[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 109

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 05

0377

377 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمْ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

377. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Jika salah seorang di antara kalian mengimami manusia, maka hendaklah ia meringankan, karena di antara makmum itu ada anak kecil, orang tua, orang yang lemah dan orang yang berhajat, dan jika ia shalat sendirian maka shalatlah sebagaimana shalat yang ia sukai.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 703 dan Muslim 467, tanpa menyebutkan orang yang berhajat]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

‘Jika salah seorang di antara kalian mengimami manusia, maka hendaklah ia meringankan, karena di antara makmum itu ada anak kecil, orang tua, orang yang lemah dan orang yang berhajat (mereka-mereka ini menginginkan shalat yang ringan, maka hendaklah imam memperhatikan mereka) dan jika ia shalat sendirian maka shalatlah sebagaimana shalat yang ia sukai.” (yakni, apakah ia memendekkannya atau memanjangkannya).”

Tafsif Hadits

Hadits ini menunjukkan dibolehkannya orang yang shalat sendiri memanjangkan shalat di setiap rukunnya, walaupun ia khawatir akan keluar dari waktunya. Pendapat ini didukung oleh sebagian Asy-Syafiiyah, tetapi ini bertentangan dengan hadits Abu Qatadah,

«إنَّمَا التَّفْرِيطُ أَنْ تُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ حَتَّى يَدْخُلَ وَقْتُ الْأُخْرَى»

“Sesungguhnya termasuk sikap yang berlebihan adalah mengakhirkan shalat sampai masuk waktu shalat yang lain.” (HR. Muslim)

Jika terjadi pertentangan antara kemaslahatan untuk menyempurnakan shalat dengan memanjangkannya, dan timbulnya kerusakan dengan jatuhnya shalat di luar waktunya maka menjaga untuk meninggalkan kerusakan adalah lebih utama. Dapat juga dipahami, sesungguhnya yang diinginkan dengan mengakhirkan sampai keluarnya waktu, adalah bagi orang yang tidak melaksanakan shalat sama sekali sampai keluar waktunya. Adapun orang yang keluar waktunya sedangkan ia dalam shalatnya, maka hal tersebut tidak tepat baginya.

 0378

378 – وَعَنْ «عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَقًّا. فَقَالَ: إذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ مِنِّي قُرْآنًا، فَقَدَّمُونِي، وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ

378. Dari Amr bin Salimah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Bapakku berkata, “Aku datangkan kepada kalian dari sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sebuah kebenaran, ia berkata, “Jika telah masuk waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan bertindak sebagai imam salah seorang dari kalian yang paling banyak -hafalan- Al-Qur’annya. Ia berkata, “Maka mereka melihat —ke arah jamaah-, dan tidak ada yang banyak -hafalan- Al-Qur’annya melebihi diriku, akhirnya mereka mempersilahkanku untuk maju, sedangkan aku pada saat itu berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud dan An-Nasai)

[Shahih: Al Bukhari 4302, Abu Daud 585, An Nasa’i 636]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Amru bin Salimah dikenal dengan nama Abu Yazid sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Bukhari dan lain-lainnya. Muslim dan lainnya mengatakan bahwa namanya adalah Buraidun. Beliau adalah Amr bin Salimah Al-Jurmy. Ibnu Abdul Bar mengatakan, “Amr bin Salimah menjumpai zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau menjadi imam bagi kaumnya pada zaman Nabi, karena beliau orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Dikatakan, “Sesungguhnya ia pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama bapaknya dan tidak berbeda dengan kedatangan bapaknya juga. Ia tinggal di Basrah. Abu Qilabah, Amir Al-Ahwal dan Abu Az-Zubair Al-Makki meriwayatkan darinya.

Penjelasan Kalimat

“Ia berkata, “Bapakku berkata (yaitu Salimah bin Nufai’ dengan adanya perbedaan tentang namanya) ‘Aku datangkan kepada kalian dari sisi Rasulullah sebuah kebenaran.” Ia berkata, “Jika telah masuk waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan bertindak sebagai imam salah seorang dari kalian yang paling banyak -hafalan- Al-Qur’annya. Ia berkata, (yaitu Amr bin Salimah) “Maka mereka melihat —ke arah jamaah-, dan tidak ada yang banyak -hafalan- Al-Qur’annya melebihi diriku, (telah dijelaskan sebab banyak hafalan Al-Qur’annya, karena ia selalu menjumpai para pedagang yang menjadi duta Rasulullah yang selalu melewati Amr dan keluarganya, maka ia bertalaqqi kepada salah seorang di antara mereka apa yang mereka baca dari Al-Qur’an. Hal itu terjadi sebelum bapak dan kaumnya masuk Islam) akhirnya mereka mempersilahkanku untuk maju, sedangkan aku pada saat itu berusia enam atau tujuh tahun.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang paling berhak untuk menjadi imam adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Hadits tentang masalah ini akan dibahas pada bab mendatang.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa imam lebih utama daripada orang yang adzan, karena orang yang adzan tidak disyaratkan baginya syarat-syarat tertentu.

Dipersilahkannya Ami bin Salamah untuk menjadi imam sedangkan ia adalah seorang anak yang berumur enam atau tujuh tahun -sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, Asy-Syafii, dan Ishak-menunjukkan bahwa tidak dimakruhkan menjadikan anak kecil sebagai imam. Malik dan Ats-Tsauri memakruhkannya. Dari Ahmad dan Abu Hanifah ada dua riwayat, yang masyhur adalah bahwa diperbolehkan bagi anak kecil untuk menjadi imam pada shalat sunnah, tidak pada shalat wajib. Al-Hadi dan An-Nasir juga yang lainnya mengatakan bahwa tidak sah anak kecil menjadi imam, dalam hal ini anak kecil diqiyaskan dengan orang gila. Mereka mengatakan, “Kisah Amr tidak dapat dijadikan hujjah karena ia meriwayatkan ini tidak atas perintah Rasulullah atau penetapan dari beliau.”

Hal ini dijawab, “Sesungguhnya dalil pembolehan ini terjadi pada masa turunnya wahyu sehingga tidak mungkin menetapkan sesuatu yang tidak boleh apalagi dalam shalat yang merupakan rukun Islam yang paling agung. Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diingatkan dengan wahyu atas kotoran yang berada di bawah sandalnya.”

Jikalau imam anak kecil tidak sah, maka akan turun wahyu menjelaskan hal tersebut. Abu Said dan Jabir berdalil bahwa mereka (shahabat) melakukan azl (mengeluarkan sperma di luar farj saat melakukan hubungan badan dengan istri) sedangkan Al-Qur’an turun. Duta-duta yang datang kepada Amr mereka adalah sekelompok shahabat. Ibnu Hazm berkata, “Tidak diketahui dari mereka ada yang menentang hal tersebut.”

Adapun bahwa Amr mengimami mereka dalam shalat sunnah merupakan kesimpulan yang sangat jauh dari susunan cerita. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada mereka waktu-waktu shalat fardhu dan beliau bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya menjadi imam atas mereka orang yang paling banyak -hafalan- Al-Qur’annya di antara mereka.” (HR. Abu Dawud)

Di dalam Sunannya, Amr berkata, “Tidaklah aku turut serta dalam pertempuran kecuali aku menjadi imam mereka. Dan ini berarti mencakup shalat fardhu dan shalat sunnah.”

Aku berkata, “Orang yang mengaku adanya perbedaan shalat fardhu dan shalat sunnah membutuhkan adanya dalil. Dan sahnya anak kecil mengimami shalat juga membutuhkan dalil. Kemudian hadits ini menjadi dalil bagi orang yang mengatakan sahnya orang yang melakukan shalat fardhu di belakang orang yang melakukan shalat sunnah. Demikian yang disebutkan di dalam Asy-Syarh sebagai bahan renungan.

0379

379 – وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ – تَعَالَى – فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا – وَفِي رِوَايَةٍ: سِنًّا – وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إلَّا بِإِذْنِهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

379. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Sesungguhnnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Yang menjadi imam suatu kaum adalah orangyang paling baik bacaannya terhadap kitabullah. Jika dalam bacaan mereka sama maka orang yang paling mengetahui tentang As-Sunnah. Jika mereka sama dalam masalah As-Sunnah, maka orang yang paling dahulu hijrahnya. Jika mereka sama dalam hijrahnya, maka yang paling dahulu masuk Islamnya, -dalam riwayat lain yang paling tua umurnya-. Janganlah seseorang mengimami orang lain yang berada dalam kekuasaannya, dan janganlah seseorang duduk di rumah orang lain di atas permadaninya kecuali dengan izinnya.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 673]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Yang menjadi imam suatu kaum adalah orang yangpaling baik bacaannya terhadap kitabullah (secara zhahir yang dimaksud adalah orang yang paling banyak hafalannya, ada juga yang mengatakan orang yang paling mengetahui tentang hukum-hukumnya. Hadits yang pertama tadi sesuai dengan pendapat yang pertama) jika dalam bacaan mereka sama maka orang yang paling mengetahui tentang As-Sunnah, dan jika mereka sama dalam masalah As-Sunnah, maka orang yang paling dahulu hijrahnya, dan jika mereka sama dalam hijrahnya, maka yang paling dahulu masuk Islamnya (masuk Islam) dalam riwayat lain yang paling tua umurnya (sebagai ganti dari Islam) Janganlah seseorang mengimami orang lain yang berada dalam kekuasaannya, dan janganlah seseorang duduk di rumah orang lain di atas permadaninya.” (takarrumat yaitu permadani atau serupanya sesuatu yang dihamparkan untuk pemilik rumah dan dikhususkan baginya) kecuali dengan izinnya.”

Tafsit Hadits

Hadits ini merupakan dalil untuk mendahulukan ahli qiraah atas orang yang faqih. Ini adalah mazhabnya Abu Hanifah dan Ahmad. Al-Hadawiyah berpendapat sesungguhnya orang yang faqih didahulukan daripada ahli qiraah karena yang dibutuhkan dari membaca adalah memahami. Sedangkan orang yang faqih tidak lagi diragukan pemahamannya. Sebab terkadang terjadi dalam shalat perkara-perkara yang tidak mampu diketahui, kecuali oleh orang yang sempurna fikihnya. Mereka berkata, “Karena inilah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendahulukan Abu Bakar sebagai imam atas yang lainnya, padahal beliau pernah bersabda, “Orang yang paling baik qiraahnya di antara kalian adalah Ubay.” Mereka berkata, “Hadits ini keluar pada masa shahabat karena orang yang paling banyak bacaannya mereka pasti faqih.”

Ibnu Mas’ud telah berkata, “Kami tidak pernah melampaui sepuluh ayat sampai kami mengetahui hukum, perintah dan larangannya.” Tidak diragukan bahwa pendapat ini sangat jauh dengan sabda Rasulullah, “Jika mereka sama dalam qiraah maka orang yang paling mengetahui tentang As-Sunnah.” Jelas ini menjadi dalil didahulukannya orang yang pandai bacaannya secara mutlak. Al-Aqra’ jika ditafsirkan sebagai orang yang paling mengetahui tentang As-Sunnah, maka dua bagian ini akan menjadi bagian yang sama.

Sabda beliau, “Mereka yang paling dahulu hijrahnya.” Ini mencakup semua orang yang paling dahulu hijrahnya, baik di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atau sesudahnya, seperti orang yang berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Adapun hadits, “Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah”yang dimaksud adalah dari Makkah ke Madinah karena keduanya telah menjadi negeri Islam. Mungkin dapat dikatakan, anak-anak orang yang hijrah, mereka dihukumi dengan hukum bapak-bapak mereka dalam masalah prioritas menjadi imam.

Sabda beliau, “silman (Islam)” yakni orang yang masuk Islam lebih dahulu. Mereka didahulukan atas orang yang masuk Islam setelahnya. Demikian pula riwayat “sinnan (yang paling tua).

Telah datang dalam hadits Malik bin Al-Huwairits,

«وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ»

“Hendaklah yang menjadi imam di antara kalian orang yang paling tua di antara kalian.” [Shahih: Al Bukhari 628]

Di antara orang-orang yang berhak didahulukan adalah suku Quraisy berdasarkan hadits,

«قَدِّمُوا قُرَيْشًا»

“Dahulukanlah suku Quraisy.”[Shahih: Shahih Al Jami’ 2966]

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar, “Sesungguhnya telah terkumpul jalur-jalur hadits ini di dalam juz besar.” Di antara orang yang didahulukan juga orang yang paling baik wajahnya berdasarkan hadits tentang ini, akan tetapi dalam riwayat ini ada perawi yang dhaif.

Adapun sabda beliau, “Janganlah seseorang mengimami orang lain yang berada dalam kekuasaannya.” Ini merupakan larangan mendahulukan orang yang tidak memiliki kekuasaan —untuk menjadi imam- . Yang dimaksud adalah orang yang mempunyai wilayah, apakah ia seorang sultan yang agung atau penggantinya. Secara zhahir dapat dipahami, walaupun orang lain itu lebih banyak -hafalan- Al-Qur’annya dan lebih faqih. Hal ini bersifat khusus, sedangkan pada bagian awal hadits bersifat umum.

Disamakannya pemilik rumah dengan sultan karena ada hadits yang secara khusus menerangkan tentang hal ini, bahwa pemilik rumah lebih berhak. Ath-Thabrani telah mengeluarkan hadits dari Ibnu Mas’ud, “Aku telah mengetahui, bahwa sesuai dengan As-Sunnah adalah mendahulukan pemilik rumah.” Ibnu Hajar mengatakan, “Para perawi hadits ini orang-orang yang tsiqah.”

Adapun imam masjid, jika ia berada di dalam kekuasaan seorang sultan atau para staf dan pekerjanya, maka ia masuk dalam hukum sultan. Jika ada kesepakatan dari penduduk masjid, maka ada kemungkinan ia menjadi lebih berhak. Ini adalah kekuasaan khususnya. Demikian juga larangan untuk duduk di atas sesuatu yang dikhususkan untuk sultan di rumahnya atau dikhususkan untuk seseorang di permadani, tempat tidur dan yang serupa, tidak boleh seseorang duduk di atasnya kecuali dengan izin pemiliknya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *