[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 103

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 09

0358

358 – وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرَ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

358. Dari Jabir ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia berwitir di awal malam. Dan barangsiapa yang sangat menginginkan untuk bangun pada akhir malam, hendaklah ia berwitir pada akhir malam. Karena sesungguhnya shalat pada akhir malam itu disaksikan, dan itu lebih utama.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 754]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil bahwa mengakhirkan witir itu lebih utama. Akan tetapi jika khawatir tidak bisa bangun, hendaklah shalat witir dilaksanakan sebelum tidur (didahulukan) supaya tidak kehilangan pelaksanaanya. Ulama-ulama salaf telah berpendapat seperti ini dan mereka melaksanakan dengan dua keadaan ini.

Adapun makna bahwa shalat pada akhir malam itu masyhudah (disaksikan), yakni disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang.

0359

359 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا طَلَعَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَ وَقْتُ كُلِّ صَلَاةِ اللَّيْلِ، وَالْوِتْرِ. فَأَوْتِرُوا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

359. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ia berkata, “Jika fajar telah terbit maka hilanglah waktu setiap shalat malam dan witir, maka berwitirlah sebelum fajar.” (HR At-Tirmidzi)

[shahih: At Tirmidzi 469]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika fajar telah terbit, maka hilanglah waktu setiap shalat malam (yakni shalat-shalat sunnah yang disyariatkan pada malam hari) dan witir (dihubungkan secara khusus dari lafazh-lafazh umum. Karena witir adalah bagian dari shalat malam penghubungan secara khusus ini menunjukkan kemuliaannya) maka berwitirlah sebelum fajar (pengkhususan perintah untuk melaksanakan shalat witir menambah keagungan perbuatan ini. Dan penjelasan bahwa witir adalah shalat malam yang paling penting dan hilangnya waktu witir dengan hilangnya waktu malam).

Tafsir Hadits

Telah terdahulu dalam hadits Abu Said, bahwa orang tidur dan lupa dapat melaksanakan witirnya pada saat bangunnya dan bagi yang lupa saat ia ingat, ini sebagai pengkhususan bagi hadits ini. Maka penjelasan bahwa yang dimaksud hilangnya waktu witir karena hilangnya waktu malam adalah bagi orang yang meninggalkan witir tanpa dua udzur ini.

Adapun meninggalkan ini karena tidur, maka seperti yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi’ dari Aisyah,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا لَمْ يُصَلِّ مِنْ اللَّيْلِ مَنَعَهُ مِنْ ذَلِكَ النَّوْمُ أَوْ غَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika tidak shalat pada malam, disebabkan tertidur atau dikalahkan oleh kedua matanya, maka beliau shalat pada siang hari dua belas rakaat.” [Shahih: At Tirmidzi 445]

Hasan berkata, “Hadits ini shahih, seakan yang dimaksud adalah untuk mendapatkan sesuatu yang terlewatkan darinya.”

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, aku berkata, “Dan ia berkata setelah hadits ini, “Sulaiman bin Musa sendiri dalam meriwayatkan hadits ini dengan lafadz seperti ini.

0360

360 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

360. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat dhuha empat rakaat, dan beliau menambah sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 719]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya shalat dhuha dan sedikitnya adalah empat rakaat. Ada yang mengatakan dua rakaat dan ini disebutkan dalam kitab Ash-Shahihain dari riwayat hadits Abu Hurairah, “Dan dua rakaat dhuha.” [Shahih: Al Bukhari 1981 dan Muslim 721]

Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata, “Sepertinya hadits ini menyebutkan sedikitnya rakaat dhuha yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Ia berkata, “Hadits ini juga menjadi dalil disunnahkannya shalat dhuha dan paling sedikit rakaatnya adalah dua rakaat. Tidak terus menerusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya tidak berarti menghapus kesunnahannya. Karena sunnah itu diketahui dengan ucapan.

Tidak menjadi syarat ditetapkannya hukum dengan adanya dalil ucapan dan perbuatan. Akan tetapi, yang rutin dilakukan oleh Rasulullah lebih dikuatkan dari yang tidak rutin dilakukannya.”

Adapun hukum shalat Dhuha, Ibnul Qayyim telah mengumpulkan pendapat-pendapat yang mencapai enam pendapat yaitu;

1) Sesungguhnya shalat dhuha adalah sunnah yang sangat dianjurkan.

2) Tidak disyariatkan, kecuali karena ada suatu sebab.

3) Tidak disunnahkan sama sekali.

4) Disunnahkan untuk dikerjakan sesekali dan ditinggalkan sesekali.

5) Disunnahkan untuk dijadikan rutinitas di rumah.

6) Shalat dhuha adalah bid’ah.

Beliau telah menyebutkan pendapat-pendapat ini berdasarkan dalil-dalil masing-masing dan pendapat yang paling kuat dari semua itu adalah bahwa shalat Dhuha itu sunnah. Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Ibnu Daqiq Al-‘Id. Benar, permasalahan ini telah dibantah oleh hadits Aisyah dan inilah haditsnya:

*****

– وَلَهُ عَنْهَا: أَنَّهَا سُئِلَتْ: «هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي الضُّحَى؟ قَالَتْ: لَا إلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ»

“Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah, ia ditanya, “Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu shalat dhuha? Ia berkata, “Tidak, kecuali ketika beliau datang dari bepergian.”

[Shahih: Muslim 717]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits pertama menunjukkan bahwa beliau selalu melaksanakan shalat dhuha, berdasarkan kata ‘kaana’ yang berarti memberikan faedah selalu. Hadits kedua menunjukkan bahwa tidak shalat dhuha, kecuali pada saat kedatangan beliau dari bepergian.

Hadits ini dikompromikan sebagai berikut, kata ‘kaana’ tidak selalu memberikan faedah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang tapi pada umumnya seperti itu. Jika ada petunjuk yang berbeda dari makna tersebut maka harus mengalihkan maknanya, sebagaimana riwayat ini. Riwayat kedua telah memalingkan maknanya dari perbuatan yang selalu dilakukan. Atau Aisyah menginginkan dengan ucapannya, “Tidak, kecuali ketika beliau datang dari bepergian”, untuk meniadakan penglihatannya pada shalat dhuha, dan dia tidak melihat Rasulullah melakukannya kecuali pada waktu tersebut. Lafadz hadits yang pertama mengabarkan tentang apa yang sampai kepadanya bahwa Rasulullah tidak meninggalkan shalat dhuha. Namun hal ini dilemahkan oleh riwayat berikut:

*****

– وَلَهُ عَنْهَا: «مَا رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي قَطُّ سُبْحَةَ الضُّحَى، وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا»

“Dan baginya darinya, “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat sunnah dhuha, dan sesungguhnya aku melakukan sunnah ini.”

[Shahih: Muslim 718]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan baginya (yaitu bagi Muslim riwayat ini juga ada pada Al-Bukhari dengan lafadznya, jika ia mengucapkan ‘dan bagi keduanya’ maka akan lebih baik) darinya (yaitu dari Aisyah) ‘Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat sunnah dhuha sama sekali , dan sesungguhnya aku melakukan sunnah ini (ia menafikan melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan shalat dhuha dan ia mengkhabarkan bahwa ia melakukannya, seakan landasan perbuatan ini dilakukannya karena adanya anjuran yang sampai kepadanya, dan dari perbuatan beliau kepadanya, jadi lafadz-lafadz ini tidak saling berlawanan).

Al-Baihaqi berkata, “Yang dimaksud dengan ucapannya, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat sunnah dhuha sama sekali ” -yakni Rasulullah tidak merutinkannya-, sedangkan ucapannya, “Sesungguhnya aku melakukannya” -yakni rutin untuk melakukannya. Ibnu Abdil Bar berkata, “Yang dikuatkan oleh riwayat yang disepakati Asy-Syaikhani adalah riwayat yang menetapkan adanya shalat dhuha, bukan riwayat Muslim yang sendiri dalam periwayatannya yaitu riwayat yang meniadakan. Kemudian beliau berkata, ‘Tidak melihatnya Aisyah shalat Rasulullah, tidak mengharuskan tidak terjadinya sesuatu yang telah ditetapkan oleh selainnya.

Inilah makna dari ucapan Al-Baihaqi, “Aku berkata, “Riwayat yang disepakati oleh Asy-Syaikhani adalah hadits Abu Hurairah dalam Ash-Shahihain,

أَنَّهُ أَوْصَاهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِأَنْ لَا يَتْرُكَ رَكْعَتَيْ الضُّحَى

“Sesungguhnya Rasulullah mewasiatkan kepadanya untuk tidak meninggalkan dua rakaat dhuha.” [Al-Bukhari (1178) dan Muslim (721)]

Dalam At-Targhib, terdapat hadits yang banyak tentang dilakukannya shalat dhuha, begitu pula dalam bilangan rakaatnya, diterangkan secara panjang lebar.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *