[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 100

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 06

0346

346 – وَعَنْ خَارِجَةَ بْنِ حُذَافَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ اللَّهَ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ قُلْنَا: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الْوِتْرُ، مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

346. Dari Kharijah bin Hudzafah berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memanjangkan kalian dengan shalat, yang mana hal itu lebih baik daripada onta merah.” Kami berkata, “Shalat apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Shalat witir, yaitu antara shalat Isya sampai terbitnya fajar.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Dhaif: Dhaif Al-Jami’ (1622)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Kharijah Ibnu Hudzafah adalah seorang Quraisy Adawi. Ia mengimbangi kekuatan seribu tentara. Diriwayatkan bahwa Amr bin Ash meminta tambahan tiga ribu pasukan dari Umar. Kemudian Umar menambahnya dengan tiga orang yaitu Kharijah bin Hudzafah, Az-Zubair bin Awwam, Al-Miqdad bin Al-Aswad. Kharijah menjadi qadhi (hakim) di Mesir pada pemerintahan Amr bin Ash. Dikatakan, ia menjadi tangan kanan Amr bin Ash dan terhitung sebagai penduduk Mesir. Ia dibunuh oleh Khawarij yang menyangka bahwa ia adalah Amr bin Ash ketika orang khawarij bersepakat untuk membunuh tiga tokoh, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan Amr bin Ash. Takdir Allah telah sempurna kepada Ali Alaihissallam tidak kepada yang lain. Dan akibat salah bunuh terhadap Kharijah ini, seorang penyair berkata,

فَلَيْتَهَا إذَا فَدَتْ بِخَارِجَةَ … فَدَتْ عَلِيًّا بِمِنْ شَاءَتْ مِنْ الْبَشَرِ

Alangkah mulianya ketika Amr diganti oleh Kharijah…. Ali telah diganti dengan siapa saja yang dikehendaki dari manusia

Peristwa terbunuhnya Kharijah ini terjadi pada tahun 40 H.

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Allah memanjangkan kalian dengan shalat yang itu lebih baik daripada onta merah.” Kami berkata, “Shalat apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Shalat witir, yaitu antara shalat Isya sampai terbitnya fajar”

Saya katakan, “Setelah mengeluarkan hadits ini, At-Tirmidzi berkata, “Hadits Kharijah bin Hudzafah ini gharib, tidak diketahui kecuali dari hadits Yazid bin Abi Habib dan banyak para muhaddits yang keliru terhadap hadits ini.” Kemudian beliau menjelaskan kesalahan itu, dan jadilah penjelasan peringatan ini yang terbaik sebagaimana yang diucapkan oleh At-Tirmidzi.

Tafsir Hadits

Hadits ini memberikan faedah tentang tidak wajibnya witir. Karena ucapan Amaddakum’ (Allah memanjangkan kalian) merupakan tambahan yang menguatkan lafazh yang ditambahkan. Dikatakan, ‘ditambahkan pasukan maka bertambahlah ia’ jika ditambahkan sesuatu itu dan disandingkan kepadanya maka sesuatu itu akan menjadi kuat dan banyak. Dikatakan ‘ditambahkan obat maka bertambahlah ia’ yaitu bertambahnya obat dan efek pengobatannya. Aku menambahkan lampu dan bumi’ yaitu ketika aku memperbaiki keduanya dengan minyak dan dempul. Telah berlalu pembahasan tentang perbedaan pendapat dalam masalah kewajiban witir dan tidaknya.

Hikmah Disyariatkannya Shalat Sunnah

Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari hadits Tamim Ad-Dari secara marfu’,

«أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ فَإِنْ كَانَ أَتَمَّهَا كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَتَمَّهَا قَالَ اللَّهُ – تَعَالَى – لِمَلَائِكَتِهِ اُنْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَتُكْمِلُونَ بِهَا فَرِيضَتَهُ ثُمَّ الزَّكَاةُ كَذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ»

“Perkara yang pertama kali dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, jika ia telah menyempurnakannya maka ia ditulis sempurna, dan jika ia belum menyempurnakannya, maka Allah berfirman pada malaikat-Nya, “Lihatlah pada hamba-Ku itu apakah ia melakukan shalat sunnah, jika ia melakukan shalat sunnah- maka sempurnakanlah shalat wajibnya dengan shalat sunnah itu, begitu pula zakat dan puasa. Selanjutnya setiap amal diperlakukan seperti hal tersebut.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 2574]

Dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Kunnaa. Dari hadits Ibnu Umar secara marfu’,

«أَوَّلُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِي الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَأَوَّلُ مَا يُرْفَعُ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَأَوَّلُ مَا يُسْأَلُونَ عَنْهُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ فَمَنْ كَانَ ضَيَّعَ شَيْئًا مِنْهَا يَقُولُ اللَّهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى -: اُنْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي نَافِلَةً مِنْ صَلَوَاتٍ تُتِمُّونَ بِهَا مَا نَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ وَانْظُرُوا صِيَامَ عَبْدِي شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنْ كَانَ ضَيَّعَ شَيْئًا مِنْهُ فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي نَافِلَةً مِنْ صِيَامٍ تُتِمُّونَ بِهَا مَا نَقَصَ مِنْ الصِّيَامِ وَانْظُرُوا فِي زَكَاةِ عَبْدِي فَإِنْ كَانَ ضَيَّعَ شَيْئًا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي نَافِلَةً مِنْ صَدَقَةٍ تُتِمُّونَ بِهَا مَا نَقَصَ مِنْ الزَّكَاةِ فَيُؤْخَذُ ذَلِكَ عَلَى فَرَائِضِ اللَّهِ وَذَلِكَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَعَدْلِهِ فَإِنْ وُجِدَ لَهُ فَضْلٌ وُضِعَ فِي مِيزَانِهِ وَقِيلَ لَهُ اُدْخُلْ الْجَنَّةَ مَسْرُورًا، وَإِنْ لَمْ يُوجَدْ لَهُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ أُمِرَتْ الزَّبَانِيَةُ فَأَخَذَتْ بِيَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ ثُمَّ قُذِفَ فِي النَّارِ»

“Perkara pertama yang difardhukan oleh Allah kepada hamba-Nya adalah shalat lima waktu. Perkara yang pertama diangkat dari manusia adalah shalat lima waktu. Dan perkara pertama yang ditanyakan adalah shalat lima waktu. Barangsiapa yang menyia-nyiakan salah satu darinya maka Allah berfirman, ‘Lihatlah apakah kalian menemukan pada hamba-Ku itu shalat sunnah yang bisa kalian sempurnakan dengannya pada bagian-bagian yang kurang dari shalat fardhunya. Lihatlah pada puasa hamba-Ku di bulan Ramadhan, jika ia menyia-nyiakan sesuatu dari puasanya itu maka lihatlah apakah ada pada hamba-Ku puasa sunnah yang bisa kalian sempurnakan dengannya yang kurang dari puasa wajibnya. Lihatlah ke zakat hamba-Ku, jika ia menyia-nyiakan sesuatu darinya maka lihatlah apakah kalian menemukan dari hamba-Ku ini sedekah sunnah yang dapat kalian sempurnakan dengannya apa yang kurang dari zakatnya. Demikianlah diambil dari kewajiban-kewajiban Allah (atas hamba-Nya). Demikianlah kasih sayang dan keadilan Allah, jika didapatkan suatu keutamaan padanya, maka diletakkan pada timbangan-Nya. Dikatakan kepada hamba tersebut, “Masuklah ke surga dalam keadaan bergembira.” Jika semua tadi tidak ditemukan maka diperintahkanlah malaikat Az-Zabaniyah untuk menyeret kedua tangan dan kakinya, kemudian dilemparkan ke dalam neraka.” [Dhaif: Dhaif Al Jami’2136]

Hadits ini sebagai syarah dan penjelasan dari hadits Tamim Ad-Dari.

0347

347 – وَرَوَى أَحْمَدُ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ نَحْوَهُ

347. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya, serupa dengan hadits di atas.

[Dhaif: Al-Irwa’ 2/159. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Yakni serupa dengan hadits Kharijah, maka penjelasannya pun seperti penjelasan hadits Kharijah.

0348

348 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد بِسَنَدٍ لَيِّنٍ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

– وَلَهُ شَاهِدٌ ضَعِيفٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عِنْدَ أَحْمَدَ.

348. Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Witir itu haq, barangsiapa yang tidak berwitir maka bukanlah dari (golongan) kami.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang layyin dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Dhaif: Dhaif Al Jami’ 6150]

Hadits ini memiliki riwayat pendukung yang juga dhaif dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad.

[Sanadnya Dhaif: Al-Irwa 2/147. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Buraidah adalah seorang tabiin yang tsiqah. Beliau mendengar dari bapaknya, Samurah bin Jundab dan lain-lainnya dan pernah menjadi qadhi di Marwa dan meninggal di sana. Sedangkan bapaknya Buraidah bin Hasyib telah kita bicarakan sebelumnya.

Penjelasan Kalimat

“Witir itu haq” (yakni harus, ini adalah dalil bagi orang-orang yang mewajibkan witir) barangsiapa yang tidak berwitir, maka bukanlah dari (golongan) kami” (diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang lemah, karena di dalamnya terdapat Abdullah bin Abdullah Al-Attaki, ia telah didhaifkan oleh Al-Bukhari, An-Nasai. Berkata Abu Hatim, “Ia adalah shalihul hadits.” Kemudian dishahihkan oleh Al-Hakim. Berkata Ibnu Ma’in, “Hadits ini mauquf.”

Hadits ini memiliki riwayat penunjang yang juga dhaif dari Abu Hurairah dari riwayat Ahmad. Beliau meriwayatkan dengan lafazh, “Barangsiapa yang tidak berwitir, maka bukan termasuk golongan kami.” Di dalam hadits ini ada Al-Khalil bin Murrah. Ia seorang munkarul hadits.

Sanad haditsnya terputus sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad. Makna ‘laisa minna’ adalah bukan dari sunnah dan jalan kami.

Syarah Hadits

Hadits ini dipahami untuk menguatkan sunnahnya melaksanakan witir sebagai bentuk kompromi antara hadits ini dan hadits-hadits yang menunjukkan tidak wajibnya witir.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *