[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 08

01.02. BAB BEJANA 02

0018

18 – وَعَنْ مَيْمُونَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «مَرَّ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِشَاةٍ يَجُرُّونَهَا، فَقَالَ: لَوْ أَخَذْتُمْ إهَابَهَا فَقَالُوا: إنَّهَا مَيْتَةٌ، فَقَالَ: يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ.

18. Dari Maimunah Ra ia berkata, Rasulullah SAW melewati seekor kambing yang mereka seret, maka beliau bersabda, “Bagaimana jika kalian mengambil kulitnya?’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya ia telah menjadi bangkai.’ Maka beliau bersabda, “(bangkai itu) dapat disucikan dengan air dan menyamaknya.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 5234]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Maimunah adalah Ummul Mukminin, Maimunah binti Al Harits Al Hilaliyah. Namanya semula adalah Barrah, lalu diganti oleh Rasulullah SAW dengan Maimunah. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Dzul Qa’dah tahun ketujuh pada Umrah Al Qadhiyah, wafat tahun 61 H. Ada yang mengatakan tahun 51H, yang lain mengatakan tahun 66H, dan yang lainnya lagi mengatakan selain itu. Dia adalah bibi Ibnu Abbas dan Rasulullah SAW tidak menikah lagi setelah menikah dengannya.

Tafsir Hadits

Dalam lafazh lain menurut Ad Daruquthni dari Ibnu Abbas

«أَلَيْسَ فِي الْمَاءِ وَالْقَرَظِ مَا يُطَهِّرُهَا»

“Bukankah pada air dan menyamak dapat mensucikannya?”

[Sunan Ad Daruquthni 1/42]

Adapun riwayat:

«أَلَيْسَ فِي الشَّثِّ وَالْقَرَظِ مَا يُطَهِّرُهَا»

“Bukankah pada asy-syats (jenis pohon) dan menyamak dapat menyucikannya.”

An Nawawi berkata, “sesungguhnya hadits dengan lafazh ini batil dan tidak ada asalnya.”

Dalam syarh Muslim ia berkata, “Boleh menyamak dengan sesuatu yang dapat menyerap kotoran-kotoran kulit dan membuatnya harum, serta menjaganya dari terjadinya kerusakan, seperti asy-syats (jenis pohon).” Ia melanjutkan, bahwa ia termasuk mutiara yang dijadikan oleh Allah di bumi menyerupai logam. Al Jauhari berkata, “sesungguhnya pohon itu baunya wangi, rasanya pahit, dapat digunakan menyamak dan menguliti buah delima dan obat-obatan yang suci. Tidak dapat disucikan dengan matahari kecuali menurut Al Hanafiyah, dan juga tidak dapat disucikan dengan tanah, debu, garam mnrt pendapat yang paling shahih.

0019

19 – وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، قَالَ: «قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟ قَالَ: لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

19. Dari Abu Tsa’labah al Khusyani RA ia berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya kami berada pada negeri ahli kitab, bolehkah kami makan pada bejana mereka?’ beliau SAW menjawab, “Janganlah kamu makan padanya, kecuali jika kalian tidak mendapatkan yang lain, maka cucilah (bejana mereka) kemudian makanlah padanya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 5478, Muslim 1930]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Tsa’labah al Khusyani, dinisbatkan kepada Khusyain bin an Namir dari Qudha’ah. namanya Jurhum bin Nasyib, ia lebih terkenal dengan julukan yang diberikan padanya. Ia membaiat Rasulullah SAW pada Baiat ar Ridhwan. Rasulullah SAW memberikan bagian kepadanya pada perang Khaibar dan mengutusnya kepada kaumnya, lalu mereka pun masuk Islam. Ia berpindah ke Syam dan meninggal dunia di sana pada tahun 57 H, dan ada yang berpendapat yang lain tentang tahun meninggalnya.

Tafsir Hadits

Hadits ini dijadikan dalil najisnya bejana ahli kitab. Apakah karena najisnya makanan mereka, ataukah karena mereka makan babi dan minum khamar (arak) padanya, ataukah karena dimakruhkan? Yang mengatakan najisnya makanan orang kafir adalah Al Hadawiyah dan Al Qasimiyah, dan didukung oleh Ibnu Hazm. Mereka juga berdalil dengan zhahirnya firman Allah SWT:

{إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ}

“Sesungguhnya orang-orang yang Musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah [9]: 28)

Dan ahli kitab disebut orang musyrik, karena mereka mengatakan bahwa Isa adalah putra Allah, dan Uzair adalah putra Allah.

Selain mereka dari Ahlul Bait seperti Al Mu’ayyid dan yang lainnya berpendapat mengenai sucinya makanan mereka, dan ini yang benar berdasarkan firman Allah SWT:

{وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ}

‘makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan Al Kitab itu halal bagimu dan makanan kamu halal pula bagi mereka.” (QS. Al-Maidah [5]: 5)

Dan bahwa Nabi SAW berwudhu dari tempat bekal seorang musyrik. Juga berdasarkan hadits Jabir yang diriwayatkan oleh ahmad dan Abu Daud:

«وَكُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَنُصِيبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِينَ وَأَسْقِيَتِهِمْ وَلَا يَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْنَا»

“Kami pernah bersama Rasulullah SAW, lalu mendapatkan bejana dan tempat minum orang musyrik, dan beliau tidak mencela hal itu atas kami.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 3838]

Ahmad meriwayatkan dari hadits Anas, bahwa Rasulullah SAW diajak oleh seorang Yahudi kepada jamuan makanan roti yang terbuat dari gandum yang telah berubah.

[Musnad Ahmad 3/210]

Dalam Al Bahr ia berkata, “Seandainya makanan mereka haram, niscaya beliau menyuruh untuk menjauhinya lantaran minimnya jumlah kaum Muslimin ketika itu. Dan banyaknya mereka menggunakannya pasti tidak lepas dari pakaian dan makanan mereka. Kebiasaan semacam ini perlu adanya penentuan hukum.

Mereka berkata, “Hadits Abu Tsa’labah tidak berarti dimakruhkannya makan pada bejana mereka lantaran kotoran, karena jika najis, beliau tidak akan mensyaratkan ketiadaan yang lain, sebab bejana yang bernajis dan juga benda lainnya setelah menghilangkan najisnya adalah sama-sama tidak bernajis, atau untuk menutup kemungkinan agar tidak jatuh kepada haram, atau karena ia najis lantaran apa yang dimasak di dalamnya bukan karena makanan mereka, sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad dengan lafazh:

«إنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: إنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا»

“Sesungguhnya kami hidup di sekitar Ahli Kitab dan mereka memasak babi dalam panci mereka, minum khamar dalam bejana mereka, maka Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian mendapatkan yang lainnya.”

[Shahih: Abu Daud 3839]

Haditsnya yang pertama mutlak, sedang yang ini muqayyad (terikat atau khusus) dengan bejana yang di dalamnya dimasak dan diminum apa yang telah disebutkan, maka yang mutlak ditinggalkan lalu mengamalkan yang muqayyad. Adapun ayat, maka najis menurut bahasa adalah yang dianggap kotor, lebih umum dari pengertian menurut syariat. Ada yang berpendapat bahwa maknanya adalah yang bernajis, karena mereka disertai kemusyrikan yang sama dengan najis, juga karena mereka tidak bersuci, tidak mandi dan tidak menjauhi berbagai najis yang bercampur dengan mereka, olehnya itu maka dipadukanlah antara hadits ini dengan ayat Al Maidah dan hadits-hadits tersebut sesuai dengan hukumnya, dan ayat Al Maidah lebih jelas maksudnya.

0020

20 – وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّئُوا مِنْ مَزَادَةِ امْرَأَةٍ مُشْرِكَةٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ.

20. Dari Imran bin Hushain RA bahwa Nabi SAW bersama para shahabatnya berwudhu dari bejana seorang perempuan musyrik. (Muttafaq alaih dalam sebuah hadits yang panjang)

[Shahih: Al Bukhari 3444, Muslim 682]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Imran bin Hushain adalah Abu Nujaid al Khuza’i Al Ka’bi. Masuk Islam pada perang Khaibar, ia tinggal di Bashrah hingga meninggal dunia pada tahun 52 atau 53 H, dia termasuk shahabat yang paling mulia dan ahli fikih.

Tafsir Hadits

Dikeluarkan oleh Al Bukhari dengan beberapa lafazh, di antaranya:

“bahwa beliau SAW mengutus Ali RA dan seorang shahabat lain bersamanya pada salah satu perjalanan beliau, lalu mereka kehabisan air, maka beliau SAW bersabda, “Pergilah kalian berdua mencari air.” Lalu keduanya berangkat dan menemui seorang perempuan di antara kedua bejana atau tempat perbekalan yang terbentang dan penuh air di atas untanya. Lalu keduanya bertanya kepadanya, “Dimana air?” ia menjawab, ‘kemari, saya berjanji akan mendatangkan air untuk saat ini.; kedua berkata, ‘Pergilah kepada Rasulullah SAW –hingga ucapannya- lalu Nabi SAW minta bejana kemudian beliau SAW menuangkan dari kedua mulut tempat perbekalan tadi, lalu menyeru kepada manusia, “minumlah dan berilah minum,” maka minumlah di antara mereka yang ingin minum dan memberikan minum siapa yang dikehendakinya. Dalam hadits tersebut terdapat tambahan dan mukjizat nabawiyah.

Maksudnya, bahwa beliau SAW berwudhu dari tempat bekal perempuan musyrik, dan inilah dalil apa yang telah berlalu dalam Syarh hadits Abu Tsa’labah mengenai sucinya bejana kaum musyrikin.

Juga menunjukkan atas sucinya kulit bangkai dengan disamak, karena kedua tempat bekal tersebut terbuat dari kulit hewan sembelihan orang musyrik, sedang sembelihan mereka adalah bangkai. Menunjukkan pula sucinya makanan orang musyrik karena perempuan musyrik tadi telah menyentuh air tersebut secara langsung, yang kurang dari dua kullah, karena mereka telah menyebutkan bahwa satu unta tidak dapat membawa air sebanyak dua kullah.

Siapa yang berpendapat bahwa makanan mereka najis, dan berkata bahwa air tidak bernajis kecuali dengan yang dapat merubahnya, maka hadits tersebut adalah dalil atasnya.

0021

21 – وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – انْكَسَرَ، فَاِتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سَلْسَلَةً مِنْ فِضَّةٍ» . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ.

21. Dari Anas bin Malik RA, bahwa gelas Rasulullah SAW pecah, lalu beliau menempelkan pada tempat yang retak itu sambungan dari perak. (HR. Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 3109]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

bahwa gelas Rasulullah SAW pecah, lalu beliau menempelkan pada tempat yang retak itu (maksudnya terbelah dan pecah) sambungan dari perak (yakni yang menghubungkan sesuatu dengan yang lain. Atau silsilah, yaitu lingkaran yang terbuat dari besi (rantai) dan yang semacamnya)

Tafsir Hadits

Hadits tersebut adalah dalil diperbolehkannya menempel (menambal) bejana dengan perak, dan tidak ada perbedaan mengenai kebolehannya sebagaimana yang telah disebutkan. Tetapi di sini, mereka berbeda pendapat mengenai orang yang meletakkan sambungan tersebut. Al Baihaqi menuturkan dari sebagian mereka bahwa yang meletakkan sambungan tersebut adalah Anas bin Malik, dan ditetapkan oleh Ibnu Ash Shalah. Penulis berkata, “pendapat tersebut perlu dipertimbangkan, karena dalam Shahih Al Bukhari dari hadits Ashim al Ahwal, “Aku melihat gelas Nabi SAW di sisi anas telah terbelah maka ia menyambungnya dengan perak.”

Ibnu Sirin berkata, “Padanya terdapat rantai yang terbuat dari besi, lalu Anas hendak menggantinya dengan rantai dari emas atau perak, maka Abu Thalhah berkata kepadanya, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengubah sesuatu yang telah dibuat Rasulullah SAW, lalu ia pun meninggalkannya.’ Ini adalah lafazh Al Bukhari mengandung makna bahwa kata ganti yang terdapat pada ucapannya (فَسَلْسَلَهُ بِفِضَّةٍ) kembali kepada Nabi SAW, juga bisa kembali kepada Anas, sebagaimana yang dikatakan Al Baihaqi, akan tetapi bagian akhir dari hadits tersebut menunjukkan makna yang pertama, dan bahwa gelas tersebut tidak berubah dari semula pada masa Rasulullah SAW.

Saya katakan, “Sambungan tersebut bukan rantai yang hendak diubah oleh Anas, yang nampak bahwa ucapannya (فَسَلْسَلَهُ) adalah Nabi SAW, dan ini merupakan hujjah bagi yang telah disebutkan,.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *