[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 04

01.01. BAB AIR
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Air adalah nama jenis yang berlaku bagi yang sedikit maupun yang banyak. Disebutkan dengan bentuk jamaknya lantaran perbedaan jenisnya menurut hukum syari’at, karena ada yang dilarang menggunakannya dan ada yang makruh. juga lantaran adanya perbedaan pada sebagian air seperti air laut, karena pensyarah menukil perbedaan mengenai bersuci dengannya dari Ibnu Umar dan Ibnu Amr. Dalam kitab An Nihayah disebutkan bahwa air laut itu dapat mensucikan, terjadi perbedaan pendapat pada sebagian generasi pertama. Terjadinya perbedaan pendapat sejak dahulu pada masalah ini, sepertinya membuat penulis memulai dengan hadits yang menunjukkan kesuciannya, dan hadits tersebut yang dijadikan hujjah oleh jumhur ulama, ia berkata:

0001

١- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فِي الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِذِيُّ، [وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ]

1. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda tentang laut, ”Airnya suci dan bangkainya halal.’ (Dikeluarkan oleh Imam yang empat dan Ibnu Abu Syaibah, lafazh tersebut miliknya, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan At Tirmidzi)

[Shahih: Shahihul Jami’ 7048]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Hurairah RA adalah Abdurrahman bin Shakhr, menurut pendapat Muhammad bin Ishaq dan Al Hakim Abu Ahmad. Ia meninggal dunia di Madinah pada tahun 59 H, dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di Baqi, menurut salah satu pendapat.

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW bersabda tentang laut (maksudnya: mengenai hukumnya) airnya suci (Ath-Thahur adalah nama bagi yang dapat digunakan bersuci, atau suci dan dapat mensucikan, sebagaimana dalam Al Qamus. Sedang menurut istilah Syara’, yaitu nama bagi yang dapat menyucikan) halal bangkainya.

Dikeluarkan oleh imam yang empat dan Ibnu Abi Syaibah (yaitu Abu Bakar. Mengenai dirinya, Adz Dzahabi berkata: ‘Seorang hafizh yang tidak ada tandingannya dan terbukti kecerdikannya adalah Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah. Penulis Al Musnad, Mushannaf dan yang lainnya, termasuk Syaikh (guru) Al Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah. Adz Dzahabi berkata: “Hafizh besar, imam para imam, Syaikh Islam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, dialah imam yang paling tinggi dan paling banyak hafalannya pada masanya di Khurasan. Dan juga dishahihkan oleh At Tirmidzi, setelah menyebutkannya ia berkata: “Hadits ini hasan shahih, dan saya telah menanyakan kepada Muhammad bin Isma’il Al Bukhari tentang hadits ini maka ia berkata, “hadits shahih.” Ini ucapan At Tirmidzi sebagai dalam Mukhtashar As Sunan karya Al Hafidz Al Mundziri.

Penulis telah menyebutkan hadits ini dalam At-Talkhis dari sembilan orang shahabat, tetapi tidak ada satu jalan pun yang lepas dari komentar para ulama, tetapi ulama yang saya dengar telah menetapkan keshahihannya. Dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Barr, Ibnu Mandah, Ibnul Mundzir dan Abu Muhammad Al Baghawi.

Penulis berkata, “Sejumlah hadits yang tidak sampai pada derajat hadits ini dan tidak mendekatinya telah dihukumi shahih.”

Tafsir Hadits

Az Zarqani berkata dalam Syarh Al Muwaththa, “Hadits ini adalah salah satu dasar dari pokok-pokok Islam, telah diterima oleh umat, sangat populer di kalangan ulama fikih di semua negeri, pada setiap masa, dan diriwayatkan oleh para imam besar.” Kemudian ia menyebutkan orang yang meriwayatkan dan menshahihkannya.

Hadits tersebut adalah jawaban dari sebuah pertanyaan, sebagaimana dalam Al Muwaththa’ bahwa Abu Hurairah RA berkata, “Seorang laki-laki datang – dalam Musnad Ahmad dari Bani Mudlaj, dan menurut At Thabrani namanya Abdullah – kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami biasa berlayar di laut dan kami membawa air hanya sedikit, jika kami menggunakannya berwudhu maka kami akan kehausan, bolehkan kami berwudhu dengannya? –dalam lafazh Abu Daud –dengan air laut-? Maka Rasulullah SAW menjawab: ‘Ia (air laut) itu suci.” Beliau SAW menerangkan bahwa air laut itu suci dan dapat menyucikan, tidak keluar dari kesucian itu dengan kondisi bagaimana pun, melainkan apa yang diterangkan yaitu jika salah satu dari sifatnya telah berubah. Rasulullah SAW tidak menjawabnya dengan ‘Ya’. Meskipun hal itu sudah dipahami maksudnya, tetapi beliau menjawabnya dengan ucapan tersebut agar hukum tersebut berkumpul dengan illat (sebab)nya, yaitu kesucian yang terbatas dalam babnya.

Contohnya, ketika melihat air laut berbeda dengan air biasa dengan rasanya yang asin dan baunya yang busuk, ia bimbang kalau-kalau air tersebut tidak dimaksudkan oleh firman Allah SWT:

{فَاغْسِلُوا}

“Maka basuhlah…..” (QS. Al-Maidah [5]: 6)

Maksudnya dengan air yang sudah jelas yang Allah kehendaki dalam firman-Nya pada ayat sebelumnya.

Atau ketika ia telah mengetahui firman Allah SWT:

{وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا}

“Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS. Al Furqan [25]: 48)

Ia menyangka hal itu berlaku khusus, maka ia pun menanyakannya. Lalu Nabi SAW menerangkan hukum air tersebut kepadanya, dan beliau menambahkan hukum yang tidak ditanyakannya bahwa bangkainya halal.

Ar-Rafi’i berkata: “Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa hal itu samar bagi si penanya mengenai air laut, beliau khawatir kalau ia juga ragu mengenai bangkainya, sementara ia sering berlayar di laut, maka beliau melanjutkan jawabannya dari pertanyaan itu dengan menerangkan hukum bangkainya.

Ibnu Al Arabi berkata: “Yang demikian itu adalah hal yang dipandang baik dalam memberikan fatwa, yaitu dengan memberikan jawaban lebih banyak dari yang di atasnya, dalam rangka menyempurnakan faedah dan menerangkan ilmu lainnya yang tidak ditanyakan.” Dan hal itu lebih dipertegas lagi manakala jelas adanya kebutuhan mendesak terhadap hukum. Sebagaimana disebutkan di sini, bahwa seorang yang tidak mengetahui kesucian air laut, tentu lebih tidak mengetahui kehalalan bangkainya, meski hal itu lebih utama.

Yang dimaksud dengan bangkai air laut adalah binatang laut yang mati di dalamnya. Yakni binatang yang hanya bisa hidup di laut, tidak berarti setiap binatang yang mati di dalamnya secara mutlak. Karena meskipun secara bahasa memang benar bangkai laut, akan tetapi sudah maklum bahwa yang dimaksud adalah yang telah kami sebutkan. Zhahirnya, bahwa halal setiap yang mati di dalamnya, walaupun seperti anjing dan babi. Komentar mengenai halt sebelum akan disebutkan pada babnya. Insya Allah.

0002

٢ – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ» أَخْرَجَهُ الثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ

2. Dan dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya air itu suci tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya. (HR. Imam yang tiga dan dishahihkan Ahmad)

[Shahih: Shahih Al-Jami 1925]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Sa’id nama lengkapnya adalah Sa’id bin Malik bin Sinan Al Khazraji Al Anshari. Al Khudri dinisbatkan kepada Khudrah, salah satu suku Anshar sebagaimana dalam Al Qamus.

Adz Dzahabi berkata, “Ia termasuk ulama para shahabat yang menyaksikan Baiat Asy Syajarah. Meriwayatkan banyak hadits dan memberikan fatwa dalam beberapa waktu.”

Abu Sa’id meninggal pada awal tahun 74 H dalam usia 86 tahun. Banyak meriwayatkan haditsnya. Sekelompok shahabat meriwayatkan hadits darinya. Ia memiliki 84 hadits dalam Ash-Shahihain.

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang tiga, yaitu para penyusun kitab as sunan selain Ibnu Majah, sebagaimana yang sudah diketahui, dan dishahihkan oleh Ahmad. Dalam Mukhtashar As Sunan, Al Hafidz Al Mundziri berkata: “Sesungguhnya sebagian mereka mengomentarinya dan diceritakan dari Imam Ahmad bahwa ia berkata, “Hadits sumur Budha’ah shahih.”

At Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih.” Abu Usamah menganggap baik hadits ini. tidak ada hadits Abu Sa’id mengenai sumur Budha’ah yang lebih baik dari yang diriwayatkan oleh Abu Usamah. Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu jalur dari riwayat Abu Sa’id.

Hadits tersebut memiliki sebab, yaitu ketika

«قِيلَ لِرَسُولِ لِلَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهِ الْحَيْضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ: الْمَاءُ طَهُورٌ»

Rasulullah SAW ditanya, “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha’ah, yaitu sumur tempat membuang kain-kain bekas haidh, bangkai, anjing dan barang-barang busuk? Maka beliau menjawab, “Air itu suci”. Al hadits.

Demikian yang terdapat dalam sunan Abu Daud dan dalam satu lafazh padanya:

[إنَّ الْمَاءَ]

Sesungguhnya air itu…

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis.

Perlu diketahui, bahwa dalam Asy-Syarh penulis telah mengomentarinya panjang lebar, dan menyebutkan pendapat-pendapat mengenai air secara memadai. Dalam membahas masalah air ini, kami akan membatasinya pada hadits-hadits terpenting, mengetahui pengambilan pendapat-pendapat tersebut dan cara pengambilan dalil, maka kami katakan, “Banyak hadits telah diriwayatkan yang dijadikan dalil tentang hukum-hukum air, seperti:

«الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»

“air itu suci dan tidak ada sesuatu yang dapat menjadikannya najis.”

«إذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ»

Apabila air itu telah sampai dua qullah, maka tidak mengandung kotoran.

[shahih: Shahih Al-Jami 416]

Dan hadits perintah menuangkan satu timba air pada tempat yang terkena air seni orang Arab Badui di dalam Masjid.

[shahih: shahih Al Bukhari (219, 221) Muslim (284)]

«إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ فَلَا يُدْخِلْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا»

“apabila salah seorang dari kalian bangun tidur, maka janganlah ia masukkan tanggannya ke dalam bejana hingga ia mencucinya tiga kali.”

[shahih: shahih Al Bukhari (162) Muslim (278)]

«لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ»

“Janganlah salah seorang dari kalian kencing dalam air yang tenang (air yang tidak mengalir) kemudian ia mandi padanya.”

[shahih: shahih Al Bukhari (239, 282)]

«إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ»

“Apabila ada anjing menjilat pada bejana salah seorang dari kalian….”

[shahih: shahih Muslim (279)]

Hadits-hadits tersebut semuanya kuat, dan akan disebutkan semuanya pada komentar penulis. Jika hal ini telah Anda ketahui, maka sesungguhnya pendapat-pendapat para ulama berbeda-beda mengenai air jika bercampur dengan najis dan tidak berubah salah satu sifatnya.

Al Qasim, Yahya bin Hamzah dan sekelompok pengikutnya, Malik dan Azh-Zhahariayah berpendapat bahwa aiur itu suci, baik sedikit maupun banyak, berdasarkan hadits, Air itu suci. Hanya saja mereka menghukumi ketidaksucian air jika berubah salah satu sifatnya sebab terkena najis, berdasarkan kesepakatan ulama atas hal tersebut, sebagaimana yang sebentar lagi akan dibahas.

Menurut golongan Al Hadawiyah, Al Hanafiyah dan Asy Syafiiyah mereka membagi air dalam dua kategori, air sedikit yang dapat dirusak oleh najis secara mutlak, dan air yang banyak yang tidak dapat dirusak kecuali jika dapat mengubah salah satu sifat-sifatnya.

Kemudian mereka berbeda pendapat dalam memberikan batasan air sedikit dan air yang banyak:

Al Hadawiyah berpendapat dalam membatasi air yang sedikit, yaitu kondisi air yang terkena najis, ketika orang yang menggunakannya beranggapan bahwa dengan menggunakan air tersebut berarti ia telah menggunakan air najis. Jika si pemakai air tersebut tidak beranggapan demikian berarti dianggap sebagai air yang banyak. Dan selain mereka berpendapat yang berbeda dalam memberikan batasan air yang sedikit di antaranya:

· Al Hanafiyah berkata: “Batasan air yang banyak adalah air yang apabila seseorang menggerakkan salah satu ujungnya, gerakan tersebut tidak sampai pada ujung lainnya, dan selain itu berarti sedikit.”

· Sementara Asy-Syafi’iiyah berkata: “Air yang banyak adalah yang sampai dua kullah menurut ukuran kullah bani Hajar, yaitu sekitar 500 liter, berdasarkan hadits tentang air dua kullah, dan jika kurang berarti sedikit.”

Perbedaan ini terjadi disebabkan adanya perbedaan hadits-hadits yang telah disebutkan terdahulu. Karena hadits tentang bangun tidur dan hadits tentang air tenang menunjukkan bahwa najis yang sedikit membuat najis air yang sedikit, demikian pula tentang air yang dijilat anjing dan perintah menuangkan air yang dijilatnya. Kemudian ditentang oleh hadits orang Badui dan perintah menuangkan satu timba air di atasnya, karena hal itu menunjukkan bahwa najis yang sedikit tidak dapat menajiskan air yang sedikit, dan sudah maklum bahwa tempat yang terkena dengan air seni orang Badui tadi telah disucikan oleh satu timba tersebut, demikian pula sabda beliau, “Air itu suci dan tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu.”

Kelompok pertama, mereka yang berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang dapat menajiskannya kecuali yang mengubah salah satu sifatnya. Hadits-hadits tersebut dikumpulkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada yang dapat menajiskannya sebagaimana yang ditunjukkan lafazh ini dan hadits orang Badui. Sedang hadits bangun tidur, air tenang dan yang dijilat anjing tidak disebutkan untuk menjelaskan hukum najisnya air, tetapi perintah untuk menjauhinya sebagai ta’abud bukan karena najis, dan untuk menunjukkan makna yang tidak kita ketahui sebagaimana kita tidak mengetahui hikmah jumlah shalat dan yang lainnya.

Pendapat lain, bahwa larangan dalam hadits-hadits ini hanyalah makruh, tetapi ia suci dan menyucikan.

Asy-Syafi’iyyah memadukan hadits-hadits tadi, bahwa hadits ‘tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya najis’, berlaku untuk air yang sampai dua kullah dan yang lebih dari itu berarti banyak. Sedangkan hadits bangun tidur dan air tenang berlaku untuk air sedikit. Sedangkan menurut Al Hadawiyah, bahwa hadits bangun tidur berlaku sebagai Sunnah, maka tidak wajib mencucinya.

Al Hanafiyah berkata, “Yang dimaksud dengan ’tidak ada sesuatu yang dapat menajiskannya, adalah air banyak yang telah terdahulu pembatasannya, dan mereka mencela hadits dua kullah bahwa hadits tersebut adalah mudhtharib. Demikian pula dianggap cacat oleh Imam Al Mahdi dalam Al Bahr, sebagian mereka menakwilkannya dan hadits-hadits lainnya pada air sedikit.

Akan tetapi diriwayatkan atas mereka hadits air seni orang Badui, karena sesungguhnya hadits tersebut –sebagaimana yang telah Anda ketahui- menunjukkan bahwa najis yang sedikit tidak dapat merusak air yang sedikit, lalu Asy-Syafi’iyah membantahnya dengan membedakan antara air yang mencampuri najis dengan najis yang mencampuri air, mereka berkata, “Jika najis mencampuri air, maka ia menajiskannya, sebagaimana pada hadits bangun tidur, dan jika air yang mencampuri najis maka tidak merusaknya sebagaimana dalam hadits air seni orang Badui.” Dalam hal ini ada pembahasan yang telah kami teliti pada catatan kaki syarh Umdah dan Dha’untuk An Nahr.

Kesimpulannya yaitu mereka menghukumi bahwa jika najis mengalir pada air yang sedikit dapat membuatnya najis, dan jika air yang mengalir pada najis, maka tidak membuatnya najis. Mereka menjadikan Illat tidak dapatnya air menjadi najis karena mengalir pada benda najis. Namun tidak demikian, bahkan menurut penelitian ketika air mengalir di atas najis ia mengalir di atasnya sedikit demi sedikit hingga benda najis itu hilang dan najis tersebut hilang sebelum musnahnya benda najisnya, maka air yang terakhir mengalir di atas najis mendapati tempat najis itu telah suci atau masih tersisa bagian yang ada najisnya, namun akan hilang dan lenyap ketika bertemu dengan bagian akhir dari air yang mengalir di atasnya, sebagaimana hancur dan lenyapnya najis yang mengalir di atas air yang banyak menurut ‘ijma. Maka tidak ada perbedaan antara ini dengan air yang banyak dalam menghilangkan najis, karena bagian akhir yang mengalir atas najis dapat menghilangkan bendanya lantaran banyaknya terhadap najis yang masih tersisa, maka Illat tidak najisnya dengan mengalir atasnya adalah karena banyaknya dan bukan karena ia mengalir di atasnya, sebab tidak masuk akal perbedaan antara dua yang mengalir bahwa salah satunya dapat menajiskannya dan yang lain tidak.

Jika Anda telah mengetahui apa yang telah kami terangkan terdahulu, bahwa tidak ada dalil yang tegas dalam pembatasan air banyak dan sedikit, maka pendapat yang lebih dekat (kepada kebenaran) dengan memperhatikan dalil adalah pendapat Al Qasim bin Ibrahim dan para pendukungnya, yaitu pendapat sekelompok shahabat sebagaimana dalam Al Bahr, dan dipegangi oleh para imam mutaakhir dan di antara mereka yang memilihnya adalah Imam Syarafuddin.

Ibnu Daqiq Al Id berkata: “Sesungguhnya hal itu adalah pendapat Ahmad bin Hanbal, dan didukung oleh sebagian ulama mutaakhir dari para pengikutnya dan juga ditarjih (dikuatkan) oleh salah seorang pengikut Imam Asy-Syafi’i yaitu Al Qadhi Abul Hasan Ar-Ruyani penulis Bahr Al Mazhab, ia mengungkapkannya dalam Al Iman.”

Dalam Al Muhalla Ibnu Hazm berkata, “Sesungguhnya pendapat itu diriwayatkan dari Aisyah RA Ummul Mukminin, Umar bin Khaththab, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Husain bin Ali bin Abi Thalib, Maimunah Ummul Mukminin, Abu Hurairah RA, Khuzaifah bin Al Yaman, Al Aswad bin Yazid, Abdurrahman saudaranya, Ibnu Al Musayyib, Ibnu Abi Laila, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Al Qasim bin Muhammad dan Al Hasan Al Bashri serta yang lainnya.

0003

٣ – وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ، إلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ» أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ

– وَلِلْبَيْهَقِيِّ «الْمَاءُ طَهُورٌ إلَّا إنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ، أَوْ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ»

3. Dari Abu Umamah Al Bahili RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak ada yang dapat menajiskannya kecuali yang merubah bau, rasa dan warnanya.” (HR. Ibnu Majah dan didhaifkan oleh Ibnu Abi Hatim)

[Dhaif: Dhaif Ibnu Majah 527]

Dan bagi Al Baihaqi, “Air itu suci kecuali jika berubah bau, rasa dan warnanya disebabkan najis yang memasukinya.”

[Sunan Al Baihaqi 1/259: Adh-Dhaifah 2644]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Umamah, namanya shudai. Al Bahili dinisbatkan kepada Bahilah. Nama ayahnya Ajlan. Abu Umamah pernah tinggal di Mesir kemudian pindah dan tinggal di Himah lalu meninggal di sana pada tahun 81 H, pendapat lain tahun 86 H. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah shahabat yang terakhir meninggal dunia di Syam. Termasuk shahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.

Tafsir Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan didhaifkan oleh Ibnu Abi Hatim. Adz Dzahabi berkata mengenai dirinya, “Abu Hatim adalah Ar-Razi, Imam Hafizh besar Muhammad bin Idris bin al Mundzir al Handzali, salah seorang ulama terkemuka, lahir tahun 195. Beliau menyanjungnya dan berkata, “An Nasa’i berkata, Tsiqah”. Abu Hatim meninggal dunia pada bulan Sya’ban tahun 277 H, dalam usia 82 tahun.

Ia mendha’ifkan hadits tersebut karena berasal dari riwayat Rasyid bin Sa’d. Ibnu Yunus berkata, “Dia adalah orang shalih dalam agamanya, lalu ditimpa kelalaian orang-orang shalih, maka ia rancu dalam haditsnya dan ia matruk.”

Hakikat hadits dhaif adalah yang luput padanya salah satu dari syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. Ia memiliki enam sebab yang terkenal, diterangkan dalam Asy-Syarh.

Dan bagi Al Baihaqi, ia adalah seorang Hafizh, allamah dan Syaikh di Khurasan, Abu Bakar Ahmad bin al Husain, ia memiliki karya-karya yang beliau pernah ada yang menyamainya sebelumnya. Ia seorang yang zuhud, wara’ dan bertakwa. Telah mengembara ke Hijaz dan Iraq. Adz Dzahabi berkata, “Karyanya hampir seribu jilid.” Baihaq adalah daerah dekat Naisabur.

Artinya, riwayat dengan lafazh, “Air itu suci kecuali jika berubah bau, rasa atau warnanya”, diathafkan atasnya binjasatin tahdutsu fiihi, huruf ba adalah sababiyah, artinya dengan sebab najis yang masuk ke dalamnya.

Penulis berkata, “sesungguhnya Ad Daruquthni telah berkata, ‘Hadits ini tidak kuat’. Asy-Syafi’i berkata, ‘Saya tidak pernah mengatakan bahwa jika air itu berubah rasa, bau ataupun warnanya adalah najis, dan diriwayatkan dari Nabi SAW dari satu jalur yang para ahli hadits tidak menegaskan sepertinya.’ Dan Imam An Nawawi berkata, ‘Para ulama hadits telah sepakat melemahkannya, maksudnya melemahkan riwayat pengecualian bukan awal hadits, karena telah ditegaskan dalam hadits Sumur Buda’ah, akan tetapi tambahan ini para ulama telah sepakat mengenai hukumnya.’”

Ibnu Al Mundzir berkata, “para ulama telah sepakat bahwa air sedikit dan banyak jika ada najis yang jatuh ke dalamnya lalu mengubah rasa atau warna atau baunya maka air itu najis, maka ijma adalah dalil atas najisnya air yang berubah salah satu sifatnya bukan karena tambahan ini.

0004

٤- وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ» وَفِي لَفْظٍ ” لَمْ يَنْجُسْ ” أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَابْنُ حِبَّانَ.

4. Dari Abdullah bin Umar RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika air itu dua kullah, maka tidak mengandung kotoran.’

[shahih: shahih Al Jami 416]

Dalam lafazh lain “Tidak mengandung najis.” (HR. Imam yang empat dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan Ibnu Hibban)

[shahih: shahih Al Jami 758]

Biografi Perawi

Abdullah bin Umar adalah putra Ibnu al Khaththab. Ia masuk Islam sejak kecil di Makkah. Perang yang pertama diikutinya adalah perang Khandak. Banyak yang meriwayatkan hadits darinya, dan ia termasuk perbendaharaan ilmu. Meninggal dunia di Makkah pada tahun 73 H dan dimakamkan di Dzawi Thuwa pada pemakaman kaum Muhajirin.

Al Hakim adalah imam besar, imam para muhaqqiq (peneliti), Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah An Naisaburi, terkenal dengan Ibnu Al Ba’i. Memiliki banyak karya ilmiah. Lahir tahun 321 H. Ia menuntut ilmu dan mengembara ke Irak ketika masih berumur 20 tahun. Kemudian menunaikan ibadah haji dan berkeliling di daerah Khurasan dan sekitarnya. Ia belajar hadits dengan cara sima (mendengar) kepada sekitar dua ribu Syaikh. Ad Daruquthni, Abu Ya’la Al Khalil dan Al Baihaqi serta banyak lagi meriwayatkan darinya.

Ia memiliki banyak karya ilmiah yang memiliki kelebihan dari yang lainnya, dengan disertai nilai-nilai ketakwaan dan religius. Ia menyusun Al Mustadrak dan Tarikh Naisabur serta yang lainnya. Ia meninggal pada bulan Shafar tahun 405 H.

Ibnu Hibban; Adz Dzahabi berkata, “Dia adalah Hafizh Allamah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban Al Basti. Memiliki banyak karya ilmiah. Ia mendengar dari umat yang tak terhitung jumlahnya mulai dari Mesir hingga Khurasan. Al Hakim dan ulama yang lain meriwayatkan darinya. Ibnu Hibban adalah termasuk ahli fikih dan penghafal atsar, mendalami ilmu kedokteran dan ilmu perbintangan dan disiplin-disiplin ilmu lainnya. Ia menyusun Al Musnad Ash Shahih, At Tarikh dan Kitab Adh Dhuafa’. Ia mengajarkan fikih kepada umat Islam di Samarqand. Al Hakim berkata, “Ibnu Hibban adalah perbendaharaan ilmu, fikih, bahasa dan nasihat, dan termasuk perawi hadits yang cerdas. Meninggal dunia pada bulan Syawal tahun 354 H.

Tafsir Hadits

Hadits ini telah diisyaratkan terdahulu, bahwa ia merupakan dalil Asy-Syafi’iyah dalam hal menjadikan air yang banyak yaitu yang sampai dua kullah. Telah dijelaskan bahwa Al Hadawiyah dan Al Hanafiyah tidak mengamalkannya karena alasan idhthirab (goncang) pada matannya; dimana dalam satu riwayat, “Jika sampai tiga kullah”, dan dalam riwayat lainnya, “satu kullah”, juga lantaran tidak diketahuinya ukuran satu kullah itu, dan maknanya mengandung kemungkinan lain. Karena sabda beliau, ‘tidak mengandung kotoran’, bisa jadi karena air yang sedikit itu kalah dengan kotoran sehingga kotoran tersebut merusak kesuciannya. Juga boleh jadi karena kotoran tersebut lenyap di dalamnya, semua ini telah dijawab oleh Asy-Syafi’iyah. Ia telah memaparkannya dalam Asy Syarh kecuali untuk hadits yang terakhir tidak disebutkannya, sepertinya ia meninggalkannya lantaran lemahnya, karena riwayat ‘tidak bernajis’ jelas tidak mengandung makna yang pertama.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *