[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 09

01.03. BAB MENGHILANGKAN NAJIS 01

0022

٢٢ – عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْخَمْرِ: تُتَّخَذُ خَلًّا؟ قَالَ: لَا» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيحٌ.

22. Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang arak dijadikan cuka, beliau menjawab, “Tidak boleh” (HR. Muslim dan At Tirmidzi ia berkata hasan shahih)

[Shahih: Muslim 1983]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW ditanya tentang arak (yaitu setelah diharamkannya) dijadikan cuka, beliau menjawab, “Tidak boleh” (HR. Muslim dan At Tirmidzi ia berkata hasan shahih)

Mengubah arak menjadi cuka di sini ditafsirkan berobat dengannya setelah menjadi arak, yang seperti itu juga hadits Abu Thalhah, karena

«لَمَّا حُرِّمَتْ الْخَمْرُ سَأَلَ أَبُو طَلْحَةَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ خَمْرٍ عِنْدَهُ لِأَيْتَامٍ هَلْ يُخَلِّلُهَا؟ فَأَمَرَهُ بِإِرَاقَتِهَا»

ketika arak telah diharamkan Abu Thalhah bertanya kepada Nabi SAW mengenai arak yang ada padanya milik anak-anak yatim, apakah boleh ia menjadikannya cuka? Maka Nabi SAW menyuruh menumpahkannya. Dikeluarkan Abu Daud dan At Tirmidzi.

[Shahih: At Tirmidzi 1293]

Tafsir Hadits

Mengamalkan hadits tersebut adalah pendapat Al Hadawiyah dan Asy-Syafi’i, karena hadits menunjukkan hal itu, maka seandainya arak diubah menjadi cuka, tidak akan menjadi halal dan suci, dan zhahir hadits itu menunjukkan bahwa dengan penawar apa pun, meski dengan memindahkannya dari tempat gelap ke sinar matahari atau sebaliknya. Ada yang mengatakan bahwa dapat menjadi suci dan halal. Adapun jika menjadi cuka dengan sendirinya tanpa penawar maka yang demikian suci lagi halal. Dalam Al Bahr bahwa mayoritas sahabat-sahabat kami berkata, “Tidak dapat menjadi suci meskipun menjadi cuka dengan sendirinya tanpa penawar.”

Ketahuilah ada tiga pendapat dari para ulama mengenai hukum berubahnya arak menjadi cuka;

pertama; Jika arak menjadi cuka tanpa disengaja, maka halal dan jika disengaja maka haram.

kedua; diharamkannya secara mutlak setiap cuka yang terbuat dari arak.

ketiga; cuka itu halal meskipun terbuat dari arak, baik disengaja maupun tidak. Akan tetapi, pelakunya berdosa jika ia meninggalkannya setelah menjadi arak, durhaka kepada Allah SWT, cacat keadilannya, lantaran ia tidak menumpahkannya ketika sudah menjadi arak karena hal itu wajib, sebagaimana yang disebutkan hadits Abu Thalhah.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa cuka yang terbuat dari arak halal, ialah karena ia adalah cuka baik menurut bahasa maupun pengertian syariat. Ada yang mengatakan, ‘Jika dimaksud membuat cuka yang tidak menjadi arak, lalu dia memeras anggur, kemudian mencampurkannya dengan cuka yang sebenarnya sebelum menjadi cuka, maka itu menjadi cuka dan asalnya tidak menjadi arak.

0023

23 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ، أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَبَا طَلْحَةَ، فَنَادَى إنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ، فَإِنَّهَا رِجْسٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

23. Dan darinya (Anas bin Malik) ia berkata, “Pada waktu terjadi perang Khaibar, Rasulullah SAW menyuruh Abu Thalhah menyerukan, ‘Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian makan daging keledai negeri (piaraan), karena sesungguhnya dia itu najis.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 2991, Muslim 1802]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits Anas dalam Shahih Al Bukhari,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ: أَكَلْت الْحُمُرَ، ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ: أَكَلْت الْحُمُرَ، ثُمَّ جَاءَهُ جَاءٍ فَقَالَ: أَفْنَيْت الْحُمُرَ، فَأَمَرَ مُنَادِيًا يُنَادِي: إنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ فَإِنَّهَا رِجْسٌ، فَأُكْفِئَتْ الْقُدُورُ وَإِنَّهَا لَتَفُورُ بِالْحُمُرِ»

“Bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, ‘Keledai telah dimakan’, kemudian datang yang lainnya dan berkata, ‘Keledai telah dimakan’, kemudian datang yang lainnya lagi lalu berkata, ‘Keledai telah musna’. Maka Rasulullah SAW memerintahkan seseorang agar menyerukan, ‘Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian makan daging keledai negeri (piaraan) karena sesungguhnya dia najis.’ Maka panci-pancipun dibalikkan dalam keadaan sedang mendidih dengan daging’.”

[Shahih: Al Bukhari 4199]

Larangan dari daging keledai negeri (piaraan) ditegaskan dalam hadits dari Ali RA, Ibnu Umar, Jabir bin Abdullah, Ibnu Abi Aufa, al Barra, Abu Tsalabah, Abu Hurairah RA, Irbadh bin Sariyah, Khalid bin Al Walid, Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Miqdam bin Ma’dikarib dan Ibnu Abbas, semuanya ditegaskan dalam buku-buku induk Islam. Dan telah disebutkan para perawinya dalam Asy Syarh.

Hadits tersebut menunjukkan haramnya daging keledai negeri (piaraan). Keharamannya adalah pendapat jumhur shahabat, tabiin dan para ulama setelah mereka berdasarkan dalil-dalil di atas.

Sedang Ibnu Abbas berpendapat bahwa daging keledai piaraan tidak haram, disebutkan dalam Shahih Al Bukhari hadits darinya:

لَا أَدْرِي أَنَهَى عَنْهَا مِنْ أَجْلِ أَنَّهَا كَانَتْ حَمُولَةَ النَّاسِ أَوْ حُرِّمَتْ؟

‘Aku tidak tahu apakah ia dilarang karena digunakan untuk mengangkut beban manusia ataukah diharamkan?’

[Shahih: Al Bukhari 4198]

Tidak diragukan lagi kelemahan pendapat ini, karena asal setiap larangan adalah menunjukkan keharaman meskipun kita tidak mengetahui Illatnya.

Ibnu Abbas berdalil dengan firman Allah SWT:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan (QS. Al-An’am [6]: 145),

Karena dia membacanya sebagai jawaban atas orang yang bertanya kepadanya tentang keharamannya, dan berdasarkan hadits Abu Daud, bahwa Ghalib bin Abjar datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, kami telah ditimpa paceklik, aku tidak memiliki harta untuk memberi makan keluargaku kecuali samin dan keledai, dan sesungguhnya engkau telah mengharamkan daging keledai negeri (piaraan), maka beliau SAW menjawab:

أَطْعِمْ أَهْلَكَ مِنْ سَمِينِ حُمُرِك فَإِنَّمَا حَرَّمْتهَا مِنْ أَجْلِ جَوَّالِ الْقَرْيَةِ

“Berilah makan keluargamu dari samin dan keledaimu, karena sesungguhnya aku mengharamkannya lantaran ia memakan kotoran di kampung.”

[Isnadnya Dhaif: Dhaif Abu Daud 3809]

Maksudnya yang memakan al Jullah, yaitu kotoran.

Pendapat tersebut dapat dijawab bahwa ayat di atas dikhususkan keumumannya oleh hadits-hadits shahih yang telah lalu, dan bahwa hadits Abu Daud mudhtharib banyak diperdebatkan. Dalam As-Sunan [Al Kubro 9/332 -ed], setelah menyebutkan haditsnya, Al Baihaqi berkata, “Sanadnya diperdebatkan.” Ia berkata, “Hadits yang sepertinya tidak bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan jika shahih dapat mengandung makna memakannya ketika darurat, sebagaimana yang ditunjukkan perkataannya, ‘kami telah ditimpa paceklik’, yaitu penderitaan.

Saya katakan, “Adapun alasan bahwa hal itu diperbolehkan ketika darurat, maka tidak sesuai dengan penjelasan sabda beliau, ‘aku mengharamkannya lantaran ia memakan kotoran di kampung’, karena sesungguhnya beliau SAW membolehkan makan daging keledai, dan jika tidak makan kotoran maka hukumnya halal secara mutlak, sehingga tidak sempurna beralasan dengan darurat.

Penulis menyebutkan kedua hadits ini dalam bab najis, pengulangannya menunjukkan bahwa pengharaman sesuatu lazimnya karena najis, ini adalah pendapat mayoritas. Terjadi perbedaan pendapat padanya. Sedangkan yang benar adalah bahwa pada dasarnya semua benda itu suci dan pengharaman tidaklah selamanya karena najis, sebab ganja itu haram tetapi suci zatnya. Demikian pula segala macam bentuk yang memabukkan dan racun mematikan, tidak ada dalil mengenai kenajisannya.

Adapun najis, selamanya disertai dengan keharaman, maka setiap najis haram dan tidak demikian sebaliknya. Hal itu karena hukum pada setiap najis adalah larangan menyentuhnya dalam kondisi bagaimanapun, dan hukum mengenai kenajisan zat bendanya merupakan hukum atas keharamannya. Berbeda dengan hukum yang haram, sebab diharamkan memakai sutera dan emas sedangkan keduanya suci sebagai ketetapan syariat dan ijma.

Jika hal ini telah Anda ketahui, maka pengharaman arak dan keledai negeri (piaraan) yang telah disebutkan oleh nash-nash tidak berarti bahwa itu najis, tetapi harus ada dalil lain atasnya, jika tidak, maka kita tetap pada hukum asal yang telah disepakati yaitu suci, maka siapa yang mengklaim selainnya, hendaklah ia mendatangkan dalil.

Demikian pula kami katakan, “Tidak perlu penulis menyebutkan hadits Amru bin Kharijah untuk dijadikan dalil atas sucinya air liur hewan kendaraan.” Adapun mengenai bangkai, maka seandainya tidak diriwayatkan hadits, ’Menyamak kulit menjadikannya suci’ dan hadits ’Kulit apa saja yang disamak maka sungguh ia telah suci’ niscaya kami berpendapat bahwa ia suci, karena yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah keharaman memakannya, akan tetapi kami menghukuminya najis karena tidak ada dalil selain dalil keharamannya.

0024

24 – وَعَنْ عَمْرِو بْنِ خَارِجَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «خَطَبَنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِمِنًى، وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، وَلُعَابُهَا يَسِيلُ عَلَى كَتِفِي» . أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

24. Dari Amru bin Kharijah RA ia berkata, “Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kami di Mina, sedang beliau berada di atas kendaraannya, sementara air liur kendaraannya mengalir atas pundakku.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi dan ia menshahihkannya)

[Shahih: Shahih At Tirmidzi 2121]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Amr bin Kharijah adalah seorang shahabat dari golongan Anshar, dikelompokkan dalam penduduk Syam, sekutu Abu Sufyan bin Harb. Abdurrahman bin Ghunam meriwayatkan darinya bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya, ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan haknya kepada setiap yang memiliki hak, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.’

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kami di Mina, sedang beliau berada di atas kendaraannya (yaitu unta yang sudah layak ditunggangi), sementara air liurnya (yaitu yang mengalir dari mulutnya) mengalir atas pundakku.

Tafsir Hadits

Hadits di atas adalah dalil bahwa hewan yang dimakan dagingnya tidak najis. Ada yang mengatakan bahwa pendapat ini adalah ijma, juga merupakan prinsip asal, maka hadits tersebut disebutkan sebagai penegasan terhadap hukum asal. Kemudian ini berdasarkan bahwa Nabi SAW mengetahui mengalirnya air liur tersebut di atas pundaknya, maka hal itu merupakan taqrir (hal yang diakui nabi)

0025

25 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَغْسِلُ الْمَنِيَّ، ثُمَّ يَخْرُجُ إلَى الصَّلَاةِ فِي ذَلِكَ الثَّوْبِ. وَأَنَا أَنْظُرُ إلَى أَثَرِ الْغَسْلِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ: «لَقَدْ كُنْت أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَرْكًا فَيُصَلِّي فِيهِ» . وَفِي لَفْظٍ لَهُ: «لَقَدْ كُنْت أَحُكُّهُ يَابِسًا بِظُفْرِي مِنْ ثَوْبِهِ» .

25. Dari Aisyah RA ia berkata, Rasulullah SAW mencuci mani kemudian keluar shalat dengan menggunakan kain itu, dan aku melihat bekas cucian padanya. (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 230, Muslim 289]

Dan riwayat Muslim, ‘Aku pernah menggosok dari kain Rasulullah SAW lalu beliau shalat padanya.’

[Shahih: Muslim 288]

Lafazh lain: ‘aku pernah mengeruknya dalam keadaan kering dengan kuku saya dari kain beliau.’

[Shahih: Muslim 290]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Aisyah RA Ummul Mukminin binti Abu Bakar Ash Shiddiq, ibunya adalah Rauman binti Amir. Nabi SAW melamarnya di Makkah dan menikahinya pada bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian, ketika itu ia berumur 6 tahun. Beliau melaksanakan pesta pernikahan dengannya di Madinah pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah, ada yang mengatakan selain itu. Beliau hidup bersamanya selama 9 tahun, Rasulullah SAW meninggal dunia ketika ia berumur 18 tahun, beliau tidak menikah dengan gadis selain dirinya. Ia minta kepada Rasulullah SAW agar diberikan kuniyah (julukan) maka beliau bersabda kepadanya, ‘Engkau dijuluki dengan putra saudara perempuanmu Abdullah bin Zubair.’ Ia seorang yang pandao dalam masalah fikih, mendalam pengetahuannya, fasih dalam berbicara, memiliki keutamaan, banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW dan mengetahui hari-hari besar Arab dan sya’ir-sya’irnya.

Sekelompok shahabat dan tabiin meriwayatkan hadits darinya. Ada sepuluh ayat dalam surat An Nur yang turun membahas kesuciannya, Rasulullah SAW wafat di rumahnya dan dikuburkan padanya. Ia meninggal dunia di Madinah pada tahun 57 H dan ada yang mengatakan tahun 58 H, pada malam 17 Ramadhan dan dimakamkan di Baqi’. Abu Hurairah RA menshalatkannya ketika menjabat sebagai Khalifah Marwan di Madinah.

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim dan dikeluarkan oleh Al Bukhari dari hadits Aisyah RA dengan lafazh yang berbeda-beda, dan bahwa ia mencuci mani dari kain beliau SAW, dan dalam lafazh lainnya:

وَأَثَرُ الْغَسْلِ فِي ثَوْبِهِ بُقَعُ الْمَاءِ

‘Dan bekas cucian pada kainnya terdapat percikan air.’

Lafazh lain:

فَيَخْرُجُ إلَى الصَّلَاةِ وَإِنَّ بُقَعَ الْمَاءِ فِي ثَوْبِهِ

‘Maka beliau keluar untuk mengerjakan shalat, sedang percikan air ada pada kainnya.’

Lafazh lain:

وَأَثَرُ الْغَسْلِ فِيهِ بُقَعُ الْمَاءِ

‘Dan pada bekas cucian itu terdapat percikan-percikan air.’

Lafazh lain:

ثُمَّ أَرَاهُ فِيهِ بُقْعَةً أَوْ بُقَعًا

‘Kemudian aku melihat satu atau beberapa percikan air padanya.’

Akan tetapi Al Bazzar berkata, ‘Sesungguhnya hadits Aisyah RA ini berporos pada Sulaiman bin Yasar dan ia tidak mendengar dari Aisyah RA’, pendapat ini telah terlebih dahulu disebutkan oleh Asy-Syafi’i dalam Al Umm yang ia ceritakan dari yang lainnya.

Apa yang diketahui Al Bazzar dapat dijawab, bahwa pentashihan Al Bukhari terhadap hadits itu dan persetujuan Muslim dalam menshahihkannya menunjukkan bahwa Sulaiman mendengar dari Aisyah RA, sehingga kedudukan hadits tersebut marfu.

Hadits ini dijadikan dalil bagi golongan yang mengatakan bahwa mani itu najis. Mereka adalah Al Hadawiyah, Al Hanafiyah, Malik dan satu riwayat dari Ahmad. Mereka berkata, ‘Karena yang dicuci hanyalah najis, dan dapat diqiyaskan atas kotoran badan lainnya seperti air seni dan tinja dan semuanya tumpah pada tempat pembuangan yang sama, dan semuanya adalah dari larutan makanan. Juga karena hadits yang diwajibkan mensucikannya adalah najis, dan di antaranya adalah mani, dan bahwa ia mengalir dari tempat mengalirnya air seni, maka ia harus dicuci dengan air seperti najis-najis lainnya.’

Mereka menafsirkan hadits yang akan datang ini, yaitu ucapannya ‘Dan menurut Muslim’ yaitu dari Aisyah RA ada satu riwayat yang disebutkan oleh Muslim dan tidak disebutkan oleh Al Bukhari yaitu perkataan Aisyah RA,

«لَقَدْ كُنْت أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَرْكًا»

‘Sungguh aku mengeruknya dari kain Rasulullah SAW.’

(مَصْدَرٌ تَأْكِيدِيٌّ) bentuk mashdar yang menunjukkan penegasan bahwa Aisyah RA menggosok dan mengeruknya, (الْفَرْكُ) adalah (الدَّلْكُ), dikatakan (فَرَكَ الثَّوْبَ), jika ia mengeruknya.

Pada lafazh Muslim dari Aisyah RA ‘Maka ia shalat dengannya. Sungguh aku mengeruknya (yaitu mani ketika dalam kondisi) kering dengan kuku saya dari kain beliau.’ Hanya Muslim yang meriwayatkannya dengan kata (الْفَرْكِ) dan tidak diriwayatkan oleh Al Bukhari.

Al Baihaqi, Ad Daruquthni, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Al Jauzi juga meriwayatkan dengan lafazh (الْحَتَّ) dan (الْفَرْكِ) dari hadits Aisyah RA.

Lafazh Al Baihaqi:

«رُبَّمَا حَتَّتْهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ يُصَلِّي»

“Terkadang aku menggosoknya dari kain Rasulullah SAW ketika beliau sedang shalat.”

[Al Baihaqi 2/406]

Lafazh Ad Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah:

«أَنَّهَا كَانَتْ تَحُتُّ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي»

“Bahwa sesungguhnya ia (Aisyah RA) menggosok mani dari kain Rasulullah SAW ketika beliau sedang shalat.”

[shahih Ibnu Khuzaimah 1/147]

Lafazh Ibnu Hibban:

«لَقَدْ رَأَيْتنِي أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -»

“Sungguh aku menggosok mani dari kain Rasulullah SAW ketika beliau sedang shalat.” Para perawinya shahih.

[Shahih Ibnu Hibban 4/219]

Mirip dengan hadits ini adalah hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi:

«سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ فَقَالَ: إنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُخَاطِ وَالْبُصَاقِ وَالْبُزَاقِ، وَقَالَ: إنَّمَا يَكْفِيك أَنْ تَمْسَحَهُ بِخِرْقَةٍ أَوْ إذْخِرَةٍ»

Bahwa Nabi SAW ditanya tentang mani yang mengenai pakaian, maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya mani itu sama kedudukannya dengan ingus, ludah dan dahak.’ Dan sabdanya, ‘cukup bagimu menggosoknya dengan kain atau idzkhir.’

{Sunan Ad Daruquthni 1/124, dan ia mendha’ifkannya]

Setelah meriwayatkan hadits ini Al Baihaqi berkata, “Dan diriwayatkan oleh Waki’ dari Ibnu Abi Laila dengan mauquf atas Ibnu Abbas dan hadits ini shahih.

Mereka yang berpendapat mengenai najisnya mani menafsirkan hadits ini, bahwa maksudnya adalah menggosok dan mencucinya dengan air dan ini sangat jauh.

Asy-Syafi’iyah berkata, “Mani itu suci.” Berdasarkan hadits-hadits ini, mereka berkata, ‘Hadits-hadits perintah untuk mencucinya hanyalah menunjukkan sunnah dan mencucinya bukanlah dalil bahwa hal itu najis, boleh jadi hanyalah untuk kebersihan atau untuk menghilangkan kotoran dan semacamnya.’ Mereka berkata, “Disamakannya dengan ludah dan ingus juga dalil atas kesuciannya.” Perintah mengusapnya dengan kain atau tumbuhan adalah untuk menghilangkan kotoran yang tidak disukai jika melekat pada kain orang yang sedang shalat. Seandainya najis, niscaya tidak sah hanya dengan mengusapnya.

Adapun menyamakan mani dengan kotoran, seperti air seni dan tinja sebagaimana dikatakan oleh orang yang berpendapat mengenai najisnya mani, maka tidak boleh mengqiyaskannya jika ada nash.

Kelompok pertama mengatakan, “Hadits-hadits mengenai perintah menggosok dan menghilangkannya hanya mani Nabi SAW saja, karena kotoran-kotoran beliau SAW suci dan tidak bisa disamakan dengan yang lainnya.” Pendapat tersebut dapat dijawab bahwa Aisyah RA telah memberitahu bahwa ia mengeruknya dari kain Nabi SAW, sehingga boleh jadi mani tersebut adalah keluar karena jima’ dan telah bercampur dengan mani istrinya, maka tidak jelas bahwa hanya dari Nabi SAW semata, karena mimpi (basah) bagi para nabi itu adalah satu hal yang tidak mungkin, sebab itu adalah dar setan, sementara setan tidak dapat menundukkan mereka. Jika dikatakan bahwa bisa saja hanya mani Nabi SAW, dan hanya syahwat yang melimpah setelah didahului oleh hal-hal yang menyebabkannya keluar, seperti bercumbu dengan istri dan sebagainya, tidak dicampuri oleh yang lainnya, maka hal tersebut adalah kemungkinan yang tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

Al Hanafiyah berpendapat najisnya mani beliau seperti yang lainnya, akan tetapi mereka berkata, “Dapat disucikan dengan mencuci, menggosok atau menghilangkannya dengan kain dan idzkhir berdasarkan dua hadits di atas.” antara dua kelompok tersebut, yaitu yang berpendapat mengenai najisnya mani dan yang berpendapat sucinya mani terjadi perdebatan dan diskusi yang sangat panjang dan telah kami paparkan pada catatan kaki Syarh Al Umdah.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *