[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 105

02.10. BAB SHALAT JAMAAH DAN IMAM 01

0364

364 – عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

364. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat jamaah lebih utatna daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh tingkatan.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 645 dan Muslim 650]

0365

365 – وَلَهُمَا عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا

365. Bagi keduanya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Dengan dua puluh lima balasan.”

[Al Bukhari 648, Muslim 649]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

“Bagi keduanya (yaitu bagi Al-Bukhari dan Muslim) dengan dua puluh lima balasan (sebagai ganti dari sabda beliau, “Dua puluh tujuh tingkatan”).

0366

366 – وَكَذَا لِلْبُخَارِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَقَالَ دَرَجَةً

366. Dan demikian juga bagi Al-Bukhari dari Abu Said Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Tingkatan.”

[Shahih: Al Bukhari 646]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan demikian juga (yaitu dengan teks hadits yang sama dengan di atas yaitu dua puluh lima) bagi Al-Bukhari dari Abu Said Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Tingkatan.” (sebagai ganti dari -balasan-)

Diriwayatkan juga dari sekelompok shahabat selain tiga yang telah disebutkan, di antaranya; Anas, Aisyah, Shuhaib, Muadz, Abdullah bin Zaid dan Zaid bin Tsabit. At-Tirmidzi berkata, “Sebagian besar mereka yang meriwayatkan hadits ini mengatakan, “duapuluh lima”, kecuali Ibnu Umar ia berkata, “duapuluh tujuh.”

Ia juga meriwayatkan yang menyebutkan, “duapuluh lima”. Namun hal ini tidak masalah karena pemahaman hitungan bukan yang dimaksud. Riwayat dua puluh lima, masuk ke dalam riwayat dua puluh tujuh. Atau bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabarkan dengan hitungan yang paling sedikit terlebih dahulu, kemudian mengabarkan dengan jumlah yang lebih banyak. Dan jumlah bilangan ini sebagai tambahan keutamaan dari Allah Ta’ala.

Sebagian orang menyangka bahwa lafadz As-Sab’a (tujuh) dipahamkan bagi orang yang shalat berjamaah di masjid, sedangkan lafazh Al-Khamsah (lima) bagi orang yang shalat selain di masjid. Dikatakan juga tujuh untuk orang yang masjidnya jauh dari rumah dan lima bagi yang dekat. Di antara mereka ada juga yang mengatakan, “Orang yang sangat jauh kesempatan dan alasannya.” Pengarang Ibnu Hajar telah menjelaskan hal ini dalam Fath Al-Bari bahwa pendapat-pendapat ini hanya tuangan pemikiran atau penafsiran tanpa ada nash syar’i.

Sedang lafazh ‘al-juz’ dan lafazh ‘ad-darajah’ keduanya merniliki makna yang sama, karena keduanya saling menjelaskan bagi yang lainnya. Telah jelas penafsiran keduanya dengan “shalat”, sesungguhnya shalat jamaah menandingi dua puluh tujuh shalat yang dilakukan dengan sendirian.

Tafsir Hadits

Hadits ini memberikan motivasi untuk melakukan shalat berjamaah. Juga ada dalil tentang tidak wajibnya jamaah. Namun, sebagian kelompok ulama mengatakan kewajibannya, berdalilkan dengan hadits berikut,

0367

367 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْت أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إلَى رِجَالٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقُ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ.

367. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh aku ingin memerintahkan untuk mendatangkan kayu bakar untuk dibakar. Kemudian aku perintahkan untuk mendirikan shalat dengan rnengumandangkan adzan. Lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, dan aku kembali kepada orang-orang yang tidak menyaksikan shalat ini. Selanjutnya aku bakar rumah-rumah mereka, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya jikalau salah seorang di antara mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan tulang yang berisi daging atau dua pangkal rusuk kambing kebaikan maka mereka akan mengikuti shalat Isya -shalat jamaah-.” (Muttafaq Alaih dan lafazh ini bagi Al-Bukhari).

[Shahih: Al Bukhari 644 dan Muslim 651]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya (yaitu dalam kerajaan-Nya dan dalam pengaturan-Nya) sungguh aku ingin (kalimat ini merupakan jawaban dari sumpah. Dan sumpah Rasulullah tersebut menjelaskan tentang besarnya perkara yang beliau sebutkan sebagai tekanan kepada orang yang meninggalkan shalat jamaah) untuk memerintahkan mendatangkan kayu bakar untuk dibakar. Kemudian aku perintahkan untuk mendirikan shalat dengan mengumandangkan adzan. Lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, dan aku kembali (dalam kamus Ash-Shihhah kata-kata khalafa ila julanin itu artinya adalah mendatangi seseorang ketika ia tidak ada) kepada orang-orang yang tidak menyaksikan shalat (yaitu mereka tidak menghadiri jamaah shalat) selanjutnya aku bakar rumah-rumah mereka, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya jikalau salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan tulang yang berisi daging (kata ‘urqan’ yaitu tulang yang dipenuhi dengan daging) dua pangkal rusuk kambing (kata mirmah yaitu sesuatu di antara dua tulang rusuk kambing yang paling banyak dagingnya) yang baik keduanya (dari kata husni yaitu baik) mereka akan menyaksikan shalat Isya (yaitu mereka ikut shalat berjamaah).”

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil bahwa shalat jamaah itu hukumnya fardhu ain bukan fardhu kifayah, yakni jika ada sebagian telah melaksanakannya maka yang lain tidak akan terkena ancaman dosa. Ancaman dosa itu bisa disebabkan meninggalkan kewajiban atau melakukan yang diharamkan. Yang berpendapat bahwa shalat jamaah adalah fardhu ain datang dari pendapat Atha’, Auza’i, Ahmad, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir dan Ibnu Hibban, dari Ahlul Bait ada Abul Abbas. Mazhab Adz-Dzahiriyah juga berpendapat bahwa shalat jamaah hukumnya wajib ain. Dawud berkata, “Sesungguhnya shalat jamaah adalah syarat sahnya shalat, dengan dasar bahwa setiap yang wajib dalam shalat maka ia menjadi syarat shalat. Pendapat ini tidak disetujui karena sesuatu yang menjadi syarat harus berdasarkan dalil, karenanya Ahmad dan lainnya mengatakan, “Shalat jamaah itu wajib, tetapi tidak merupakan syarat.”

Abul Abbas berkata mewakili mazhab Al-Hadi, “Shalat jamaah wajib kifayah, pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama dari ulama-ulama Syafiiyah yang terdahulu, sebagian besar mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah. Zaid bin Ali, Al-Muayyid Billah, Abu Hanifah dan dua orang muridnya (Muhammad dan Abu Yusuf) serta An-Nashir (Asy-Syafii). Mereka semua berpendapat bahwa shalat jamaah adalah sunnah muakkad.

Orang yang berkata bahwa shalat jamaah hukumnya wajib berdalilkan dengan hadits bab ini, karena ancaman dan siksaan tidak akan ada kecuali jika meninggalkan perkara yang difardhukan. Dan dalil-dalil lain seperti hadits Ibnu Ummi Maktum,

أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْت مَا بِي وَلَيْسَ لِي قَائِدٌ، وَإِنَّ بَيْنِي وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ شَجَرًا وَنَخْلًا وَلَا أَقْدِرُ عَلَى قَائِدٍ كُلَّ سَاعَةٍ قَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتَسْمَعُ الْإِقَامَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاحْضُرْهَا» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ خُزَيْمَةَ، وَالْحَاكِمُ وَابْنُ حِبَّانَ بِلَفْظِ «أَتَسْمَعُ الْأَذَانَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأْتِهَا وَلَوْ حَبْوًا»

sesungguhnya ia berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah mengetahui apa yang menimpaku, sedang aku tidak memiliki orang yang menuntunku, antara rumahku dan masjid ada pepohonan, dan pohon kurma, sedang aku tidak mampu mendapatkan orang yang menuntunku setiap saat. Rasulullah bersabda, “Apakah engkau mendengar iqamah? Ia berkata, “ya,” Beliau berkata, “Datangilah shalat jamaah walaupun engkau merangkak pelan.” [Shahih: Abu Daud 552]

Dan hadits-hadits semakna dengan ini banyak. Akan datang hadits Ibnu Ummi Maktum dan hadits Ibnu Abbas.

Al-Bukhari juga telah mewajibkan shalat jamaah, dan membuat sebuah bab dengan ucapannya, “Bab wajibnya shalat jamaah.” Mereka berkata, “Shalat berjamaah itu hukumnya fardhu ain, jika hukumnya fardhu kifayah maka dosa orang yang lain -yang tidak melaksanakan shalat jamaah, edt- akan gugur dengan perbuatan Rasulullah dan orang-orang yang berjamaah bersama beliau. Adapun ancaman membakar dengan api, jika telah ada pelarangan ancaman dengan cara tersebut, maka larangan ini bersifat khusus.

Dalil-dalil orang yang mengatakan shalat jamaah adalah fardhu kifayah sama dengan dalil yang dipakai orang yang mewajibkannya. Hal ini didasarkan adanya hal-hal yang memalingkan dalil-dalil tersebut dari fardhu ain ke fardhu kifayah.

Orang yang mengatakan sunnahnya shalat jamaah telah membeberkan pembicaraan tentang jawaban-jawaban hadits ini dengan sesuatu yang tidak ada bantahan. Yang paling mendekatinya adalah bahwa hadits ini keluar sebagai ancaman tidak secara hakikat. Terbukti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melakukannya. Orang yang mengatakan sunnahnya shalat jamaah berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah, “Shalat jamaah lebih utama dari shalat sendirian”, kedua shalat ini (baik yang sendirian atau berjamaah) masing-masing memiliki keutamaan, jikalau shalat sendirian tidak diperbolehkan maka tentu ia sama sekali tidak memiliki keutamaan, kemudian hadits, ‘Jika kalian berdua shalat di rumah-rumah kalian…”, Nabi telah menetapkan shalat bagi keduanya di rumah-rumah mereka dan tidak dijelaskan apakah mereka melakukannya dengan berjamaah atau tidak, hadits ini akan dijelaskan pada tempatnya.

0368

368 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ: صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

368. Dan darinya Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat fajar (Subuh), jika mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, maka mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 644 dan Muslim 651]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yaitu dari Abu Hurairah) ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik (sesungguhnya bagi orang munafik seluruh shalat adalah berat bagi mereka, merekalah yang dikatakan dalam firman Allah, “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas” (QS. An-Nisaa’ 142) akan tetapi yang paling berat bagi mereka) shalat Isya (karena waktu itu adalah waktu istirahat dan ketenangan) shalat fajar -Subuh- (karena waktu ini adalah waktu tidur yang tidak ada bagi mereka motivasi agama, mereka tidak mempercayai adanya ganjaran bagi dua ibadah ini sehingga mampu membangkitkan mereka untuk melaksanakannya dan meringankan mereka untuk mendatanginya. Juga karena kedua shalat ini dilakukan pada malam hari yang gelap sehingga dorongan untuk riya’ yang karenanya mereka shalat, telah hilang karena tidak adanya orang yang menyaksikan keriya’an mereka kecuali sedikit. Hilanglah dorongan agama dari kedua shalat ini sebagaimana juga hilang dari selain keduanya, ditambah hilangnya dorongan keduniawian dari kedua shalat ini. Karenanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda -setelah memandang hilangnya motivasi agama dari mereka -) jika mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya (dalam pelaksanaan dua shalat ini dari pahala ganjaran) maka mereka akan mendatanginya (jamaah di masjid) walaupun harus merangkak (berjalan dengan merangkak seperti merangkaknya bayi dengan kedua tangan dan lututnya. Dikatakan juga merayap dengan lutut. Ada juga yang mengatakan, berlari dengan pantatnya, ngesot [jw]).

Dalam hadits Abu Umamah yang diriwayatkan Oleh Ath-Thabrani,

وَلَوْ حَبْوًا عَلَى يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ

“Walaupun dengan merangkak di atas kedua tangan dan kakinya.”

Dalam riwayat Jabir juga di Ath-Tabrani dengan lafadh,

وَلَوْ حَبْوًا أَوْ زَحْفًا

“Walaupun merangkak atau merayap.”

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini ada anjuran yang sangat menekankan untuk mendatangi kedua shalat ini. Jika seorang mukmin mengetahui apa yang terkandung dalam keduanya, maka ia akan mendatanginya dalam keadaan bagaimanapun, karena tidak ada yang menghalangi orang munafik untuk mendatangi shalat jamaah kedua shalat ini, kecuali tidak adanya keyakinan mereka terhadap apa yang ada pada keduanya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *