[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 102

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 08

0353

353 – وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالثَّلَاثَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

353. Dari Thalq bin Ali, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ats-Tsalats -perawi yang tiga-, dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 7567]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsit Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa beliau tidak berwitir. Akan tetapi shalat genap yang beliau mau. Ini adalah zhahir yang dilihat dari perilaku beliau. Apabila beliau shalat genap pada shalat witir yang pertama, maka hanya tinggal melakukan’witir satu rakaat, inilah yang beliau lakukan sebagai penutup witir. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar sesungguhnya ia berkata —ketika ditanya tentang masalah ini- “Jika kamu khawatir masuk waktu Subuh dan tertidur, maka shalatlah genap kemudian shalatlah setelah itu kemudian berwitirlah.”

0354

354 – وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُوتِرُ بِ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} [الأعلى: 1] ، {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} [الكافرون: 1] ، {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} [الإخلاص: 1] » ، رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَزَادَ: «وَلَا يُسَلِّمُ إلَّا فِي آخِرِهِنَّ»

354. Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu berwitir dengan Sabbihis marabikal A’la, Qulya Ayyuhal Kaafiruun dan Qul Huwallahu Ahad.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i ia menambahkan, “Dan beliau tidak salam kecuali pada akhirnya.”)

[Shahih: Abu Daud 1423]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu berwitir (yakni membaca pada shalat witir) dengan surah Al A’la (yakni pada rakaat pertama setelah membaca Al-Fatihah) dan surah Al-Kafirun (pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah) dan surah Al-lkhlash (pada rakaat ketiga juga setelah Al-Fatihah).

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil witir dengan tiga rakaat, yang bertolak belakang dengan hadits,

«لَا تُوتِرُوا بِثَلَاثٍ»

“Tidak boleh berwitir dengan tiga rakaat”.

Hadits ini dari Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh Al-Hakim. Al-Hakim juga menshahihkan riwayat dari Ibnu Abbas dan Aisyah tentang makruhnya witir dengan tiga rakaat. Dalam hal ini, kami telah menjelaskan kompromi kedua hadits ini. Kemudian witir dengan tiga rakaat adalah asal macam-macam witir sebagaimana yang Anda ketahui, maka tidak masalah dalam hal ini. Al-Hanafiyah dan Al-Hadawiyah berpendapat tentang penentuan witir dengan tiga rakaat dan dilakukan dengan bersambung. Mereka mengatakan, “Karena para shahabat sepakat bahwa witir dengan tiga rakaat yang bersambung adalah boleh.” Mereka berbeda pendapat selain ini. Mereka mengambil dalil dengan dalil ijma’. Dan pendapat ini tertolak dengan tidak sahnya ijma’ sebagaimana yang Anda ketahui.

0355

355 – وَلِأَبِي دَاوُد وَالتِّرْمِذِيِّ نَحْوُهُ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، وَفِيهِ: «كُلُّ سُورَةٍ فِي رَكْعَةٍ. وَفِي الْأَخِيرَةِ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} [الإخلاص: 1] ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ»

355. Dari riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi, serupa dengan hadits di atas, dan dari Aisyah, dalam hadits ini disebutkan, “Setiap surah ini di setiap rakaat, dan rakaat terakhir membaca surah Al-lkhlash dan Al-Muawidzatain.”

[shahih: Shahih Abi Dawud 1424]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Serupa dengan hadits di atas (yaitu seperti hadits Ubay) dari Aisyah, dalam hadits ini disebutkan, “Setiap surah ini (yaitu surah Al-A’la dan Al-Kafirun) di setiap rakaat (yaitu rakaat pertama dan kedua, sebagaimana yang telah kami jelaskan) dan rakaat terakhir membaca surah Al-lkhlash dan Al-Muawidzatain.”

Tafsir Hadits

Hadits Aisyah ini layyin, karena di sanad hadits ini ada Khashif Al-Jazari. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ad-Daraquthni dari hadits Yahya bin Said dari Umrah dari Aisyah, Al-Uqaili berkata, “Isnadnya baik.” Ibnul Jauzi, Ahmad dan Yahya bin Main mengingkari tambahan Al-Muawwidzatain.” Ibnu Sakan meriwayatkan bagi hadits ini adalah syahid (riwayat penguat) dari hadits Abdullah bin Sarjas dengan sanad yang gharib.

0356

356 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَوْتِرُوا قَبْلَ أَنْ تُصْبِحُوا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَلِابْنِ حِبَّانَ «مَنْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ وَلَمْ يُوتِرْ فَلَا وِتْرَ لَهُ»

356. Dari Abu Said Al-Khudri sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Berwitirlah kalian sebelum masuk waktu Shubuh.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 674]

Dan menurut riwayat Ibnu Hibban, “Barangsiapa yang menjumpai waktu Subuh sedang ia belum berwitir, maka tidak ada witir baginya.”

[Shahih: Al-Irwa 2/153 – ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Berwitirlah kalian sebelum masuk waktu Subuh (ini adalah dalil bahwa shalat witir dilakukan sebelum shalat Subuh) barangsiapa yang menjumpai waktu Subuh sedang ia belum berwitir maka tidak ada witir baginya (ini dalil yang menunjukkan tidak disyariatkannya witir setelah keluar waktunya).

Tafsir Hadits

Adapun jika yang dimaksud tidak boleh mengqadha, maka bukan itu yang dimaksud. Akan tetapi yang dimaksud adalah orang yang meninggalkannya secara sengaja. Sesungguhnya ia akan terlewatkan sebuah sunnah yang mulia sehingga ia tidak akan mungkin menemukannya. Telah diriwayatkan dari Ibnul Mundzir dari sekelompok ulama salaf, “Sesungguhnya orang yang keluar pada waktu fajar, maka waktunya ikhtiyari (ada pilihan) dan tinggallah waktunya idhthirari (mendesak) hingga melaksanakan shalat Subuh.”

Adapun orang yang tertidur atau terlupa dengan witirnya, maka telah diterangkan hukumnya pada hadits berikut.

0357

357 – وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ

357. Dan darinya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang tertidur dari witir atau ia terlupa melaksanakannya, hendaknya ia shalat ketika bangun atau ketika ia ingat.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa’i)

[Shahih: At Tirmidzi 465]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Yang dimaksud ‘darinya’ adalah dari Abu Said Al-Khudri. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang tertidur dari witir atau ia terlupa melaksanakannya maka hendaknya ia shalat ketika bangun atau ketika ia ingat.” (yaitu bangun dari tidurnya atau teringat dari lupa).

Tafsif Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidur dari witirnya atau terlupa melakukannya maka hukumnya seperti hukum orang yang tertidur dan terlupa dari shalat fardhu. Dalam keadaan seperti ini, ia dapat melakukan shalat itu ketika bangun atau ingat. Hal ini diqiyaskan melaksanakan shalat pada waktunya. Sebagaimana yang Anda ketahui dalam masalah orang yang tertidur atau lupa dari shalat fardhu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *