[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 10

01.03. BAB MENGHILANGKAN NAJIS 02

0026

26 – وَعَنْ أَبِي السَّمْحِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

26. Dari Abu As Samhi RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Kencing bayi perempuan dicuci dan kencing bayi laki-laki diperciki’.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dan dishahihkan Al Hakim)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 8117]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu As Samhi, namanya adalah Iyad. Pelayan Rasulullah SAW, ia hanya memiliki satu hadits.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Al Bazzar, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dari hadits Abu As Samhi, ia berkata,

«كُنْت أَخْدُمُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأُتِيَ بِحَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ فَبَالَ عَلَى صَدْرِهِ، فَجِئْت أَغْسِلُهُ فَقَالَ: يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ»

“Aku pernah melayani Rasulullah SAW, didatangkan Hasan atau Husain lalu kencing di atas dadanya, lalu aku datang mencucinya, maka beliau bersabda, ‘Kencing anak perempuan dicuci.’ (Al Hadits)

[Shahih: Shahih Ibnu Majah 532]

Juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah serta Al Hakim dari hadits Lubabah binti Al Harits, ia berkata, ‘Ia adalah Al Husain.’ Lalu ia pun menyebutkan hadits tersebut. Dan dalam lafazhnya:

«يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْأُنْثَى وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ»

“Dicuci dari kencing anak perempuan, dan diperciki kencingnya anak laki-laki.”

[Hasan Shahih: Shahih Abu Daud 375]

Para perawi tersebut dan Ibnu Hibban meriwayatkannya dari Ali RA, ia berkata,

«قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي بَوْلِ الرَّضِيعِ: يُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلَامِ وَيُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ»

“Rasulullah SAW bersabda mengenai kencing bayi, ‘Kencing bayi laki-laki diperciki dan kencing anak perempuan dicuci’.”

[Hasan: Shahih Al Jami’ 8172]

Qatadah berkata, “Hal ini jika bayi belum makan makanan, namun jika sudah makan maka harus dicuci.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 378]

Dalam bab ini terdapat banyak hadits marfu dan mauquf, statusnya sebagaimana dikatakan Al Baihaqi, ‘Jika dikumpulkan satu dengan lainnya ia menjadi kuat.”

Hadits di atas menunjukkan perbedaan antara kencing anak laki-laki dengan kencing anak perempuan mengenai hukumnya, hal itu sebelumnya keduanya makan makanan, sebagaimana yang telah dibatasi oleh perawi hadits yang diriwayatkan secara marfu’.

Dalam Shahih Ibnu Hibban dan Al Mushannaf (1/114) karya Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Syihab, “Telah ditetapkan dalam As sunnah agar kencing bayi yang belum makan makanan diperciki.” Maksudnya adalah bayi yang belum mengkonsumsi selain air susu ibunya (ASI), dan ada yang berpendapat selain itu.

Dalam hal ini para ulama terbagi tiga pendapat:

pertama: Pendapat Al Hadawiyah, Al Hanafiyah dan Al Malikiyah, bahwa wajib mencucinya seperti najis-najis lainnya diqiyaskan atas semua najis, lalu mereka mentakwil hadits-hadits tersebut, yakni mendahulukan qiyas atas nash.

kedua; Salah satu pendapat Asy-Syafi’iyah dan merupakan pendapat paling shahih menurut mereka, bahwa cukup memerciki pada kencing anak laki-laki tetapi tidak pada kencing anak perempuan, karena disamakan dengan najis-najis lainnya berdasarkan hadits yang diriwayatkan dan membedakan antara keduanya. Ini adalah pendapat Ali RA, Atha’, Hasan, Ahmad dan Ishaq serta yang lainnya.

ketiga; cukup dengan memerciki pada keduanya, ini adalah pendapat al Auza’i.

Apakah kencing bayi suci atau najis? Mayoritas berpendapat bahwa kencing bayi itu najis, hanya saja syariat memberikan keringanan dalam hal membersihkannya.

Perlu diketahui bahwa (النَّضْحَ) sebagaimana dikatakan An Nawawi di dalam Syarh Muslim yaitu bahwa sesuatu yang terkena kencing dipercikkan air kepadanya hingga rata tetapi tidak sampai mengalir dan menetes air darinya, berbeda dengan memerciki yang lainnya, dimana disyaratkan mengalir dan menetesnya sebagian air dari tempat yang terkena percikan, meski tidak disyaratkan memerasnya, ia berkata, “Inilah yang paling shahih dan terpilih, ini adalah pendapat Imam Al Haramain dan para muhaqqiq (peneliti).

0027

27 – وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ – فِي دَمِ الْحَيْضِ يُصِيبُ الثَّوْبَ تَحُتُّهُ، ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ، ثُمَّ تَنْضَحُهُ، ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

27. Dari Asma binti Abu Bakar RA bahwa Nabi SAW bersabda mengenai darah haidh yang mengenai pakaian, “Engkau menggosoknya kemudian mengeruknya dengan air, kemudian memercikinya lalu engkau shalat padanya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 227, Muslim 291]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Asma’ adalah puteri Abu Bakar, Ummu Abdullah bin Az Zubair, masuk Islam di Makkah sejak dahulu dan membaiat Nabi SAW. ia lebih tua sepuluh tahun dari Aisyah RA, dan meninggal dunia di Makkah pada tahun 73 H, setelah terbunuh putranya kurang dari sebulan dalam usia 100 tahun. Giginya tetap utuh dan tidak ada perubahan pada akalnya, tetapi ia telah buta.

Penjelasan Kalimat

Nabi SAW bersabda mengenai darah haidh yang mengenai pakaian, “Engkau menggosoknya (yakni, mengeruknya, maksudnya menghilangkan bendanya) kemudian mengeruknya dengan air, (yaitu kain tersebut. Maksudnya ia menggosok darah tersebut dengan ujung-ujung jarinya agar dapat hilang dan yang meresap ke dalam kain tersebut dapat keluar) kemudian memercikinya (yakni mencucinya dengan air) lalu engkau shalat padanya.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan lafazh,

[اُقْرُصِيهِ بِالْمَاءِ وَاغْسِلِيهِ]

“Gosoklah kemudian cuci dan shalat padanya.”

[Shahih: Shahih Ibnu Majah 634]

Dan Ibnu Abi Syaibah dengan lafazh:

[اُقْرُصِيهِ بِالْمَاءِ وَاغْسِلِيهِ وَصَلِّي فِيهِ]

Gosok dan cucilah dengan air, lalu shalatlah padanya.”

[Al Mushannaf 1/91]

Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari hadits Ummi Qais binti Mihshan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai darah haid yang mengenai pakaian, maka beliau menjawab,

حُكِّيهِ بِصَلَعٍ وَاغْسِلِيهِ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Gosoklah dengan batu, cucilah dengan air dan daun bidara.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 363]

Ibnu Al Qaththan berkata, “Isnadnya pada puncak keshahihan, dan saya tidak mengetahui ada cacatnya. Sabda beliau, ‘Dengan Ash Shal’, yaitu batu.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut adalah dalil najisnya darah haidh, wajibnya mencuci dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkannya berdasarkan banyaknya lafazh yang digunakan dan yang mengungkapkannya, seperti menggosok, mengeruk dan memerciki untuk menghilangkan bekasnya. Dan zhahirnya, bahwa tidak wajib selain itu, meskipun masih ada bendanya yang tersisa maka tidak wajib memaksakan untuk menghilangkannya karena tidak disebutkan dalam hadits tersebut sementara dibutuhkan keterangan, juga karena diriwayatkan pada yang lainnya:

[وَلَا يَضُرُّك أَثَرُهُ]

‘Dan bekasnya tidak membahayakanmu.’

[shahih: shahih Abu Daud 365]

0028

28 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَتْ خَوْلَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَذْهَبْ الدَّمُ؟ قَالَ: يَكْفِيك الْمَاءُ وَلَا يَضُرُّك أَثَرُهُ» أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ. وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ.

28. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, “Khaulah bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, bagaimana jika darahnya tidak hilang?’ beliau menjawab, ‘Cukuplah bagimu air, dan tidak membahayakanmi bekasnya’.” (HR. At Tirmidzi dan sanadnya dhaif)

[Shahih: Shahih Abu Daud 365, dan saya tidak menemukannya dalam Sunan At Tirmidzi]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits tersebut adalah dalil terhadap apa yang telah kami sebutkan, bahwa tidak wajib menggunakan barang tajam untuk menghilangkan bekas najis dan bendanya. Dan pendapat itulah yang diambil pada sekelompok Ahlul Bait, Al Hanafiyah dan Asy-Syafi’iyah.

Yang mewajibkan menghilangkannya dengan memaksa – yaitu Al Hadawiyah – berdalil bahwa maksud dari bersuci adalah agar orang yang akan menunaikan shalat dalam kesiapan yang sempurna dan dengan perhiasan yang bagus, dan berdasarkan hadits:

«اُقْرُصِيهِ وَأَمِيطِيهِ عَنْك بِإِذْخِرَةٍ»

‘Gosok dan hilangkanlah ia (darah haidh) darimu dengan idzkhir.’

[Shahih: Shahih At Tirmidzi 138]

Ia berkata dalam Asy Syarh, “Anda telah mengetahui bahwa yang telah disebutkan tidak memenuhi apa yang diinginkan, dan bahwa pendapat pertama lebih kuat”, ini komentarnya.

Ada juga yang berkata, “Telah disebutkan perintah mencuci dari haidh dengan air dan daun bidara, dan daun bidara termasuk sesuatu yang tajam, dan hadits yang diriwayatkan dengannya sangat kuat sebagaimana yang telah Anda ketahui, maka ia membatasi apa yang disebutkan secara mutlak dan mengkhususkan menggunakan sesuatu yang tajam ketika mencuci darah haidh, dan tidak diqiyaskan dengan najis lainnya, lantaran tidak sempurnanya syarat-syarat qiyas. Hadits: ‘Tidak membahayakanmu bekasnya”, dan hadits Aisyah RA serta perkataannya , ‘Dan tidak hilang’, dapat dipahami bahwa itu setelah menggunakan barang tajam.

Inilah hadits-hadits yang disebutkan dalam bab ini, yang mencakup najisnya arak, daging keledai piaraan, mani, air seni bayi laki-laki dan perempuan serta darah haidh. Seandainya penulis memasukkan bab tentang kencingnya Arab Badui dalam masjid, dan menyamak kulit dan yang sepertinya, niscaya akan lebih bagus.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *