[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 11

01.04. BAB WUDHU 01

Definisi Wudhu

Dalam Al Qamus disebutkan, jika kata wudhu ditulis dengan harakat dhamah menunjukkan arti perbuatan (الْفِعْلُ), yakni perbuatan wudhu itu sendiri. Dan jika ditulis dengan harakat fathah artinya air yang digunakan untuk berwudhu. Terkadang makna yang dimaksud dari keduanya adalah air yang digunakan berwudhu.

Dalil Disyariatkannya Wudhu

Perlu diketahui, wudhu adalah termasuk syariat shalat yang paling agung. Telah ditegaskan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah RA secara marfu:

«إنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ»

“Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats, hingga ia berwudhu .”

[Shahih: Al Bukhari 135, Muslim 225]

Dan ditegaskan oleh hadits:

«الْوُضُوءُ شَطْرُ الْإِيمَانِ»

‘Wudhu adalah bagian dari iman.”

[Shahih: Muslim 223 dengan lafazh: (الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ) ‘Bersuci itu bagian dari iman’]

Mengenai difardhukan wudhu ini. Allah SWT berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ…}

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kami hendak mengerjakan shalat….” (QS. Al-Maidah [5]: 6), ayat ini termasuk ayat-ayat Madaniyah.

Para ulama berbeda pendapat; apakah kewajiban berwudhu ini disyariatkan di Madinah ataukah di Makkah? Para peneliti berpendapat bahwa wudhu difardhukan di Madinah karena tidak ada nash yang berlawanan dengannya.

Dalil-Dalil Keutamaan wudhu

Di antaranya, hadits Abu Hurairah RA yang diriwayatkan oleh Malik dan yang lainnya secara marfu:

«إذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إلَيْهَا بِعَيْنِهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ»

“Jika salah seorang hamba Muslim atau mukmin berwudhu dan membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang dilihat oleh kedua matanya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir, dan jika ia mencuci kedua tangannya maka keluarlah dari kedua tangannya tersebut setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir, dan jika ia mencuci kedua kakinya maka keluarlah dari kedua kakinya setiap dosa yang pernah dilakukannya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir, hingga ia keluar suci dari dosa-dosa.”

[Shahih: Muslim 244 dan Shahih Al Jami’ 450]

Yang lebih mencakup dari itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Malik dari hadits Abdullah Ash Shunabihi dia adalah seorang shahabat, ia berkata, “Bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«إذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ، فَتَمَضْمَضَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ، وَإِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ أَنْفِهِ، فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ، حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ، حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ يَدَيْهِ، فَإِذَا مَسَحَ رَأْسَهُ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ، ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ إلَى الْمَسْجِدِ وَصَلَاتُهُ نَافِلَةً لَهُ»

‘Apabila seorang hamba mukmin berwudhu lalu berkumur-kumur, maka keluarlah dosa-dosanya dari mulutnya, dan apabila menghembuskan air dari hidung maka keluarlah dosa-dosanya dari hidungnya, jika ia membasuh wajahnya maka keluarlah dosa-dosa dari wajahnya, hingga keluar dari bawah kelopak kedua matanya, jika mencuci kedua tangannya maka keluarlah dosa-dosa dari kedua tangannya, hingga keluar dari bawah kedua kuku-kuku kedua tangannya, jika ia mengusap kepalanya maka keluarlah dosa-dosa dari kepalanya, hingga keluar dari kedua telinganya, jika ia mencuci kedua kakinya maka keluarlah dosa-dosa dari kedua kakinya, hingga keluar dari bawah kedua kuku-kuku kedua kakinya, kemudian jalannya ke masjid dan shalatnya adalah sunnah baginya.’

[Shahih: shahih An Nasa’i 103]

Dan masih banyak hadits semakna.

Kemudian adapun wudhu merupakan kekhususan umat ini? terdapat perbedaan pendapat. Para peneliti berpendapat bahwa bukan kekhususan umat ini, yang menjadi kekhususannya hanyalah ghurrah (warna putih bersinar pada wajah) dan tahjil (warna putih bersinar pada kaki)

0029

29 – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: «لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ» أَخْرَجَهُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ. وَذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ تَعْلِيقًا

29. Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Seandainya aku tidak ingin menyusahkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kalau wudhu.” (HR. Malik, Ahmad dan An Nasa’i, dan dishahihkan Ibnu Khuzaimah serta disebutkan Al Bukhari secara mu’allaq)

[Shahih: Malik 1/66, Al Bukhari 887 dengan maushul, Muslim 252, lafazh keduanya ‘setiap kali shalat.’

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

An Nawawi berkata, “Sebagian ulama besar keliru, mereka berdalih bahwa Al Bukhari tidak meriwayatkannya.” Saya katakan, ‘Secara zhahir, tindakan penulis di sini menunjukkan bahwa salah satu dari kedua Syaikh (Al Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya, dimana ia tidak menisbatkan kepada keduanya dan menisbatkan kepada selainnya, karena yang terkenal dari kaidah para ahli hadits bahwa jika keduanya meriwayatkannya, maka mereka menisbatkan kepadanya dan tidak hanya kepada selainnya, kecuali jika memang keduanya tidak meriwayatkannya. Sementara hadits tersebut termasuk hadits Umdatul Ahkam yang di dalamnya tidak disebutkan melainkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, tetap dengan lafazh: ‘Setiap kali shalat.’

Yang semakna dengannya ada beberapa hadits dari beberapa orang shahabat, dari Ali RA, Ahmad dan Zaid bin Khalid menurut At Tirmidzi, dari Ummi Habibah menurut Ahmad, dari Abdullah bin Amr, Sahl bin Sa’d, Jabir dan Anas menurut Abu Nu’aim, dari Abu Ayyub menurut Ahmad dan At Tirmidzi, dan dari hadits Ibnu Abbas dan Aisyah RA menurut Muslim dan Abu Daud.

Sedang perintah bersiwak disebutkan dalam hadits:

«تَسَوَّكُوا فَإِنَّ السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ»

“Bersiwaklah kalian, sesungguhnya bersiwak itu dapat menyucikan mulut.”

[* Dhaif: Ibnu Majah 289, Dhaif Targhib wa Tarhib 144, Dhaif Al Jami 2437 –ebook editor]

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan padanya terdapat kelemahan, akan tetapi memiliki beberapa syahid (pendukung) yang menunjukkan bahwa perintah tersebut ada dasarnya.

Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa:

«إنَّ السِّوَاكَ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ، وَأَنَّهُ مِنْ خِصَالِ الْفِطْرَةِ، وَأَنَّهُ مِنْ الطَّهَارَاتِ، وَأَنَّ فَضْلَ الصَّلَاةِ الَّتِي يَسْتَاكُ لَهَا سَبْعُونَ ضِعْفًا»

“Bersiwak adalah sunnah para rasul, termasuk bagian dari fitrah, thaharah, dan Shalat yang ditunaikan dengan didahului bersiwak lebih utama 70 kali lipat atas shalat yang ditunaikan dan sebelumnya tidak bersiwak.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, dan Ad Daruquthni serta yang lainnya)

[Dhaif: Dhaif Al Jami’ 3965]

Ia berkata dalam Al Badru Al Munir, “Telah disebutkan mengenai siwak lebih dari seratus hadits.” Dalam Al Badr ia berkata, “Alangkah mengherankannya Sunnah yang disebutkan dalam banyak hadits lalu diremehkan kebanyakan orang, bahkan kebanyakan para fuqaha, dan ini adalah kerugian besar.”

Saya katakan, “Ketika gigi telah hilang, juga disyariatkan, berdasarkan hadits Aisyah RA:

«قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ يَذْهَبُ فُوهُ؛ وَيَسْتَاكُ؟ قَالَ: نَعَمْ؛ قُلْت: كَيْفَ يَصْنَعُ؟ قَالَ: يُدْخِلُ أُصْبُعَهُ فِي فَمِهِ»

‘Aku bertanya, Wahai Rasulullah SAW, seorang yang telah hilang giginya apakah ia juga bersiwak?’ beliau SAW menjawab, ‘Ya’, aku bertanya, ‘Bagaimana caranya?’ Beliau menjawab, ‘Ia memasukkan jarinya ke dalam mulutnya.’ (HR. At Thabrani dalam Al Ausath dan padanya terdapat kelemahan)

[Dhaif: Al Haitsami mendhaifkannya dalam Al Majma 2/100]

Hukumnya sunnah menurut jumhur ulama, namun ada yang berpendapat wajib. Tetapi hadits yang disebutkan dalam bab ini menunjukkan bahwa bersiwak tidak wajib, berdasarkan sabda beliau SAW dalam hadits ini, ‘Aku akan perintahkan mereka’ yaitu perintah wajib, karena sesungguhnya yang tidak diwajibkan lantaran kesulitan, bukan berarti perempuan itu sunnah karena telah ditegaskan tanpa keraguan.

Hadits tersebut menunjukkan penentuan waktunya, yaitu setiap kali wudhu. Dalam Asy Syarh disebutkan bahwa disukai pada setiap waktu, dan lebih disukai pada lima waktu, yaitu:

1. ketika akan shalat, baik bersuci dengan air maupun dengan tanah, atau tidak bersuci, seperti orang yang tidak mendapatkan air atau tanah.

2. ketika wudhu

3. ketika membaca Al Qur’an

4. ketika bangun tidur

5. ketika bau mulut berubah

Ibnu Daqiq Al Id berkata, ‘Rahasia yang terkandung padanya –yaitu bersiwak pada setiap shalat – bahwa kita diperintahkan pada setiap kondisi ketika beribadah kepada Allah SWT agar dalam kondisi yang sempurna dan suci, sebagai bentuk memuliakan ibadah.

Ada yang mengatakan bahwa perintah itu berkaitan dengan malaikat, yaitu bahwa malaikat tersebut meletakkan mulutnya pada mulut orang yang membaca Al Qur’an dan merasa terganggu dengan bau yang jelek maka disunnahkanlah siwak lantaran hal tersebut, pendapat ini cukup bagus.

Zhahirnya hadits di atas tidak mengkhususkan disukainya bersiwak bagi shalat tertentu, baik ketika sedang berpuasa maupun tidak. Asy-Syafi’i berkata, “Tidak disunnahkan bersiwak setelah matahari condong ke atas –meninggi- pada saat berpuasa, agar bau mulut yang disukai oleh Allah SWT tidak hilang.” Dapat dijawab bahwa bau mulut tersebut tidak dapat hilang dengannya, karena ia bersumber dari kosongnya lambung dan tidak dapat dihilangkan dengan bersiwak.

Kemudian, apakah disunnahkan bagi yang akan shalat meskipun ia telah berwudhu sebagaimana disebutkan hadits, ‘Pada setiap shalat.” Ada yang berpendapat bahwa disunnahkan, dan yang lain mengatakan tidak kecuali pada saat akan berwudhu, sebagaimana hadits di atas yang berbunyi, ‘Bersama setiap wudhu’, hadits ini memberikan batasan terhadap hadits yang berlaku secara mutlak yaitu ‘setiap shalat’, bahwa yang dimaksudkan adalah setiap kali wudhu untuk shalat.

Seandainya dikatakan, hendaknya memperhatikan kondisi-kondisi disyariatkannya siwak. Maka jika telah berlalu waktu yang panjang di mana bau mulut telah berubah dengan hal-hal yang dapat merubahnya, seperti makan makanan yang berbau, lama diam, banyak bicara, tidak makan dan tidak minum, ketika itu siwak disyariatkan meskipun tidak berwudhu, dan jika bau mulut dari berubah, maka tidak disyariatkan.

Perkataannya dalam mendefinisikan siwak secara isitlah, ‘Atau yang semacamnya’, yakni seperti potongan dahan. Yang mereka maksudkan adalah setiap yang dapat menghilangkan perubahan bau mulut, seperti sobekan kain, jari kasar dan air dingin, dan lebih baik jika siwak tersebut dari pohon arok dalam kondisi yang sedang, tidak terlalu kering yang dapat melukai gusi, dan tidak terlalu basah yang tidak dapat membersihkan gigi.

0030

30 – وَعَنْ حُمْرَانَ «أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ. فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ، وَاسْتَنْشَقَ، وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إلَى الْمِرْفَقِ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إلَى الْكَعْبَيْنِ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

30. Dari Humran bahwa Utsman RA minta air wudhu, lalu ia mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya lalu mengeluarkannya, kemudian ia membasuh wajahnya tiga kali, kemudian ia mencuci tangan kanannya hingga siku tiga kali, kemudian yang kiri seperti itu, kemudian ia mengusap kepalanya, kemudian mencuci kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, kemudian yang kiri seperti itu, kemudian berkata, “aku melihat Rasulullah SAW berwudhu seperti wudhuku ini.” (Muttafaq alaih)

[shahih: Al Bukhari 159, Muslim 226]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Humran adalah Ibnu Aban maula Utsman bin Affan yang dikirim kepadanya oleh Khalid dari salah satu tawanan perang, lalu ia dimerdekakan oleh Utsman.

Penjelasan Kalimat

bahwa Utsman RA minta air wudhu, (yaitu air yang akan ia gunakan berwudhu) lalu ia mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, (ini adalah sunnah wudhu menurut kesepakatan para ulama, bukan mencucinya tiga kali ketika bangun tidur sebagaimana yang akan disebutkan haditsnya, tetapi ini adalah sunnah wudhu. Maka seandainya ia bangun tidur kemudian hendak berwudhu, tersebut dalam hadits bahwa ia mencucinya tiga kali karena bangun tidur kemudian mencucinya tiga kali untuk wudhu. Juga mengandung makna menyatukannya) kemudian berkumur-kumur (الْمَضْمَضَةُ ‘berkumur’ adalah memasukkan air ke dalam mulut kemudian memuntahkannya, wudhu yang sempurna adalah memasukkan air ke dalam mulut kemudian memutar-mutarnya lalu memuntahkannya, demikian yang terdapat dalam Asy Syarh. Sedang dalam Al Qamus: berkumur adalah menggerak-gerakkan air dalam mulut, ia menyebutkan menggerak-gerakkan dan tidak menyebut memuntahkan. Tidak disebutkan dalam hadits Utsman apakah ia melakukan hal itu satu ataukah tiga kali. Akan tetapi dalam hadits Ali RA bahwa ia berkumur-kumur lalu memasukkan air ke dalam hidung dan menghembuskannya dengan tangan kirinya, ia melakukan tiga kali, kemudian berkata, ‘inilah wudhu Nabi Allah’ [Shahih: An Nasa’i 91]) dan memasukkan air ke dalam hidungnya (الِاسْتِنْشَاقُ adalah memasukkan air ke dalam hidung dan menariknya dengan napas sampai ujungnya) lalu mengeluarkannya (الِاسْتِنْثَارُ , menurut jumhur ahli bahasa dan ahli hadits serta para fuqaha adalah mengeluarkan air dari hidung setelah menghirupnya) kemudian ia membasuh wajahnya tiga kali, kemudian ia mencuci tangan kanannya (dalam hadits ini terdapat keterangan rinci terhadap apa yang disebutkan secara global dalam ayat: ‘dan tanganmu…’ (QS. Al-Maidah [5]: 6) dan bahwa dia mendahulukan yang kanan) hingga siku (kata ‘إلَى ‘ pada dasarnya adalah berarti hingga ujung, tetapi terkadang pula digunakan dengan makna ‘مَعَ ‘ bersama. Dan hadits-hadits telah menerangkan bahwa inilah yang dimaksudkan. Sebagaimana dalam hadits Jabir, (كَانَ يُدِيرُ الْمَاءَ عَلَى مِرْفَقَيْهِ) ‘beliau SAW memutar-mutarkan air atas kedua sikunya’, dikeluarkan oleh Ad Daruquthni dengan sanad dhaif, dan dikeluarkan dengan sanad hasan pada sifat wudhu Utsman, bahwa ia mencuci kedua tangannya hingga kedua siku hingga ia mengusap ujung-ujung kedua lengan, dan menurut Al Bazzar dan At Thabrani dari hadits Wa’il bin Hujr pada sifat wudhu (وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ حَتَّى جَاوَزَ الْمَرَافِقَ) ‘dan beliau mencuci kedua siku hingga melewati siku’. Dan dalam Ath-Thahawi dan At Thabrani dari hadits Tsa’labah bin Ubbad dari ayahnya (ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ حَتَّى سَالَ الْمَاءُ عَلَى مِرْفَقَيْهِ) ‘Kemudian ia mencuci kedua sikunya hingga mengalir di atas kedua sikunya’. Hadits-hadits ini saling menguatkan satu sama lainnya. Ishaq bin Rahawaih berkata, Illa dalam ayat di atas mengandung makna al ghayah (hingga ujung) dan mengandung makna ma’a (bersama), maka sunnah (hadits) menjelaskan bahwa dengan makna ma’a. Asy-Syafi’i berkata: ‘saya tidak mengetahui adanya perbedaan mengenai masuknya kedua siku pada saat wudhu, dengan ini maka Anda telah mengetahui bahwa dalil telah menegaskan masuknya siku’. Az Zamakshari berkata, “lafazh Illa secara mutlak mengandung makna al ghayah, adapun masuknya kedua siku dalam hukum yang wajib dibasuh atau tidak harus berdasarkan dalil, kemudian ia menyebutkan beberapa contoh hal tersebut. Dan Anda telah mengetahui di sini telah tegak dalil atas masuknya siku termasuk bagian yang dibasuh.” tiga kali, kemudian yang kiri seperti itu, (maksudnya hingga siku tiga kali) kemudian ia mengusap kepalanya, (hal ini sama dengan ayat dalam menggunakan huruf ‘ba’ sedang ‘masaha’ (mengusap) membutuhkan objek baik dengan bersamanya maupun secara sendirian. Al Qurthubi berkata, ‘Huruf ‘ba’ di sini litta’diyah, boleh dihapus dan boleh disebutkan.’ Ada yang mengatakan bahwa ba di sini untuk memberikan faedah makna yang dikandungnya. Bahwa ghusl (mencuci) secara bahasa menunjukkan yang dicuci dan mashu (mengusap) secara bahasa tidak menunjukkan yang diusap. Maka jika seseorang berkata امْسَحُوا رُءُوسَكُمْ usaplah kepalamu, niscaya sudah cukup mengusapnya dengan tangan tanpa air. Seolah-olah ia mengatakan, فَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ الْمَاءَ usaplah kepala kamu dengan air. Ini termasuk al qalb (jumlah yang dibalik), asalnya adalah فَامْسَحُوا بِالْمَاءِ رُءُوسَكُمْ (usaplah dengan air kepalamu)

Tafsir Hadits

Para ulama berbeda pendapat, apakah wajib mengusap seluruh kepala ataukah sebagiannya? Mereka berkata, ‘Ayat di atas tidak menunjukkan kedua hal tersebut secara khusus, sebelum firman-Nya: ‘dan sapulah kepalamu’ mencakup seluruh kepala atau sebagiannya. Ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa harus seluruhnya dan juga tidak sebagiannya.

Akan tetapi yang berpendapat bahwa sah mengusap sebagiannya ia berkata, “Sesungguhnya As Sunnah telah menjelaskan salah satu dari dua kemungkinan dari kandungan ayat di atas, yaitu yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dari hadits Atha’

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَوَضَّأَ فَحَسَرَ الْعِمَامَةَ عَنْ رَأْسِهِ وَمَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِهِ»

‘Bahwa Rasulullah SAW berwudhu, lalu membuka sorban dari kepalanya dan mengusap bagian depan kepalanya.’

[Musnad Asy-Syafi’i no 7]

Hadits ini meskipun mursal, tetapi menjadi kuat dengan disebutkannya secara marfu dari hadits Anas.

[Dhaif: Dhaif Abu Daud 147]

Hadits ini meskipun pada sanadnya ada perawi yang tidak dikenal identitasnya, tetapi keduanya diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dari hadits Utsman mengenai sifat wudhu,

«أَنَّهُ مَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِهِ»

‘Bahwa ia mengusap bagian depan kepalanya.’

Padanya terdapat perawi yang diperdebatkan.

Telah ditegaskan dari hadits Ibnu Umar [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 1/22] bahwa cukup dengan mengusap sebagian kepala. Dikatakan oleh Ibnu Al Mundzir dan yang lainnya, “Dan tidak diingkari oleh seorang pun dari shahabat.”

Di antara ulama ada yang mengatakan, “Jika hanya mengusap sebagian, maka harus disempurnakan dengan mengusap di atas surban, berdasarkan hadits Mughirah –akan datang – dan hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Muslim.

Dalam riwayat ini tidak disebutkan mengusap dengan berulang sebagaimana disebutkan pada yang lainnya, meskipun juga tidak disebutkan secara berulang pada berkumur-kumur sebagaimana yang telah Anda ketahui, dan tidak disebutkannya berarti tidak terdapat dalil padanya. Dan akan disebutkan komentar mengenai hal tersebut.

Lafazh ‘Kemudian ia mencuci kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali’ dikomentari sebagaimana halnya pada lafazh ‘mencuci tangannya hingga siku’. Akan tetapi batasan mengenai siku telah disepakati, berbeda dengan kedua mata kaki yang masih diperdebatkan. Adapun pendapat yang masyhur adalah tulang yang tumbuh pada pertemuan betis, ini adalah pendapat mayoritas ulama. Diceritakan dari Abu Hanifah dan Al Imamiyah bahwa tulang yang terdapat pada punggung kaki tempat tali sendal. Dalam masalah ini terdapat diskusi dan pembicaraan panjang.

Dalam Asy Syarh ia berkata, “Dalil yang paling jelas maksdunya menurut pendapat jumhur, adalah hadits An Nu’man bin Basyir mengenai sifat shaf dalam shalat:

«فَرَأَيْت الرَّجُلَ مِنَّا يَلْزَقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ»

“Maka aku melihat seorang di antara kami melekatkan tumitnya pada tumit yang lain.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 662]

Saya katakan, “Tidak asing bahwa tidak ada hujjah padanya, karena yang menyelisihinya berkata, ‘saya menamainya tumit dan tidak menyelisihi kalian padanya.’ Akan tetapi saya katakan, ‘Bukan itu yang dimaksudkan pada ayat wudhu, karena ka’b adalah nama bagi organ tubuh yang menonjol yang terdapat pada punggung kaki. Yang dimaksudkan pada hadits Nu’man, bahwa ia menamakan ka’b yang menonjol, sementara tidak ada perbedaan atas penamaannya, dan kami telah menerangkannya pada catatan kaki dalam kitab Dhau’ An Nahr tentang rajihnya mazhab jumhur, dan kami telah menyebutkan dalil-dalilnya di sana.

Lafazh hadits : ‘kemudian yang kiri demikian pula (yaitu sampai mata kaki tiga kali) kemudian ia berkata (yaitu Utsman) Aku melihat Rasulullah SAW berwudhu seperti wudhuku ini.’

Lanjutan hadits tersebut: “Maka ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ: لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

‘Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat, dengan jiwa yang tenang dan khusyu’ pada kedua rakaat tersebut, maka diampuni dosa yang telah ia lakukan.’

Yaitu tidak terlintas dalam jiwanya urusan dunia dan segala yang tidak ada kaitannya dengan shalat. Jika godaan itu datang, namun ia melawannya, maka dimaafkan dan tidak dianggap tergoda jiwanya.

Perlu diketahui bahwa hadits di atas menunjukkan bahwa anggota-anggota wudhu yang di-athaf-kan dengan kata tsumma dilakukan secara berurutan sebanyak tiga kali tetapi tidak berarti wajib, karena hanya sifat perbuatan yang mendapatkan keutamaan dan tidak berarti shalatnya tidak sah, kecuali jika dengan sifatnya, dan tidak dengan lafazh yang menunjukkan wajibnya sifat tersebut.

Mengerjakannya secara berurutan dibantah oleh Al Hanafiyah, mereka berkata ‘tidak wajib’. Melakukannya dengan tiga kali tidak wajib menurut ijma, tetapi terdapat perbedaan yang syadz.

Dali yang menyatakan tidak wajibnya adalah hadits-hadits menyebutkan dengan jelas bahwa beliau SAW berwudhu dua kali-dua kali, satu kali-satu kali, sebagian anggota wudhu tiga kali dan yang lainnya tidak, dan disebutkan dengan jelas dalam wudhu beliau yang dlky dengan satu kali bahwa Allah tidak menerima shalat tanpa dengannya.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai wajibnya berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Ada yang berpendapat keduanya wajib, berdasarkan perintah keduanya dalam hadits Abu Daud dengan sanad shahih dan di dalamnya beliau SAW bersabda:

«وَبَالِغَ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا»

“Dan bersungguh-sungguhlah ketika memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika sedang berpuasa.”

[Shahih: Shahih Al Jami’ 927]

Dan bahwa beliau SAW selalu melakukannya dalam semua wudhunya. Yang lain berpendapat bahwa kumur-kumur hukumnya sunnah, berdasarkan hadits Abu Daud dan Ad Daruquthni, di dalamnya disebutkan:

«أَنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى، فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحُ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إلَى الْكَعْبَيْنِ»

“bahwa tidak sempurna shalat salah seorang kamu hingga ia menyempurnakan wudhu sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT, maka hendaklah ia mencuci wajah dan kedua tangannya sampai siku, dan mengusap kepala dan mencuci kedua kaki hingga mata kaki.’

[shahih: Shahih Al Jami’ 2420]

Beliau tidak menyebutkan berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Beliau hanya menyebutkan perkara wajib yang shalat tidak diterima tanpa dengannya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perintah tersebut menunjukkan sunnah.

0031

31 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي «صِفَةِ وُضُوءِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً» . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد. وَأَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ. بَلْ قَالَ التِّرْمِذِيُّ: إنَّهُ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي الْبَابِ.

31. Dari Ali RA mengenai sifat wudhu Nabi SAW ia berkata, “Dan beliau mengusap kepalanya satu kali.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i dan At Tirmidzi dengan sanad yang shahih, bahkan At Tirmidzi berkata, ‘sesungguhnya hadits tersebut paling shahih dalam bab ini)

[Shahih: Shahih At Tirmidzi 48]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ali RA adalah Amirul Mukminin, Abu Al Hasan Ali bin Abu Thalib, putra paman Rasulullah SAW. orang yang pertama masuk Islam dari kalangan laki-laki menurut kebanyakan pendapat, meskipun umurnya ketika itu diperselisihkan. Tidak disebutkan dalam berbagai pendapat tersebut bahwa sudah sampai 18 tahun, tetapi antara 16 dan 17 tahun. Ia mengikuti semua peperangan terkecuali Perang Tabuk. Ketika itu dia disuruh tinggal oleh Rasulullah SAW di Madinah untuk menggantikan beliau. Beliau SAW bersabda kepadanya:

«أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى»

“Tidakkah engkau suka berperan bagiku sebagaimana peran Harun terhadap Musa.”

[Shahih: Al Bukhari 3706, Muslim 2402]

Ia diangkat menjadi Khalifah sejak terbunuhnya Utsman pada hari Jum’at 18 Dzul Hijjah tahun 35 H dan mati syahid pada subuh hari Jum’at di Kufah 17 Ramadhan tahun 40 H. Ia wafat setelah terkena tiga kali pukulan Ibnu Muljam –semoga Allah SWT melaknatnya- dan ada pendapat lain tentang ini. masa khalifahnya selalu 4 tahun 7 bulan lebih beberapa hari. Mengenai sifat-sifat dan keterangan berkaitan dengan kondisinya telah dikarang berbagai buku. Kami telah menyebutkan intinya dalam Ar Raudah An Nadiyah Syarh At Tuhfah Al Uluwiyah.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah potongan dari hadits yang panjang, di dalamnya diterangkan sifat wudhu dari awal hingga akhirnya, hadits tersebut menunjukkan yang telah disebutkan hadits Utsman, hanya saja penulis rahimahullah menyebutkannya karena di dalamnya disebutkan dengan jelas apa yang tidak dijelaskan oleh hadits Utsman yaitu mengusap kepala satu kali, sedang di sini disebutkan satu kali, meskipun disebutkan dengan jelas mengerjakan tiga kali bagi anggota wudhu lainnya.

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat:

Kelompok pertama berkata, “Mengusap kepala tiga kali, sebagaimana anggota wudhu lainnya, karena ia termasuk bagian darinya”, dan telah ditegaskan dalam hadits bahwa mengusap tiga kali. Karena telah dikeluarkan oleh Abu Daud dari hadits Utsman mengenai mengusap tiga kali, diriwayatkan dari dua jalur dan salah satunya dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, hadits tersebut cukup menunjukkan keabsahan sunnah ini.”

Kelompok kedua mengatakan, “Tidak disunnahkan tiga kali”, karena semua hadits Utsman yang shahih –sebagaimana dikatakan Abu Daud menunjukkan bahwa mengusap kepala hanya satu kali, dan bahwa mengusap itu pada dasarnya adalah keringanan, maka tidak boleh mengqiyaskannya dengan membasuh, dan bahwa jumlah itu seandainya juga berlaku bagi mengusap maka akan sama dengan mencuci.

Dapat dijawab bahwa ungkapan Abu Daud bertentangan dengan hadits yang diriwayatkannya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah sebagaimana telah kami sebutkan, dan alasan bahwa mengusap pada dasarnya adalah keringanan merupakan qiyas yang bertentangan dengan nash, maka tidak dapat diterima. Perkataan bahwa ia menjadi sama dengan mencuci, tidak dipedulikan setelah ditetapkannya dengan syariat. Kemudian, riwayat bahwa hal tersebut ditinggalkan tidak bertentangan dengan riwayat fi’l (perbuatan) meskipun riwayat meninggalkannya lebih banyak, karena pembicaraannya tidak wajib tetapi sunnah, terkadang boleh dikerjakan dan terkadang boleh ditinggalkan.

Dan dikeluarkan hadits Ali RA, oleh An Nasa’i dan At Tirmidzi dengan sanad shahih. Bahkan At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut paling shahih dalam bab ini. dan dikeluarkan oleh Abu Daud dari enam jalan, dan pada sebagian jalannya tidak disebutkan berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), dan pada yang lainnya,

«وَمَسَحَ رَأْسَهُ حَتَّى لَمْ يَقْطُرْ»

“Beliau mengusap kepalanya hingga tidak menetes.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 114, dan perhatikan 111, 112, 113]

0032

32 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – فِي صِفَةِ الْوُضُوءِ قَالَ: «وَمَسَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِهِ، فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

– وَفِي لَفْظٍ لَهُمَا: «بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ»

32. Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim Ra tentang sifat wudhu ia berkata, “Dan Rasulullah SAW mengusap kepalanya dari depan sampai belakang.” (Muttafaq alaih)

[shahih: Al Bukhari 185-186, Muslim 235]

Dan dalam satu lafazh bagi keduanya: “Beliau memulai dari bagian depan kepalanya (dan menariknya) hingga ke tengkuknya, kemudian mengembalikan keduanya ke tempat ia memulai darinya.”

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Zaid bin Ashim adalah kaum Anshar Al Mazani, dari Bani Mazin bin an Najjar. Ikut serta dalam perang Uhud. Dialah yang membunuh Musailamah Al Kadzdzab dan dibantu oleh Wahsyi. Ia terbunuh pada tahun 63 H, bukan Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih yang akan disebutkan haditsnya pada bab adzan. Sebagian ulama hadits keliru padanya, oleh karenanya kami tegaskan di sini.

Tafsir Hadits

Hadits di atas menerangkan tata cara mengusap kepala, yaitu mengambil air dengan kedua tangan lalu mengusap dari depan ke belakang. Dalam hal ini para ulama berbeda dalam tiga pendapat:

pertama; Memulainya dengan bagian depan kepala (tempat tumbuhnya rambut kepala yang paling depan) lalu menariknya hingga bagian belakang, kemudian mengembalikan keduanya ke tempat ia memulai darinya, yaitu permulaan tempat tumbuhnya rambut pada perbatasan wajah, ini yang dipahami dari zhair perkataannya, “Beliau memulai dari bagian depan kepalanya (dan menariknya) hingga ke tengkuknya, kemudian mengembalikan keduanya ke tempat ia memulai darinya.” Tetapi ia menyebutkan sifat ini bahwa ia memulai dari belakang ke depan, karena menariknya ke bagian belakang disebut dengan idbaar, dan kembalinya ke depan disebut iqbaal.

Dapat dijawab bahwa huruf waw tidak menunjukkan harus berurutan, maka dapat diperkirakan ke belakang dan ke depan.

kedua: memulai dengan bagian belakang dan menariknya ke depan, kemudian dikembalikan ke belakang untuk menjaga zhahir lafazh, ‘Ke depan dan ke belakang’, sebab kata iqbaal adalah ke wajah dan idbaar ke bagian belakang. Cara ini telah disebutkan dalam hadits shahih, ‘Ia memulai dengan bagian belakang kepalanya.’ Perbedaan dalam lafazh hadits-hadits tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan pada tata caranya.

Ketiga; Memulai dari jambul (ubun-ubun), kemudian ke arah wajah, lalu menariknya ke bagian belakang kepala, kemudian dikembalikan ke tempat memulai mengusap yaitu jambul. Sepertinya yang berpendapat seperti bermaksud menjaga lafazh hadits, “Beliau memulainya dari bagian belakang”, juga menjaga zhahir lafazh: “Memulai dari depan lalu ke belakang”, karena jika memulainya dengan ubun-ubun maka itu benar bahwa ia juga memulainya dari bagian depan, juga benar bahwa ia memulai dari depan, karena ia menariknya ke arah wajah yaitu bagian depan.

Abu Daud telah meriwayatkan dari Al Miqdam:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا بَلَغَ مَسْحَ رَأْسِهِ وَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى مُقَدَّمِ رَأْسِهِ فَأَمَرَّهُمَا حَتَّى بَلَغَ الْقَفَا ثُمَّ رَدَّهُمَا إلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ»

“Bahwa Nabi SAW ketika sampai pada mengusap kepala, beliau meletakkan tangannya pada bagian depan kepalanya, lalu menjalankan keduanya hingga ke bagian belakang, kemudian mengembalikannya ke tempat ia memulai darinya.”

[Shahih: shahih Abu Daud 122]

Hadits ini sangat jelas maksudnya, zhahirnya bahwa pelaksanaannya diberikan pilihan padanya, dan bahwa tujuan dari hal tersebut adalah mengusap kepala secara keseluruhan.

0033

33 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – فِي صِفَةِ الْوُضُوءِ – قَالَ: «ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، وَأَدْخَلَ إصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِي أُذُنَيْهِ، وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ ظَاهِرَ أُذُنَيْهِ» . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

33. Dari Abdullah bin Amr RA tentang sifat wudhu ia berkata, “Kemudian beliau mengusap kepalanya, dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua telinganya, dan mengusap kedua ibu jarinya pada bagian luar kedua telinganya.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Hasan Shahih: shahih Abu Daud 135]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Amr adalah Abu Abdurrahman atau Abu Muhammad, Abdullah bin Amr bin al Ash bin Wa’il As Shami Al Qurasyi. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Ka’b bin Lu’ai. Ia masuk Islam sebelum ayahnya, dan ayahnya lebih tua 13 tahun darinya. Abdullah adalah seorang Hafizh, alim dan abid (ahli ibadah). Ia wafat pada tahun 63 H, ada yang mengatakan tahun 73 H, dan ada pula yang mengatakan selain itu. Tempat wafatnya diperselisihkan, ada yang berpendapat di Makkah, Tha’if atau Mesir.

Penjelasan Kalimat

“Kemudian beliau (yakni Rasulullah SAW) mengusap kepalanya, dan memasukkan kedua jari telunjuknya (yang dimaksud adalah kedua jari telunjuk kiri dan kanan, dinamai sabbahah karena keduanya diisyaratkan ketika bertasbih) ke dalam kedua telinganya, dan mengusap kedua ibu jarinya pada bagian luar kedua telinganya.

Tafsir Hadits

Hadits di atas sama dengan hadits-hadits yang pertama tentang sifat wudhu. Penulis menyebutkannya untuk menjelaskan tentang tata cara mengusap kedua telinga yang belum dijelaskan hadits-hadits sebelumnya. Oleh karenanya, penulis hanya menyebutkan bagian dari hadits ini.

Mengenai mengusap kedua telinga, telah diriwayatkan dalam beberapa hadits, di antaranya adalah hadits Al Miqdam bin Madikarib yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ath Thahawi dengan sanad hasan, hadits Ar Rubayyi’ yang juga diriwayatkan oleh Abu Daud, hadits Anas diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan Al Hakim, dan hadits Abdullah bin Zaid, di dalamnya disebutkan:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَسَحَ أُذُنَيْهِ بِمَاءٍ غَيْرِ الْمَاءِ الَّذِي مَسَحَ بِهِ رَأْسَهُ»

“Bahwa Nabi SAW mengusap kedua telinganya dengan air selain yang digunakan untuk kepalanya.”

Mengenai hadits ini Al Baihaqi berkata, “ini adalah isnad shahih”, meskipun dikomentari oleh Ibnu Daqiq Al Id dan berkata, “yang terdapat dalam hadits itu, ‘Dan beliau mengusap kepalanya dengan air bukan sisa dari kedua tangannya.’ Dan ia tidak menyebutkan kedua telinga, dan diperkuat oleh penulis bahwa juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan At Tirmidzi yang demikian itu.

Para ulama berbeda pendapat, apakah mengambil air baru untuk telinga, ataukah keduanya diusap dengan sisa air mengusap kepala? Hadits-hadits telah menyebutkan kedua pendapat tersebut, dan sebentar lagi akan dikomentari.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *