[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 107

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 03

0372

372 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ، وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعِينَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَهَذَا لَفْظُهُ، وَأَصْلُهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ.

372. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk diikuti oleh makmum. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah kalian, jangan bertakbir sampai ia bertakbir, jika ia ruku’maka ruku’lah kalian, dan jangan ruku’sampai ia ruku’, jika ia mengucapkan ‘samiallahu liman hamidah’ (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) maka ucapkanlah, Allahuma Rabbana lakal hamdu, jika ia sujud maka sujudlah kalian, jangan kalian sujud sampai ia sujud, jika ia shalat berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, jika ia shalat sambil duduk maka shalatlah kalian sambil duduk.” (HR. Abu Dawud lafazh ini darinya, asal hadits ini ada di Ash-Shahihain)

[Shahih: Abu Daud 603; Asal hadits Al Bukhari 734 dan Muslim 414]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk diikuti oleh makmum, jika ia bertakbir (yaitu takbir untuk ihram, atau secara mutlak mencakup takbir al-Intiqal -takbir berpindah dari rukun ke rukun yang lain-) maka bertakbirlah, jangan bertakbir sampai ia bertakbir (hal ini menambahkan pengokohan apa yang diberikan oleh pemahaman syarat, sebagimana dalam kalimat selanjutnya) jika ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ (yaitu sampai ia mengambil posisi rukuk, tidak sampai ia selesai darinya, sebagaimana yang terlintas’ dari lafadh) jika ia mengucapkan ‘samiallahu liman hamidah’ -Allah mendengar orang yang memuji-Nya-, maka ucapkanlah, ‘Allahuma Rabbana lakal hamdu, jika ia sujud (mulai mengambil posisi sujud) maka sujudlah kalian, jangan sujud sampai ia sujud, jika ia shalat berdiri maka shalatlah berdiri, jika ia shalat sambil duduk (karena udzur) maka shalatlah kalian semua sambil duduk.”

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil disyariatkannya imamah dan perintah untuk mengikuti imam. Di antara cara atau aturan bagi taabi’ (orang yang mengikuti) dan makmum adalah tidak mendahului orang yang diikutinya, tidak juga menyamainya, serta tidak berdiri lebih depan darinya. Akan tetapi makmum harus memperhatikan perbuatan imam dan mengikuti gerakannya. Hal ini dimaksudkan agar makmum tidak menyelisihi sedikitpun dari perbuatan dan gerakan imam, sebagaimana telah diulas secara rinci dalam sabdanya, “jika ia bertakbir…”

Gerakan yang lainnya -seperti salam- diqiyaskan dengan hal-hal yang telah disebutkan. Barangsiapa yang menyelisihi imam sedikit pun dari yang telah disebutkan maka ia telah berdosa. Akan tetapi, shalatnya tidak rusak dengan hal tersebut, kecuali jika ia menyelisihi dalam takbiratul ihram dengan mendahului imam, maka ia tidak terhitung shalat bersama imam. Karena ia tidak menjadikannya sebagai imam. Jika ia masuk -mengerjakan- shalat setelah masuknya imam dalam shalat, itu adalah pertanda bahwa ia mengikuti imam dan menjadikannya sebagai imam.

Tidak rusaknya shalat orang yang menyelisihi imam dilandaskan pada hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengancam orang yang mendahului imam dalam ruku’ dan sujudnya. Allah akan mengubah kepalanya dengan kepala keledai, tetapi Allah tidak memerintahkan untuk mengulangi shalatnya. Dan Rasulullah tidak mengucapkan, “Sesungguhnya tidak ada shalat baginya.”

Kemudian, hadits ini tidak mensyaratkan samanya niat. Hadits ini menunjukkan jika terjadi perbedaan antara niat imam dan makmun seperti salah satunya berniat fardhu yang lain sunnah, atau salah satunya berniat shalat Zhuhur sedang yang lain berniat shalat Ashar, maka shalat berjamaahnya tetap sah, hal ini merupakan pendapat Asy-Syafiiyah, akan dijelaskan kemudian dari hadits Jabir tentang shalatnya Muadz bin Jabal.

Sabdanya, “Jika ia mengucapkan ‘samiallahu liman hamidah’ (Allah mendengar orang yang memujinya)”menunjukkan bahwa inilah yang diucapkan imam, dan makmum mengucapkan, “Allahumma Rabbana lakal hamdu”, ada juga riwayat dengan tambahan huruf ‘wawu’ sebagaimana juga ada riwayat tanpa lafadh Allahumma’, semuanya boleh, yang paling kuat adalah beramal dengan tambahan Allahumma’ dan tambahan ‘wawu’ karena keduanya memberikan tambahan makna.

Berdasarkan hadits inilah sebagian orang mengatakan tidak boleh mengumpulkan imam dan makmum antara ucapan tasmi’ (samiallahu liman hamidah) dan tahmid (Rabbana lakalhamdu) mereka ini adalah Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah, mereka berkata, “Disyariatkan bagi imam dan orang yang shalat sendirian at-tasmi’, dan telah berlalu pembahasan masalah ini.

Abu Yusuf dan Muhammad berkata, “Boleh mengumpulkan at-tasmi’ dan at-tahmid antara imam dan orang yang shalat sendirian, orang yang menjadi makmun juga mengucapkan “Samiallahu Liman Hamidah”, berdasarkan hadits Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbuat seperti demikian.” Secara zhahir, berlaku bagi orang yang shalat sendirian atau sebagai imam, dengan pertimbangan shalat beliau juga pernah menjadi makmum walaupun jarang.

Dikatakan pada pendapat ini, mana dalil yang menunjukkan bahwa makmum membaca tasmi’? Karena beliau dalam hadits Abu Hurairah membaca tahmid?

Yahya, Ats-Tsauri, dan Al-Auzai berpendapat bahwa imam dan orang yang shalat sendirian mengumpulkan antara tasmi’ dan tahmid. Jadi, makmum pun membaca tahmid berdasarkan pemahaman hadits bab ini. Dipahami dari sabda beliau, “Maka ucapkanlah, Allahumma…” bahwa makmum tidak membaca kecuali hal tersebut.

Asy-Syafii berpendapat bahwa kedua bacaan ini -tasmi’ dan tahmid-dibaca oleh orang yang shalat secara mutlak. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Ibnu Abi Aufa,

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau membaca, “Samiallahu Liman Hamidah Allahumma rabbana lakal Hamdu.” [Shahih: Muslim 476]

Hadits ini secara zhahir, mencakup semua keadaan, yaitu keadaan shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baik secara berjamaah atau sendirian. Beliau telah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”

Tidak perlu lagi menyebutkan seluruh riwayat secara ringkas. Ketika tidak disebutkan dalam lafazh bukan berarti hal itu tidak disyariatkan. Sabdanya, “Jika imam mengucapkan, ‘Samiallahu Liman Hamidah’, tidak menunjukkan penafian ucapan beliau, ‘Rabbana lakal Hamd’. Dan sabdanya, “Ucapkanlah oleh kalian, ‘Rabbana lakal Hamd” tidak menunjukkan penafian ucapan ‘Samiallahu Liman Hamidah’. Hadits Ibnu Abi Aufa dalam hikayatnya tentang perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah tambahan, dan itu diterima karena ucapannya tidak bertentangan dengan tambahan tersebut.

Ibnul Mundzir meriwayatkan ucapan ini dari Atha’, Ibnu Sirin dan selain keduanya, Asy-Syafii tidak sendiri dengan pendapat ini. Jadi ucapan beliau, ‘Samiallahu liman hamidah’, ketika beliau mengangkat kepalanya, dan sabdanya ‘Rabbana lakal Hamd’ ketika ia meluruskan kepalanya.

Sabdanya, “Maka shalatlah kalian dengan duduk”, sebagai dalil wajibnya mengikuti imam ketika ia duduk dalam keadaan udzur, makmum duduk walaupun mereka sanggup untuk berdiri. Ada riwayat yang menjadi alasan perbuatan tersebut bahwa perbuatan orang-orang Persia dan orang-orang Ruum yaitu berdiri ketika imam mereka duduk. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إنْ كِدْتُمْ آنِفًا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلَا تَفْعَلُوا»

‘Hampir saja kalian tadi berbuat sebagaimana perbuatan orang-orang Persia dan Ruum. mereka berdiri. menghormati raja-raja mereka yang duduk, janganlah kalian lakukan.” [Shahih: Muslim 413]

Pendapat seperti ini adalah madzhabnya Ahmad bin Hanbal, Ishaq dan selain keduanya.

Al-Hadawiyah, Malik dan lainnya berpendapat bahwa tidak sah shalat berdiri di belakang imam yang duduk, juga duduk di belakang imam yang berdiri, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«لَا تَخْتَلِفُوا عَلَى إمَامِكُمْ وَلَا تُتَابِعُوهُ فِي الْقُعُودِ»

“Jangan berbeda dengan imam kalian, jangan kalian mengikutinya duduk”,

demikian dalam Syarh Al-Qadhi, ia tidak menyandarkan pada satu kitab pun, dan aku tidak menemukan ucapan, “Jangan kalian mengikutinya duduk”, hadits ini perlu diperhatikan.

Asy-Syafii berpendapat, tidak sah shalat orang yang berdiri di belakang imam yang duduk, dan tidak mengikutinya dalam duduk. Mereka berkata, “Berdasarkan shalatnya para shahabat, bahwa mereka shalat dengan berdiri ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sakit menjelang wafatnya. Ketika beliau keluar, Abu Bakar telah mendirikan shalat, maka beliau duduk di samping kiri Abu Bakar.

Maka yang demikian ini menjadi penghapus bagi perintah Rasulullah atas mereka untuk duduk dalam hadits Abu Hurairah. Hal itu terjadi dalam shalat beliau ketika berada dalam peperangan dan kaki beliau sakit (pecah-pecah). Sedangkan ini adalah akhir dari dua perkara, maka jelaslah untuk mengamalkannya, demikian sebagaimana yang ditetapkan oleh Asy-Syafii. Hal ini dijawab, bahwa hadits-hadits yang memerintahkan mereka untuk duduk tidak ada perbedaan dalam penshahihannya, dan juga tidak pada susunan kata-katanya. Adapun shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika sakit menjelang wafatnya telah terjadi perbedaan pendapat. Apakah beliau menjadi imam atau menjadi makmum? Sedangkan menjadikan dalil dengan shalat beliau saat menjelang wafat, tidak akan sempurna kecuali jika beliau menjadi imam pada saat itu.

Hadits ini dipahami bahwa perintah duduk sebagai perkara yang disunnahkan, dan penetapan berdiri sebagai qarinah yang menunjukkan hal itu. Maka jadilah ini sebagai kompromi antara dua riwayat, dan keluar dari dua madzhab ini. Karena hal ini memberikan pilihan bagi makmum untuk berdiri atau duduk.

Hadits ini juga menetapkan bahwa perbuatan demikian itu dari sekelompok shahabat setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya mereka mengimami dengan duduk dan yang berada dibelakangnya juga duduk. Mereka itu Usaid bin Hudhair, Jabir dan Abu Hurairah telah berfatwa dengan hal ini. Ibnul Mundzir berkata, “Saya tidak menemukan adanya perbedaan dari para shahabat.”

Adapun hadits

«لَا يَؤُمَّنَّ أَحَدُكُمْ بَعْدِي قَاعِدًا قَوْمًا قِيَامًا»

“Tidak boleh mengimami salah seorang diantara kalian setelahku dengan duduk sedang kaumnya berdiri” adalah hadits dhaif. Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Daraquthni dari hadits Jabir Al-Ja’fi dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jabir seorang yang dhaif sekali dan hadits ini mursal. Asy-Syafii berkata, “Telah diketahui bahwa orang yang berhujjah dengannya maka tidak bisa dijadikan hujjah karena hadits ini mursal. Dan dari riwayat seorang yang tidak disukai oleh ahlul Ilmi meriwayatkan darinya yaitu Jabir Al-Ja’fi.”

Ahmad bin Hambal berpendapat dalam mengkompromikan dua hadits, bahwa jika imam rawatib memulai shalat dengan duduk karena sakit yang diharapkan kesembuhannya, maka makmum shalat dibelakangnya shalat dengan duduk pula. Dan jika imam memulai dengan berdiri maka makmum dalam posisi berdiri di belakang, entah setekh itu shalat imam mereka dengan duduk atau tidak. Sebagaimana hadits tentang shalat nabi ketika sakit menjelang wafatnya. Sesungguhnya beliau tidak memerintahkan mereka untuk duduk karena imam telah memulai shalatnya dengan berdiri. Kemudian mereka diimami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di sisa shalatnya dengan posisi duduk. Berbeda dengan shalat beliau dengan mereka di awal sakitnya, sesungguhnya beliau memulai shalatnya dengan duduk, maka beliau perintahkan makmumnya untuk duduk. Ini adalah bentuk kompromi riwayat yang bagus.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *