنُ مَسْعُودٍ الْمَسْجِدَ، وَالْإِمَامُ رَاكِعٌ فَرَكَعْنَا ثُمَّ مَشَيْنَا حَتَّى اسْتَوَيْنَا بِالصَّفِّ فَلَمَّا فَرَغَ الْإِمَامُ قُمْت أَقْضِي فَقَالَ قَدْ أَدْرَكْته

“Aku masuk masjid bersama Ibnu Mas’ud sedang imam sedang ruku’ maka kami pun ruku’ kemudian kami berjalan sampai kami sejajar dengan shaf, maka ketika imam telah merampungkan shalatnya aku berdiri untuk mengqhada’, beliau berkata, ‘Engkau telah menemukan shalat imam.”

Atsar-atsar ini diriwayatkan secara mauquf dalam riwayat yang terakhir merupakan dalil dari pendapat Ibnu Az-Zubair dan telah lalu.

Dan hadits bab ini telah diriwayatkan dengan beberapa lafazh seperti lafazh faqdhu sebagai ganti lafazh atimmu. Kata qadha merupakan istilah untuk melaksanakan sesuatu, jadi serupa dengan makna atimmu jadi tidak ada perubahan.

Kemudian, ulama telah berbeda pendapat dalam hal yang dijumpai oleh makmum pada imam apakah hal tersebut menjadi awal shalatnya atau akhir shalat? Yang benar dalam hal ini adalah ia awal shalat, kami telah menjelaskan secara panjang lebar hal ini dalam catatan kaki Dhau’ An-Nahar.

Juga berbeda pendapat jika makmum menjumpai imam dalam keadaan ruku’ kemudian ia ruku’ bersamanya. Apakah gugur kewajiban qiraah pada rakaat itu bagi orang yang mewajibkan Al-Fatihah di dalam setiap rakaat, apakah bacaan imam diperhitungkan atau tidak gugur kewajibannya dan tidak diperhitungkan rakaat itu? Dikatakan rakaat itu diperhitungkan karena ia telah mendapati imam sebelum ia menegakkan tulang punggungnya. Dikatakan juga rakaat itu tidak diperhitungkan karena ia telah kehilangan Al-Fatihah, kami telah menjelaskan panjang lebar masalah ini secara menyendiri dan telah kami kuatkan pendapat yang mengatakan cukup baginya rakaat itu dan di antara dalilnya adalah hadits Abi Bakrah dimana ia ruku’ ketika mereka ruku’ kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan hal tersebut, namun yang dilarang adalah kembali masuk sebelum sampai di shaf sebagaimana yang telah Anda ketahui.

0389

389 – وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَانَ أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ – عَزَّ وَجَلَّ -» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

389. Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalatnya seorang bersama orang lain itu lebih baik dari shalatnya sendirian, dan shalatnya bersama dua orang lebih baik dari shalatnya bersama satu orang, dan semakin banyak maka semakin dicintai oleh Allah.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Abu Daud 554]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Shalatnya seorang bersama orang lain itu lebih baik dari shalatnya sendirian (yaitu lebih banyak pahalanya dari shalatnya sendirian) dan shalatnya bersama dua orang lebih baik dari shalatnya bersama satu orang, dan semakin banyak maka semakin dicintai oleh Allah.”

Dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dishahihkan juga oleh Ibnu Sakan, Al-Uqaily dan Al-Hakim dan disebutkan ada perbedaan pendapat di sini, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani mengeluarkan dengan lafazh,

«صَلَاةُ الرَّجُلَيْنِ يَؤُمُّ أَحَدُهُمْ صَاحِبَهُ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ مِنْ صَلَاةِ مِائَةٍ تَتْرَى»

“Shalatnya dua orang yang salah satunya mengimami temannya itu lebih murni dari shalat seratus rakaat terus menerus.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 3836]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa sedikitnya jamaah itu terdiri dari imam dan satu makmum. Ini sesuai dengan apa yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari hadits Abu Musa,

«اثْنَانِ فَمَا فَوْقَهُمَا جَمَاعَةٌ»

“Dua orang dan seterusnya adalah jamaah.”

Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Anas, kedua hadits ini dhaif. [Dhaif Al Jami 137]

Al-Bukhari telah membuat bab “Bab Dua orang dan seterusnya adalah jamaah”, dan berdalil dengan hadits Malik Al-Huwarits,

«إذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا ثُمَّ أَقِيمَا ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا»

“Jika telah datang waktu shalat, maka adzanlah, kemudian dirikanlah shalat oleh kalian berdua shalat kemudian yang paling besar di antara kalian berdua menjadi imam.”

Ahmad telah meriwayatkan dari hadits Abu Said,

«أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ رَجُلٌ، وَقَدْ صَلَّى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِأَصْحَابِهِ الظُّهْرَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ مَا حَبَسَك يَا فُلَانُ عَنْ الصَّلَاةِ فَذَكَرَ شَيْئًا اعْتَلَّ بِهِ قَالَ فَقَامَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَلَا رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّي مَعَهُ فَقَامَ رَجُلٌ مَعَهُ»

“Sesungguhnya seorang lelaki masuk masjid sedang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melaksanakan shalat Zhuhur bersama shahabat-shahabatnya, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Ya fulan apa yang menahan engkau dari shalat?” Maka orang itu menyebutkan sesuatu yang dijadikan alasan. Perawi berkata, “Maka berdirilah orang itu untuk shalat, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Hendaklah seseorang bersedekah kepadanya untuk shalat bersamanya.” Maka berdirilah seseorang bersamanya, Al-Haitsami berkata, “Rijal hadits ini adalah shahih.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 2652]

0390

390 – «وَعَنْ أُمِّ وَرَقَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

390. Dari Ummu Waraqah Radhiyallahu Anha, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk mengimami anggota rumahnya.” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Khuzaimah)

[Shahih: Abu Daud 591]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ummu Waraqah, nama lengkapnya adalah Ummu Waraqah binti Naufal Al-Anshari, dikatakan, binti Abdullah bin Al-Harits bin Uwaimir. Rasulullah menziarahinya, dan menamakannya dengan Syahidah. Ia telah mengumpulkan Al-Qur’an, dan mengimami anggota rumahnya. Ketika Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam berperang badar ia berkata, “Wahai Rasulullah izinkan saya berperang bersamamu…” (Al-Hadits). Rasulullah juga memerintahkannya untuk mengimami anggota rumahnya, dan menjadikan baginya seorang muadzin yang adzan untuknya. Ia mempunyai seorang budak lelaki dan seorang budak perempuan ia membelakangi mereka berdua. Dalam sebuah hadits, sesungguhnya budak laki-laki dan perempuan ini berdiri menuju kepadanya pada suatu malam, kemudian keduanya membekapnya dengan sebuah kain beledru rniliknya sampai ia meninggal kemudian keduanya pergi. Hal ini membuat Umar berdiri di hadapan manusia dan ia berkata, “Siapa yang mengetahui kedua budak ini- atau siapa yang melihat mereka berdua- kemudian kedua budak itu didatangkan maka kemudian ia memerintahkan untuk menyalib keduanya, jadilah dua budak ini orang pertama yang disalib di Madinah.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan sahnya seorang perempuan menjadi imam anggota rumahnya, walaupun di situ terdapat laki-laki. Karena dalam hadits disebutkan bagi dia seorang muaddzin dan ia adalah seorang lelaki tua sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa riwayat. Dzahirnya bahwa Ummu Waraqah mengimaminya juga budak laki-laki dan perempuannya. Pendapat ini didukung oleh Abu Tsaur, Al-Muzanni, dan Ath-Tabari, sedangkan mayoritas ulama menentangnya.

Adapun yang menunjukkan keimaman hanya bagi laki-laki untuk wanita maka telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dari hadits Ubay bin Kaab,

أَنَّهُ جَاءَ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَمِلْت اللَّيْلَةَ عَمَلًا قَالَ مَا هُوَ قَالَ نِسْوَةٌ مَعِي فِي الدَّارِ قُلْنَ إنَّك تَقْرَأُ، وَلَا نَقْرَأُ فَصَلِّ بِنَا فَصَلَّيْت ثَمَانِيًا، وَالْوِتْرَ فَسَكَتَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ فَرَأَيْنَا أَنَّ سُكُوتَهُ رِضًا

“Sesungguhnya ia mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah beramal pada suatu malam”, beliau bertanya, “Apa itu?” Ia berkata, “Para perempuan bersamaku dan mereka berkata, “Sesungguhnya engkau bisa membaca sedang kami tidak bisa, maka shalatlah bersama kami, maka aku shalat delapan rakaat dan witir’, kemudian diamlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka ia berkata, “Maka kami memandang bahwa diamnya beliau sebagai sebuah keridhaan.”

Al-Haitsami berkata, “Di dalam isnadnya terdapat rawi yang tidak dikenal. Ia berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Ath-Thabrani di dalam Al Ausath dengan sanad yang hasan.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *