[ UIC 8.2 ] Belajar Fiqh 5 – Sumber – sumber Hukum Islam

Sumber-Sumber Hukum Islam

1. Al-Quran
Al-Quran merupakan sumber pertama hukum syariat dan ayat-ayatnya tidak diragukan lagi keshahihannya. Namun, terdapat perbedaan penafsiran dalam beberapa ayat-ayat.

2. As-Sunnah
Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,  tidak kalah pentingnya. Namun, beberapa syarat-syarat khusus ditetapkan oleh para ulama dalam menerima dan menerapkan hadits tersebut.

3. Pendapat Sahabat
Pendapat sahabat baik secara individu atau kelompok merupakan sumber hukum ketiga yang sangat penting. Sumber ini terbagi menjadi dua sesuai keadaan.

a. Jika mereka bersepakat dalam suatu pendapat, maka disebut Ijma’
b. Jika terjadi perbedaan pendapat dalam suatu masalah tertentu, maka disebut sebagai Ra’yi

4. Qiyas
Ijtihad berdasarkan bukti-bukti dari al-Quran dan as-Sunnah atau Ijma’ juga sangat penting. Metode pemikiran yang digunakan adalah dalam bentuk penarikan kesimpulan berdasarkan analogi yang disebut Qiyas. Contoh Qiyas yaitu pengharaman ganja berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam.

“Seluruh yang memabukkan adalah Khamar dan seluruh Khamar adalah haram.”80
Karena efeknya yang memabukkan, ganja dikategorikan sebagai khamar yang diharamkan.

5. Istihsan (hukum yang lebih dipilih)
Kaidah ini menyangkut pemilihan opini berdasarkan kebutuhan dibandingkan pendapat yang didasari Qiyas. Kaidah ini, memiliki banyak sebutan, (contohnya Istishlah), dipakai oleh sebagian besar ulama-ulama madzhab. Penerapan istishlah dapat dilihat pada akad transaksi jual beli barang. Menurut Qiyas, sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam

“Janganlah kalian menjual makanan yang belum kalian miliki,”81

Akad seperti ini tidak sah, karena barang tersebut tidak ada saat proses transaksi. Akan tetapi, karena metode transaksi ini sudah begitu memasyarakat dan karena kebutuhan akan kontrak semacam ini jelas, maka Qiyas tidak berlaku di sini dan model jual beli seperti ini dibolehkan sesuai dengan kaidah preferensi (Istihsan).

80 Muslim (terjemahan Inggris), jilid 3, hal. 1108, no. 4963 dan Abu Daud, Sunan Abi Daud (terjemahan Inggris), jilid 3, hal. 1043, no. 3672
81 Diriwayatkan oleh Ibnu Umar dalam Muwatha’ Imam Malik, (terjemahan Inggris), hal. 296, no.

6. Urf (Adat kebiasaan)
Adat setempat dapat dijadikan sumber hukum asalkan tidak bertentangan dengan kaidah dasar hukum Islam. Sebagai contoh, pembayaran mas kawin atau mahar pada suatu daerah tertentu. Mahar dalam hukum Islam harus disepakati sebagai bagian dari pernikahan, tapi waktu pembayarannya tidak ditentukan.

Dalam adat orang Mesir dan lainnya, sebagian dari mahar, disebut muqaddimah, harus dibayarkan terlebih dahulu sebelum acara, dan sisanya, disebut mu’akhkhar, baru diberikan bila ada kematian atau perceraian, tergantung yang mana lebih dahulu.82

Contoh lain dari Urf dapat ditemui pada sewa menyewa. Hukum Islam tidak mewajibkan membayar hingga barang yang terjual sampai kepada pemiliknya. Namun sesuai adat, uang sewa dibayarkan sebelum menempati atau menggunakan fasilitas sesuai tenggang waktu tertentu.

Meskipun proses penyusunan dan pengelompokan seperti ini berdampak positif secara umum, namun, bila dihadapkan pada kecenderungan faksionalisme pada jaman tersebut, justru semakin merenggangkan hubungan antara madzhab yang ada. Sampai-sampai perbedaan kecil dalam peristilahan kaidah pun menjadi penyebab perpecahan.

Contoh, madzhab Maliki memandang Istihsan madzhab Hanafi tidak dapat diterima tetapi menerapkan kaidah tersebut dengan peristilahan yang berbeda, Mashalih Mursalah, dan madzhab Syafi’i menolak kedua istilah tersebut dengan menerapkan dan menamainya Istishhab.

والله أعلمُ بالـصـواب

Tulisan ini merupakan intisari pembelajaran Fiqh yg diajarkan oleh Dr. Bilal Philips.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *