[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 05

01.01. BAB AIR 02

0005

٥- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ – وَلِلْبُخَارِيِّ «لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ» – وَلِمُسْلِمٍ مِنْهُ، وَلِأَبِي دَاوُد: «وَلَا يَغْتَسِلُ فِيهِ مِنْ الْجَنَابَةِ»

5. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mandi dalam air yang tenang (tidak mengalir) sedang ia junub.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 283]

Dan bagi Al Bukhari, “Janganlah sekali-kali salah seorang kalian kencing dalam air tenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di dalamnya.”

[shahih: Al Bukhari 239, Muslim 282]

Dan bagi Muslim, “Darinya”, dan bagi Abu Daud, “Dan janganlah ia mandi junub di dalamnya.”

[shahih: shahih Al Jami 7595]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Janganlah salah seorang kalian mandi di dalam air yang tenang (yaitu air yang diam tergenang, dan disebutkan sifatnya yaitu yang tidak mengalir) sedang ia junub (Muslim meriwayatkannya dengan lafazh ini) di dalamnya (menunjukkan bahwa janganlah ia mandi dengan menyelam di dalamnya, dan bisa juga menunjukkan bahwa janganlah ia mengambil darinya lalu mandi di luar) janganlah ia mandi (menunjukkan bahwa larangan melakukan kedua hal tersebut secara tersendiri, sebagaimana dua kemungkinan yang pertama dalam riwayat) kemudian ia mandi darinya.”

Tafsir Hadits

Abu Daud berkata dalam Asy Syarh, “Larangan ini jika pada air yang banyak menunjukkan makruh, dan jika pada air yang sedikit menunjukkan haram.” Ada yang berpendapat, bahwa berdasarkan hal tersebut dapat menjadikan penggunaan lafazh larangan tersebut secara hakiki dan majazi. Maka yang lebih baik adalah keumuman majaz dan larangan tersebut digunakan pada makna tidak melakukannya yang mengandung unsur keharaman dan kemakruhan melakukannya.

Adapun hukum air diam yang tidak mengalir, najisnya air sebab bercampur dengan air seni, atau larangan mandi junub di dalamnya, menurut mereka yang berpendapat bahwa air tidak najis melainkan jika salah satu sifatnya berubah, larangan penggunaannya itu bersifat ta’abbudi dan air tetap suci. Ini adalah pendapat Malikiyah yang membolehkan bersuci dengannya, karena larangan tersebut menurut mereka hanyalah menunjukkan makruh. Sedangkan menurut Azh Zhahiriyyah adalah haram. Meskipun larangan tersebut ta’abbudi dan bukan lantaran najis, akan tetapi pada dasarnya setiap larangan itu menunjukkan haram. Dan menurut yang membedakan antara air sedikit dengan air yang banyak, “Jika air itu banyak, maka ia dikembalikan pada asalnya dalam membatasinya, jika tidak berubah salah satu sifatnya berarti ia suci dan dalil atas kesuciannya adalah takhshish (pengkhususan) keumumannya”. Tetapi pendapat ini dapat dibantah, “Jika kalian mengatakan bahwa larangan yang menunjukkan makruh tersebut adalah pada air yang banyak, maka tidak boleh membatasinya lantaran keumuman hadits dalam bab ini, dan jika air itu sedikit maka dalam membatasinya dikembalikan kepada asalnya, maka larangan menggunakannya menunjukkan keharaman, karena ia tidak suci dan tidak menyucikan.” Ini menurut prinsip mereka bahwa larangan tersebut lantaran najis.

Disebutkan dalam Asy Syarh beberapa pendapat mengenai kencing dalam air, yaitu tidak dilarang pada air banyak yang mengalir sebagaimana yang dipahami dalam hadits ini, tetapi lebih baik dihindari. Adapun air sedikit yang mengalir, ada yang mengatakan makruh dan ada juga yang mengatakan haram. Ini yang lebih baik.

Saya katakan, “Yang lebih baik justru sebaliknya, karena hadits tersebut adalah larangan buang air kecil dalam air yang tidak mengalir, maka tidak mencakup yang mengalir sedikit atau banyak.” Tetapi seandainya dikatakan makruh akan lebih dekat. Jika airnya banyak dan tergenang, maka ada yang berpendapat makruh secara mutlak. Ada pula yang berpendapat jika ia kencing dengan sengaja hukumnya makruh, namun jika ia terpaksa dan sudah berada di dalamnya maka hukumnya tidak makruh.

Dalam Asy Syarh ia berkata, “Seandainya dikatakan bahwa hal itu menunjukkan haram, maka larangan tersebut akan lebih jelas dan lebih sesuai dengan zhahirnya, karena akan merusak yang lainnya dan mengandung mudharat bagi kaum Muslimin. Dan jika air tenang dan sedikit, maka yang benar adalah haram berdasarkan hadits tersebut.”

Kemudian, apakah hukum keharaman pada air yang sedikit juga berlaku pada selain air seni, seperti tinja? Menurut Jumhur, hal itu lebih layak untuk disamakan, dan menurut Ahmad bin Hambal, yang lain tidak menyamakan dengannya, tetapi hukum tersebut khusus bagi air seni. Sabda beliau, ‘dalam air’ sangat jelas merupakan larangan kencing di dalamnya, sehingga harus dijauhi, maka jika kencing di dalam bejana kemudian dituangkan ke dalam air tenang maka hukumnya sama. Sedang menurut Daud, tidak menajiskannya dan tidak terlarang, kecuali pada kejadian yang pertama, selainnya tidak.

Hukum berwudhu dalam air yang telah dikencingi sama seperti hukum mandi, sebab hukumnya satu. Dalam satu riwayat disebutkan:

«لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ مِنْهُ»

“Janganlah salah seorang dari kalian kencing dalam air yang diam kemudian ia berwudhu darinya.”

[Shahih : Shahih Al Jami 7594]

Ia menyebutkan dalam Asy Syarh dan tidak dinisbatkan kepada siapapun, dikeluarkan oleh Abdurrazzaq, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan At Tirmidzi. Ia berkata hasan shahih. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari hadits Abu Hurairah RA secara marfu, dan dikeluarkan oleh Ath Thahawi, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi dengan tambahan,

[أَوْ يَشْرَبُ]

‘atau minum darinya.”

[Shahih: Ta’liq Ibnu Hibban 1256]

0006

٦- وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ، أَوْ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ، وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ.

6. Dari seorang laki-laki yang menemui Rasulullah SAW, ia berkata: “Rasulullah SAW melarang seorang perempuan mandi dengan air bekas mandi laki-laki, atau laki-laki mandi dengan air bekas mandi perempuan, tetapi hendaklah keduanya masing-masing menciduk. (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dengan sanad shahih)

[Shahih: Shahih Abu Daud 81]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW melarang seorang perempuan mandi dengan air bekas mandi laki-laki (maksudnya, air bekas mandi laki-laki) atau laki-laki mandi dengan air bekas mandi perempuan (sepertinya), tetapi hendaklah keduanya masing-masing menciduk (dari air ketika keduanya mandi)

Tafsir Hadits

Ditakhrij oleh Abu Daud dan An Nasa’i dengan sanad shahih. Sebagai isyarat atas jawaban pendapat Al Baihaqi dimana ia berkata, “Sesungguhnya hadits itu bermakna mursal.” Dan pendapat Ibnu Hazm, “sesungguhnya salah seorang rawinya dhaif.”

Adapun yang pertama, maka samarnya seorang shahabat tidaklah mempengaruhi; sebab semua shahabat adil (jujur) menurut para ahli hadits. Dan yang kedua, bahwa yang dimaksudkan Ibnu Hazm dhaif adalah Daud bin Abdullah Al Audi, sedang ia tsiqah. Dalam al Bahr sepertinya ia terpedaya dengan ucapan Ibnu Hazm, maka ia mengatakan setelah menyebutkan hadits tersebut, “Sesungguhnya perawinya lemah” dan ia menisbatkannya kepada perawi majhul (tak dikenal identitasnya)

Penulis berkata dalam Fathul Bari, “Sesungguhnya para perawinya tsiqah dan kami tidak mendapatkan cacat padanya”, oleh karenanya di sini ia berkata, ‘shahih’. Hal ini bertentangan dengan hadits berikut:

0007

٧- وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -» . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

– وَلِأَصْحَابِ السُّنَنِ: «اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي جَفْنَةٍ، فَجَاءَ يَغْتَسِلُ مِنْهَا، فَقَالَتْ: إنِّي كُنْت جُنُبًا، فَقَالَ: إنَّ الْمَاءَ لَا يَجْنُبُ» وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

7. Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Bahwa Nabi SAW pernah mandi dengan bekas mandi Maimunah RA.” (HR. Muslim)

[shahih: Muslim 323]

Dan bagi para penulis kitab Sunan, “Salah seorang istri Nabi SAW pernah mandi dalam bejana, lalu beliau datang dan mandi di dalamnya, maka istrinya berkata, ‘sesungguhnya aku junub.’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya air itu tidak dapat membuat junub.’ (dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

[shahih: Shahih Al Jami 1927]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Abbas diberi gelar lautan ilmu pada masanya. Lahir 3 tahun sebelum Hijrah. Keunggulannya dalam ilmu berkat doa Nabi SAW agar diberikan hikmah dan pemahaman dalam agama yang cukup membuatnya terkenal. Wafat di Thaif tahun 68 H pada akhir kepemimpinan Az Zubair setelah penglihatannya buta.

Penjelasan Kalimat

Salah seorang istri Nabi SAW pernah mandi dalam bejana, lalu beliau datang (yaitu Nabi SAW) dan mandi di dalamnya, maka istrinya berkata, ‘sesungguhnya aku junub.’ (maksudnya, aku telah mandi darinya) Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya air itu tidak dapat membuat junub.’

Tafsir Hadits

Dalam shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa, “Nabi SAW dan Maimunah keduanya pernah mandi dalam satu bejana.” Tidak asing lagi bahwa tidak ada pertentangan padanya, karena kemungkinan keduanya masing-masing menciduk secara bersamaan, maka tidak ada pertentangan.

Betul, yang membantahnya adalah perkataannya, “dan bagi para pemilik Kitab As Sunan”, artinya dari hadits Ibnu Abbas, sebagaimana dikuatkan oleh Al Baihaqi dalam As Sunan, dan ia menisbatkannya kepada Abu Daud.

Makna hadits tersebut telah disebutkan dari beberapa jalan yang dipaparkan dalam Asy Syarh, dan menunjukkan bahwa bertentangan dengan hadits yang lalu, dan bahwa boleh seorang laki-laki mandi dengan air bekas mandi perempuan, dan sebaliknya diqiyaskan atasnya karena kesamaannya. Dalam dua hal tersebut terdapat perbedaan pendapat tetapi yang lebih jelas ad keduanya diperbolehkan, dan bahwa larangan itu dipahami sebagai tanzih (kesucian).

0008

٨- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَفِي لَفْظٍ لَهُ ” فَلْيُرِقْهُ “، وَلِلتِّرْمِذِيِّ ” أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُولَاهُنَّ “

8. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sucinya bejana salah seorang dari kalian yang dijilat anjing, hendaknya ia mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah. (HR. Muslim)

Dan pada lafazh lain: “Hendaklah ia menumpahkannya”

[HR. Muslim 279]

Dan bagi At Tirmidzi: “Yang terakhir, atau yang pertama dengan tanah.”

[shahih: shahih al Jami 8116]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sucinya bejana salah seorang dari kalian yang dijilat anjing, (ia minum apa yang terdapat di dalamnya dengan ujung-ujung lidahnya atau ia memasukkah lidahnya ke dalamnya lalu menggerak-gerakkannya) hendaknya ia mencucinya (maksudnya bejana tersebut) tujuh kali, yang pertama dengan tanah.”Hendaklah ia menumpahkannya” (yaitu air yang telah dijilat anjing)

Dan bagi At Tirmidzi: “Yang terakhir, (yaitu yang ketujuh).

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan beberapa hukum:

Pertama: najisnya mulut anjing. Rasulullah SAW memerintahkan untuk mencuci sesuatu (bejana) yang dijilat anjing, dan menumpahkan air yang ada di dalamnya. sabda beliau “sucinya bejana salah seorang dari kalian”. maka tidak diperintahkan dicuci, kecuali dari hadats atau najis, dan di sini tidak ada hadats, berarti najis. Menumpahkannya berarti membuang-buang harta, maka seandainya air tersebut suci niscaya beliau tidak akan menyuruh menyia-nyiakannya karena membuang-buang harta terlarang.

Secara zhalim, hadits itu menunjukkan bahwa mulut anjing itu najis dan badannya dihukumi sama dengan mengqiyaskannya. Karena jika telah jelas bahwa ludahnya najis, ludahnya adalah bagian dari mulutnya, dan ludah adalah peluh mulutnya serta peluh adalah bagian yang keluar dari badan, maka demikian pula semua badannya.

Tetapi ulama yang berpendapat bahwa perintah mencuci bukan lantaran najisnya anjing, ia berkata, “Boleh jadi najis itu terdapat pada mulut dan ludahnya, sebab mulutnya adalah tempat yang biasa ia gunakan untuk memakan najis sebagaimana umumnya, ia mengaitkan hukum tersebut dengan melihat kepada keumuman kondisinya seperti memakan berbagai najis dan bersentuhan secara langsung, tidak menunjukkan bahwa benda (mulut)nya yang najis.

Pendapat mengenai najisnya air liur anjing adapun pendapat jumhur, dan yang menyelisihinya adalah pendapat Malik, Daud dan Az Zuhri. Dalil kelompok pertama adalah sebagaimana yang telah disebutkan, dan dalil selain mereka – yaitu mereka yang berpendapat bahwa perintah mencuci adalah untuk ta’abbudi bukan lantaran najis -, mereka berkata, “Seandainya karena najis, niscaya cukup jika kurang dari tujuh kali, karena najisnya tidak lebih dari kotoran.” Argumen ini dapat dijawab, bahwa hukum asal perintah untuk mencuci dapat dipahami maknanya dan bisa dikemukakan alasannya, yaitu lantaran najis, dan dasar daripada berbagai hukum adalah dengan mengemukakan alasan, maka ia dikategorikan ke dalam yang umum dan mayoritas. Yang bersifat ta’abbudi hanyalah pada jumlahnya, demikian yang terdapat dalam Asy Syarh yaitu yang diambil dari Syarh Al Umdah.

Kami telah menetapkan pada catatan kaki yang menyelisihi apa yang telah mereka tetapkan, yaitu keumuman hukum yang bisa dikemukakan alasannya. Di sana kami telah mengomentarinya panjang lebar.

Kedua: bahwa hadits tersebut menunjukkan kewajiban mencuci tujuh kali pada bejana, dan hal itu sudah jelas. Yang mengatakan tidak wajib tujuh kali, tetapi jilatan anjing sama dengan najis-najis lainnya, dan tujuh kali hanyalah Sunnah, hal itu berdasarkan dalil bahwa perawi hadits yaitu Abu Hurairah RA berkata, “jilatan anjing dicuci tiga kali, sebagaimana ditakhrij oleh Ath Thahawi dan Ad Daruquthni.

Pendapat ini dapat dijawab, bahwa yang diamalkan adalah yang diriwayatkan dari Nabi SAW bukan menurut pendapatnya dan yang ia fatwakan. Juga karena bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan darinya, bahwa ia memfatwakan dengan mencuci tujuh kali, dan ini lebih kuat sanadnya, dan juga menjadi lebih kuat karena sesuai dengan riwayat marfu. Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau SAW bersabda mengenai anjing yang menjilat bejana,

[يُغْسَلُ ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا]

“Dicuci tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali.”

[Penerbit Darus Sunnah (h. 50) dalam catatan kaki menuliskan hadits ini shahih riwayat muslim 279, ini adalah keliru yang benar hadits ini dikeluarkan oleh Ad Daruquthni 194, berkata Ad Daruquthni, Abdul Wahab meriwayatkannya secara sendirian dari Isma’il bin Ayyas dan dia matrukul hadits –ebook editor]

Mereka berkata, “Hadits tersebut menunjukkan tidak ditentukannya tujuh kali, bahkan diberikan pilihan, dan tidak ada pilihan bagi yang ditentukan.” Jawabannya adalah bahwa hadits tersebut dhaif tidak bisa dijadikan hujjah.

Ketiga: wajib mencuci bejana dengan debu sebagaimana telah ditegaskan dalam hadits. Kemudian hadits tersebut menunjukkan ditentukannya tanah, dan digunakan pada cucian yang pertama. ulama yang mewajibkannya berkata, “Tidak ada perbedaan antara mencampur air dengan tanah hingga keruh, atau air disiramkan atas tanah, atau tanah dimasukkan ke dalam air.” Bagi mereka yang berpendapat wajibnya mencuci tujuh kali berkata, “Tidak wajib mencuci dengan tanah, lantaran hal itu tidak kuat menurutnya.” Dapat dijawab, bahwa telah ditegaskan dalam riwayat yang shahih tanpa keraguan dan tambahan dari perawi tsiqah dapat diterima.

Disebutkan bahwa riwayat tentang mencampur dengan tanah tidak konsisten. Terkadang diriwayatkan dengan lafazh yang pertama atau yang terakhir, atau salah satunya atau yang ketujuh atau yang kedelapan, dan idhthirab (ketidakkonsistenan) adalah aib, maka wajib dibuang. Dapat dijawab, bahwa ketidakkonsistenan tidak menjadi aib kecuali jika riwayat-riwayat tersebut sama, di sini tidak seperti itu. Karena, riwayat dengan lafazh yang pertama lebih kuat lantaran banyaknya perawi, dan diriwayatkan oleh salah seorang Ash-Shahihain. Hal itu merupakan tarjih ketika terjadi perbedaan, sedang lafazh-lafazh riwayat yang bertentangan dengannya tidak dapat menandinginya.

Yakni, bahwa riwayat, ‘yang terakhir’ diriwayatkan secara menyendiri, tidak didapatkan sedikitpun dalam buku-buku hadits yang bersanad.

Riwayat ‘yang ketujuh dengan tanah’ terdapat perbedaan padanya, maka tidak dapat menyaingi riwayat ‘yang pertama dengan tanah’.

Riwayat ‘salah satu di antaranya’, tidak terdapat dalam buku-buku induk, tetapi diriwayatkan oleh Al Bazzar, meskipun shahih, hal itu bersifat mutlak (umum) sehingga wajib mengamalkan yang muqayyad (khusus)

Riwayat ‘yang pertama atau yang terakhir’, diberikan pilihan. Jika itu dari perawi maka hal itu adalah keraguan darinya dan harus dikembalikan kepada tarjih, dan riwayat ‘yang pertama’ lebih kuat. Dan jika termasuk sabda Rasulullah SAW, maka hal itu adalah pemberian pilihan dari beliau SAW. hal ini dikembalikan kepada pentarjihan riwayat ‘yang pertama’ karena disebutkan oleh salah seorang dari Ash-Shahihain sebagaimana Anda ketahui.

Sabda beliau, ‘Bejana selalu salah seorang dari kalian’, penyandaran bejana di sini dihilangkan, sebab hukum suci dan najis tidak hanya karena memiliki bejana. Demikian pula sabda beliau, ‘Maka hendaklah ia mencucinya’, tidak berarti bahwa harus pemilik bejana yang mencucinya. Dan dalam sabdanya yang lain, ‘maka hendaklah ia menumpahkannya’, adalah termasuk lafazh Muslim, yaitu perintah menumpahkan air atau makanan yang dijilat anjing. Lafazh tersebut adalah dalil paling kuat yang menunjukkan najis, karena yang ditumpahkan lebih umum daripada hanya sekedar air atau makanan. Sekiranya makanan atau air itu suci, pasti beliau tidak menyuruh untuk menumpahkannya, sebagaimana yang telah Anda ketahui.

Namun, penulis menukil dalam Fathul Bari bahwa lafazh ini tidak shahih dari para Hafizh. Ibnu Abdil Barr berkata, ‘Tidak pernah dinukil oleh para Hafizh dari sahabat-sahabat Al Amasy. Ibnu Mundah berkata, “Tidak dikenal dari Nabi SAW dalam bentuk bagaimanapun.”

Memang betul, penulis tidak menyebutkan cucian yang kedelapan, sementara hal ini ditegaskan oleh Muslim,

[وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ]

“Dan campurlah yang kedelapan dengan tanah.”

[HR. Muslim 280]

Ibnu Daqiqil Id berkata, “Sesungguhnya hal itu dikatakan oleh al Hasan al Bashri, dan tidak dikatakan oleh yang lainnya.” Ini adalah pendapat dari ulama terdahulu, dan derajat haditsnya kuat. Dan bagi yang tidak berpendapat dengannya, telah melakukan penakwilan yang tidak tepat.

Saya katakan, “Cara penakwilan yang tidak tepat, telah disebutkan oleh An Nawawi, ia berkata, “Maksudnya cucilah tujuh kali dan salah satu di antaranya dengan tanah bersama air”, dengan demikian berarti tanah menggantikan satu kali cucian, maka disebut yang kedelapan.”

Saya katakan, “Dan seperti itu dikatakan oleh Ad-Darimi dalam Syarh Al Minhaj”, dan ia menambahkan, “Sesungguhnya ia memutlakan mandi dengan mencampurkan debu sebagai kiasan.”

Saya katakan, “Tidak asing lagi, bahwa maksud penulis menyebutkannya, dan adanya takwil dengan mengeluarkannya kepada majaz, semua itu adalah pembelaan terhadap mazhab, dan yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri.

Adapun perintah membunuh anjing, larangan membunuhnya, dan hal-hal yang boleh dipergunakan darinya, akan dibahas pada bab binatang buruan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *