[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 111

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 07

0382

382 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

382. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yang paling awal dan seburuk-buruknya shaf laki-laki adalah yang paling akhir, sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya yang paling awal.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 440]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yang paling awal (yakni yang paling banyak pahalanya, yaitu shaf yang mana malaikat akan bershalawat kepada orang yang shalat di shaf tersebut, akan datang haditsnya kemudian) dan seburuk-buruknya shaf laki-laki adalah yang paling akhir (yaitu yang paling sedikit pahalanya) sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya yang paling awal.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bazar dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabird dan Al-Ausath. Dan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan shaf pertama sangatlah banyak.

Ahmad dan Ath-Thabrani mengeluarkan hadits ini dalam Al-Kabir -Al-Haitsami mengatakan Rijalnya hadits ini tsiqah-, dari hadits Abu Umamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَعَلَى الثَّانِي قَالَ وَعَلَى الثَّانِي»

“Sesungguhnya Allah Ta’ala dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat pada orang yang berada di shaf pertama.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana dengan yang kedua?”Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat pada orang di shaf pertama.” Para shahabat bertanya lagi, “Ya Rasulullah bagaimana dengan yang kedua?” Beliau menjawab, “Juga atas yang kedua.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 1839]

Dikeluarkan oleh Ahmad dan Al-Bazzar -Berkata Al-Haitsami, “Rijalnya tsiqah.”- dari hadits An-Nu’man bin Basir, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah Tabaraka wa Ta’ala dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat atas shaf pertama.” Atau shaf-shaf pertama.

Dikeluarkan oleh Al-Bazzar dari hadits Abu Hurairah,

«اسْتَغْفَرَ لِلصَّفِّ الْأَوَّلِ ثَلَاثًا وَلِلثَّانِي مَرَّتَيْنِ وَلِلثَّالِثِ مَرَّةً»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memohonkan ampunan bagi shaf yang pertama sebanyak tiga kali dan bagi yang kedua dua kali dan bagi yang ketiga satu kali.”

Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini terdapat Ayyub bin Utbah, ia didhaifkan dari segi hafalannya.” Kemudian telah datang riwayat tentang shaf kanan yang pertama yang sejajar dengan imam lebih utama daripada yang sebelah kiri, hadits-hadits yang banyak.

Ath-Thabrani mengeluarkan di dalam Al-Ausath dari hadits Abu Burdah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إنْ اسْتَطَعْت أَنْ تَكُونَ خَلْفَ الْإِمَامِ، وَإِلَّا فَعَنْ يَمِينِهِ»

“Jika engkau mampu hendaklah berada di belakang imam, dan jika tidak mampu hendaklah berada di sebelah kanannya.” [Dhaif: Dhaif Al Jami 3767]

Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini ada Ismail bin Muslim Al-Makki. Ia seorang yang dhaif.”

Ketahuilah, sesungguhnya yang paling berhak berada di shaf yang paling pertama adalah orang-orang yang telah baligh dan memiliki pengetahuan. Telah diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Amir bin Rabiah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alihi wa Sallam bersabda,

«لِيَلِنِي مِنْكُمْ أَهْلُ الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Yang berada dibelakangku di antara kalian adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kecerdasan, kemudian diikuti oleh setelah mereka.”

Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini ada Hasyim bin Ubaidillah Al-Umari, mayoritas ulama mendhaifkannya dan diperselisihkan berhujjah dengan hadits ini.”

Muslim dan Al-Arba’ah (Perawi yang empat) meriwayatkan dari hadits Ibnu Mas’ud dengan tambahan,

وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَإِيَّاكُمْ، وَهَيْشَاتِ الْأَسْوَاقِ

“Dan janganlah kalian berselisih, maka akan berselisihlah hati kalian, dan jauhilah hingar-bingar pasar.” [Shahih: Muslim 432]

Dalam bab ini ada hadits-hadits yang lain.

Tafsir Hadits

Hadits ini juga menunjukkan bahwa perempuan boleh membuat shaf, baik ketika mereka shalat bersama dengan laki-laki atau bersama perempuan. Alasan kebaikan akhir shaf mereka adalah karena mereka lebih jauh dari laki-laki dan jauh dari penglihatan mereka, serta mendengar pembicaraan mereka. Akan tetapi, alasan itu tidak tepat, kecuali jika mereka shalat bersama laki-laki. Adapun jika mereka shalat bersama perempuan, maka shaf mereka adalah sama seperti shaf laki-laki yaitu shaf yang pertama.

0383

383 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «صَلَّيْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُمْت عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

383. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada suatu malam, aku berdiri di samping kiri beliau, kemudian Rasulullah menarik kepalaku dari belakang dan menjadikanku berada di sebelah kanannya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 726 dan Muslim 764]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada suatu malam (yaitu malam menginapnya di rumah Rasulullah) aku berdiri di samping kiri beliau, kemudian Rasulullah menarik kepalaku dari belakang dan menjadikanku berada di sebelah kanannya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan sahnya orang yang shalat sunnah di belakang orang yang shalat sunnah, dan tempat berdiri makmum yang hanya satu berada di samping kanan imam. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Rasulullah menarik Ibnu Abbas ke sebelah kanannya. Jika posisinya yang benar di sebelah kiri imam, tentu Rasulullah tidak menariknya dari sebelah kiri ke sebelah kanannya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. An-Nakhai berbeda pendapat dengan mereka, ia berkata, “Jika imam dengan seorang makmum, maka makmum tersebut berdiri di belakang imam, dan jika imam ruku’ sebelum datang makmum -satu orang- tersebut, maka makmum berdiri di samping kanan imam.” Dikeluarkan oleh Said bin Mansyur. Hal ini dapat dipahami bahwa keimaman adalah tempat berkumpul dan hal itu dipandang dari tempat imam (di depan) sampai jelas tidak adanya orang yang berkumpul.

Dikatakan, hadits ini menunjukkan sahnya shalat orang yang berdiri di samping kiri imam, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyuruh Ibnu Abbas untuk mengulangi shalatnya. Dan hadits ini juga menunjukkan boleh seseorang tidak memerintahkan orang lain disebabkan uzur ketidaktahuannya akan hal ini. Atau sesungguhnya ia tidak sedang bertakbiratul ihram untuk shalat.

Kemudian ucapannya, “Kemudian menjadikanku berada di sebelah kanannya.” Yakni ia shalat sejajar dengan Rasulullah. Dan sebagian lafazh, “Aku berdiri di sisi Rasulullah.” Dari sebagian shahabat Asy-Syafii, “Sesungguhnya ia mensunnahkan untuk berdirinya makmum sedikit di belakang imam.” Kecuali telah dikeluarkan oleh Ibnu Juraid, ia berkata, “Kami berkata kepada Atha, seseorang shalat bersama orang lain dimanakah posisinya?” Beliau menjawab, “Disampingnya.” Aku berkata, “Apakah ia menyatu dengan imam sehingga shaf mereka tidak berbeda di antara keduanya?” Ia berkata, “Ya.” Aku berkata, “Posisinya tidak jauh, sehingga tidak ada renggang di antara keduanya.” Ia berkata, “Ya.”

Demikian juga disebutkan dalam Al-Muwaththa’. Dari Umar dari hadits Ibnu Mas’ud.”Sesungguhnya ia berada satu shaf bersama Umar, lalu merapatkan shafnya hingga pundak Umar berada (menempel) di samping kanannya.”

0384

384 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقُمْت أَنَا وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ، وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

384. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat, kemudian aku berdiri di belakang beliau bersama dengan seorang anak yatim dan Ummu Sulaim berdiri dibelakang kami.” (Muttafaq Alaih)

[Bukhari (727) dan Muslim (660)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat, kemudian aku berdiri di belakang beliau bersama dengan seorang anak yatim (nama anak yatim itu adalah Dhamirah. Ia adalah kakek Husain bin Abdullah bin Dhamirah. Ummu Sulaim adalah Ibu Anas bin Malik, dan namanya adalah Mulaikah).”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan sahnya berjamaah pada shalat sunnah, dan sahnya shalat ini untuk alasan pengajaran dan tabarruk (mengambil berkah kepada Rasulullah) sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah ini. Dan posisi makmun yang terdiri dua orang adalah di belakang imam, dan anak kecil pun diperhitungkan keberadaan tempat duduknya, dan dapat memperkokoh sisi shaf. Dalam hadits disebutkan lafazh yatim, ini menunjukkan anak kecil, karena tidak disebut yatim setelah baligh. Dan posisi perempuan tidak berada dalam satu shaf dengan laki-laki, tetapi berada pada shaf tersendiri. Jika tidak ada perempuan lain yang bergabung bersamanya dalam shaf, maka itu menjadi udzur baginya. Dan jika ada seorang perempuan bersama seorang laki-laki —berada dalam satu shaf-maka sah shalatnya, karena tidak ada penjelasan dalam hadits ini kecuali penetapan Ummu Sulaim berada di shaf akhir, dan itu adalah posisinya.

Dan hadits ini tidak menunjukkan rusaknya shalat jika ia shalat tidak bersama Rasulullah. Menurut Al-Hadawiyah perbuatan itu merusak shalatnya dan bagi orang yang di belakangnya dan bagi orang yang berada di shaffnya jika mereka mengetahui hal tersebut. Abu Hanifah berpendapat rusaknya shalat laki-laki tidak untuk perempuan dan tidak ada dalil kalau kerusakan ada pada dua bentuk ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *