[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 110

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 06

0380

380 – وَلِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «، وَلَا تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلًا، وَلَا أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا، وَلَا فَاجِرٌ مُؤْمِنًا» ، وَإِسْنَادُهُ وَاهٍ

380. Dan bagi Ibnu Majah dari hadits Jabir Radhiyallahu Anhu, “Janganlah seorang perempuan mengimami lelaki, seorang baduwi mengimami seorang muhajir, dan seorang jang fajir (pelaku dosa) mengimami seorang mu’min”. (Isnad hadits ini lemah)

[Dhaif: Ibnu Majah 1090]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Isnad hadits ini lemah”, karena di dalamnya terdapat Abdullah bin Muhammad Al-Aduwi dari Ali bin Zaid bin Jad’an, Al-Aduwi telah dituduh pemalsu hadits oleh Al-Waki’, dan tuanya dia dalam keadaan lemah. Hadits ini memiliki jalan lain di dalamnya terdapat Abdullah bin Habib dia dituduh sebagai sariqatul hadits (pencuri hadits) dan mencampuradukkan sanad-sanad.

Hadits ini menunjukkan bahwa perempuan tidak boleh mengimami laki-laki. Ini adalah mazhab Al-Hadawiyah, Al-Hanafiyah, Asy-Syafiiyah dan lain-lainnya. Al-Mujani, Abu Tsaur telah membolehkan imam perempuan. Ath-Thabari membolehkan imam perempuan dalam shalat tarawih selagi tidak ada laki-laki yang hafal Al-Qur’an hadir. Dalil mereka dalam masalah ini adalah hadits Ummu Waraqah yang akan disebutkan kemudian. Mereka memahami larangan ini sebagai larangan tanzih (larangan untuk menjaga kesucian ibadah), atau mereka berkata, “Hadits larangan ini dhaif.”

Ini juga menunjukkan bahwa fajir (orang yang tenggelam dalam kemaksiatan) tidak boleh mengimami orang mukmin, inilah pendapat Al-Hadawiyah. Mereka mensyaratkan keadilan orang yang menjadi imam, mereka berkata, “Tidak sah keimaman orang fasiq.” Al-Hanafiyah dan Asy-Syafiiyah berpendapat sahnya imam fasiq berlandaskan dengan hadits Ibnu Umar dan lainnya. Banyak sekali hadits yang menunjukkan sahnya shalat di belakang orang yang baik maupun fasiq, hal ini bertolak belakang dengan hadits,

«لَا يَؤُمَّنَّكُمْ ذُو جُرْأَةٍ فِي دِينِهِ»

Tidak boleh mengimami kalian orang yang memiliki keberanian (melawan) agamanya,’ dan hadits serupa ini, yang juga hadits dhaif, mereka berkata, “Jika hadits-hadits dari dua pendapat ini adalah dhaif maka kami kembali kepada hukum asal, “barangsiapa yang sah shalatnya maka sah keimamannya.”

Menguatkan pendapat ini adalah perbuatan para shahabat, sesungguhnya Al-Bukhari mengeluarkan riwayat dalam At-Tarikh dari Abdul Karim Al-Bakaa’i, sesungguhnya ia berkata,

أَدْرَكْت عَشَرَةً مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلُّونَ خَلْفَ أَئِمَّةِ الْجَوْرِ

“Aku menjumpai sepuluh orang dari shahabat shalat di belakang para pemimpin pelaku dosa.”

Juga dikuatkan dengan hadits Muslim,

«كَيْفَ أَنْتَ إذَا كَانَ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا قَالَ فَمَا تَأْمُرُنِي قَالَ صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَك نَافِلَةٌ»

“Bagaimana kamu jika ada di antara kamu seseorang yang mengakhirkan shalat atau bahkan mematikan shalat dari waktunya? Ia berkata, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku? Ia menjawab, “Shalatlah pada waktunya, jika engkau menjumpai shalat bersama mereka maka shalatlah karena shalat itu bagimu adalah shalat sunnah.” [Shahih: Muslim 648]

Beliau telah mengizinkan shalat di belakang mereka dan menjadikan shalat itu sebagai shalat sunnah karena mereka mengakhirkan waktunya. Secara zhahir, sesungguhnya mereka telah shalat pada waktunya, tetapi mereka diperintahkan shalat di belakang para pelaku dosa ini sebagai shalat fardhu.

0381

381 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «رُصُّوا صُفُوفَكُمْ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا، وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

381. Dari Anas Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Luruskan dan rapatkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Abu Daud 667]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“luruskan shaf-shaf kalian” (dalam shalat berjamaah dengan merapatkan antara satu dengan yang lainnya) rapatkanlah shaf-shaf kalian (yaitu shaf-shaf tersebut) rapatkan bahu-bahu kalian (menyamakan antara satu dengan yang lain di dalam shaf).

Kelengkapan hadits ini ada dalam Sunan Abi Dawud,

«فَوَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لَأَرَى الشَّيَاطِينَ تَدْخُلُ فِي خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ»

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan-setan masuk disela-sela shaf seperti seekor anak domba.”

Al-hadzaf adalah kambing yang masih kecil.

Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dan Abu Dawud telah meriwayatkan hadits An-Nu’man bin Bashiir ia berkata,

«أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا وَاَللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْت الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menghadapkan wajahnya kepada manusia kemudian beliau berkata, “Luruskan shaf-shaf kalian”, -sebanyak tiga kali- demi Allah, kalian luruskan shaf kalian atau Allah jadikan di antara hati kalian saling berselisih.” Nu’man berkata, “Maka aku melihat seseorang yang mendempetkan bahunya dengan bahu temannya, dan menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” [Shahih: Al Bukhari 719 dan Muslim 433]

Abu Dawud juga meriwayatkan dari Nu’man, ia berkata,

«كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُسَوِّينَا فِي الصُّفُوفِ كَمَا يُقَوَّمُ الْقِدْحُ حَتَّى إذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَخَذْنَا ذَلِكَ عَنْهُ، وَفَقِهْنَا أَقْبَلَ ذَاتَ يَوْمٍ بِوَجْهِهِ إذَا رَجُلٌ مُنْتَبِذٌ بِصَدْرِهِ فَقَالَ لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meluruskan shaf seperti berdirinya anak panah, sampai beliau menganggap kami telah melakukan dan memahami hal tersebut. Pada suatu hari, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya (ke depan), maka beliau bersabda, “Kalian luruskan shaf kalian, atau Allah menjadikan perselisihan di wajah-wajah kalian.” [Shahih: Abu Daud 662]

Abu Dawud juga mengeluarkan hadits dari Al-Barra bin Azib, ia berkata;

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَخَلَّلُ الصَّفَّ مِنْ نَاحِيَةٍ إلَى نَاحِيَةٍ يَمْسَحُ صُدُورَنَا وَمَنَاكِبَنَا وَيَقُولُ لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyela shaf dari ujung ke ujung, memegang dada-dada dan pundak-pundak mereka dan berkata, “Janganlah kalian berbeda, maka hati kalian akan berselisih.” [Shahih: Abu Daud 664]

Tafsir Hadits

Hadits-hadits ini dan ancaman yang terdapat di dalamnya menunjukkan wajibnya meluruskan shaf. Hal ini sekarang diremehkan oleh kebanyakan manusia. Sebagaimana mereka meremehkan hal yang menjadi faedah hadits Anas berikut,

«أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ»

“Sempurnakanlah shaf-shaf terdepan, kemudian shaf selanjutnya, jika sudah terpenuhi maka hendaklah di shaf paling akhir.” (HR. Abu Dawud)

Sesungguhnya kamu melihat manusia di masjid mendirikan shalat jamaah, tetapi mereka tidak memenuhi shaf pertama walaupun mereka berdiri di situ, dan ketika didirikan shalat mereka berpencar-pencar shafnya, dengan dua orang, tiga orang dan semisalnya.

Abu Dawud mengeluarkan hadits dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُقَدَّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ»

“Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian sebagaimana para malaikat meluruskan shaf mereka di sisi Tuhan mereka.” Kami berkata, “Bagaimana para malaikat membentuk shaf di sisi Tuhan mereka?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan shaf yang paling depan dan meluruskan dalam shaf-shaf tersebut.” [Shahih: Abu Daud 1067]

Tersebut di dalam kitab Sadd Al-Furaj beberapa hadits tentang masalah shaf. Seperti hadits Ibnu Umar,

«مَا مِنْ خُطْوَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ خُطْوَةٍ مَشَاهَا الرَّجُلُ فِي فُرْجَةٍ فِي الصَّفِّ فَسَدَّهَا»

“Tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang untuk mengisi shaf yang lowong dan dia merapatkannya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath)

Dikeluarkan juga dari hadits Aisyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ سَدَّ فُرْجَةً فِي صَفٍّ رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa yang mengisi shaf yang lowong, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan membangunkan baginya rumah di surga.” [Hasan: Shahih Al Jami’ 1843]

Al-Haitsami berkata, di dalam hadits ini ada Muslim bin Khalid Az-Zanji dan dia ini dhaif, ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban.

Al-Bazzar mengeluarkan hadits Abi Juhaifah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«مَنْ سَدَّ فُرْجَةً فِي الصَّفِّ غُفِرَ لَهُ»

‘Barangsiapa yang mengisi shaf yang kosong, maka ia akan diampuni.” Al-Haitsami berkata, “Sanad haditsnya hasan.”

Dikuatkan juga hal ini dengan hadits,

«رُصُّوا صُفُوفَكُمْ»

“Luruskan shaf-shaf kalian.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 3503]

Karena kosongnya shaf menunjukkan tidak lurusnya shaf tersebut.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *