[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 07

01.02. BAB BEJANA 01

0014
14 – عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهِمَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا، وَلَكُمْ فِي الْآخِرَةِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

14. Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu minum dalam bejana emas dan perak, dan janganlah makan pada piring (yang terbuat dari) keduanya, karena sesungguhnya (bejana atau piring emas dan perak itu) adalah bagi mereka (orang-orang musyrik) di dunia dan bagi kamu di akhirat.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 5426, Muslim 2067]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Hudzaifah adalah Abu Abdullah Hudzaifah bin Al Yaman. Hudzaifah dan ayahnya adalah dua orang shahabat Nabi SAW yang mulia. Keduanya mengikuti perang Uhud. Hudzaifah adalah pemegang rahasia Rasulullah SAW. sekelompok shahih dan thabi’in meriwayatkan (hadits) darinya. Ia meninggal dunia di Al Mada’in pada tahun 35 atau 36 H, empat malam setelah terbunuhnya Utsman RA.

Penjelasan Kalimat

Janganlah kamu minum dalam bejana emas dan perak, dan janganlah makan pada piring (yang terbuat dari) keduanya, (kata (صِحَافِهِمَا) adalah bentuk jamak dari (صَحْفَةٍ). Al Kisa’i berkata, “(الصَّحْفَةُ) adalah piring yang isinya dapat mengenyangkan lima orang) karena sesungguhnya ia (yaitu bejana emas dan perak serta piring yang terbuat dari keduanya) adalah bagi mereka (yaitu bagi orang-orang musyrik meskipun tidak disebutkan, karena mereka itu sudah maklum) di dunia (sebagai informasi dari kondisi mereka, bukan berarti sebagai informasi bahwa hal itu halal buat mereka) dan bagi kamu di akhirat.”

Tafsir Hadits

Hadits di atas adalah dalil haramnya makan dan minum pada bejana dan piring yang terbuat dari emas dan perak, baik bejana tersebut khusus emas maupun yang tercampur dengan perak, karena ia termasuk bejana emas dan perak. An Nawawi berkata, ‘Sesungguhnya telah terjadi ijma atas haramnya makan dan minum pada keduanya.’

Terjadi perbedaan mengenai illat-nya. Ada yang mengatakan karena sombong, dan yang lain mengatakan karena terbuat dari emas dan perak.

Para ulama berbeda pendapat mengenai tempat yang dilapisi dengan emas atau perak, apakah juga diharamkan sebagaimana emas dan perak? Ada yang berpendapat bahwa jika lapisan emas dan perak itu bisa dipisahkan maka haram secara ijma, karena termasuk menggunakan emas dan perak. Dan jika tidak mungkin dipisahkan, maka tidak haram. Dan yang lebih dekat kepada kebenaran, jika disebut bahwa itu adalah bejana emas atau perak dan dinamai dengannya, maka tercakup dalam lafazh hadits tersebut, dan jika tidak, maka tidak haram. Standarnya adalah dengan menamainya (bejana emas atau perak) pada masa kenabian, jika tidak diketahui maka asalnya adalah halal.

Adapun bejana yang ditambal dengan keduanya, maka diperbolehkan makan dan minum padanya menurut ijma.

Berkenaan dengan menggunakan tempat yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum tidak ada perbedaan padanya. Adapun untuk selain makan dan minum, yakni untuk penggunaan yang lain, apakah juga diharamkan? Ada yang mengatakan tidak diharamkan karena tidak ada nashnya, kecuali pada makan dan minum. Ada pula yang mengatakan bahwa diharamkan semua penggunaan lainnya menurut ijma, kemudian sebagian ulama mutaakhirin membantahnya dan berkata, “Nashnya disebutkan pada makan dan minum, selainnya tidak, menyamakan semua penggunaan dengan keduanya secara qiyas tidak memenuhi syarat-syarat qiyas.

Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa tidak haram selain tempat untuk makan dan minum, sebab itu yang ditegaskan dengan nash. sedang klaim ijma tidak benar, inilah kemalangan mengganti lafazh nabawi dengan yang lainnya. Karena hadits menyebutkan keharamannya pada makan dan minum, maka mereka meninggalkan redaksinya kepada semua bentuk penggunaan dan meninggalkan ucapan Nabi SAW, lalu mendatangkan lafazh umum dari diri mereka sendiri.

Sepertinya penulis menyebutkan hadits pada pembahasan ini untuk menunjukkan haramnya wudhu pada bejana emas dan perak. Karena penggunaan terhadap keduanya menurut mazhabnya adalah haram. Jika tidak ada maksud ini, maka hadits ini sebenarnya masuk dalam bab makanan dan minuman.

Kemudian, apakah batu-batu berharga seperti permata dan mutiara disamakan dengan emas dan perak? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Dan nampaknya yang lebih kuat adalah tidak disamakan, dan diperbolehkan menurut asal kebolehannya karena tidak ada dalil yang disebutkan mengenai hal tersebut.

0015

15 – وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «الَّذِي يَشْرَبُ فِي إنَاءِ الْفِضَّةِ إنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

15. Dari Ummu Salamah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang minum dalam bejana perak, dia telah memasukkan api jahannam ke dalam perutnya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 5634, Muslim 2065]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ummu Salamah yaitu Ummul Mukminin, istri Nabi SAW. namanya adalah Hindun binti Abi Umayah. pernah menjadi istri Abu Salamah bin Abdil Asad. Hijrah ke Habasyah bersama suaminya. Suaminya meninggal dunia setelah keduanya kembali dari Habasyah. Lalu ia menikah dengan Rasulullah SAW di Madinah pada tahun keempat Hijriyah. Ia meninggal pada tahun 59 H. Ada yang mengatakan tahun 62 H dan dimakamkan di Baqi umurnya 84 tahun.

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya orang yang minum dalam bejana perak, (demikian menurut Asy-syaikhan dan Muslim dalam redaksi lain: فِي إنَاءِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ (dalam bejana emas dan perak) dia telah memasukkan (الْجَرْجَرَةُ adalah suara jatuhnya air ke dalam mulut dan suara unta ketika memamak, ia menjadikan minum dan meneguk sebagai جَرْجَرَةً ) api jahannam ke dalam perutnya.”

Az Zamakhsyari berkata, ‘Diriwayatkan dengan merafakan kata (النَّارِ) untuk menunjukkan kedudukannya sebagai (فَاعِلٌ مَجَازًا). Karena sebenarnya neraka jahannam tidak dimasukkan ke dalam perutnya, akan tetapi ungkapan ini hanya sebagai majaz, demikian menurut riwayat yang marfu’ sebagaimana firman Allah SWT:

{إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا}

‘Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya.’ (QS. An-Nisa’ [4]: 10)

Hadits tersebut menunjukkan apa yang telah ditunjukkan oleh hadits Hudzaifah yang pertama.

0016

16 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ – وَعِنْدَ الْأَرْبَعَةِ ” أَيُّمَا إهَابٍ دُبِغَ ”

16. Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kulit disamak, maka ia telah suci.” (HR Muslim)

[Shahih: Muslim 366]

Dan menurut Imam yang empat: ‘Kulit apa saja yang disamak.’

[Shahih: Shahih Al Jami’ 2711]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Apabila kulit disamak, (yaitu kulit, atau yang belum disamak sebagaimana dalam Al Qamus dan juga dalam An Nihayah) maka ia telah suci.”

Dikeluarkan oleh Muslim dengan lafazh ini. sedangkan menurut imam yang empat ‘Kulit apa saja yang disamak.’ Lanjutannya (فَقَدْ طَهُرَ) ‘maka sungguh telah suci.’

Tafsir Hadits

Hadits tersebut dikeluarkan oleh perawi yang lima, hanya saja lafazhnya berbeda-beda. Hadits tersebut diriwayatkan dengan beberapa lafazh dan disebutkan latar belakangnya bahwa Nabi SAW melewati bangkai kambing milik Maimunah maka beliau bersabda:

أَلَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِإِهَابِهَا فَإِنَّ دِبَاغَ الْأَدِيمِ طَهُورٌ

“tidakkah kalian memanfaatkan kulitnya, sesungguhnya dengan menyamak kulit berarti dapat menyucikannya.”

[Shahih: Shahih Al Jami’ 3359]

Al Bukhari meriwayatkan dari hadits Saudah, ia berkata:

«مَاتَتْ لَنَا شَاةٌ فَدَبَغْنَا مِسْكَهَا ثُمَّ مَا زِلْنَا نَنْتَبِذُ فِيهِ حَتَّى صَارَ شَنًّا»

‘Kambing kami mati lalu kami menyamak kulitnya, kami tetap menjadikannya sebagai tempat minuman hingga lusuh.’

[Shahih: Al Bukhari 6686]

Hadits tersebut adalah dalil bahwa menyamak dapat menyucikan kulit bangkai setiap hewan sebagaimana ditunjukkan kalimat () (yakni kulit apa saja), dan bahwa dengan menyamaknya dapat menyucikan bagian luar kulit dan juga bagian dalamnya.

Dalam masalah ini ada tujuh pendapat:

Pertama; Dapat menyucikan setiap kulit bangkai, baik pada bagian dalam maupun luarnya dan tidak dikhususkan sesuatu pun darinya. Hal ini berdasarkan zhahirnya hadits Ibnu Abbas dan yang semakna dengannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali RA dan Ibnu Mas’ud.

kedua; Menyamak tidak dapat menyucikan sesuatu, ini adalah pendapat jumhur Al Hadawiyah dan diriwayatkan dari sekelompok shahabat. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i, Ahmad dan Al Bukhari dalam Tarikhnya dan perawi yang empat, Ad Daruquthni, Al Baihaqi dan Ibnu Hibban dari Abdullah bin Ukaim, ia berkata,

«أَتَانَا كِتَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ مَوْتِهِ أَلَّا تَنْتَفِعُوا مِنْ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلَا عَصَبٍ»

telah datang kepada kami wasiat Rasulullah SAW sebelum beliau meninggal dunia, “Bahwa janganlah kalian menggunakan sesuatu dari bangkai, baik dengan menyamak maupun dengan membalutnya.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 4127]

Dalam riwayat Asy-Syafi’i dan Abu Daud “Satu bulan sebelum meninggalnya.” Dalam riwayat lain, ‘satu atau dua bulan’. At Tirmidzi berkata ‘hasan’ dan Ahmad berpendapat dengannya dan berkata ‘ini adalah pendapat terakhir dari dua pendapat, kemudian ia meninggalkannya.’

Mereka berkata, ‘hadits ini menasakh (menghapus) hadits Ibnu Abbas, karena menunjukkan haramnya menggunakan kulit bangkai dengan menyamak dan membalutnya.’

Pendapat tadi dapat dijawab dengan beberapa alasan:

1. bahwa hadits tersebut adalah mudhtarib pada sanadnya, karena terkadang diriwayatkan dari para penulis Rasulullah SAW, dan terkadang dari para Syaikh dari Juhainah dan terkadang pula dari orang yang membaca wasiat Nabi SAW. juga mudhtarib pada matannya, karena diriwayatkan dengan tanpa batasan dan inilah riwayat yang terbanyak, dan diriwayatkan dengan membatasi satu bulan, dua bulan, empat puluh hari ataupun tiga hari.

Kemudian juga memiliki cacat yaitu mursal, karena Abdullah bin Ukaim tidak mendengarnya dari Nabi SAW, juga dengan keterputusan sanad, karena tidak didengarkan oleh Abdurrahman bin Abu Laila dari Ibnu Ukaim. Oleh karenanya, Ahmad meninggalkan pendapat ini setelah sebanyak ia bpdp dengannya sebagaimana dikatakan oleh At Tirmidzi.

2. hadits tersebut tidak bisa untuk menasakh, karena hadits menyamak lebih shahih, sebab diriwayatkan oleh Muslim dan diriwayatkan dari beberapa jalan. Dan yang semakna dengannya ada beberapa hadits dari sekelompok shahabat.

Dari Ibnu Abbas ada dua hadits, dari Ummu Salamah ada tiga hadits, dari anas ada dua hadits, dan satu hadits dari Salamah bin Al Muhabbik, Aisyah RA, Al Mughirah, Abu Umamah serta Ibnu Mas’ud. Dan hadits yang menasakh harus terbukti diucapkan terakhir sementara tidak ada dalil bahwa hadits Ibnu Ukaim lebih terakhir. Dan riwayat yang menyebutkan satu atau dua bulan ada cacat padanya, maka tidak dapat dijadikan sebagai hujjah untuk menasakh, meskipun riwayat dengan membatasinya tadi shahih, namun tidak secara otomatis menunjukkan bahwa itulah yang terakhir dari keduanya.

Tidak dapat dikatakan, jika tidak terjadi nasakh maka dua hadits tadi bertentangan, yaitu hadits Ibnu Ukaim dan hadits Ibnu Abbas dan yang menyertainya. Meskipun bertentangan, maka harus ditarjih atau didiamkan, karena kami mengatakan tidak ada pertentangan kecuali jika keduanya sama. Sementara di sini tidak demikian karena hadits Ibnu Abbas shahih dan banyaknya para perawi yang menyertainya, dan hal itu tidak terdapat pada riwayat Ibnu Ukaim

3. Bahwa (الْإِهَاب) sebagaimana yang Anda ketahui dari Al Qamus dan An Nihayah adalah nama bagi kulit yang belum disamak, menurut salah satu dari dua pendapat. An Nadhr bin Syuma’il berkata, ‘Ihab adalah nama bagi yang belum disamak dan setelah disamak namanya syannun (geriba yang sudah lusuh) atau qirbah (geriba adalah tempat air atau susu yang terbuat dari kulit), dan ini yang ditegaskan oleh Al Jauhari.

Ada yang mengatakan, karena mengandung makna kedua hal tersebut, maka diriwayatkanlah dua hadits yang bertentangan yang kami kompromikan antara keduanya, bahwa dilarang menggunakan kulit yang belum disamak, dan jika telah disamak tidak dinamakan lagi ihab, maka tidak termasuk yang terlarang, dan ini pendapat yang baik

Ketiga. Dapat menyucikan kulit setiap hewan yang dapat dimakan, sedangkan kulit hewan yang tidak bisa dimakan tidak bisa disamak. Hal ini bertentangan dengan keumuman hadits, ‘kulit apa saja’.

Keempat; Dapat menyucikan semua hewan kecuali babi, karena babi tidak memiliki kulit, ini adalah mazhab Abu Hanifah.

Kelima; Dapat menyucikan kecuali babi, berdasarkan firman Allah SWT: {فَإِنَّهُ رِجْسٌ} ‘Karena sesungguhnya semua itu kotor.” (QS. Al-An’am [6]: 145), kata ganti yang tersebut dalam ayat menunjukkan babi, maka dihukumi dengan najisnya semua anggota badannya, dan ajing diqiyaskan kepadanya karena sama-sama najis, ini adalah pendapat Asy-Syafi’i.

Keenam; Dapat menyucikan semuanya, akan tetapi hanya bagian luarnya dan tidak dapat menyucikan bagian dalamnya. sehingga dapat digunakan untuk benda-benda yang kering selain yang cair. Boleh shalat di atasnya dan tidak boleh shalat pada bgn dalamnya. pendapat ini diriwayatkan dari Malik, dengan memadukan antara hadits-hadits di atas, dengan demikian maka tidak terdapat pertentangan.

Ketujuh; Kulit bangkai dapat dimanfaatkan walaupun tidak disamak, baik bagian luar maupun bagian dalamnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dari riwayat Ibnu Abbas

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ بِشَاةٍ مَيِّتَةٍ فَقَالَ: هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِإِهَابِهَا؟ قَالُوا: إنَّهَا مَيْتَةٌ، قَالَ: إنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا»

bahwa Rasulullah SAW melewati seekor bangkai kambing, lalu bersabda, “Tidakkah kalian memanfaatkan dengan menyamaknya?” para shahabat menjawab ,’sesungguhnya itu bangkai.’ Beliau bersabda, “Yang diharamkan adalah memakannnya.”

[Shahih: Al Bukhari 1492, Muslim 363]

Ini adalah pendapat Az Zhuri. Dan telah dijawab bahwa hadits tersebut bersifat mutlak, dan telah dibatasi oleh hadits-hadits menyamak yang telah lalu.

0017

17 – وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْمُحَبِّقِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «دِبَاغُ جُلُودِ الْمَيْتَةِ طَهُورُهَا» صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

17. Dari Salamah bin Al Muhabbiq RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Dengan menyamak kulit bangkai maka dapat menyucikannya.’ (dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 3360]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Salamah bin Al Muhabbiq RA adalah seorang shahabat, termasuk dari kalangan orang-orang Bashrah. Putranya yang bernama Sinan meriwayatkan hadits darinya dan Sinan juga seorang shahabat.

Tafsir Hadits

Menurut Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i, Al Baihaqi dan Ibnu Hibban dari Salamah dengan lafazh:

«دِبَاغُ الْأَدِيمِ ذَكَاتُهُ»

‘Dengan menyamak kulit berarti dapat menyucikannya’

[Shahih: Shahih Abu Daud 4125]

Dalam lafazh lain:

«دِبَاغُهَا ذَكَاتُهَا»

‘Menyamaknya dapat mensucikannya’

Yang lainnya:

«دِبَاغُهَا طَهُورُهَا»

‘Menyamaknya dapat mensucikannya’

Lafazh lain:

«ذَكَاتُهَا دِبَاغُهَا»

Kesucian dengan menyamaknya

Yang lain lagi:

«ذَكَاةُ الْأَدِيمِ دِبَاغُهُ»

Kesucian kulit dengan menyamaknya.

Dalam bab ini banyak hadits semakna yang menunjukkan apa yang telah disebutkan hadits Ibnu Abbas.

Menyamakan antara menyamak dengan menyembeli sebagai pemberitahuan bahwa menyamak kulit kambing untuk menyucikannya sama kedudukannya dengan menyembelih dalam menjadikannya halal, karena dengan menyembelih dapat menyucikannya dan halal untuk dimakan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *