[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 106

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 02

0369

369 – وَعَنْهُ قَالَ: «أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلَى الْمَسْجِدِ، فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ» رَوَاهُ مُسْلِم.

369. Dan darinya Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Telah datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seorang lelaki buta, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid, kemudian beliau meringankan baginya (untuk tidak berjamaah), ketika orang ini akan berpaling beliau memanggilnya kembali dan bertanya, “Apakah kamu mendengar panggilan untuk shalat?” Ia berkata, ‘Ya”, kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilannya.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 653]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yaitu dari Abu Hurairah) telah datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seorang lelaki buta (telah dijelaskan dalam tafsir hadits ini sebuah riwayat lain bahwa orang ini adalah Ibnu Umi Maktum) wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid’, kemudian beliau meringankan baginya (untuk tidak mendatangi masjid) apakah kamu mendengar panggilan untuk shalat? (dalam riwayat lain dikatakan Al-Iqamah) Ia berkata, Ya’ kemudian beliau bersabda, “Kalau begitu, penuhilah panggilannya.”

Pemberian rukhsah (keringanan) pada awalnya mutlak tidak dibatasi, dengan mendengar panggilan maka diberikan keringanan kepadanya, kemudian dia ditanya, “Apakah kamu mendengar panggilan”, ia menjawab, “Ya”, kemudian ia diperintahkan untuk memenuhi panggilan itu. Pengertiannya adalah, jika ia tidak mendengar panggilan -adzan- maka hal itu akan menjadi udzur baginya, dan jika ia mendengar adzan, maka tidak ada udzur baginya untuk tidak hadir.

Tafsif Hadits

Hadits ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya jamaah secara fardhu ain. Akan tetapi, kewajiban ini dibatasi dengan mendengar panggilan karena adanya pembatasan dari hadits orang buta ini. Begitu juga hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Muslim. Apa yang diriwayatkan secara mutlak dalam hadits harus dipahami dengan taqyid (pembatasan).

Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka ketahuilah sesungguhnya pengakuan wajibnya shalat jamaah baik fardhu ain atau fardhu kifayah, berdasarkan dengan dalil hadits tabriq (ancaman pembakaran) dan hadits A’ma (orang buta). Kedua hadits ini menunjukkan wajibnya menghadiri shalat jamaah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di masjidnya bagi yang mendengar panggilan. Ini lebih khusus dari sekedar kewajiban jamaah. Jika shalat berjamaah adalah kewajiban yang bersifat mutlak, tentu Rasulullah akan menjelaskan kepada orang buta itu dan beliau akan bersabda, “Lihatlah siapa yang shalat bersamamu!.” Dan beliau juga akan bersabda kepada orang yang tidak menghadiri jamaah, “Sesungguhnya mereka tidak menghadiri jamaah dan tidak boleh berjamaah di rumah-rumah mereka.” Penjelasan tidak boleh diakhirkan dari waktu dibutuhkannya. Hadits-hadits ini sesungguhnya menunjukkan wajibnya menghadiri shalat jamaah yang dilakukan Rasulullah bagi orang yang mendengar panggilan, bukan kewajiban secara mutlak, baik fardhu kifayah maupun fardhu ain.

Dalam hadits ini juga dijelaskan tidak ada keringanan bagi orang yang mendengar panggilan shalat untuk tidak menghadiri shalat jamaah walaupun ia memiliki udzur lain, karena orang ini telah menyebutkan udzurnya bahwa ia tidak menemukan orang yang bisa menuntunnya, tetapi tidak diberi keringanan. Bisa juga dipahami bahwa keringanan karena memang ada udzur, tetapi diperintahkannya untuk memenuhi panggilan itu secara sunnah bukan kewajiban, untuk menjaga pahala dari perbuatan itu. Kesulitan akan menjadi ringan manakala ada dalam hatinya keinginan untuk menghadiri jamaah.

Hadits berikut menunjukkan perintah untuk shalat berjamaah itu sunnah jika ada udzur.

0370

370 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إلَّا مِنْ عُذْرٍ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ، وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، لَكِنْ رَجَّحَ بَعْضُهُمْ وَقْفَهُ

370. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendengar panggilan (shalat) kemudian ia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada udzur.” (HR. Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Ibnu Majah dan Al-Hakim, sanad hadits ini menuiut syarat Muslim, sebagian mereka menguatkan bahwa hadits ini Mauquf)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 6300]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan dari jalur Syu’bah secara mauquf dan marfu’. Di dalam riwayat yang mauquf terdapat tambahan, “Kecuali karena udzur”. Sesungguhnya Al-Hakim meriwayatkannya secara mauquf pada shahabat-shahabat Syu’bah. Ath-Thabrani mengeluarkannya dalam Al-Kabir dari hadits Abu Musa dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ مِنْ غَيْرِ ضَرَرٍ وَلَا عُذْرٍ فَلَا صَلَاةَ لَهُ»

“Barangsiapa yang mendengar panggilan (adzan) kemudian ia tidak menjawab (datang untuk shalat jamaah) tanpa adanya penghalang dan udzur, maka tidak ada shalat baginya.”

Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini ada Qais bin Ar-Rabi’, ia ditsiqahkan oleh Syu’bah dan Sufyan Ats-Tsauri, tetapi didhaifkan oleh sekelompok ulama. Telah dikeluarkan dari hadits Ibnu Abbas yang disebutkan Abu Dawud dengan adanya tambahan,

قَالُوا وَمَا الْعُذْرُ قَالَ خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ لَمْ يَقْبَلْ اللَّهُ مِنْهُ الصَّلَاةَ الَّتِي صَلَّى

“Para shahabat berkata, “Apakah udzur itu?” Beliau berkata, “Ketakutan atau sakit, Allah tidak akan menerima darinya shalat yang telah ia laksanakan.” Dengan sanad yang dhaif. [Shahih tanpa kalimat Udzur: Abu Daud 551]

Hadits ini merupakan dalil sangat dianjurkannya shalat berjamaah, dan sekaligus menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwa shalat berjamaah hukumnya wajib ain. Bagi yang berpendapat bahwa hal itu sunnah, mentakwilkan sabda beliau, “Tidak ada shalat baginya’ yaitu tidak ada shalat yang sempurna baginya. Dan sesungguhnya memposisikan peniadaan kesempurnaan pada peniadaan dzat adalah hal yang berlebihan.

Alasan dalam meninggalkan shalat jamaah, seperti yang disebutkan dalam hadits Abu Dawud, yakni karena hujan, cuaca yang sangat dingin, karena sebab makan daun bawang atau semisalnya dari makanan yang menimbulkan bau yang tidak sedap, maka tidak boleh baginya untuk mendekati masjid. Dikatakan, bisa jadi larangan tersebut akan mengharuskannya untuk meninggalkan perkara yang fardhu. Maka orang yang memakannya akan berdosa karena meninggalkan perkara yang fardhu. Tetapi semoga saja orang yang mengatakan fardhu ain mengatakan, “Gugur kewajiban shalatnya secara berjamaah di masjid dengan adanya halangan ini, tapi tidak gugur untuk dikerjakan di rumahnya, kemudian ia melaksanakannya secara berjamaah di rumah.”

0371

371 – وَعَنْ «يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَاةَ الصُّبْحِ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، إذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا، فَدَعَا بِهِمَا، فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعُدُ فَرَائِصُهُمَا، فَقَالَ لَهُمَا: مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا؟ قَالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: فَلَا تَفْعَلَا، إذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَدْرَكْتُمَا الْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ فَصَلِّيَا مَعَهُ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَالثَّلَاثَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ.

371. Dari Yazid bin Al Aswad Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya ia shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Subuh, ketika Rasulullah telah shalat tiba-tiba ada dua orang yang tidak shalat, kemudian beliau memanggil keduanya, maka didatangkanlah keduanya dengan rasa takut bergetarlah lutut mereka berdua, maka beliau bertanya kepada keduanya, “Apa yang mencegah kalian untuk shalat bersama kami? Mereka menjawab, “Kami telah shalat di rumah-rumah kami”, kemudian beliau berkata, “Jangan berbuat seperti itu jika kalian telah shalat di rumah-rumah kalian kemudian kalian menemukan imam belum shalat maka shalatlah kalian bersamanya, sesungguhnya shalat itu bagi kalian berdua sebagai sebuah kesunnahan.” (HR. Ahmad, lafadz ini baginya dan Ats-Tsalasah, dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

[Shahih: Abu Dawud (575)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Yazid bin Al-Aswad, nama lengkapnya adalah Abu Jabir Yazid bin Al-Aswad As-Suwaiy, dikatakan juga Al-Khuzaiy atau Al-Amiry. Anaknya -Jabir- meriwayatkan hadits darinya. Beliau terhitung sebagai penduduk Thaif dan hadits beliau bagi orang-orang Kufi.

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya ia shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Subuh, ketika Rasulullah telah shalat (yakni telah menyelesaikan shalatnya) tiba-tiba ada dua orang yang tidak shalat (bersama beliau) kemudian beliau memanggil keduanya, maka didatangkanlah keduanya dengan rasa takut bergetarlah lutut mereka berdua (Faraish bentuk jamak dari Farishah yaitu daging di antara sisi hewan dan pundaknya, yakni bergetar karena takut, demikian yang dikatakan dalam An-Nihayah) maka beliau bertanya kepada keduanya, “Apa yang mencegah kalian untuk shalat bersama kami? Mereka menjawab, “Kami telah shalat di rumah kami (Rihal bentuk jamak dari Rahl yaitu tempat tinggal bisa juga diucapkan untuk yang lainnya, akan tetapi yang dimaksud di sini adalah rumah) kemudian beliau berkata, “jangan berbuat seperti itu, jika kalian telah shalat di rumah-rumah kalian kemudian kalian menemukan imam belum shalat maka shalatlah kalian bersamanya, sesungguhnya shalat itu (shalat bersama imam setelah mereka shalat fardhu di rumahnya) bagi kalian berdua sebagai sebuah kesunnahan (jadi shalat pertama yang menjadi shalat fardhu apakah shalatnya berjamaah atau sendirian, karena mutlaknya khabar).

Pengarang Ibnu Hajar menambahkan dalam At-Talkhish, hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan Ad-Daraquthni, dishahihkan oleh Ibnu As-Sakan, semuanya dari jalur Ya’la bin Atha’, dari Jabir bin Yazid Al-Aswad dari bapaknya. Asy-Syafii berkata dalam fatwa Qadimnya, “Sanad hadits ini majhul”, Al-Baihaqi berkata, “Karena Yazid bin Al-Aswad tidak mempunyai rawi selain dari anaknya, dan tidak ada bagi anaknya Jabir kecuali Ya’la, aku berkata, “Ya’la termasuk rawi hadits yang dipakai Muslim, sedang Jabir ditsiqahkan oleh An-Nasai dan lain-lainnya.

Tafsir Hadits

Hadits ini terjadi di masjid Al-Khiif pada waktu haji wada’, yang menunjukkan tentang disyariatkannya seseorang shalat bersama imam jika mendapatinya sedang shalat atau akan shalat, setelah orang itu selesai melaksanakan shalat, baik secara berjamaah atau sendirian. Maka shalat yang telah dilakukan —pertama- terhitung shalat fardhu baginya, sedang yang dilakukan kedua kalinya -bersama dengan imam- dianggap sunnah, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits ini. Dzahirnya hadits ini, bahwa tidak perlu menolak shalat yang pertama -yakni shalat yang pertama dianggap sebagai shalat fardhu-. Pendapat ini didukung oleh Zaid bin Ali, Al-Muayyid Billah, dan sekelompok ulama ahlul bait, ini juga merupakan pendapat Imam Asy-Syafii.

Al-Hadi dan Malik berpendapat, dan ini juga pendapat Asy-Syafii, bahwa yang menjadi shalat fardhu adalah yang kedua (shalat bersama imam). Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari hadits Yazid bin Amir, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا جِئْت الصَّلَاةَ فَوَجَدْت النَّاسَ يُصَلُّونَ فَصَلِّ مَعَهُمْ إنْ كُنْت قَدْ صَلَّيْت تَكُنْ لَك نَافِلَةً، وَهَذِهِ مَكْتُوبَةٌ»

“Jika engkau mendatangi shalat dan menemukan orang-orang sedang shalat, maka shalatlah bersama mereka. Jika engkau telah shalat, maka -shalat yang pertama- itu menjadi shalat sunnah bagimu, dan ini -shalat yang bersama imam- adalah yang wajib.” [Dhaif: Abu Daud 577]

Pendapat ini dikomentari karena hadits ini dhaif dan telah didhaifkan oleh An-Nawawi. Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini berbeda dengan hadits Yazid bin Al-Aswad dan riwayatnya lebih shahih.”

Ad-Daraquthni meriwayatkannya dengan lafadh,

وَلْيَجْعَلْ الَّتِي صَلَّى فِي بَيْتِهِ نَافِلَةً

“Dan hendaklah dijadikan shalat yang telah dilaksanakannya di rumah sebagai shalat sunnah.” Ad-Daraquthni berkata, “Riwayat ini dhaif dan Syadz.”

Berdasarkan pendapat-pendapat ini, maka shalat yang pertama ditolak -tidak dianggap shalat fardhu- setelah ia melakukan shalat yang kedua. Dikatakan, dengan syarat ia menyelesaikan shalat yang kedua dengan sempurna (sah).

Asy-Syafii memiliki pendapat ketiga, “Sesungguhnya Allah-lah yang akan mengganjar dari keduanya sesuai dengan kehendak-Nya, karena ucapan Ibnu Umar ketika ia ditanya tentang hal ini, “Atau itu bagimu, sesungguhnya itu bagi Allah, Dia-lah yang akan mengganjar keduanya sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa)

Hadits bab ini bertolak belakang dengan hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, An-Nasa’i dan selain keduanya, dari Ibnu Umar dan ia merafa’kaannya,

«لَا تُصَلُّوا صَلَاةً فِي يَوْمٍ مَرَّتَيْنِ»

“Jangan kalian mengerjakan satu shalat dengan dua kali dalam sehari.” [Shahih: Abi Dawud (579)]

Masalah ini dijawab, bahwa yang dilarang shalat dua kali adalah menjadikan keduanya shalat fardhu, namun tidak dilarang jika salah satunya sunnah. Atau yang dimaksud adalah, “Jangan kedua shalat ini dilaksanakan dua kali secara sendiri.”

Zhahirnya hadits bab ini mencakup semua shalat, demikian mazhab Syafii. Abu Hanifah berkata, “Jangan dibiasakan kecuali untuk shalat Zhuhur dan Isya. Adapun shalat Ashar dan Subuh maka tidak boleh karena ada larangan shalat setelah keduanya. Sedangkan Magrib maka ia adalah shalat witir siang yang jika diulang akan menjadi genap.” Malik berkata, “Jika ia telah melaksanakannya secara berjamaah maka tidak perlu diulang dan jika ia melakukannya sendirian maka ia boleh mengulangnya.

Hadits ini, zhahirnya menyelisihi apa yang dikatakan oleh Abu Hanifah dan Malik. Tetapi dalam hadits Yazid bin Al-Aswad, bahwa yang demikian itu terjadi pada waktu Subuh, maka jelaslah ini menolak pendapat Abu Hanifah. Sekaligus ini menjadi pentakhsish (pengkhusus) keumuman hadits yang melarang shalat di kedua waktu itu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *