[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 108

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 04

0373

373 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّرًا. فَقَالَ: تَقَدَّمُوا فَأَتَمُّوا بِي، وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

373. Dari Abi Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat shahabat-shahabatnya terlambat. Maka beliau berkata kepada mereka, “Majulah, bermakmumlah denganku, dan bermakmumlah dengan kalian orang yang berada setelah kalian.” (HR. Muslim)

[Muslim (438)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat shahabat-sbababatnya terlambat. Maka beliau berkata kepada mereka, “Majulah, bermakmumlah denganku, dan bermakmumlah dengan kalian orang yang berada setelah kalian.”

Seakan-akan mereka terlambat untuk mendekat dan berada di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ucapan beliau, “bermakmumlah denganku” maksudnya ikutilah gerakan-gerakanku, dan supaya orang-orang berada di belakang kalian mengikuti gerakan-gerakan kalian berdasarkan gerakan-gerakan kalian yang mengikuti gerakanku.

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil bolehnya mengikuti orang yang berada di belakang imam dari orang yang tidak melihat dan mendengarnya. Seperti orang yang berada di shaf kedua mengikuti orang yang berada di shaf pertama. Begitu juga yang berada pada shaf ketiga mengikuti kepada yang berada di shaf yang kedua. Begitu seterusnya sampai orang yang terakhir dari imam.

Dalam hadits juga ada motivasi untuk menempati shaf yang pertama, dan tidak disukainya shaf yang jauh. Kelengkapan hadits ini berbunyi,

«لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ»

“Suatu kaum yang terus menerus berada di akhir -shaf- maka Allah akan menempatkan mereka di akhir.”

0374

374 – وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «احْتَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حُجْرَةً مُخَصَّفَةً. فَصَلَّى فِيهَا، فَتَتَبَّعَ إلَيْهِ رِجَالٌ، وَجَاءُوا يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ – الْحَدِيثَ، وَفِيهِ أَفْضَلُ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إلَّا الْمَكْتُوبَةَ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

374. Dan Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘”Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat sebuah kamar yang dianyam, kemudian beliau shalat di dalamnya, maka ada orang-orang yang memperhatikan shalatnya dan mereka datang untuk shalat bersama beliau.” (Al-Hadits), di dalamnya disebutkan, “Shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 731 dan Muslim 781]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ungkapan ‘ihtajara berarti penghalang, yaitu membuat sesuatu seperti ruangan yang terbuat dari tambalan seperti tikar. Dan dalam riwayat yang lain dengan huruf za- ‘ihtajaza yaitu membuat pembatas antara beliau dengan yang lainnya, sebagai penghalang. Telah lalu penjelasannya dalam penjelasan hadits Jabir dalam bab shalat sunnah.

Tafsif Hadits

Dalam hadits ini ada dalil bolehnya membuat pembatas di masjid -sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas-, jika tidak membuat sempit orang-orang yang shalat. Karena beliau membuatnya pada malam hari, dan melepaskannya pada siang hari. Dalam riwayat Muslim disebutkan,

وَلَمْ يَتَّخِذْهُ دَائِمًا

“Dan beliau tidak memakai selamanya.”

Ucapan beliau, “maka ada orang-orang yang memperhatikan” maknanya mencari tempat beliau dan berkumpul di sekelilingnya.

Dalam riwayat Al-Bukhari ( فَثَارَ إلَيْهِ) “mereka mencari beliau” Dan dalam riwayatnya yang lain disebutkan,

«فَصَلَّى فِيهَا لَيَالِيَ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا عَلِمَ بِهِمْ جَعَلَ يَقْعُدُ فَخَرَجَ إلَيْهِمْ فَقَالَ قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إلَّا الْمَكْتُوبَةَ»

“Maka beliau shalat di dalamnya dalam beberapa malam, kemudian orang-orang mengikuti shalat beliau, ketika beliau mengetahui apa yang mereka lakukan, beliau duduk dan keluar menemui mereka dan bersabda, “Aku telah mengetahui apa yang telah aku lihat dari perbuatan kalian, oleh karena itu shalatlah -wahai manusia- di rumah-rumah kalian, sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” Ini lafadh beliau, dan yang ada pada Muslim mendekati ini.

Penulis telah mengeluarkan hadits ini dalam bab Al-Imamah untuk menunjukkan faidah disyariatkannya shalat sunnah berjamaah. Telah dijelaskan maknanya dalam pembahasan shalat sunnah.

0375

375 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «صَلَّى مُعَاذٌ بِأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ يَا مُعَاذُ فَتَّانًا؟ إذَا أَمَمْت النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} [الأعلى: 1] وَ {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ} [العلق: 1] ، {وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى} [الليل: 1] » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

375. Dan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma ia berkata, Muadz shalat Isya mengimami shahabat-shahabatnya, dan ia memperpanjang shalatnya atas mereka. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Apakah engkau mau menjadi seorang yang menimbulkan fitnah? Jika engkau mengimami manusia maka bacalah dengan Asy-Syamsi wa Dhuhaha- (surat Asy-Syams), Sabbihis ma rabbikal A’la (surah Al-A’la), Iqra’ bismirabbika (surah Al-Alaq), dan Wallaili Idza Yagsya (surah Al-Lail).” (Muttafaq Alaih, dan lafadh ini lafadh Muslim)

[Shahih: Al Bukhari 705 dan Muslim 465]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini dalam riwayat Al-Bukhari lafazhnya sebagai berikut,

«أَقْبَلَ رَجُلٌ بِنَاضِحَيْنِ وَقَدْ جَنَحَ اللَّيْلُ فَوَافَقَ مُعَاذًا يُصَلِّي فَتَرَكَ نَاضِحَيْهِ وَأَقْبَلَ إلَى مُعَاذٍ فَقَرَأَ مُعَاذٌ سُورَةَ الْبَقَرَةِ أَوْ النِّسَاءِ فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ بَعْدَ أَنْ قَطَعَ الِاقْتِدَاءَ بِمُعَاذٍ وَأَتَمَّ صَلَاتَهُ مُنْفَرِدًا»

“Seorang lelaki menghadap kedua kebunnya (untuk menyiraminya) sedangkan malam telah larut, kemudian dia menjumpai Muadz sedang shalat, maka dia meninggalkan penyiraman tersebut untuk mengikuti shalat Muadz, sedang Muadz membaca surat Al-Baqarah dan surat An-Nisaa’ kemudian lelaki itu pergi setelah memutuskan untuk tidak mengikuti Muadz dan ia menyempurnakan shalatnya sendirian.”

Tafsir Hadits

Berdasarkan hadits ini, Al-Bukhari membuat bab dengan judul “Jika Imam memanjangkan shalatnya sedangkan seorang makmum mempunyai keperluan, maka dia boleh keluar dan jamaah.” Dan telah sampai kepadanya bahwa Muadz memperoleh perkataan itu darinya. Ada beberapa riwayat yang merinci ucapan Muadz dengan lafazh, maka sampailah hal tersebut kepada Muadz, kemudian ia berkata, “Sesungguhnya orang itu munafik.” Maka orang itu mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengadukan perihal Muadz. Bersabdalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apakah engkau akan menjadi orang yang menimbulkan fitnah ya Muadz?” atau beliau bersabda, “Apakah engkau menjadi tukang fitnah?” Beliau ucapkan sebanyak tiga kali, “Jika engkau shalat, maka bacalah ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’, Wassyamsi Wadhuhaha’ dan Wallaili Idza Yaghsya’. Sesungguhnya yang shalat di belakangmu ada orang-orang yang sudah tua, lemah dan yang memiliki keperluan.” Dan hadits ini dalam riwayat Al-Bukhari memiliki lafazh-lafazh yang berbeda.

Yang dimaksud dengan ‘fattan’ adalah, “Apakah engkau menyiksa shahabat-shahabatmu dengan shalat yang panjang? Dan mengandung -larangan- membuat para makmum benci karena bacaan yang panjang. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca suraf Al-A’raf pada shalat Maghrib dan lain-lainnya. Ukuran lama beliau berdiri pada shalat Zhuhur menyamai enam puluh ayat. Terkadang beliau membaca lebih pendek daripada itu. Walhasil, ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan waktu bagi imam dan makmum.

Hadits ini menjadi dalil sahnya shalat fardhu di belakang orang yang shalat sunnah. Sesungguhnya Muadz shalat Isya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian setelah selesai ia pergi menjumpai shahabat-shahabatnya dan shalat -fardhu- bersama mereka, sedang shalat yang ia lakukan dianggap sunnah, karena ia telah shalat fardhu bersama Rasulullah. Abdurrazaq, Asy-Syafii dan Ath-Thahawi mengeluarkan hadits Jabir dengan sanad yang shahih dengan lafazh, “Dan shalat itu menjadi sunnah baginya.”

Pengarang telah memperpanjang pembicaraan mengenai pengambilan hukum berdasarkan hadits ini dalam Fath Al-Bari. Kami telah menulis berkenaan dengan hadits ini dalam sebuah risalah tersendiri dalam bentuk soal jawab. Dan kami jelaskan di dalamnya bahwa tidak kokohnya hadits yang menjelaskan sahnya shalat orang yang mengerjakan shalat fardhu di belakang orang yang mengerjakan shalat sunnah.

Hadits ini memberikan faedah bahwa seorang imam harus meringankan bacaannya dalam shalatnya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menentukan ukutan bacaan. Dan akan datang hadits, “Jika salah seorang dari kalian mengimami manusia, maka hendaklah ia meringankannya.”

0376

376 – «وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – فِي قِصَّةِ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالنَّاسِ وَهُوَ مَرِيضٌ – قَالَتْ: فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ، فَكَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ جَالِسًا وَأَبُو بَكْرٍ قَائِمًا، يَقْتَدِي أَبُو بَكْرٍ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَيَقْتَدِي النَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

376. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha dalam kisah shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengimami manusia sedangkan beliau dalam keadaan sakit, ia berkata, “Kemudian datanglah beliau sehingga duduk di samping kiri Abu Bakar. Beliau shalat bersama manusia dalam posisi duduk sedangkan Abu Bakar dalam posisi berdiri. Abu Bakar mengikuti shalat Nabi dan manusia mengikuti shalat Abu Bakar.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 687, Muslim 418]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Demikian yang terdapat dalam riwayat Al-Bukhari pada bab seseorang mengikuti imamnya. Di sini dijelaskan tempat duduknya Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam yaitu di samping kiri Abu Bakar dan inilah tempat imam, dan terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dalam bab ‘Batasan orang yang sakit untuk menghadiri jamaah’ dengan lafazh, “Beliau duduk di sisi Abu Bakar”, tidak dijelaskan tempat duduknya. Akan tetapi, pengarang (Ibnu Hajar) berkata, “Sesungguhnya telah dipastikan tempat duduk beliau di dalam riwayat dengan sanad yang hasan yaitu beliau duduk di samping kiri Abu Bakar.” Aku berkata, “Bahkan di dalam beberapa riwayat telah sampai kepada derajat yang shahih yaitu penentuan riwayat-riwayat yang saling membaguskan yang lainnya. Dengan demikian jelaslah bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi imam.

Hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang berdiri sendirian di samping imam walaupun makmum yang lain hadir bersamanya. Mungkin juga dipahami, bahwa beliau melakukan hal tersebut agar Abu Bakar menjadi perantaranya, atau karena Abu Bakar menjadi imam diawal shalat, atau karena shaf shalat sudah penuh, atau pertimbangan-pertimbangan lainnya. Karena tidak adanya dalil bahwa perilaku ini dilakukan oleh satu orang, tetapi zhahirnya hal ini boleh secara mutlak.

Ucapan Aisyah, “Abu Bakar mengikuti” dipahami ia mengikuti karena menjadi makmum. Maka Abu Bakar selain posisinya sebagai imam sekaligus menjadi makmum. Dan mungkin juga dapat dipahami bahwa Abu Bakar sebagai penyampai -suara Rasulullah- bukan menjadi imam.

Ketahuilah sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat dalam hadits Aisyah ini dan lainnya. Apakah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menjadi imam atau menjadi makmum. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang hal ini, akan tetapi kami telah mengedepankan riwayat bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi imam. Sebagian ulama berpendapat dengan mentarjih (menguatkan) salah satu di antara riwayat-riwayat ini. Dan telah jelas kekuatannya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi imam dengan cara-cara tarjih yang telah dijelaskan dalam kitab Fath Al-Bari, dan di dalam Asy-Syarh sebagian dari hal tersebut. Pada penjelasan hadits kesembilan telah dijelaskan sebagian cara-cara tarjih tentang perbedaannya.

Di antara ulama juga ada yang berpendapat bahwa hal ini terjadi pada kisah yang berbeda-beda. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam terkadang menjadi imam dan terkadang menjadi makmum pada masa sakit menjelang wafatnya beliau.

Dan dijadikan landasan dengan hadits Aisyah dalam ucapannya, “Abu Bakar mengikuti shalat Nabi dan manusia mengikuti shalat Abu Bakar.” Bahwa Abu Bakar menjadi imam sekaligus menjadi makmum. Al-Bukhari telah membuat bab atas hal ini dengan ucapannya, “Bab seseorang imam yang mengikuti imam yang lain dan bermakmumnya manusia dengan makmum.”

Ibnu Baththal berkata, “Pendapat ini sesuai dengan pendapat Masruq dan Asy-Sya’bi, “Sesungguhnya shaf-shaf sebagian bermakmum dengan sebagian yang lain.” Hal ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama.

Pengarang berkata, “Telah berkata Asy-Sya’bi, “Barangsiapa yang bertakbiratul ihram sebelum shaf di depannya mengangkat kepala dari ruku’, maka orang tersebut mendapatkan rakaat tersebut walaupun imam telah mengangkat kepalanya sebelum shaf tersebut. Karena sebagian mereka menjadi imam atas sebagian yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa ia berpendapat, bahwa mereka -para makmum- menanggung atas sebagian yang lain sebagaimana yang ditanggung oleh imam.

Pendapat ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Majulah kalian, bermakmumlah denganku, dan bermakmum dengan kalian orang yang berada sesudah kalian.” Sebagaimana yang telah lalu dibahas pada uraian terdahulu.

Dalam riwayat Muslim, “Sesungguhnya Abu Bakar memperdengarkan takbir kepada mereka.” Hal ini menjadi dalil bolehnya mengeraskan suara dalam bertakbir untuk memperdengarkan kepada makmum agar mereka mengikutinya, dan juga boleh bagi orang yang bermakmum untuk mengikuti suara orang yang bertakbir. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dan ini berbeda dengan pendapatnya Malikiyah. Berkata Al-Qadhi Iyadh dari Madzhab mereka, “Sesungguhnya sebagian mereka ada berpendapat batal bagi shalatnya orang yang mengikuti, dan sebagian dari mereka tidak menganggapnya batal.” Di antara mereka juga ada yang mengatakan, “Jika imam membolehkan bagi orang yang mengikuti untuk memperdengarkan (takbir) maka sah untuk mengikutinya, namun jika tidak -diizinkan- maka tidak sah.” Dalam madzhab ini ada perincian selain ini, tetapi tidak ada dalil yang menguatkan. Seakan-akan mereka mengatakan atas hadits ini, “Sesungguhnya Abu Bakar -pada waktu itu- menjadi imam dan tidak ada pembahasan bahwa ia mengeraskan suaranya untuk memperdengarkan kepada orang yang berada di belakangnya.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *