[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 101

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 07

0349

349 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. قَالَتْ عَائِشَةُ، قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ قَالَ: يَا عَائِشَةُ، إنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا عَنْهَا: «كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ عَشْرَ رَكَعَاتٍ، وَيُوتِرُ بِسَجْدَةٍ، وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ، فَتِلْكَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً»

349. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menambah baik dalam bulan Ramadhan maupun lainnya lebih dari sebelas rakaat, beliau shalat empat rakaat, dan jangan tanya tentang baiknya shalat tersebut dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat rakaat dan jangan tanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga rakaat.”Aisyah berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Engkau tidur sebelum berwitir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur tetapi hatiku tidak tidur.” (Muttafaq Alaih)”

[Al-Bukhari (1147), dan Muslim (738)]

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Rasulullah pada suatu malam shalat sepuluh rakaat, shalat witir satu rakaat dan shalat fajar dua rakaat, maka semuanya tiga belas rakaat.”

[Muslim (738) dan aku tidak melihat hadits tersebut pada Al-Bukhari.]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menambah baik dalam bulan Ramadhan maupun lainnya lebih dari sebelas rakaat (kemudian dirinci dengan ucapan) shalat empat rakaat (dapat dipahami shalat ini dilakukan secara sambung dan ini yang zhahir, dapat pula dipahami ia dipisah dan yang ini tafsiran cukup jauh, tetapi ia sesuai dengan riwayat, “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat.”) “Jangan tanya tentang baik dan panjangnya” (ucapan ini merupakan larangan untuk bertanya, dapat jadi karena sulitnya pembicara menggambarkan shalat tersebut, maka tidak ada gunanya pertanyaan atau karena orang sudah mengetahui baiknya shalat beliau dan panjangnya karena masyhurnya hal tersebut, sehingga tidak perlu ditanyakan lagi atau ia tidak mampu mengukur sifat baik dan panjang tersebut).”Kemudian shalat lagi empat rakaat dan jangan tanya baik dan panjangnya kemudian beliau shalat tiga rakaat.” Aisyah berkata, “Aku berkata, Wahai Rasulullah, apakah Engkau tidur sebelum berwitir?” (seakan-akan beliau tidur setelah melaksanakan empat rakaat, kemudian bangun lagi untuk mengerjakan witir tiga rakaat, dan seakan-akan telah menetap di dalam benak Aisyah bahwa tidur membatalkan wudhu, sehingga ia bertanya hal tersebut dan Rasulullah menjawabnya dengan sabdanya) “Ya Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur tetapi hatiku tidak tidur.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa yang menjadi pembatal wudhu adalah tidurnya hati yang akan terjadi bila seseorang tertidur nyenyak. Maka keistimewaan Rasulullah adalah tidur beliau tidak membatalkan wudhunya. Ibnu Hajar telah menjelaskan hal tersebut dalam At-Talkhish berlandaskan kepada hadits ini, dan hadits Ibnu Abbas, “Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tertidur sampai terdengar suaranya (mendengkur), kemudian beliau bangun untuk shalat dan tidak berwudhu.” Di dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Sesungguhnya para nabi tertidur matanya, namun hati mereka tidak tidur.” (Muttafaq Alaih) ”

Ketahuilah, sesungguhnya telah terjadi perselisihan riwayat dari Aisyah tentang tatacara shalat malam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan jumlah rakaatnya. Disebutkan tujuh, sembilan, dan sebelas rakaat selain dua rakaat fajar. Diantaranya, riwayat yang dijelaskan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah, “Rasulullah shalat malam sepuluh rakaat.”Zhahirnya hadits ini menunjukkan shalat itu dilakukan secara sambung tanpa duduk —tahiyat-, ‘Kemudian beliau shalat witir dengan satu sujud’, yaitu satu rakaat, ‘kemudian beliau ruku’ untuk dua rakaat fajar’. Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya beliau selalu shalat malam tiga belas rakaat, dan ketika mendengar adzan beliau shalat dua rakaat dengan ringan, maka jadilah lima belas rakaat.”

Lafadz-lafadz hadits Aisyah juga terjadi perselisihan. Sehingga sebagian menyangka hadits ini mudhtharib, namun sebenarnya tidak demikian, hadits -hadits ini dapat dipahami pada waktu-waktu yang berlainan yang berbeda-beda cara pelaksanaannya. Juga menunjukkan kebolehan setiap perbuatan tersebut.

Ini tidak sesuai dengan ucapannya, Tidak di lainnya’, akan tetapi lebih baik dikatakan, “Sesungguhnya Aisyah ingin mengabarkan tentang perbuatan Rasulullah pada umumnya, tidak menafikan yang lainnya, karena yang lainnya ini menceritakan tentang kejadian yang jarang dilakukan.”

****

– وَعَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ، لَا يَجْلِسُ فِي شَيْءٍ إلَّا فِي آخِرِهَا»

Dan Darinya Rasulullah SAW shalat malam 13 rakaat, witir 5 rakaat, dan beliau tidak duduk kecuali di akhirnya.

[Shahih: Muslim 737]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Maksud dari ungkapan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat malam tiga belas rakaat”, ia tidak merinci dan menjelaskan pada rakaat ke berapa beliau salam, sebagaimana tersebut dalam hadits sebelumnya. Tetapi ia menjelaskan dalam riwayat ini, “beliau berwitir dari shalat itu lima rakaat”, yaitu dari rakaat yang telah disebutkan, “tidak duduk (tahiyat) pada satupun kecuali di rakaat akhir”, seakan-akan ini salah satu witir yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ada juga riwayat tentang witir beliau dengan tiga rakaat, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh hadits yang lalu.

*****

– وَعَنْهَا، – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «من كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَانْتَهَى وِتْرُهُ إلَى السَّحَرِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا.

Dari Aisyah, ia berkata, “Dari setiap malam Rasulullah selalu berwitir”, yaitu dari awalnya, tengahnya, dan akhirnya, “berakhir sampai waktu sahur”. (Muttafaqun Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 951 dan Muslim 745]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini menjelaskan tentang waktu pelaksanaan witir, yaitu pada malam sepenuhnya setelah shalat Isya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits Kharijah bin Hudzafah, ketika Rasulullah bersabda, “Shalat witir itu antara waktu Isya sampai terbitnya fajar.” Kami telah menjelaskan macam-macam witir sebagaimana yang terdapat pada Hasyiyah Dhau’ An-Nahar.

0350

350 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: يَا عَبْدَ اللَّهِ، لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

350. DariAbdullah bin Amr bin Ash, ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti Fulan, dulu ia melaksanakan shalat malam, kemudian ia tinggalkan shalat malam itu.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1152 dan Muslim 1159]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Mengenai kata ‘Seperti fulan’, telah berkata pengarang dalam Fath Al-Bari, “Aku tidak mendapatkan namanya dari riwayat mana pun. Seakan-akan ketidaktahuan ini yang dijadikan alasan untuk tidak menyebutkan namanya.”

Tafsir Hadits

Ibnul Arabi berkata, “Hadits ini memberikan faedah bahwa melaksanakan shalat malam bukanlah kewajiban. Jika shalat malam ini wajib maka orang yang meninggalkannya tidak akan disikapi seperti itu. Akan tetapi akan dicela dengan seberat-berat celaan. Hadits ini juga memberikan anjuran untuk beristiqamah dengan apa yang menjadi kebiasaan baik seseorang tanpa berlebihan, demikian juga dapat diambil hukum, makruhnya memutus sebuah ibadah.

0351

351 – وَعَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

351. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu. Alaihi wa Sallam bersabda, “Berwitirlah kalian wahai Ahli Qur’an, sesungguhnya Allah itu witir (tunggal) menyukai yang witir.” (HR. Al-Khamsah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)”

[Shahih: Abu Daud 1416]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Berwitirlah kalian wahai ahli Qur’an, sesungguhnya Allah itu witir -tunggal-menyukai yang witir (dalam An-Nihayah disebutkan, yang dimaksud dengan witir yaitu tunggal dalam Dzat-Nya, tidak menerima pembagian dan pengkotak-kotakan, esa dalam sifat, tidak ada yang serupa dengan-Nya juga tidak ada yang sepadan dengan-Nya, esa dalam perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang membantu-Nya).

“Menyukai witir” yaitu menetapkan witir bagi-Nya dan menerima amal witir dari yang melakukannya.

Yang dimaksud dengan Ahli Qur’an adalah orang-orang mukmin, karena mereka membenarkan Al-Qur’an. Terkhusus bagi mereka yang menghafalnya, selalu membaca dan menjaga batasan-batasannya.

Alasan bahwa Allah witir seperti yang dijelaskan oleh Al-Qadhi Iyadh, “Sesungguhnya setiap sesuatu yang dinisbatkan kepada sesuatu dengan serendah-rendahnya nisbat, maka akan disukai-Nya. Dan Anda telah mengetahui bahwa perintah ini menunjukkan sunnah, berdasarkan dalil-dalil yang telah lalu yang menunjukkan tidak wajibnya witir.

0352

352 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

352. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 988 dan Muslim 751]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Hadits

Dalam Fath Al-Bari dijelaskan bahwa ulama berbeda pendapat dalam dua permasalahan,

Pertama; Dalam hal apakah disyariatkan dua rakaat setelah witir dengan duduk?

Kedua; Orang yang telah melaksanakan witir kemudian ia ingin melaksanakan shalat sunnah malam lagi, apakah cukup baginya dengan witir yang pertama, dan melaksanakan shalat sunnah sekehendaknya, atau ia menggenapkan witirnya dengan satu rakaat kemudian shalat sunnah? Jika ia melakukan hal tersebut, apakah ia perlu berwitir atau tidak?

Adapun berkenaan dengan masalah yang pertama, terdapat sebuah riwayat dari jalan Abu Salamah dari Aisyah,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ وَهُوَ جَالِسٌ»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat dua rakaat setelah witir dengan duduk.” [Muslim (738)]

Sebagian ahlul ilmi berpendapat, dijadikannya perintah dalam sabdanya, “Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari dengan witir” khusus bagi orang yang berwitir pada akhir malam. Pendapat ini dibantah oleh golongan yang tidak sependapat, bahwa sesungguhnya dua rakaat yang telah disebutkan adalah dua rakaat fajar. Imam An-Nawawi memahami bahwa Rasulullah melakukan demikian untuk menjelaskan bolehnya melakukan shalat sunnah setelah witir dan bolehnya shalat sunnah dilakukan sambil duduk.

Adapun yang kedua, sebagian besar berpendapat ia boleh shalat genap sebanyak apa pun yang ia mau dan witir pertama dia tidak akan berkurang. Hal ini didasarkan pada hadits berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *