[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 112

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 08

0385

385 – «وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ انْتَهَى إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَهُوَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إلَى الصَّفِّ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: زَادَك اللَّهُ حِرْصًا، وَلَا تَعُدْ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَزَادَ أَبُو دَاوُد فِيهِ: فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ، ثُمَّ مَشَى إلَى الصَّفِّ

385. Dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu bahwasanya ia terlambat datang dalam shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau dalam keadaan ruku’, maka ia pun ruku’ sebelum sampai di shaf, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Semoga Allah menambah penjagaan bagimu, dan jangan diulangi.” (HR. Al-Bukhari) Abu Dawud menambahkan, ‘Ia ruku’ sebelum sampai ke shaf kemudian berjalan sampai ke shaf.”

[Shahih: Al Bukhari 783, riwayat Abu Daud sanadnya shahih, Al-Irwa 683-684. Ebook editor] *

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu bahwasanya ia terlambat datang dalam shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga beliau dalam keadaan ruku’, maka ia pun ruku’ sebelum sampai di shaf, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Semoga Allah menambah penjagaan bagimu (yaitu menjaga untuk mencari kebaikan) dan jangan diulangi (berasal dari kata ‘Aud yang berarti pulang).”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang menemukan imam sedang ruku’ maka janganlah masuk shalat sampai ia menjumpai shaf, karena sabda Rasulullah, “Jangan engkau ulangi.”Ada juga yang mengatakan sahnya hadits ini menunjukkan sahnya shalat tersebut karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya. Hal ini menunjukkan sahnya shalat tersebut.

Aku berkata, “Bisa jadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerintahkannya karena orang tersebut melakukannya dalam keadaan bodoh dan kebodohan merupakan udzur.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dalam Al Ausath dari riwayat Atha’ dari Ibnu Al-Zubair -berkata Al-Haitsami, “Rijal hadits ini merupakan rijal yang shahih- sesungguhnya ia berkata, “Jika salah seorang di antara kamu masuk masjid, dan orang-orang sedang ruku’ maka hendaklah kalian ruku’, kemudian merangkaklah dalam keadaan ruku’ sampai masuk ke dalam shaf, sesungguhnya yang demikian itu adalah sunnah.” Atha’ berkata, “Aku telah melihatnya berbuat seperti demikian.” Berkata Ibnu Zuraid, “Aku telah melihat Atha’ berbuat demikian.”

Aku berkata, “Seakan-akan hal itu didasarkan bahwa lafazh, “jangan diulangi.” Dan lafazh, “Semoga Allah menambah penjagaan bagimu” (yaitu menjaga untuk mencari kebaikan, dan jangan ulangi shalat kamu karena shalatnya shahih).

Diriwayatkan juga dengan mensukunkan ‘ain dari kata aduw. Hal ini dikuatkan dengan riwayat Ibnu As-Sakan dari hadits Abi Bakrah dengan lafazh,

«أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَانْطَلَقْت أَسْعَى حَتَّى دَخَلْت فِي الصَّفِّ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ: مَنْ السَّاعِي آنِفًا قَالَ أَبُو بَكْرَةَ: فَقُلْت أَنَا قَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَادَك اللَّهُ حِرْصًا، وَلَا تَعْدُ»

“Shalat telah ditegakkan, maka aku pun pergi sambil merangkak hingga aku masuk ke dalam shaff, ketika telah menyelesaikan shalat beliau bersabda, “Siapa yang merangkak tadi? Berkata Abu Bakrah, “Saya” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Semoga Allah menambahkan penjagaan bagimu dan jangan ulangi.” [lihat At Talkhis 1/285]

Tetapi yang paling dekat adalah riwayat “La Ta’ud” dari kata Aud, maksudnya adalah jangan mengulangi berjalan sambil ruku’ sebelum sampainya kamu di shaf, maka sesungguhnya tidak ada di dalam ucapan ini sesuatu yang memberikan pemahaman tentang rusaknya shalat sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan fatwa padanya untuk tidak mengulangi shalatnya. Justru yang beliau ucapkan, “Semoga Allah menambahkan penjagaan bagimu.”Hal ini memberikan faedah tentang cukup shalatnya, atau kata la ta’du dari kata al-aduw.

_________________

* Al-Albani berkata: atsar ini menunjukkan kepada dua perkara: pertama; bahwa rakaat didapat dengan mendapatkan ruku’; kedua bolehnya ruku’ sebelum masuk shaf, dan ini tidak kami pandang boleh berdasarkan hadits Abu Bakrah. Kemudian aku rujuk dari pendapat tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin Zubair yang menyatakan bahwa hal itu (ruku’ sebelum masuk shaf dan berjalan menuju shaf sambil ruku’ ed) adalah sunnah, sebagaimana dijelaskan dalam Ash Shahihah. Ebook editor

0386

386 – وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ، فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

386. Dan Wabishah bin Mi’bad, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf, maka Rasulullah memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi, beliau menghasankannya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 682]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Wabishah adalah Abu Qirshafah. Ibnu Mi’bad adalah Ibnu Malik dari Bani Asad bin Huzaimah Al-Asady. Wabishah pernah tinggal di Kufah kemudian pindah ke Al-Hirah kemudian wafat di Riqqah.

Tafsif Hadits

Dalam hadits ini ada dalil yang membatalkan orang yang shalat sendirian di belakang shaf. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh An-Nakhai dan Ahmad, dan Syafii mendhaifkan hadits ini dan beliau berkata, “Jika hadits ini shahih, maka aku akan berfatwa dengannya.” Al-Baihaqi berkata, “Yang paling dipilih adalah mungkinnya terjadi hal tersebut karena sahnya hadits yang telah disebutkan.”

Orang yang mengatakan tidak batalnya shalatnya berdalilkan dengan hadits Abu Bakrah, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerintahkannya untuk mengulangi shalat padahal ia masuk dalam shalat di belakang shaf sendirian.” Mereka berkata, “Dapat dipahami bahwa perintah untuk mengulangi dalam hadits ini menunjukkan kesunnahan.” Ada juga yang mengatakan, “Yang lebih utama untuk memahami hadits Abi Bakrah sebagai orang dalam kondisi uzur yang ia khawatir hilangnya kesempatan untuk bergabung bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan segala kemampuannya sedangkan yang ini bukan karena udzur di setiap shalatnya.”

Aku berkata, ‘Yang lebih baik dari semua itu hendaklah dikatakan hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Abi Bakrah, tetapi sebaliknya hadits ini sesuai. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam tidak memerintahkan Abu Bakrah karena ia udzur dengan kebodohannya, dan dipahami perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengulangi shalat orang yang shalat di belakang shaf karena ia orang yang mengetahui hukum, menunjukkan batalnya shalat, sesuai yang dikandung oleh hadits ini.”

0387

387 – وَلَهُ عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «لَا صَلَاةَ لِمُنْفَرِدٍ خَلْفَ الصَّفِّ» ، وَزَادَ الطَّبَرَانِيُّ فِي حَدِيثِ وَابِصَةَ ” أَلَا دَخَلْت مَعَهُمْ أَوْ اجْتَرَرْت رَجُلًا؟ ”

387. Riwayat Ibnu Hibban dari Thalq bin Ali, “Tidak ada shalat bagi orang yang menyendiri di belakang shaf.”

[Shahih: Ibnu Hibban 5/579] [1]

Ath-Thabrani menambahkan di dalam hadits Wabishah Radhiyallahu Anhu, “Kenapa engkau tidak masuk bersama mereka, atau engkau tarik salah seorang di antara mereka?

[Dhaif Jiddan: Al-Irwa 2/329. Ebook editor] [2]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

‘Tidak ada shalat bagi orang yang menyendiri di belakang shaf.” (Sesungguhnya peniadaan shalat, zhahirnya menunjukkan peniadaan sahnya shalat) Ath-Thabrani menambahkan di dalam hadits Wabishah Radhiyallahu Anhu, “Kenapa engkau tidak masuk (wahai orang yang shalat di belakang shaf sendirian) bersama mereka (yang berada di dalam shaf) atau engkau tarik salah seorang di antara mereka?” (dari shaf supaya bergabung denganmu).

Kelengkapan hadits ini ada dalam Ath-Thabrani,

«إنْ ضَاقَ بِك الْمَكَانُ أَعِدْ صَلَاتَك فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لَك»

‘Jika tempat sempit bagimu, maka ulangi shalatmu sesungguhnya tidak ada shalat bagi kamu.”

Tafsif Hadits

Hadits ini sebagaimana yang terdapat dalam Majma Al-Zawaid dari riwayat Ibnu Abbas berbunyi,

«إذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْذِبْ إلَيْهِ رَجُلًا يُقِيمُهُ إلَى جَنْبِهِ»

“Jika salah seorang di antara kalian berada di shaf paling akhir dan shaf telah sempurna, maka hendaknya ia menarik seseorang dan menempatkan di sisinya.”

Ia berkata, Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam AlAusath dan ia berkata, ‘Tidak diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kecuali dengan sanad ini, di dalamnya ada As-Siriy bin Ibrahim dan ia seorang yang dhaif.

Pensyarah juga mengatakan bahwa As-Siriy ada di riwayat Ath-Thabrani yang terdapat di dalamnya tambahan, kecuali telah dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Al-Marasil dari riwayat Muqatil bin Hayyan secara Marfu’,

«إنْ جَاءَ أَحَدُكُمْ فَلَمْ يَجِدْ مَوْضِعًا فَلْيَخْتَلِجْ إلَيْهِ رَجُلًا مِنْ الصَّفِّ فَلْيَقُمْ مَعَهُ فَمَا أَعْظَمُ أَجْرِ الْمُخْتَلَجِ»

“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi shaf dan tidak menemukan tempat, maka hendaknya ia menarik ke arahnya seseorang dari shaf supaya berdiri bersamanya, maka alangkah besar pahala orang yang melepaskan diri dari shaf.” [Al Marasil 83]

Ath-Thabrani juga mengeluarkan sebuah riwayat dalam Al Ausath dari hadits Ibnu Abbas:

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَ الْآتِيَ وَقَدْ تَمَّتْ الصُّفُوفُ بِأَنْ يَجْتَذِبَ إلَيْهِ رَجُلًا يُقِيمَهُ إلَى جَنْبِهِ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan orang yang datang sedang shaf sudah sempurna supaya ia menarik kepadanya seseorang untuk berdiri di sampingnya.” Isnad hadits wahin (lemah).

____________________

[1] Al-Albani berkata: Hadits ini dari riwayat Ali bin Syaiban, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1003, Ibnu Khuzaimah 1/164/2, Ibnu Hibban 401, 402. Sanadnya shahih dan rijalnya tsiqat, sebagaimana dikatakan Al Bushairi dalam Az Zawaid (qaf 69/2). Dan Al Hafizh dalam Bulughul Maram menisbatkannya pada Ibnu Hibban dari Thalq bin Ali, ini adalah sebuah kesalahan darinya. [ebook editor]

[2] Al-Albani berkata: tambahan ini tidak bisa dijadikan hujjah karena sangat lemah. Kesimpulannya bahwa perintah Nabi SAW untuk mengulangi shalatnya dan bahwasanya tidak sah shalat orang yang sendirian di belakang shaf adalah shahih dari beberapa jalan. Adapun perintah untuk menarik seseorang ke belakang shaf adalah tidak shahih. Maka janganlah terkecoh dengan diamnya Al Hafizh dalam hadits tambahan riwayat At Thabrani dari Wabishah ini dalam Bulughul Maram sehingga disangka shahih. Dan jangan pula tertipu dengan pengulangan Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam II/44-45, terhadap hadits Ibnu Abbas dalam perintah tersebut dua kali, sehingga dikira ia mempunyai dua jalan.

(Faedah Al-Albani)

Apabila seseorang tidak mampu bergabung dengan shaf, lalu ia shalat sendirian, apakah shalatnya sah? Yang rajih adalah sah, adapun perintah untuk mengulang shalat dibawa kepada orang yang mampu bergabung tapi tidak melakukannya. Ini pula yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana telah saya jelaskan dalam Adh Dhaifah, pada hadits ke sepuluh ribuan. (Al-Irwa; 326, 329). Ebook editor

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *