[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 06

01.01. BAB AIR 03

0009

٩ – وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ – فِي الْهِرَّةِ -: إنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ، إنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

9. Dari Abu Qatadah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda mengenai kucing, “Sesungguhnya kucing itu tidak najis, dia hanyalah termasuk (makhluk-makhluk) yang mengelilingi kamu.” (HR. Imam yang empat, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 2437]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Menurut pendapat mayoritas ulama, nama Abu Qatadah adalah Al Harits bin Rib’i Al Anshari. Ia adalah pahlawab berkuda Rasulullah SAW. mengikuti perang Uhud dan peperangan-peperangan setelahnya. Wafat tahun 54 H di Madinah. Ada yang berpendapat wafat di Kufah pada masa kekhalifahan Ali RA, dan ia menyaksikan seluruh peperangan bersama Ali.

Tafsir Hadits

Hadits ini memiliki asbabun nuzul sebagai berikut: bahwa Abu Qatadah diberikan air wudhu, lalu ada seekor kucing datang ingin minum air tersebut. Maka Abu Qatadah memiringkan tempat wudhu itu hingga kucing tersebut minum darinya. Lalu Abu Qatadah ditanya perihal itu, maka ia menjawab, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya kucing itu tidak najis. Sesungguhnya kucing hanyalah (makhluk-makhluk) yang mengelilingi kalian (yakni, apa yang disentuhnya tidak najis).”

Ibnu Al Atsir berkata, ‘(الطَّائِفُ) (yang mengelilingi), yakni pelayan yang melayani dan menolongmu dengan penuh kasih sayang.’ Kucing diserupakan dengan pelayan yang selalu mengelilingi majikannya. Hal ini diambil dari firman Allah SWT:

بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ…

“Selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu….” ((QS. An-Nur [24]: 58)

Yakni para pelayan dan hamba sahaya.

Dalam keterangan tersebut mengisyaratkan, bahwa Allah SWT menempatkan kedudukan kucing seperti pelayan, karena seringnya berhubungan dan bersentuhan dengan penghuni rumah serta apa saja yang ada di dalam rumah mereka. Allah SWT memberikan keringanan kepada para hamba-Nya dengan menjadikan kucing tidak najis untuk menghilangkan kesulitan atas mereka.

Dikeluarkan oleh Imam yang empat, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah, juga dishahihkan oleh Al Bukhari, Al Uqaili dan Ad Daruquthni.

Hadits tersebut adalah dalil sucinya kucing dan bekas minumnya, meskipun ia bersentuhan langsung dengan najis. Dan bahwa kesucian mulut kucing itu tidak terikat dengan waktu. Ada yang mengatakan bahwa mulut kucing yang terkena najis tidak suci kecuali jika telah berlalu beberapa waktu, seperti satu malam, satu hari, satu jam, atau ia telah minum air, atau perginya kucing tersebut sehingga diduga dengan kepergian itu nasjisnya hilang, atau hilangnya benda najis dari mulutnya. Pendapat terakhir ini adalah pendapat yang lebih jelas. Karena dengan masih adanya benda najis pada mulutnya, dan hukum najis sebab benda najis tersebut, bukan karena mulutnya. Maka jika benda itu telah hilang, syariat menghukuminya tidak najis.

0010

10 – وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، قَالَ: «جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ، فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ؛ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

10. Dari Anas bin Malik RA ia berkata, ‘Seorang Arab Badui datang, lalu kencing di sudut masjid, maka orang-orang membentaknya, dan Nabi SAW melarang mereka. Setelah ia selesai kencing, Nabi SAW menyuruh untuk mengambil air satu timba, lalu dituangkan di tempat yang kena najis tersebut. (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 221, Muslim 284]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Anas bin Malik adalah Abu Hamzah Khazraji pelayan Rasulullah SAW sejak beliau datang ke Madinah hingga wafatnya. Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, Anas baru berumur 10 atau 9 atau 8 tahun, dalam hal ini terdapat beberapa pendapat. Ia tinggal di Bashrah sejak masa Khilafah Umar untuk mengajar kepada umat manusia. Umurnya panjang hingga 103 tahun. Ada yang mengatakan kurang dari itu. Ibnu Abdil Barr berkata, “Pendapat yang paling shahih adalah 99 tahun.” Ia adalah shahabat yang terakhir meninggal dunia di Bashrah yaitu pada tahun 91 atau 92 atau 93 H.

Penjelasan Kalimat

‘Seorang Arab Badui datang, (dinisbatkan kepada Al Arab yaitu mereka yang tinggal di pedesaan baik orang Arab maupun non Arab. Disebutkan namanya adalah Dzul Khuwaisharah Al Yamani, bertabiat kasar) lalu kencing di sudut masjid, (yaitu sudut Ath Thaifah, adalah bagian dari sesuatu) maka orang-orang membentaknya, (yakni menghardik.

Dalam lafazh lain:

[فَقَامَ إلَيْهِ النَّاسُ لِيَقَعُوا بِهِ]

‘maka orang-orang menuju kepadanya untuk memukulnya’

[shahih: shahih Al Bukhari 5777]

Dalam lafazh lain:

فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَهْ، مَهْ،

‘maka para shahabat Rasulullah SAW berkata ‘mah..mah..’

[shahih: shahih Muslim 285]

dan Nabi SAW melarang mereka. (dengan mengatakan:

[دَعُوهُ]

biarkanlah dia.

Dalam lafazh lain:

لَا تَزْرِمُوهُ

“janganlah kalian memutuskannya.”)

[Shahih: Shahih Al Bukhari 5679, Muslim 285]

Setelah ia selesai kencing, Nabi SAW menyuruh untuk mengambil air satu timba, (yaitu satu timba penuh. Pendapat lain mengatakan yang banyak) dari air (sebagai bentuk penegasan, jika bukan sebagai penegasan maka telah ditunjukkan oleh lafazh (الذَّنُوبِ) (satu timba air) sama dengan (كَتَبْت بِيَدَيَّ) (saya menulis dengan tanganku). Dalam satu riwayat (سَجْلًا), artinya satu timba) lalu dituangkan di tempat yang kena najis tersebut.

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terdapat dalil yang menunjukkan najisnya air kencing manusia, dan ini merupakan ijma ulama. Juga menunjukkan bahwa bumi itu dapat disucikan dengan air sebagaimana najis-najis lainnya. Lalu, apakah najis bisa disucikan dengan selain air? Ada yang berpendapat bahwa dapat disucikan oleh matahari dan angin, karena pengaruh keduanya dalam menghilangkan najis lebih besar daripada air, dan berdasarkan hadits:

[زَكَاةُ الْأَرْضِ يُبْسُهَا]

“sucinya bumi itu ketika telah kering.”

[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushanaf 624, merupakan perkataan Abu Ja’far –ebook editor]

Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Abi Syaibah. Dapat dijawab bahwa ia menyebutkannya secara mauquf bukan sabda Rasulullah SAW. sebagaimana Abdurrazzaq menyebutkan hadits Abu Qilabah mauquf atasnya dengan lafazh:

جُفُوفُ الْأَرْضِ طَهُورُهَا

“Keringnya bumi itu –menunjukkan- sucinya tempat tersebut.”

[HR. Abdurrazaq dalam Al Mushanaf 5143, merupakan perkataan Abu Qilabah –ebook editor]

Maka keduanya tidak dapat dijadikan hujjah.

Hadits tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa dengan menuangkan air dapat menyucikan tanah, baik tanah yang lunak maupun keras. Ada yang mengatakan bahwa harus mencuci tanah yang keras sebagaimana benda-benda lainnya yang terkena najis, karena tanah Masjid Rasulullah SAW ketika itu lunak maka cukup dengan menuangkan air di atasnya. Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa sucinya tanah tidak hanya dengan meresapnya air, karena beliau SAW tidak mensyaratkan sesuatu atas kencing seorang Arab Badui, pendapat ini yang dipilih oleh Al Mahdi dalam Al Bahr. Dan bahwa tidak diisyaratkan menggali dan membuang tanahnya.

Abu Hanifah berkata, “jika tanahnya keras, maka harus digali dan dibuang tanahnya, karena air tidak mengenai semua bagian atas dan bagian bawahnya. Juga karena diriwayatkan dalam sebagian jalan hadits ini, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«خُذُوا مَا بَالَ عَلَيْهِ مِنْ التُّرَابِ وَأَلْقُوهُ وَأَهْرِيقُوا عَلَى مَكَانِهِ مَاءً»

“Ambillah tanah yang telah terkena air kencing lalu buanglah, dan tuangkanlah air di atas tempatnya.”

[Shahih: Shahih Abu Daud 381]

Penulis rahimahullah berkata dalam At Talkhis, “Hadits ini memiliki dua sanad yang maushul (bersambung); yang pertama dari Ibnu Mas’ud dan yang lainnya dari Watsilah bin Al Asqa, tetapi pada keduanya terdapat pembicaraan.” Dan seandainya tambahan ini kuat, niscaya batallah pendapat orang yang mengatakan bahwa tanah Masjid Nabi SAW lunak, karena dia berkata, “tidak digali dan tidak dibuang kecuali dari tanah yang keras.”

Dalam hadits tersebut terdapat beberapa faedah:

1. Menghormati Masjid. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Nabi SAW, bahwa ketika orang Badui tersebut selesai buang air kecil, beliau memanggilnya dan berkata kepadanya,

إنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ إنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya masjid ini tidak layak terhadap sesuatu dari kencing dan kotoran, masjid itu adalah untuk berdzikir kepada Allah SWT dan membaca Al Qur’an.”

[Shahih: Muslim 285]

Dan sikap para shahabat dengan segera melarangnya, disetujui oleh Nabi SAW. hanya saja, beliau menyuruh mereka bersikap lemah lembut, sebagaimana dalam riwayat Al Jama’ah, kecuali Muslim. Bahwa beliau bersabda kepada mereka:

«إنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

“Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan tidak diututs untuk mempersulit.”

[Shahih: Al Bukhari 220]

Seandainya pengingkaran itu dilarang, tentu beliau akan mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tidaklah orang Badui itu datang (melakukan sesuatu) yang mana kalian wajib melarangnya.”

2. Bersikap lemah lembut dan tidak kasar terhadap orang yang bodoh.

3. Kemuliaan akhlak Rasulullah SAW dan sikap lemah lembut dalam memberikan pelajaran kepada umatnya.

4. Menjauh dari keramaian orang ketika buang hajat hanyalah bagi yang ingin buang hajat besar, bukan kencing. Karena menurut urf (kebiasaan) orang Arab, hal itu tidak wajib dan disetujui oleh syariat. Dan Rasulullah SAW perempuan buang air kecil dan menyuruh shahabat yang berada di belakang beliau untuk menutupinya.

5. Menolak kemudharatan yang lebih besar dengan memilih yang lebih ringan di antara keduanya. Seandainya kencingnya terputus (ditahan), tentu akan mendatangkan madharat bagi dirinya. Dan seandainya ia berpindah tempat yang pertama kali telah terkena najis, tentu najis itu akan mengenai badan dan pakaiannya, serta tempat-tempat lain di dalam masjid.

0011

11 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالْجَرَادُ وَالْحُوتُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالطِّحَالُ وَالْكَبِدُ» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَفِيهِ ضَعْفٌ.

11. Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu belalang dan ikan, dan dua darah yaitu limpa dan hati.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan padanya terdapat kelemahan)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 210]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dihalalkan bagi kami dua bangkai (yakni setelah diharamkan sebagaimana yang termaktub dalam ayat) dan dua darah Adapun dua bangkai yaitu belalang (yakni bangkainya) dan ikan (yakni bangkainya), dan dua darah yaitu limpa dan hati.”

HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan padanya terdapat kelemahan, karena diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Ibnu Umar. Ahmad berkata, “haditsnya munkar.” Ia menshahihkannya secara mauquf, sebagaimana dikatakan oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim. jika telah jelas mauquf, maka ia memiliki hukum sama dengan marfu. Karena ucapan shahabat ‘dihalalkan bagi kami begini..’ atau ‘diharamkan bagi kami begini…’ seperti ucapan ‘Kami diperintahkan…’ atau ‘Kami dilarang…’, maka dapat dijadikan hujjah.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut menunjukkan halalnya belalang dalam kondisi bagaimanapun didapatkan. Maka tidak perlu dipertimbangkan sedikit pun, baik mati secara normal (alami) maupun mati karena sebab tertentu.

Hadits tersebut juga merupakan bantahan bagi yang mensyaratkan kematiannya dengan sebab manusia, atau dengan memotong kepalanya, dan jika tidak karena sebab ini maka diharamkan. Demikian pula menunjukkan atas halalnya bangkai ikan dalam kondisi bagaimanapun didapatkan, baik dalam keadaan mengapung ataupun tidak berdasarkan hadits ini dan juga hadits ‘Halal bangkainya.’

Ada yang berpendapat bahwa bangkai ikan tidak halal kecuali yang mati dengan sebab manusia, surutnya air, melemparnya atau karena masuk ke dalam tanah, sedang yang mengapung tidak halal, berdasarkan hadits:

«مَا أَلْقَاهُ الْبَحْرُ أَوْ جَزَرَ عَنْهُ فَكُلُوا، وَمَا مَاتَ فِيهِ فَطَفَا فَلَا تَأْكُلُوهُ»

“Apa yang terdapat di laut atau yang dipotong maka makanlah, dan yang mati di dalamnya lalu mengapung maka janganlah kamu memakannya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Jabir)

[Dhaif: Dhaif Al Jami 5019]

Hadits ini khusus dan mengkhususkan keumuman dua hadits terdahulu. Hal ini dapat dijawab bahwa hadits ini dhaif menurut kesepakatan para imam hadits.

An Nawawi berkata, “Hadits Jabir ini dhaif menurut kesepakatan para imam hadits, tidak boleh dijadikan hujjah jika tidak ditentang hadits lain, namun hadits ini ditentang oleh hadits lain, sehingga tidak dapat mengkhususkan hadits yang umum. Karena Nabi SAW makan sejenis ikan paus yang didapat oleh salah seorang pasukan di laut, dan beliau tidak bertanya sebab kematiannya. Kisah ini sangat terkenal dalam buku-buku hadits dan sejarah.”

Hati hewan hukumnya halal menurut ijma, begitu juga dengan limpa. Tetapi dalam Al Bahr Dijelaskan bahwa limpa hukumnya makruh berdasarkan hadits Ali RA. Akan tetapi hadits ini tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya dari Ali.

«إنَّهُ لُقْمَةُ الشَّيْطَانِ»

Bahwa limpa adalah suapan setan,

[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushanaf 5/126] *

artinya ia gembira dengan memakannya.

_____________

* yakni no 24370 pada maktabah syamilah dengan menyertakan sanad yaitu:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: «الطِّحَالُ لُقْمَةُ الشَّيْطَانِ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, ia berkata, Waqi menceritakan pada kami, dari Isra’il dari Abu Ishaq, dari Al Harits, dari Ali, Ia berkata: ‘limpa adalah suapan setan.’

Jadi pernyataan pensyarah (yakni Ash-shan’ani, ‘hadits ini tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya dari Ali’ adalah tidak benar, karena Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkannya dengan sanad yang jelas, walau sanadnya mungkin perlu diteliti kembali. (ebook editor)

0012

12 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً» أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو دَاوُد. وَزَادَ «وَإِنَّهُ يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ الَّذِي فِيهِ الدَّاءُ»

12. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, “Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang kalian, maka hendaklah ia memasukkannya (dalam minuman tersebut) kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada yang lainnya terdapat obat. (HR. Al Bukhari dan Abu Daud).

[shahih: Al Bukhari 3320]

Ia menambahkan: “Dan sesungguhnya dia menjaga diri dengan sayapnya yang terdapat penyakit.”

[Shahih: Shahih Al Jami’ 835]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang kalian, (sebagaimana yang telah kami sebutkan terdahulu bahwa idhafah (penyandaran) digugurkan sebagaimana dalam sabda beliau, ‘apabila anjing menjilat bejana salah seorang dari kalian.’ dalam lafazh lain: ‘dalam makanan’)

maka hendaklah ia memasukkannya -dalam minuman tersebut- (dalam riwayat Al Bukhari ada tambahan, (كُلَّهُ) ‘semuanya’, sebagai penegasan. Dan dalam lafazh Abu Daud (فَامْقُلُوهُ) ‘maka hendaklah kalian membenamkannya’. Dalam lafazh Ibnu Sakan (فَلْيَمْقُلْهُ) ‘maka hendaklah ia membenamkannya’)

kemudian membuangnya, (dalam lafazh tersebut menunjukkan boleh menunda dan membuangnya setelah dibenamkan dalam air)

karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada yang lainnya terdapat obat. (ini adalah keterangan perintah membenamkan dalam air tersebut).”

Sedang lafazh Al Bukhari:

«ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِي الْآخَرِ دَاءً»

‘Kemudian ia membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat obat dan pada yang lain terdapat penyakit.’

وَفِي لَفْظٍ [سُمًّا]

Dan dalam lafazh lain: ‘racun’

HR. Al Bukhari dan Abu Daud. Ia menambahkan: “Dan sesungguhnya dia menjaga diri dengan sayapnya yang terdapat penyakit.”

(Menurut Ahmad dan Ibnu Majah:

إنَّهُ يُقَدِّمُ السُّمَّ وَيُؤَخِّرُ الشِّفَاءَ

“sesungguhnya dia mendahulukan racun dan mengakhirkan obat.” )

[Shahih: Shahih Al Jami’ 4234]

Tafsir Hadits

Hadits tersebut adalah dalil yang jelas atas bolehnya membunuh lalat untuk mencegah mudharat, setelah dibunuh lalat dibuang dan tidak dimakan. Jika lalat mati dalam benda cair, maka tidak membuatnya najis, karena Rasulullah SAW menyuruh untuk membenamkannya. Karena dengan memasukkannya ke air atau makanan lalat itu akan mati, terlebih jika makanan tersebut panas. Seandainya dapat membuatnya najis, niscaya perintah tersebut untuk merusak makanan, sementara Rasulullah SAW melarang merusak makanan, beliau justeru menyuruh untuk memperbaikinya.

Kemudian, hukum ini dapat diberlakukan terhadap setiap hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti lebah, kumbang atau lalat kerbau, laba-laba dan yang mirip dengannya. Sebab, hukum itu dapat berlaku umum lantaran illat-nya umum dan menjadi tiada dengan ketiadaan illat (sebab). Maka dikarenakan sebab najis adalah darah yang membeku pada hewan dengan kematiannya, dan itu tidak terdapat pada hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir, maka hukum najis hilang dengan tidak adanya illat.

Perintah untuk membenamkan lalat ke dalam air agar obat yang ada padanya keluar sebagaimana penyakit keluar darinya. Telah diketahui, bahwa pada lalat terdapat kekuatan racun. Hal itu diindikasikan dengan adanya bengkak dan gatal yang terjadi ketika digigit. Gigitan lalat menjadi senjata baginya. Maka jika terjadi hal yang mengganggunya, ia akan melindungi diri dengan senjatanya tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya ia (lalat) menjaga diri dengan sayapnya terhadap penyakit”, maka Rasulullah SAW menyuruh menolak racun itu dengan obat yang telah diletakkan oleh Allah SWT pada sayapnya yang lain dengan memasukkan lalat tersebut ke dalam air. Maka racun dan obat itu akan bertemu sehingga hilanglah madharatnya.

Beberapa dokter mengatakan, bahwa bagian (tubuh) yang tersengat oleh kalajengking dan kumbang, apabila digosok dengan lalat, akan memberi manfaat dan penawar. Hal itu tiada lain karena obat yang terdapat padanya.

0013
13 – وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ – وَهِيَ حَيَّةٌ – فَهُوَ مَيِّتٌ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ، وَاللَّفْظُ لَهُ.

13. Dari Abu Waqid Al Laitsi RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apa saja yang dipotong dari hewan yang masih hidup adalah bangkai.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, ia menghasankannya, dan lafazh tersebut miliknya)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 5652]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Menurut salah satu riwayat, nama Abu Waqid adalah Al Harits bin Auf. Dikatakan bahwa ia ikut perang Badar. Ada yang berpendapat bahwa dia termasuk orang yang masuk Islam pada penaklukan Makkah. Pendapat yang pertama lebih kuat. Meninggal tahun 68 atau 65 H di Makkah. Al Laitsi adalah nisbat kepada Al Laits dari Bani Amr dari Laits.

Penjelasan Kalimat

Apa saja yang dipotong dari hewan (dalam Al Qamus, (الْبَهِيمَةُ) adalah setiap hewan yang berkaki empat meskipun hidup di air atau setiap yang hidup dan tidak berakal. Dan (الْبَهِيمَةُ) adalah anak domba dan kambing, sepertinya yang dimaksud di sini adalah yang terakhir sebagaimana yang akan diterangkan). yang masih hidup (yakni hewan yang dipotong itu) adalah bangkai.”

Dikeluarkan oleh Abu Daud dan At Tirmidzi dan ia menghasankannya, yakni ia berkata, “Sesungguhnya hadits itu hasan.” Definisi hasan telah disebutkan pada definisi hadits shahih yang lalu.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dipotong dari tubuh hewan yang masih hidup adalah bangkai yang diharamkan. Latar belakang hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan (الْبَهِيمَةُ) adalah binatang berkaki empat. Yaitu makna yang pertama lantaran disebutnya unta padanya, bukan makna yang terakhir yang disebutkan oleh Al Qamus. Akan tetapi dikhususkan dengan apa yang dikecualikan berupa ikan meskipun berkaki empat. Atau yang dimaksudkan adalah makna yang pertengahan, yaitu setiap yang hidup dan tidak berakal lalu dikhususkan belalang dan ikan darinya, dan apa yang telah disebutkan yang tidak memiliki darah yang mengalir.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *